Who Is My Love

Who Is My Love
Dimaafkan


__ADS_3

Selepas menenangkan diriku, Andrew mengajakku untuk duduk di sofa yang sempat ia hampiri. Ia memapahku sembari merangkul pundakku. Kami berjalan sangat pelan untuk sampai ke sana. Setelah sampai di sana, kami duduk saling berdampingan. Malam yang semakin gelap tidak membuatku buru-buru untuk pulang. Entah, aku masih memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan.


Sejak tadi, aku masih terdiam. Air mataku sudah mengering lantaran diusap oleh telapak tangan kekasihku tersebut. Namun, sisa-sisa tangisanku masih tetap ada. Bingung, itulah perasaanku sekarang. Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Andrew juga belum bertanya lagi mengenai kesalahan yang aku perbuat tadi siang. Rasa kecewanya telah kalah dengan rasa iba karena diriku yang terisak. Yah, tangisan adalah senjata paling ampuh yang dimiliki seorang wanita.


Andrew kembali mendekap kepalaku ke dalam pelukannya sembari berkata, "maaf, maaf. Aku kasar ya tadi? Jangan nangis lagi, Sayang. Aku nggak ada maksud bikin kamu sedih."


"Aku yang salah kok. Kalau aku nggak bodoh, pasti kamu nggak akan marah kayak gini," jawabku sembari menilik wajah Andrew.


"Kamu tahu, 'kan? Aku cuma cemburu. Aku pikir tadi cuma salah lihat. Tapi ... aku sempet cari-cari kamu emang nggak ada. Raya dan Sinta enggak tahu, waktu mau balik ke ruangan, aku malah ketemu sama mantan pacar kamu yang ternyata udah jadi investor baru."


Ternyata Andrew sempat bertemu dengan Nevan. Aku rasa, saat Nevan kembali ke kantorku karena ada barang yang tertinggal, tepat saat kami usai makan siang. Rencanaku untuk menyembunyikan kedatangan Nevan sudah gagal dan malah salah kaprah. Aku tidak berpikir jika mereka masih bisa bertemu kapan saja, apalagi Nevan berada dilingkup kantor tempat diriku dan Andrew bekerja.


"Bolehkah aku katakan sekali lagi, Ndrew?"


"Hmm ... ya, bilang aja."


"Aku mencintaimu. Terlepas dari semua sikap kekanak-kanakanku, aku punya banyak rencana untuk melindungi hubungan kita."


"Termasuk bohong?"


Aku mengangguk dengan ragu. "Iya, aku takut kalau kita saling salah paham lagi. Lalu, untuk Linseyld. Aku ingin menjatuhkan dirinya kalau udah GR banget sama kamu."


"Apa kamu nggak takut kalau aku suka sama dia, Sayang?"


Aku mengernyitkan dahiku. "Emang kamu punya kemungkinan suka sama dia?!"


Senyum, hanya itu respon yang diberikan oleh Andrew. Sembari merangkulku lebih erat, ia kembali berucap, "nggak akan. Mana ada orang yang bisa aku cintai selain seorang Navya. Kamu satu-satunya orang yang bisa bikin aku hampir gila."


"Oh ya? Lusi gimana? Jangan-jangan aku hanya sebagai pelampiasan doang nih?"


"Lusi hanya masa lalu. Hubungan kami berjalan lancar selama dua tahun aja, sisanya karna sayang sama usia hubungan. Meski tanpa perasaan lagi. Aku minta maaf soal kebohonganku dimasa lalu sama kamu, sekaligus terima kasih karna kamu hadir sebagai cinta yang sebenar-benarnya, Sayang."


Aku juga sangat berharap bahwa cinta kami adalah cinta yang sebenar-benarnya. Sebentar lagi kami akan menikah, terlalu banyak ujian yang datang. Aku tidak ingin jika kami berpisah seperti dimasa lalu. Untuk sekarang rasanya terlalu berat. Aku telah jatuh ke dalam hati Andrew, tanpa bisa kembali kepada diriku yang tidak mencintainya.


Pada rangkulannya yang erat, aku meletakkan kepalaku didalamnya. Terpejam sesaat sembari berharap tidak ada hal pahit lagi yang akan kami temui setelah ini. Entah itu dari Linseyld ataupun Nevan--mantan kekasihku yang bisa saja membuat salah paham. Perlu waktu untuk membentuk diriku kembali seperti dahulu. Butuh uang lebih banyak untuk membeli pakaian cantik dan make up yang bagus. Dan selama itu, apakah Andrew mampu menjalankan tugasnya sesuai rencanaku? Atau ia akan menyerah dan membiarkan Linseyld terus mengganggu hubungan kami?


"Bertahanlah sebentar lagi, sampai aku bisa kembali pada diriku sendiri ya, Ndrew." Dengan mengatakan itu, aku kembali berharap supaya Andrew lebih bisa diajak bekerja sama. Meski aku tahu, helaan napas tidak setuju ia lakukan.


"Kembali pada dirimu sendiri? Emangnya yang sekarang bukan kamu? Vya, sebenarnya apa yang kamu rencanakan? Jangan terlalu jahat sama orang." Sembari berucap, Andrew mendorong tubuhku dengan lembut agar dirinya bisa memandangi wajahku.


"Aku sekarang bukanlah aku, Ndrew. Terlalu takut dan trauma dengan penampilanku, aku jadi seperti ini. Rasanya masih aneh, meskipun ada sisi kenyamanan ketika aku memutuskan untuk menjadi seperti ini."


"Aku selalu menerima kamu apa adanya, dulu ataupun sekarang, Sayang. Kalau saat ini bisa bikin kamu nyaman, dipertahankan juga nggak apa-apa."

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku. "Kamu terlalu sempurna untuk seorang aku yang seperti ini. Aku cuma mau membuktikan kalau aku bisa, bahkan lebih cantik dari wanita itu."


"Hmm ... begitu. Jadi, apa yang kamu butuhin untuk kembali seperti saat itu? Belanja? Aku bisa membantu kamu jika soal itu, Sayang."


"Nggak! Aku nggak mau morotin uang kamu sebelum menikah. Dan aku juga butuh kesiapan mental. Rasanya masih gemeter kalau inget Haris, seolah menekan aku supaya nggak balik ke diriku dimasa lalu."


Andrew memegang kedua pundakku dan menatapku dengan mantap. "Aku disini, aku milikmu. Aku yang akan melindingi kamu, Sayang. Lupakan masa itu, seenggaknya buat pengalaman biar lebih hati-hati. Aku akan terus bertanggung jawab soal apapun yang akan aku lakukan sama kamu. Bahkan menyentuhmu saja, aku akan menikahi kamu."


Semua perkataan Andrew sangat mudah untuk ia ucapkan. Namun bagiku? Aku masih teramat sangat takut. Sentuhan tangan Haris yang menjijikkan itu kerap kali terbayang, bahkan masih terasa di kulitku. Hal itu yang membuatku seakan enggan kembali kepada diriku sendiri. Aku hampir gila, bahkan nyaris kehilangan kehormatan diriku di tangan orang yang jahat dan aku sama sekali tidak mencintainya. Bagaimana aku bisa melupakan hal itu dengan mudah?


Jika bukan Andrew, mungkin aku bersikeras untuk menghindari. Setidaknya ada rasa cinta yang bisa mengurangi trauma kontak fisik dengannya. Setidaknya kenyamanan yang aku dapatkan darinya bisa mengurangi sedikit ketakutanku. Itu karena dirinya, aku tidak tahu jika ia adalah orang lain. Mungkin sempat hadir seorang Affandy, sejauh ini kami tidak pernah melakukan kontak fisik selain saat ia menopang tubuhku ketika didorong oleh wanita itu atau mungkin beberapa hal kecil yang tidak terlalu parah.


Aku tidak tahu rasanya jika dipeluk oleh orang lain selain Andrew. Hanya Andrew, bahkan ketika kami masih kerap bertengkar, aku terbilang tidak menolak pelukan darinya. Ya, karena semua itu karena dirinya. Seorang pria yang tidak berhasil aku lupakan meskipun aku berusaha menjauh dan menolaknya. Dirinya yang terus berusaha mendapatkan kata maaf dan diriku kembali. Dirinya yang tidak pernah mempermasalahkan apapun penampilanku, seperti Affandy dan Nevan yang sedikit protes tentang hal itu.


Andrew terdengar menghela napas lagi. "Baiklah, Sayang. Aku akan manut apa rencana kamu. Tapi, jangan lama-lama, aku nggak tahan. Dan ... kalau butuh apa-apa kamu bisa minta ke aku, jangan sungkan ih sama pacar sendiri. Lagian, aku nggak terlalu miskin kok," ujarnya.


Aku tersenyum seketika. Kali ini ia setuju. Berbeda dari sebelumnya yang setuju namun masih enggan. "Oke, entar kalau duitku habis beneran, aku minta kamu ya?" balasku.


"Iya, gini aja deh. Aku bakal kasih kamu jatah perbulan."


"Emm ... ta-tapi kalau itu keterlalun deh kayaknya."


"Nggak apa-apa, Sayang. Aku cowok, kebutuhanku nggak banyak kayak cewek."


"Orang tuaku 'kan udah punya usaha sendiri, nggak banyak minta. Tabungan menikah, udah ada. Kalau jatah bulanan buat kamu emang nggak bisa banyak kayak mantan kamu sih, tapi ada. Bilang aja kamu mau berapa, yang menurut kamu sendiri wajar."


"...."


Aku tertegun dibuatnya. Uang bulan-an untuk diriku? Maksudnya untuk beberapa keperluanku disini? Aku tidak terbiasa mendapatkan hal seperti ini. Bahkan, ketika aku bersama Nevan, tidak pernah aku menerima uang sepeser pun dari dirinya, kecuali barang dan makan. Lalu, Andrew malah menawariku. Apa tidak keterlaluan? Mau bagaimana pun aku belum sah menjadi istrinya.


Namun saat kupastikan lagi, wajah Andrew terlihat sangat serius. Ia benar-benar tulus soal ini. Yah, sebenarnya lumayan juga dan tentu saja aku senang. Disatu sisi, aku masih enggan. Selama ini aku selalu menolaknya jika berkaitan dengan uang. Bukan munafik, itu karena aku mengingat status kami disini yang hanya sebagai seorang perantauan.


"Heh! Malah ngalamun. Kenapa? Mau ditolak lagi? Kenapa sih selalu sungkan sama aku, Vya? Kalau kamu kayak gitu, rasanya aku nggak ada gunanya sama sekali," celetuk Andrew sembari mengusap wajahku yang tengah melamun.


"Tapi, aku nggak enak kalau soal uang, Sayang. Apalagi kita hanya se--" Perkataanku terpotong pada saat bibirku dikecup olehnya. Tentu saja, mata terbelalak lantaran terkejut. Tanpa ada persetujuan dariku, ia melakukan hal romantis itu. Namun, lama-lama aku ikut hanyut juga.


Hal manis ini terjadi dalam beberapa saat. Dalam batasan yang perlu ia pikirkan. Sampai hembusan napas kami yang saling menyatu. Hangat. Selepas itu, aku jengah dan menarik kepalaku. Wajahku terasa penas dan merasa salah tingkah seketika. Bahaya! Kalau kami tidak segera menikah. Aku malu sekali, hanya tertunduk menghindari tatapannya yang bisa aku lakukan sekarang.


Andrew malah terkekeh kecil melihatku bertingkah demikian. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun darinya setelah mengejutkan diriku dengan hal yang manis itu. Hanya karena tidak bersedia mendengar alasanku, ia menghentikan gerak bibirku melalui hal semacam itu.


"Kenapa, Sayang? Masih belum terbiasa?" Ia bertanya demikian sembari menelungkupkan kedua telapak tangannya di wajahku.


"Y-ya be-belumlah, Ndrew. Aneh, kita masih pacaran!" tegasku kepadanya.

__ADS_1


"Padahal udah sering lho. Dulu juga gitu, awal-awal kita kenal. Kok belum terbiasa juga sih? Udah mau menikah lagi."


"Ah! Udah, jangan bahas lagi! Aku malu, tahu nggak?!"


"Hmm ... ya, tapi kalau kamu nolak niatanku, bakalan aku hukum."


"Ma-maksud kamu?"


"Terima tadi, besok aku ambil uang jatahnya. Jangan ditolak, ini karna aku sayang dan mikirin kamu. Apalagi tanggung jawab kamu besar banget. Buat aku jadi berguna, Vya. Kalau kamu tetep nolak, aku bakal hukum yang lebih dari tadi."


"Lho, lho, kok maksa sih? Te-terus maksud kamu apa yang lebih dari tadi?"


Andrew tersenyum. Ia menunjuk bibirnya, lalu turun di beberapa bagian tubuhnya. Hal itu membuatku bergidik seketika, bahkan sampai memundurkan posisiku supaya lebih jauh. Menakutkan! Melihat responku, ia kembali terkekeh. Merasa bahwa godaannya berhasil membuatku berlaku se-demikian rupa.


Sampai akhirnya, aku mengangguk setuju dengan niat baiknya terhadap diriku. Semoga keputusanku tidak membebani dirinya. Aku ingin membuat dirinya sedikit merasa berguna. Meskipun, aku sangat tidak enak hati jika menerima uang darinya nanti. Aku pikir, aku bisa terbiasa. Mana ada orang yang membiarkan rezeki menganggur begitu saja. Setidaknya, aku bisa menggunakan uang itu untuk hal yang bermanfaat seperti menabungnya diam-diam ataupun membelanjakan barang sesuai kebutuhanku.


"Emm ... makasih ya, Ndrew."


"Iya, aneh ya kamu. Padahal orang lain dikasih uang seneng aja tuh. Lah ini, harus dipaksa dulu baru terima."


"Nggak tahu, mungkin aku udah terbiasa kerja sendiri setelah lulus kuliah. Jadi gini, tapi bukan berarti nggal doyan. Bisa aja nanti aku malah keterusan, dan minta terus sama kamu. Gimana coba?"


"Aku nggak yakin kamu bisa kayak gitu, Sayang. Karna sejatinya kamu bukan orang yang seperti itu. Aku cuma ingin sedikit berguna buat kamu, Vya sayang. Mungkin kamu nggak akan mau kalau aku suruh bawa ATM."


"Enggaklah! Itu tanggung jawabnya besar. Apalagi kalau penyakit shopping-ku tiba-tiba kambuh, bisa ludes nanti."


"Makanya aku mau kamu terima, niatku yang awal tadi. Yah, walaupun enggak banyak. Maaf ya, Sayang. Aku bukan orang kaya yang bisa beliin kamu barang-barang branded."


Memangnya kegunaan barang branded kalau si pemberi bukan orang yang baik. Justru karena Andrew lebih sederhana, ada sisi yang aku kagumi. Ia tidak membeli seorang wanita hanya dengan uang semata, melainkan kasih sayangnya. Aku yakin ia adalah orang yang bertanggung jawab, meski ia pernah berbohong. Ia memiliki pekerjaan yang tidak terlalu buruk. Semua yang ia lakukan sudah sangat cukup untuk menebus kesalahannya dimasa lalu.


Kini kesalahpahaman kami telah sirna. Aku tidak menjadi berbohong soal pertemuanku dengan Nevan tadi siang. Seharusnya memang seperti ini, bukan? Hubungan menjadi sehat melalui sebuah kejujuran. Malah, aku mendapatkan rezeki darinya. Uang bulan-an yang akan ia berikan kepadaku. Lumayan untuk membantuku membeli pakaian cantik dan beberapa keperluanku.


Pandanganku tidak terlepas dari wajahnya sejak tadi. Bahkan aku tidak bisa membuang senyumanku dalam menatap dirinya. Oh, aku tidak akan membiarkan Linseyld mengambil pria ini dari pelukanku. Rencanaku akan berhasil menjatuhkannya suatu saat nanti. Pada saat ia masuk ke dalam perangkapku, lalu kujatuhkan dirinya seketika. Memainkan wanita sepertinya adalah dengan cara halus yang akan berakhir kejam!


"Hei! Bengong lagi sih. Kenapa? Pacar kamu ganteng ya, Vy?" Andrew kembali membuatku terkejut. Sekali lagi, ia berhasil membuatku tersipu malu. Namun, aku perlu memberikan satu hadiah spesial untuknya.


Cup! Kukecup pipinya sekilas. Ia terlihat terkejut tidak menyangka. Lantas menatapku seketika. "Tumben? Apa ini? Biasanya aku yang nyosor duluan. Malu lho aku," ujarnya lagi.


"Hadiah, Andrew sayang hehe."


"Lagi dong, Sayang." Andrew malah bersikap manja sembari berusaha mendapatkan wajahku lagi.


Astaga! Aku ingin segera menikah supaya tidak bertambah dosanya!

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2