Who Is My Love

Who Is My Love
Dihadang


__ADS_3

****


"Jadi, loe kenapa bisa bareng Andrew, Beb?" tanya Sita, setelah aku masuk ke dalam kamarnya atas izin orangtuanya.


"Ceritanya panjang, Sit. Emm... lupain, loe sendiri udah sembuh?" tanyaku.


"Lumayan, Beb. Tadi pagi tinggi banget demamnya, abis tidur dan minum obat, agak mendingan."


"Gue kira, loe bolos, Sit."


"Jadi loe nggak mau cerita sama gue?"


"Iya, gue ceritain. Tapi, gue nginep sini ya? Gue udah minta izin bokap, nyokap loe."


"Yes! Tentu dong. Gue malah seneng."


"Gue numpang mandi ya? Sekalian pinjem baju."


"Oke, tapi pakaian dalemnya gimana?"


"Gue udah beli, tadi mampir haha."


"Mantap!"


Aku berlalu meninggalkan Sita yang masih terbaring diatas ranjangnya. Beruntungnya, diriku memiliki sahabat dan juga keluarga dari sahabatku yang begitu baik, sampai seperti sanak saudara sendiri. Setidaknya, aku memiliki tempat bernaung malam ini, tanpa kesulitan karena Papa untuk sementara waktu.


Pening di kepala terasa berat sekali, keletihan pun masih melekat erat pada diriku. Aku menyiramnya dengan air melalui shower kamar mandi milik Sita ini. Sedangkan benakku mulai berkeliaran. Aku rasa, masih ada banyak hal menyedihkan yang harus aku tempuh. Sesuatu yang rumit, angkara murka dari Papa ataupun Haris, atau perkelahian mereka dengan Andrew yang mungkin saja bisa terjadi. Aku benar-benar bingung harus merencanakan apa lagi.


Haruskah aku egois, dan kabur ke Singapura? Tapi, mau bagaimanapun Papa adalah orangtua kandungku sendiri. Lalu, Haris, akan mengamuk seperti apa ia nantinya? Oh... mengapa hidupku harus sesulit ini? Aku tidak ingin menangis pilu lagi. Aku hanya ingin bahagia, seperti saat mereka semua belum hadir didalam hidupku. Bahkan, aku ingin Papaku pergi dinas lagi. Namun, semua memang harus aku lewati.


Beberapa menit setelah selesai mandi, aku kembali menuju kamar Sita. Tampaknya, keluarga Sita sudah terlelap tidur, karena suasana rumah ini sangat sepi. Aku menjadi tak enak hati, karena telah mengganggu. Semua sudah terlanjur, mungkin esok fajar nanti aku akan bergegas pulang. Lagipula, aku tidak membawa baju untuk kerja.


Kubuka perlahan pintu kamar Sita. Aku masuk ke dalam, dan mendapati Sita tengah duduk bersender di badan ranjangnya sembari memainkan ponselnya. Sepertinya, ia sedang menunggu semua ceritaku.


"Belum ngantuk, Sit? Loe sakit lho?" tanyaku kemudian.


Sita menatapku dan melambaikan tangannya agar aku mendekat dan duduk disampingnya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menuruti kemauan sahabatku tersebut.


"Gue nungguin cerito loe, Beb," katanya, tepat seperti dugaanku.


Kuhela napas panjang terlebih dahulu. Kemudian menjawab, "Yah, Andrew pengen deket lagi sama gue, Sit."


"Gila tu orang!"


"Dia udah mutusin ceweknya. Dan gilanya, dia minta izin video, wajar nggak sih?"


"Wow! Kayaknya cowok lemah lembut itu emang udah jadi bucin loe 100 persen, Beb."


"Gue bingung mau gimana. Haris, Papa dan sekarang Andrew, gue berasa gila ngadepin mereka."


Sita menunjukkan raut ibanya terhadapku. Ia meraih telapak tanganku dan menggenggamnya. "Loe masih sayang ya sama Andrew?" tanyanya.


Aku diam seketika. Tanpa kujawab pun, Sita pasti sudah tahu. Aku hanya terlalu malu mengakuinya lagi, bahkan sampai berkali-kali. Yah, bisa dibilang, aku adalah wanita paling bodoh sedunia karena tidak bisa belajar dari pengalaman tentang kebohongan Andrew. Lantas, mau bagaimana lagi? Namanya hati tidak bisa dipaksa. Bahkan, aku menolak Nevan mentah-mentah yang notebene adalah anak orang kaya seperti Haris. Dan lagi-lagi, alasannya karena aku lebih sayang kepada Andrew yang hanya orang biasa.


Sita mengambil sebuah cermin kecil berbentuk kotak. Ia menghadapkan benda tersebut tepat didepan wajahku. Aku masih belum mengerti apa yang ia lakukan. Dahiku berkerut karena keheranan. "A-apa?" tanyaku kemudian.


"Loe liat, Beb. Cewek yang didalem pantulan cermin ini?" tanyanya kembali.


"Liatlah, Sit. Itukan gue."


"Loe cantik banget ya, Beb. Mungkin kalau loe punya bakat jadi artis, banyak label yang nyari loe."


"Terus?"

__ADS_1


"Loe cantik, Beb. Loe bisa cari yang lebih dari mereka, coba loe liat lagi wajah loe disana. Hmm... muka loe keliatan capek banget, lelah, penuh pikiran. Loe harus berhenti, Beb. Egois sedikit tak apa, berbakti memang perlu. Tapi, kalau udah melampaui batasan, berhenti saja."


Sita? Bisakah gue kayak yang loe omongin? Berhenti, menjauh dan pergi? Sedangkan jeratan Haris dan Papa terasa begitu mengikat kencang. Lalu, Andrew? Dia bisa segila apa nanti, jika tanpa gue?


Kupejamkan mataku perlahan. Helaan napas berat kulakukan lagi. Ya! Sita benar wajahku yang terpantul pada cermin tersebut menyiratkan kesedihan dan keletihan yang mendalam. Namun untuk berhenti, aku masih ragu. Sebagai seorang anak, pastinya hati kecilku masih menyayangi Papa. Aku khawatir beliau masuk bui atau sakit keras karena ulahku yang egois.


Tak terasa air mataku menetes lagi, meski tidak deras. Namun, mampu menggambarkan segala kepiluan yang sangat pedih. Aku memeluk diri Sita, dan ia pun menyambutku dengan ikhlas. Ia membelai punggungku sembari mencoba menenangkanku.


"Gue tau... gue tau perasaan loe, Beb," ujarnya.


"Gue harus gimana, Sit? Gue nggak mungkin ngebiarin Papa menderita, sakit parah, masuk penjara atau bahkan meninggal dunia," keluhku.


"Sembarangan! Om Surya nggak bakal kenapa-napa, Beb. Gue tau kok beliau orang yang kuat."


Kulepas pelukanku dari Sita. Lantas, aku mengusap air mataku lagi. Aku menatap sahabatku tersebut penuh harapan yang mungkin ada ide yang ia pikirkan.


Beruntungnya, demam tubuh Sita sudah kembali normal. Aku rasa, ia masih sedikit pusing meski sudah lebih baik. Sejujurnya, aku sangat malu kepada Sita. Lantaran, diriku sangatlah cengeng dan plin-plan. Namun, jika bukan dengan dirinya, aku tidak tahu pada siapa lagi berkeluh kesah. Mungkin ada Mama dan Bi Emi. Jika di rumah seolah sedang diawasi Papa. Sehingga, aku tidak bisa melampiaskan semuanya.


"Loe masih cinta banget ya sama Andrew?" tanya Sita.


Aku mengangguk ragu. "Iya," jawabku.


"Hmm... gue tau kok kalian emang masih saling mencintai. Bahkan, Andrew kirim pesan sama gue. Dia nitipin loe sama gue. Tapi, Beb... kalau loe pengen balik sama dia, gue harap kalian bisa bersabar dulu. Beresin satu masalah dulu, dan gue harap sih Andrew nggak ketemu Haris. Bisa celaka."


"Gue juga sempet mikir gitu kok. Makanya gue nggak kasih jawaban apa-apa dan juga gue melarang keras padanya. Padahal, dia pengen ketemu Papa. Tapi gue nggak bolehin."


"OMG!!! jadi orang cantik, gilaaaaak! Derita banget siiiiihhhh!!!"


Aku menutup telingaku seketika. Suara Sita yang cempreng akan mampu merusakkan gendang telingaku jika tidak kujaga baik-baik. Berbeda dengan tadi yang terlihat dewasa, kini Sita bertingkah konyol kembali.


Wanita satu ini memang luar biasa. Entah sakit hati, kantong kosong bahkan sakit jasmani, ia tetap ceria sepanjang masa. Luar biasa! Andaikan aku sepertinya, pasti aku tidak merasakan kekalutan ini.


"Yaudah yuk tidur, gue nggak mau bolos lagi besok. Bonus gue udah berkurang hari ini," ajaknya.


"Iya Sit."


****


Keesokan harinya, lebih tepatnya waktu fajar telah tiba. Aku membangunkan diriku, lalu merapikan barang-barang yang kubawa. Kubangunkan Sita pelan-pelan.


"Sit? Gue mau balik nih," ujarku.


Sita mengerjibkan matanya perlahan. Lalu ia membangunkan dirinya dan bertanya, "Emm... emang jam berapa sih sekarang?"


"Jam setengah lima."


"What?! Mau balik jam segini?"


"Iya, sebelum bokap gue bangun. Gue pinjem HP loe."


"Lah HP loe kemana? Terus buat apa?"


"HP gue, gue banting gegara alesan yang loe bilang sama Haris dan Papa. Makanya gue mau pinjem buat pesen ojek online."


"Haaah? Serius? Loe banting?"


Aku mengangguk. "Gue takut diperiksa sama Haris."


"Buhh! Sorry Beb, gue kemaren bingung mau alesan apa."


"Nggak apa-apa. Lagian loe udah bantuin gue kok, loe sahabat yang terlalu peka."


"Hmm... itu sih bener. Tapi tetep aja, akibatnya fatal. Gue anter aja yuk."

__ADS_1


Tanpa mau mendengar penolakanku, Sita beranjak turun dari ranjangnya. Ia berganti pakaian dan melambaikan tangannya kepadaku supaya bergerak lebih cepat. Padahal, aku tidak ingin ia mengantarkanku karena masih dalam kondisi sakit. Lagi-lagi, anak itu tidak mau dengar sama sekali.


Mau tidak mau, malu tidak malu, atau segan tidak segan, akhirnya aku menurut begitu saja. Kini kami telah berada di garasi, tempat dimana mobil Sita terparkir. Suasana masih cukup sepi, orangtua Sita juga belum menampakkan batang hidung. Aku rasa masih terlelap dengan nyenyak.


Setelah itu, kami masuk ke dalam mobil. Sita melajunya perlahan meninggalkan rumahnya untuk sementara waktu. Dengan kendaraan ini, kami menyusuri jalanan aspal yang panjang sekali. Hawa dingin menyeruak masuk ke dalam mobil dan bercampur dengan suhu didalamnya. Aku dan Sita kedinginan. Meski begitu, angin pagi memang sangatlah segar dibandingkan siang atau malam yang sudah tercampur dengan polusi.


Selang beberapa menit kemudian, kami telah sampai di kediamanku. Aku segera beranjak turun dari mobil Sita. "Thanks ya, Sit," ujarku.


Sita tersenyum saja. Kemudian menjawabku, "Sama-sama, Beb. Kalau ada apa-apa, bilang aja. Yah, semoga loe nggak kena omel. Gue cabut ya, masih ngantuk."


Aku mengangguk. "Hati-hati, Sit."


Sita berlalu dan meninggalkanku. Aku beranjak masuk ke dalam gerbang rumahku setelah ia dan mobilnya hilang dari pandangan mataku.


Kuhela napas lagi saat kupandangi pintu utama rumah ini yang telah berada tepat dihadapanku. Tengkukku kaku seketika, ragu dan bimbang pun ikut hadir didalam hati. Apa yang akan kukatakan jika Papa masih tidak percaya dengan alasan yang Sita berikan? Mungkin jika Papa, aku masih bisa mengelabui. Namun, bagaimana dengan Haris yang sangat pemarah itu?


Uhh... semua nggak sesimpel seperti bayangan Andrew.


Dengan perasaan yang sama, aku mulai mengetuk pintu rumah ini. Dengan harapan Bi Emi ataupun Mama yang membukanya. Karena aku masih terlalu lelah untuk berdebat dengan Papa. Sampai akhirnya, aku mendengar suara langkah seseorang, entah siapa. Semakin orang itu mendekati keberadaan pintu, semakin tegang pula hatiku. Dan...


"Ha-haris???" ujarku sembari terbelalak lebar. Kaget bukan kepalang.


Apa-apaan ini? Siapa yang mengizinkan cowok gila ini, nginep disini?"


Berbeda denganku yang kaget, Haris malah menengak nengok dan melongokkan pandangannya jauh ke dalam rumahku. Setelah merasa cukup, ia langsung menarik tanganku tanpa belas kasihan. Ia membawaku keluar dari pekarangan rumah ini. Rautnya sendiri, terlihat marah dan kecewa. Intinya ini benar-benar gila.


Cengkeraman tangannya begitu kuat, sampai aku tidak bisa melepaskan diri. Bahkan aku sempat berpikiran buruk, tentang tanganku yang bisa putus seketika. Lantaran kemarin Andrew pun melakukan hal yang sama. Dan kini kami telah sampai lebih jauh dari rumahku. Dibawah lampu yang masih menyala terang, Haris menatapku tajam penuh kecurigaan. Hanya ludah yang bisa kutelan, karena napasku seakan tersendat dan tidak bisa masuk ke hidung dengan lancar. Aku takut!


"Loe kemana semalaman, Navya?" tanya Haris kemudian.


"Gu-gue ketempat Si-sita k-kok," jawabku terbata-bata.


"Jangan bohong! Loe pikir gue sebodoh itu?!"


"Gu-gue nggak bohong, Ris. Sita juga udah bilang kan sama loe?"


Haris menyeringai. Ia terlihat sangat menyeramkan sekali. Kemudian, ia merangkul pundakku dari belakang. Ia kembali kasar seperti dulu. Lagipula, mana ada manusia bisa berubah seketika. Haris tetaplah Haris yang penuh kuasa.


"Ngomong sekarang yang jujur, Navya! Loe kemana?!" tegasnya lagi.


"Gue udah jujur, Tuan Muda! Lagian loe ngapa sih mau tau urusan gue? Lepasin tangan loe dari pundak gue, sakit!"


"Kenapa kata loe? Gue kan udah bilang, gue bakal ngedapetin diri loe."


Kukibaskan tangan Haris yang menyentuh wajahku. Aku berusaha melepaskan diri darinya. Dan akhirnya berhasil, kemudian berkata, "Dapetin gue? Katanya loe mau berubah juga kan? Mana? Loe tetep aja angkuh kayak biasanya, Ris!"


Haris terdiam seketika. Ia menunduk penuh penyesalan. Aku rasa ia melupakan tentang janji itu. Namun, apa gunanya menyesal? Toh, ia memang tidak bisa berubah. Sedangkan, aku masih meringis kesakitan karena pergelangan tanganku memerah karena ulah Haris tadi. Niat ingin menghindari Papa, kini malah bertemu dengan monster yang luar biasa lebih ganas.


Mau menangis sudah tidak sanggup. Air mataku seolah sudah tidak tersisa lagi. Hanya saja tengkukku masih terasa kaku. Aku khawatir Haris berbuat yang tidak-tidak, misalnya saja, membawaku pergi dan melibas diriku habis.


"Nav, gue nungguin loe dari sore. Berharap loe balik, karena Sita melarang keras pas gue mau jemput loe. Loe nggak bisa dihubungi, cowok mana yang nggak curiga? Gue khawatir loe kabur atau mungkin main sama cowok lain," ujar Haris.


Tepat, Ris. Kecurigaan loe emang bener!


"Gue ditempat Sita beneran."


"Nav, sorry gue kasar lagi."


"Udah biasa."


"Tapi, gue ingetin sekali lagi... loe jangan macem-macem sama gue. Karna jika itu terjadi, gue nggak akan tinggal diam. Dan... kalau loe punya cowok lagi, gue abisin dia. Kalau gue nggak bisa dapetin loe, semua orang juga nggak bisa. Camkan itu!"


Glup! Aku menelan ludahku dengan kelu. Sesuai dugaanku, Haris memang seperti itu. Aku harus berusaha menjauhkan dirinya dari Andrew. Mau bagaimanapun, aku tidak bisa membiarkan Haris menghabisi orang yang masih aku sayangi tersebut.

__ADS_1


Setelah itu, Haris melepaskan jaket yang ia pakai. Ia memakaikannya untukku. Kemudian, ia menggandeng tanganku. Kami kembali ke rumahku dengan membawa sejumlah perasaan masam dimasing-masing hati.


Bersambung...


__ADS_2