
****
"Jadi gimana Beb, tertarik nggak ikut ke Singapore?" tanya Sita padaku.
Aku menatapnya sekilas kemudian beralih kembali pada hidangan makan siangku, "Entahlah Sit. Kayaknya nggak deh," jawabku.
"Ehh... bisa lho, coba aja dulu. Kan loe bisa kabur dari Haris."
"Mungkin bisa, tapi gimana sama Mamaku?"
"Kenapa loe nggak mikirin diri sendiri dulu Beb. Yah, gue tau mereka berdua adalah orang tua loe. Tapi kan, tetep aja udah separah itu permintaannya."
"Gue nggak tega aja ninggalin Mama, Sit. Mama udah berbalik belain gue sekarang."
"Emm... sulit sih. Kita pikirin jalan lain dulu Beb. Biar kedok busuk Haris ketahuan Papa kamu."
"Thank's ya Sit."
"Hehehe... traktir ini ya, kan loe yang ngajakin kesini."
"Iya iya. Tenang aja."
Saat ini aku dan Sita tengah berada disuatu rumah makan yang cukup populer di kalangan karyawan. Terlebih soto dagingnya begitu menggugah seleraku.
Menyantap makan siang sambil bercengkerama dengan Sita, sahabatku. Syahdu sekali, semua beban seolah terangkat hilang jika bersama wanita bawel satu ini. Tingkah konyol, centil dan juga suara cemprengnya seolah ikut meramaikan suasana rumah makan yang penuh dengan pengunjung.
Ada kalanya, aku sangat iri pada Sita. Cukup bersedih sebentar saja lalu bisa ceria kembali. Ia tidak pernah memusingkan status jomblo yang kini melekat padanya. Tak pernah juga memikirkan masalah sampai berlarut-larut. Hanya kesenangan saja yang ada dalam otaknya.
Meski begitu, Sita bisa sangat tegas dan serius pada beberapa keadaan tertentu. Jauh jika dibandingkan denganku. Aku yang lemah, pasrah dan juga cengeng sekali.
Bukan hanya sifat, perbedaan kecantikan kami juga terlihat. Jika aku lebih tinggi dan ramping, lain halnya dengan Sita. Ia sedikit lebih pendek dariku, tubuhnya berisi namun masih proporsional. Dalam segi wajah, aku lebih terlihat tirus bisa dibilang aku lebih kurus. Sedang Sita sedikit bulat namun menampakkan keimutan dan paras menggemaskan yang bisa menarik hati pria manapun.
"Wooeee!!!" seru Sita padaku. Sehingga aku terkejut dibuatnya.
"Hmmm..." jawabku.
"Apaan sih liatin gue mulu Beb? Jangan bilang loe udah belok nih?"
"Dihhh... ngakklah ngaco banget!"
"Terus kenapa?"
"Loe imut banget menggemaskan tauk."
Sontak saja Sita memundurkan tubuhnya dariku. Ia menampakkan raut geli diwajahnya padaku. "Tuh kan? Bener loe udah belok ya? Udah demen cewek jadinya ya?"
"Sita! Kenceng amat!"
"Hehe... maaf Beb, gue kelepasan. Soalnya nggak nyangka aja."
"Hmm... kalau seandainya iya, gimana? Loe mau jadi pacar wanita buat gue?"
"Uhhukk... uhhukk..."
"Hahaha."
"...."
Tampaknya aku berhasil mengerjai Sita. Sampai-sampai ia tersedak air minum yang telah diteguknya. Akupun hanya bisa tertawa renyah. Menjadi hiburan tersendiri bagiku.
Untuk beberapa saat, Sita masih saja menaruh curiga padaku. Sepertinya otaknya dipenuhi dengan hal-hal bodoh yang berkaitan dengan candaku tadi. Terbukti saat diam-diam melirik diriku, lalu berpikir.
Bodoh sekali dia. Tidak mungkin aku segila itu. Hatiku, otakku dan tubuhku masih normal. Mana mungkin, aku menyukai sesama jenis hanya karna patah hati. Ada-ada saja.
Amit-amit. Jangan sampai!
"Kenapa sih loe?" tanyaku kemudian.
"No! Jangan deket-deket," sergah Sita saat aku mencoba meraih lengannya.
"Hahaha... nggak Sita, gue masih demen cowok. Takutan amat sih jadi orang. Emm... gue masih sayang tuh sama si Andrew."
Rasa risau dari hati Sita mulai menguap. Ia tidak lagi menghindariku lebih jauh. "Benaran Beb? Nggak demen cewek kan?"
Aku tertawa kecil dibuatnya. Dasar sahabatku satu ini memang benar-benar konyol. "Enggak Sita!"
Kami kembali pada santapan yang belum juga habis. Berbincang ria lagi sembari bercanda.
Namun, ditengah-tengah semua itu. Aku berpikir tentang negara Singapura. Ingin sekali aku ikut kesana. Membangun karir dengan baik juga tidak ada salahnya. Sekaligus melupakan Andrew. Toh, dia tidak akan ikut.
Yang memberatkanku adalah sosok Mama. Jika aku benar-benat kabur, lalu bagaimana dengan beliau nantinya? Pasti dirundung caci maki dari Papaku. Belum lagi Haris, pasti pria busuk itu tidak akan tinggal diam begitu saja.
Karena, sampai saat ini ia belum berhasil mendapatkan diriku secara sepenuhnya. Aku masih terus menunda pernikahan dengan berbagai macam alasan. Sekaligus menolak ajakan Haris ketempat aneh dengan cara mengancam melukai diriku sendiri.
Selama satu bulan ini, begitulah yang aku lalui. Penuh tantangan yang menguji adrenalin hati. Demi menjaga kehormatanku. Aku tidak ingin lengah sedikitpun. Bisa hancur hati dan hidupku, jika Haris memang berencana mendekatiku karena hasrat dan nafsu semata.
Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya. Makanan yang aku dan Sita santap pun telah habis, tidak menyisakan satu butir nasi pun di piring. Kami berdua kenyang sekali. Membuat malas untuk sekedar bergerak. Ingin rasanya bersantai terlebih dahulu.
__ADS_1
Tapi, apa dayaku. Durasi istirahat siang telah habis. Memaksa aku dan Sita untuk segera kembali.
Aku melakukan transaksi pembayaran atas hidangan yang kemi pesan. Setelah itu, bergegas keluar dari rumah makan. Hendak menghampiri mobil milik Sita yang terparkir tenang di depan rumah makan.
"Thanks ya Beb, udah dibayarin hehe," ujar Sita padaku disela-sela langkah kami.
Hanya senyum simpul yang kuberikan padanya. Kemudian kami melangkah masuk kedalam mobil. Dipaculah kendaraan beroda empat ini oleh Sita. Menuju gedung kantor dimana kami bekerja.
Deru mobil terdengar bising disetiap liku-liku jalan. Membaur menjadi satu dengan kendaraan yang lain. Sedang aku dan juga Sita terlalu kenyang untung berbicara, sehingga memilih diam saja. Menyimpan seluruh energi untuk sisa hari ini.
Benakku melayang jauh ditengah perjalanan. Rasanya waktu cepat sekali berlalu. Semua masih aku lalui begitu saja. Bertahan pada situasi yang tidak kondusif untuk hatiku. Mungkinkah aku hanya bisa pasrah menjalani perjodohan ini?
Sejatinya hati, masih menginginkan cinta yang pasti. Saling bersama menyatukan kasih yang sama. Suatu saat nanti, namun inginku bersama orang lain yang baik dan kami bisa saling mencintai. Bukan Haris. Bukan pula Andrew, meski aku masih mencintainya. Namun, aku sudah tidak berharap pada lelaki itu.
Posisi mobil milik Sita yang kami tumpangi ini, perlahan memasuki area gedung kantor. Sehingga memaksaku untuk menghentikan lamunanku. Aku mencoba mengembalikan fokusku kembali. Demi menghadapi segala macam pekerjaan yang telah menunggu.
"Ayo Sita, tiga menit lagi lho!" seruku pada Sita.
Sita melepas sabuk pengamannya. Lalu meraih selempang yang ia bawa. Setelah itu bergegas turun. "Ayok cepet!"
Kami berlarian atau terkadang melangkah cepat. Sebelum jam pada mesin finger scan menunjukkan waktu yang melampaui. Kami bergantian lalu bergegas segera.
"Navya!" seru seseorang memanggilku.
Deg!
Siapa itu?
Sontak saja aku menghentikan langkahku dan menoleh kebelakang. Rezky disana melambaikan tangannya padaku. Mungkin mengisyaratkan agar aku datang mendekat. Namun sebelum itu, aku memastikan lagi. Apakah memang benar Rezky memanggilku?
Nyatanya memang benar. Rezky ingin aku datang, untuk masuk kedalam sebuah ruang kerja. Aku rasa ruangan milik petinggi perusahaan. Namun, untuk apa?
"Udah samperin aja," ujar Sita memberikan saran padaku.
"Oke, gue datengin dulu ya," jawabku.
"Siap Beb. Semoga beruntung."
Akhirnya, aku bergegas menghampiri Rezky. Dengan langkah yang cepat pula. Agar cepat sampai. Aku takut akan ada sesuatu yang buruk padaku. Misal kena omel akan sesuatu hal yang tidak berhasil aku kerjakan.
Yah, semoga saja tidak seperti itu.
"Silahkan masuk, Vya," ujar Rezky padaku.
"Makasih Rez," jawabku.
"Sama-sama cantik."
Tampak Affandy tengah duduk dihadapan laptop yang mungkin miliknya. Sembari menggerak-gerakkan kursi putarnya kekanan maupun kiri. Aku tertegun sebentar. Merasa heran dengan semua ini.
Alasan apa yang membuat Affandy memanggilku datang?
Affandy tampak menyunggingkan senyum manisnya padaku. "Hai Navya, silahkan duduk," sapanya padaku.
"Terimakasih Pak," jawabku.
"Rez, mari kita mulai."
Rezky segera menutup pintu ruangan ini. Setelah itu, menyusulku duduk disalah satu kursi yang berada disampingku. Kami berhadapan langsung dengan Affandy. Bak seorang siswa yang sedang diintrogasi guru BK.
Affandy menatap kami secara bergantian. Membuat sedikit risih dan risau. Ia belum juga memulai apa yang hendak dibicarakan kepada kami. Sifatnya juga begitu profesional, layaknya seorang dewan direksi yang terhormat. Ia tidak menunjukkan sedikitpun sikap, bahwa ia telah mengenalku diluar pekerjaan ini.
Hembusan nafas yang dihela Affandy terdengar oleh telingaku. Membuat diriku sedikit tegang juga. Menanti ucapan yang entah baik atau buruk darinya.
Prokk!
Affandy bertepuk tangan sekali saja, "Oke, kita mulai saja," ujarnya.
"Baik Pak," jawab Rezky.
Aku hanya menganggukan kepala.
"Ternyata, tidak banyak yang berminat bekerja di Singapore ya? Dengan berbagai macam alasan. Seperti para perantau, orang tua, keluarga."
Aku tertegun lagi. "Jadi?" tanyaku.
"Hmm... karena beberapa hari ini belum ada yang berminat jadi saya bermaksud merekrut kalian berdua."
Sontak saja, aku dan Rezky saling berpandangan satu sama lain. Aku tak menyangka Affandy akan memilih kami berdua. Tapi, atas dasar apa? Mengingat perusahaan yang berada di Singapura sudah berkembang pesat, masih jauh jika dibandingkan di Indonesia.
Mungkin, Rezky juga memiliki pemikiran yang sama denganku. Penuh kebimbangan tersendiri dalam hati. Jika dinilai dalam aspek karir. Kami bisa meningkatkan karir melalui hal ini. Namun, bagaimana dengan anggota keluarga yang lain?
Seperti Mamaku? Sekali lagi, aku tidak akan tega meninggalkan beliau. Aku terlalu takut Papaku menyiksa batin Mama. Lalu kebahagiaan keluarga kami hancur seketika. Lalu Haris. Pasti ia akan mencari ke segala penjuru negara itu.
"Bingung ya?" tanya Affandy lagi.
Aku maupun Rezky sama-sama menganggukkan kepala. Yang berarti membenarkan pertanyaan dari Affandy.
__ADS_1
Kulihat sekilas Affandy tampak tersenyum begitu manis. Diusia yang cukup muda, Affandy telah dipercaya sebagai Dewan Direksi. Bahkan di Singapura, aku rasa prestasinya sangat bagus. Membuat rasa kagum tersendiri dihatiku untuknya.
"Saya bisa memberi waktu dua minggu saja, untuk ambil keputusan buat kalian," ujar Affandy.
"Maaf Pak, jika salah satu dari kami tidak bisa bagaimana?" tanya Rezky.
"Saya harap ada salah satu yang mau. Heran deh, pada diberi kesempatan bagus. Kok pada bingung ya? Navya juga?"
Aku gelagapan dibuatnya. "Be-belum tau, Pak."
"Hmm... yasudah Rezky kembali bekerja dulu, karena ketua team pasti banyak kesibukan. Sambil menimang-nimang hal ini. Saya ingin kamu tetap ikut."
"Baik Pak, kalau gitu saya permisi."
Affandy mengangguk. Sedangkan aku merasa tidak rela jika Rezky keluar dari ruangan ini. Mau tidak mau, aku harus menghadapi Affandy sendirian. Dengan berbagai macam pertanyaan tentunya.
Duhh... bagaimana ini? Ia sama sekali tidak mengizinkan diriku untuk beranjak kembali ke ruang kerjaku.
"Hai," sapa Affandy lagi.
"Hai juga," jawabku, sedikit heran dengan sapa yang diulangnya kembali.
Lelaki yang baru aku kenal ini, kembali tersenyum. "Navya, masih inget aku kan?"
Wow... bahasa yang ia gunakan tidak baku lagi. Sangat berbeda saat Rezky masih ada disini. Kini Affandy menampakkan sikap bahwa kami sudah saling mengenal.
"Ma-masih kok, Pak," jawabku gugup.
"Pak? Emang setua itukah? Padahal kalau lagi nge-chat, panggilnya pakai nama doang lho."
"Maaf tapi ini kan lingkup kerja."
"Hehe... iya sih. Tapi kan aku bukan anggota di kantor ini. Aku datang cuma mau melakukan perekrutan aja, Vya."
"Terus kenapa kamu nyuruh aku ikut?"
"Vya, kesempatan ini jarang terjadi lho. Lagipula kinerjamu cukup bagus kok, Rezky juga. Aku kan tidak mau sembarangan ngambil orang."
"Tapi aku nggak mau lewat jalur pintas Fandy, jangan mentang-mentang kita kenal."
"Haaah? Nggak Vya, serius. Emm... tapi aku masih inget sama cerita kamu beberapa hari yang lalu."
"Cerita apa?"
"Perjodohan yang harus kamu alami."
Lah? Kapan aku cerita pada Affandy? Mungkinkah, aku sempat mengatakannya? Aku benar-benar melupakan hal ini.
"Ka-kapan aku cerita sama kamu?" tanyaku lagi.
"Seminggu yang lalu kalau nggak salah, Vya."
"Iyakah? Aku lupa. Maaf kalau sempat curcol sama kamu, Fandy."
"Nggak apa-apa, aku malah seneng. Jadi, selain kinerja kamu yang bagus. Aku juga berniat bantu kamu lepas dari masalah itu."
Aku terdiam sebentar. Seminggu yang lalu? Sepertinya saat aku bertengkar hebat lagi dengan Haris. Sedangkan teman chattingku hanya Sita, Affandy terkadang juga Andrew.
Mana mungkin, aku menceritakan segala hal pada orang baru kenal. Atau, jangan-jangan aku salah mengirimkan pesan waktu itu. Yang seharusnya untuk Sita, malah untuk Affandy.
Astaga! Malu sekali rasanya. Sepertinya memang begitu.
"Mau kan Navya?" Affandy mencoba memastikan lagi.
"Aku belum tau Fandy," jawabku.
"Kenapa?"
"Kamu udah tau masalahku kan? Mungkin aku sempet salah kirim waktu itu, jadi maaf. Aku hanya kasian sama orang tuaku. Belum lagi calon suami aku, pasti nggak akan tinggal diam. Dia bakal melarang habis-habisan."
"Aku paham, tapi keberangkatanmu kesana bisa dirahasiakan kok."
"Tapi Mama aku gimana? Aku takut Mamaku kena marah Papa."
"Hmm... iya juga sih. Kita cari jalan keluar selama dua minggu ini Vya. Sepertinya Rezky juga masih bingung. Masa' iya nggak ada yang mau? Aku bantuin kamu cari caranya ya?"
Kuanggukan kepalaku dengan pelan. "Makasih ya, Fandy."
"Sama-sama."
"Kalau gitu aku balik kerja dulu ya?"
"Hmm... oke kalau gitu, emm... selamat bekerja dan semangat ya Navya."
Senyum simpul kuberikan pada Affandy. Setelah itu, aku beranjak dari dudukku. Keluar dari ruangan ini, kemudian melangkah cepat menuju ruang kerjaku.
Benakku penuh kebimbangan tiada tara. Ada rasa ragu, namun juga ingin. Tapi semua masih dalam perdebatan hebat dalam batinku dilubuk hati sana. Mungkin dua minggu ini, aku butuh waktu keras untuk memutuskan yang terbaik.
__ADS_1
Bersambung...
Budayakan like+komen.