
Dua hari lagi, aku harus memberikan jawabanku perihal keberangkatan ke Singapura. Affandy masih bersikeras agar aku ikut kesana. Ia mengatakan bahwa ini satu-satunya cara untuk aku menyudahi semuanya. Sebenarnya, aku masih bimbang akan hal itu. Tengkukku seketika kaku, jika terbesit wajah Haris dalam benakku. Aku takut, khawatir dan bimbang selalu.
Untuk Andrew, jangan tanya. Ia masih kekeh ingin menungguku. Namun, setelah penolakanku akan dirinya waktu itu, ia lebih menjaga jarak. Katanya, ia ingin memberikan waktu tenang untukku dalam waktu sementara. Bahkan Andrew membatalkan rencananya yang ingin ikut ke Singapura. Semua demi aku, agar aku bisa berpikir jernih di negara itu.
Sejujurnya, rasa hati ini masih sama. Hanya nama Andrew yang tercantum didalamnya. Aku bisa saja menerimanya kembali. Namun, rasa kecewaku belum kunjung pergi. Lagipula, hubungan kami sudah tercoreng dengan beberapa luka. Andrew pun menjadi banyak berkorban karena diriku. Aku tidak ingin ia atau diriku terluka lebih dalam lagi.
Terlebih, Andrew memiliki tanggung jawab ditempat ini. Ia seorang pria perantau dari kampung. Mana mungkin kubiarkan dirinya bergerak lebih jauh hanya untuk mengikutiku. Kemungkinan besarnya, pihak keluarganya tidak setuju. Apalagi aku adalah alasan batalnya rencana pernikahannya dengan Lusi, yang bahkan tidak pernah aku temui. Yah, jalan kami memang sudah seperti ini. Aku berharap ia berubah pikiran dan mendapatkan wanita yang lebih baik daripada diriku.
Kini, aku sedang berada di balkon rumahku. Menyeruput teh hangat sembari duduk santai menyaksikan rintikan hujan yang turun. Malam yang dingin menambah kesyahduan kegalauanku. Benakku banyak menerka-nerka sesuatu. Yah, masih terlintas bayangan Andrew. Lelaki itu sudah berjuang banyak juga, namun tidak aku terima. Apa keputusanku waktu itu sudah tepat? Lantas, apakah Andrew akan datang kembali disaat aku sudah cukup tenang?
Andrew, aku masih benar-benar mencintaimu. Tapi, kita hanya akan terluka jika masih bersama. Banyak masalah yang menjeratku, jika kamu bersamaku, kamu akan menderita dengan hal yang sama. Maafkan aku, Ndrew.
Mengapa hidupku harus sesulit ini? Tepatnya setelah aku diputuskan oleh Nevan. Setelah luka itu, ada banyak rentetan luka lain yang datang. Dan hal itu masih belum berakhir sampai sekarang. Lantas, kapan bahagiaku akan datang? Aku sudah lelah. Haruskah kulukai wajahku ini, supaya tidak terlihat cukup cantik dikalangan para pria? Tapi, apakah akan ada orang yang bisa menerimaku, jika aku tak cukup menarik?
Aku sudah bosan menjadi manusia yang kata orang memiliki paras cantik. Tidak hanya sekarang, masa sekolah dan kuliah pun, aku bak menjadi idola. Namun, tetap tidak luput dengan adanya musuh. Sering dicap sebagai wanita murah, cantik tak alami, sok cantik dan juga penggila om-om hidung belang. Yah, semua fitnah itu pasti sering dialami oleh beberapa orang. Makanya, sampai sekarang aku hanya memiliki satu teman yaitu Sita. Karena takut, seringkali pasangan orang lain lebih tertarik kepadaku ketimbang pasangannya.
Mungkinkah aku secantik itu? Jika ditilik pada masa muda papa dan mama, aku rasa sangat wajar. Orangtuaku sangat tampan dan cantik. Bahkan kulit kedua orangtuaku terbilang halus dan putih, nyaris tanpa lecet. Ah... aku ingat mama sempat menjadi seorang model dikala muda beliau. Lalu pensiun muda pula setelah dipinang oleh papa. Namun, nyatanya hidupku tidak secerah mereka.
"Sayang?" ujar mama tiba-tiba. Beliau menghampiriku ke balkon ini. Duduk disampingku yang masih terlindungi dari rintik hujan. Beliau menatapku penuh rasa iba, seolah sedang menyayangkan semua hal yang kualami. "Kamu kenapa lagi?" lanjut beliau.
Aku menggelengkan kepalaku. Lantas menjawab, "enggak apa-apa, Ma."
"Bener?"
"Yah. Masih sama aja, sebenarnya."
Mama menghela napas dengan berat, kemudian menghembuskannya kembali. Beliau menunduk, menatap lantai penuh penyesalan dalam hati. Yah, namanya seorang ibu, pasti merasakan kepedihan yang mendalam tatkala menyaksikan anak semata wayang hidupnya tidak bahagia.
Sedangkan angin masih menderukan
suaranya. Rintik hujan tidak kunjung berhenti. Seolah ikut serta menapaki hatiku yang temaram seperti kapal ditengah lautan dan sampai di pulau tak berpenghuni. Kosong, hening, sepi dan tidak ada harapan apapun lagi disana. Aku seorang manusia yang bagaikan boneka. Hidupku diatur oleh papa dan juga lelaki yang tidak aku cintai. Rasanya ingin lekas mati, namun takut akan siksa api neraka. Yah, kadangkala kepiluan ini kembali hadir.
"Sayang?" ujar mama lagi. "Mama ingin bertanya boleh?"
Aku mengangguk tanpa berbicara.
"Kamu, apakah kamu memiliki seorang pacar sekarang?"
Kugelengkan kepalaku sebanyak tiga kali. Lantas menjawab pertanyaan beliau, "nggak ada, Ma."
"Orang yang kamu sukai?"
Hening. Aku tidak menjawab. Masih bimbang akan pertanyaan itu. Nama Andrew kembali muncul dalam benakku. Lelaki itu memang masih menjadi orang pertama di hatiku. Sedihnya, aku tidak berhak menyebut namanya untuk ini.
Rasanya aku ingin menumpahkan air mata lagi. Ingin melampiaskan segala kerisauan hati yang selama ini terpendam di palung hati. Hanya pelukan mama yang terasa hangat saat ini. Sepertinya beliau cukup memahami dan pastinya sudah bisa membaca apa yang ada didalam otakku. Mama tahu akan adanya orang yang aku cintai, meskipun tidak tahu siapa sosoknya.
"Ada satu cowok, Ma," ujarku kemudian.
Mama mengusap air mataku yang tanpa kusadari telah membasahi pipiku. "Kamu benar-benar mencintainya? Apa kamu baru putus dengannya, gara-gara masalah ini?"
Kugelengkan kepalaku perlahan. "Dia bukan mantan ataupun pacar. Tapi salah satu orang yang aku sayang."
"Lantas, apa kalian saling mencintai?"
"Iya, Ma. Hanya saja, dia pernah berbohong. Tapi, belum lama ini, dia berjuang keras demi menebus kesalahannya pada Vya."
"Lalu, kamu gimana? Kamu memaafkannya, Sayang?"
__ADS_1
"Nggak, Ma. Aku menolaknya daripada kami saling terluka lagi. Belum lagi adanya Haris disini, aku takut dia terluka suatu saat nanti."
"Berilah kesempatan kedua jika itu perlu. Mama akan dukung semua keputusanmu, Mama juga akan cari cara melepaskan kamu dari jeratan tuan muda Haris."
Waktu itu Rezky, sekarang mama. Apakah keputusanku untuk menjauhi Andrew adalah hal yang salah? Padahal, aku hanya tidak ingin salah satu dari kami terluka lagi. Yah, meski aku sangat menyayangkannya terjadi. Jika suatu saat nanti, ia akan kembali lagi, entah hal apa yang bisa aku lakukan.
Mama memeluk erat diriku lagi. Beliau membisikkan sesuatu tentang nasehat yang bagus. Sangat tenang dan nyaman. Andai saja, papa juga selembut ini, pasti akan bertambah hangat keluarga kami. Namun apa dayaku, papa masih dibutakan oleh uang dan harta.
"Setiap orang pasti memiliki kesalahan, Sayang. Kesempatan kedua itu tak mengapa. Kalau udah berkali-kali, baru tidak boleh. Jika dia emang punya salah tapi sudah berjuang, maka nggak perlu kamu tolak lagi. Toh, kamu juga masih menyukainya," ujar mama. "Jangan sampai kamu menyesal, Sayang. Seperti mama kala itu."
Aku menoleh kepada mama. Lantas bertanya untuk sesuatu yang tidak aku ketahui, "Emangnya Mama dulu kenapa?"
"Hmm... Mama juga memiliki seorang pacar. Perjuangannya juga sangat besar, tapi entah mengapa tiba-tiba menghilang. Tepat disaat Papa kamu datang, seolah semua sudah di-setting menjadi drama."
"Jadi... Mama nggak suka sama Papa?"
"Awalnya iya. Akhirnya lama kelamaan udah terbiasa. Lagipula mama lebih memilih Papa kamu pada saat itu. Hanya karena satu kesalahan, perjuangan orang yang Mama suka harus sia-sia. Herannya, sekarang kamu yang mengalami semua itu."
"Kata orang, nasib orangtua bisa menurun pada anak, Ma. Yah, dan aku pikir itu emang fakta. Toh, aku jadi ketemu Haris yang tempramental itu."
"Mulai saat ini, kamu harus mengambil keputusan yang tepat, Sayang. Stop di Mama aja, kamu nggak boleh menjalani perjodohan seperti ini."
"Aku hanya bingung cara melepaskan diri dari Haris."
Mama terdiam. Mungkin memang benar atas segala nasehat yang beliau bicarakan. Namun, semua itu juga kembali lagi pada rencana perjodohan ini. Tidak akan mudah lepas begitu saja. Hidupku seolah hanya berputar-putar didalam masalah ini saja. Oh... sungguh aku lelah sekali.
Kemudian mama memapahku untuk masuk ke dalam. Lantaran cuaca dingin dimalam ini semakin tidak kondusif. Petir dan guntur kini ikut menyulut, rintik hujan berubah menjadi deras sekali. Kami melangkah masuk menuju kamarku. Langkahnya pelan, karena tidak ingin papaku terbangun dari tidurnya. Lantas, mama segera berlalu setelah mengantarkanku masuk ke dalam kamarku.
Sedang aku mulai merebah diatas ranjang. Bola mataku berputar-putar menatap langit-langit kamar. Benakku mencari kepastian yang tidak kunjung datang. Malam ini pun harus menjadi malam yang membingungkan, sama seperti malam-malam yang lalu. Kalau saat itu, aku merindukan Andrew yang masih memiliki tali jerat dengan wanita yang bernama Lusi. Kini, aku harus bimbang atas kesempatan kedua kali untuknya. Belum lagi Haris yang masih sering mengucapkan segala ancamannya kepadaku.
Tiba-tiba ponselku berdering, sebuah nama tidak asing tertulis disana. Affandy? Mau apa telepon semalam ini? Padahal aku sedang tidak ingin diganggu olehnya. Namun, demi menghormatinya, mau tidak mau aku harus mengangkatnya.
"Hai, Navya. Maaf ganggu ya hehe," jawabnya.
"Nggak masalah. Kenapa?"
"Aku cuma mau ngingetin kamu aja sih, soal tenggat waktu keputusan kamu."
"Oh... iya, aku masih inget kok."
"Terus gimana? Yah, aku kan bisa ngurus segala keperluannya, kamu juga bisa begitu."
"Besok aja, kita bicarakan di kantor."
"Oh... oke. Aku tunggu ya? Kalau bisa pas awal masuk aja. Aku nggak mau ganggu jam kerjamu."
"Emm..."
"Oke. Mungkin udah cukup, selamat malam dan selamat tidur, Navya."
"Sama-sama Fandy. Selamat malam juga."
Aku dan Affandy menutup telepon yang masih tersambung. Kemudian, datang lagi satu pesan masuk. Aku membukanya. Pesan tersebut berisi tentang rasa kerinduan seseorang kepadaku. Siapa lagi kalau bukan Andrew. Sepertinya ia memang sangat kesulitan melepas diriku begitu saja. Apakah ada seorang pria lain yang memiliki sifat seperti ini?
Dalam beberapa saat, aku terdiam bimbang. Aku bingung harus membalasnya atau tidak. Ini tidak akan muda bagi hatiku, lantaran masih tergoda akan rasa cinta. Akhirnya aku membalas pesan tersebut sekenanya saja.
Ya Tuhan! Mengapa hidupku masih berputar pada kedua pria itu saja?
__ADS_1
Tak lama kemudian, muncullah sebuah panggilan darinya. Kutelan ludahku seketika. Aku ragu lagi, disisi lain aku ingin mengangkat. Namun, jika aku angkat, aku pasti dinilai sebagai manusia labil, selabil-labilnya. Akhirnya kubiarkan saja.
Semakin lama semakin tidak menentu. Andrew seperti sedang menerorku, teleponnya tidak berhenti. "Halo, Ndrew," ujarku setelah mengangkatnya.
"Aku didepan rumahmu," jawabnya.
Aku kaget bukan kepalang, sampai terbangun dari posisiku. "Apa maksud kamu?!"
"Aku nggak kuat lagi, sudah seminggu tapi aku nggak bisa lupain kamu, Navya."
"Kamu harus pulang dong. Ada papaku disini. Lagipula udah malem banget."
"Navya, mari kita melarikan diri saja?"
"Gi-gila kamu! Kamu mabok apa?"
"Iya aku lagi mabuk."
"A-apa???"
Aku melempar ponselku begitu saja. Mabuk? Sejak kapan Andrew berani menyentuh alkohol? Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil langkah. Aku keluar dari kamarku dengan tergesa-gesa. Aku khawatir kepadanya. Sudah mabuk, hujan deras, frustasi dan sedang gila. Mengapa ada pria sebodoh itu?
Sialnya, aku harus bertemu papa tepat di ruang tengah. Namun, belum ketahuan oleh beliau. Mau tidak mau, aku menghentikan langkahku dan bersembunyi di ruang yang lampunya sedang dimatikan. Beliau tampak mondar-mandir sembari memainkan ponsel. Sedangkan aku, aku hanya bisa menggigit bibir dengan cemas. Berharap papa segera meninggalkan ruangan itu dan aku bisa melaju pergi.
"Navya?"
Deg! Aku ketahuan seketika. "Oh... mau minum, haus," jawabku sekenanya sembari menuju kulkas yang kebetulan tidak jauh dari keberadaanku.
"Ya sudah, langsung tidur abis ini."
"Emm... Papa lagi apa?"
Dahi papa tampak berkerut. Sepertinya beliau merasa heran akan sikapku yang berubah lembut, "sejak kapan kamu tanya kesibukan Papa?"
"Yaudah sih, kalau nggak mau ngasih tau. Toh, nggak penting buat aku."
"Anak ini! Udah malem masih aja ngajak ribut."
"Nggak, Pa. Heran aja sama Papa, udah semalam ini masih ngurusin kerjaan. Emang nggak boleh?"
Papa tidak menjawab. Lantas, beliau segera pergi meninggalkanku. Astaga! Jantungku hampir lepas seketika. Aku mengikuti langkah papa secara diam-diam, demi memastikan perihal posisi beliau sekarang. Beliau masuk ke dalam kamar yang memang berada dibawah.
Setelah itu, aku menunggu beberapa menit. Mungkin sekitar, lima menitan. Ketika sudah cukup tenang, aku segera bergegas menuju pintu utama. Tentunya dengan langkah yang sangat amat pelan. Sesampainya disana, aku membuka pintu begitu pelan pula. Dengan harapan papa tidak menyadarinya sama sekali. Dan yeah! Aku berhasil.
Tanpa payung, tanpa jas hujan, aku melangkah keluar mencari keberadaan mobil Andrew. Dingin sekali, lantaran hujan masih turun cukup deras sepanjang malam ini. Hanya balutan piyama panjang yang aku kenakan, yang pasti kainnya tidak terlalu tebal.
Benar saja, sebuah mobil tidak asing sedang terparkir dibawah sorot lampu didepan gerbang rumahku. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera menghampirinya. Sesampainya disana, aku mengetuk jendela mobilnya perlahan-lahan. Tak lama kemudian, Andrew membukakan pintu mobilnya, lantas aku masuk ke dalam. Bau alk*h*l dan r*kok.
"Gila ya loe!" tegasku.
"Kamu Navya. Akhirnya kamu dateng, mari pergi, mari melarikan diri," ceracaunya dengan senyuman yang terkesan tidak sadar.
"Ini sebabnya, ini sebabnya aku tidak menerima kamu lagi! Aku takut kamu terluka lagi. Kamu bisa menghancurkan hidup kamu karna satu wanita bodoh seperti aku. Sial! Aku yang tidak pantas dapetin hati kamu."
Andrew mencoba membuka matanya lebar-lebar. Ia menyentuh wajahku. Bukan tawa sengau lagi yang ia tampilkan, pria bodoh ini menangis. "Aku pun tidak tau, bagaimana bisa aku menjadi segila ini karba kamu."
"...."
__ADS_1
Bersambung...
Pada komen dong... siapa cowok yang pantas jadi pemeran utama hehehe