
Bugh! Aku menjatuhkan diriku diatas ranjang didalam kamar fasilitas rumah ini, sepulang kerja hari ini. Seolah banyak bintang yang tengah berkeliling disekitar kepalaku. Tengkuk, bahu, punggung, jari, lengan dan bahkan semuanya benar-benar pegal. Pekerjaanku terasa lebih berat, mungkin dua kali lipatnya dibandingkan dengan kantor lama. Setiap jam, bahkan menit selalu saja disodorkan tugas baru untukku. Yah, memang bukan diriku saja, namun aku masih belum beradaptasi dengan baik.
Sedangkan rumah sangat hening. Aku rasa, Raya dan Sinta bernasib sama sepertiku. Jika dulu, kami bisa bermain sebentar selepas pulang kerja. Kini hanya bisa meringkuk diatas tempat tidur karena kelelahan yang luar biasa. Tidak peduli jika belum mandi, bahkan makan sekalipun. Mataku terasa berat dan lelah. Kepalaku pening sekali. Sepertinya tidur adalah hal yang cocok dilakukan.
Tapi, masa' tidur jam segini? Nggak etis banget deh.
Sebentar lagi gelap. Pastinya sebagai manusia aku memiliki tanggungjawab. Tidak baik jika aku masih enak-enakan merebah seperti ini. Apalagi aku masih membawa beberapa pekerjaan yang perlu aku selesaikan disini, lantaran malas lembur di kantor. Haruskah aku kelelahan lagi, meski didalam rumah? Sepertinya memang harus begitu.
Aku menghela napasku dalam-dalam sembari membangunkan diriku. Balutan blazer yang masih aku pakai kini kulepaskan begitu saja. Aku berencana ingin bebersih diri sekaligus mencuci. Kemudian aku beranjak berdiri, kuambil langkah bersama keranjang yang berisi baju kotor yang nantinya akan aku cuci. Satu keuntungan yang bisa didapatkan dari rumah ini adalah segala macam fasilitas telah tersedia, sudah seperti isi apartemen. Namun, aku rasa kami bukan penghuni pertama ditempat ini.
"Loe mau ngapain, Nav?" tanya Raya tiba-tiba, ia berada dibelakangku.
"Mau nyuci, mau mandi. Kenapa?" tanyaku kemudian.
"Gue dulu ya? Gue kebelet."
"Hmm... iya deh."
"Thanks ya, hehe."
"Iyaaa."
Aku membatalkan tujuanku untuk bebersih terlebih dahulu. Kutaruh keranjang berisi baju kotor tadi disamping mesin cuci, karena ternyata masih digunakan juga. Beginilah kehidupan anak perantau yang harus berbagi fasilitas sekaligus kesabaran. Aku hanya bisa menghela napasku dalam-dalam, kemudian menghembuskannya kembali. Kududukkan diriku diatas kursi yang notabene adalah tempat makan.
Sejujurnya, aku sangat merindukan Bi Emi yang selalu bersedia membantuku. Tidak seperti sekarang yang semuanya harus aku lakukan sendiri. Terlebih sedang merasa penat sepulang kerja seperti ini. Kini hanya bisa menelan ludah saja dan menghadapi. Apa aku sudah terlalu manja? Ah... tidak! Aku harus bisa menjadi mandiri tanpa campur tangan siapapun.
"Hei, Nav?" sapa Sinta tiba-tiba.
"Emm...," jawabku sekenanya.
Kemudian ia duduk dihadapanku dan menatapku. "Capek ya?"
"Bangeeeeet, Sin."
"Sama aja, Nav. Gila sih parah banget kerjaan kagak ada habis-habisnya."
"Nah bener tuh."
"Gue jadi males masak. Makan keluar yuk?"
"Emang udah hafal jalan?"
"Tenang aja, gue udah nanya-nanya tadi."
"Emm... boleh sih. Tapi, jangan yang mahal-mahal ya? Gue bokek, belum gajian."
"Hahaha... santai. Gue juga sama, lagian gaji gede, gaya hidup disini jug gede."
"Yap, bener banget."
Selanjutnya Sinta terus berbicara banyak mengenai pekerjaan barunya. Entah sistemnya, segala tugasnya, atau bahkan rekan dan atasan yang ia katakan sebagai pria yang tampan. Aku tidak heran, karena memang beberapa orang ada yang berparas bule, Elena misalnya. Namanya juga di Singapura, menurutku bukan hal yang mengejutkan.
Yah, dengan segala cerita dari Sinta, kerinduanku terhadap orang rumah bisa lumayan terkikis. Beberapa kali, aku berpikir bahwa Sinta ini bersaudara dengan Raya. Semua pemikiranku timbul lantaran sifat mereka yang hampir serupa, bahkan style pakaian pun hampir sama. Mungkin itulah yang dinamakan sahabat sejati. Meski aku dan Sita tidak seperti itu.
"Tadi loe makan siang dimana, Nav?" tanya Sinta lagi.
"Diluar. Loe sama Raya dimana emang?" tanyaku kembali.
"Wow! Udah diluar aja, sama siapa? Temen baru ya?"
"Sama Affandy."
"What?! Wow! Berarti Pak Fandy beneran demen sama loe ya?"
"Maybe, tapi gue nggak tahu juga."
"Dah pacarin aja. Petinggi, Nav. Masa depan terjamin."
Aku menghela napasku. "Nggaklah, Sin."
"Kenapa? Gegara Andrew ya? Loe beneran pacaran sama Andrew? Kalian deket banget?"
"Nggak tahu haha."
Sinta memicingkan matanya kepadaku. Aku rasa, ia tengah merasa aneh terhadapku. Namun, entah mengapa rasanya malah seru. Lagipula aku tidak harus menceritakan segala hal kepadanya, bukan? Meski kami berada didalam satu atap, bukan berarti aku tidak memiliki privasi. Aku juga sangat mengerti jika Sinta ataupun Raya berlaku tidak terbuka. Hanya saja, mereka berdua tipikal orang yang blak-blakan sekali.
Tak lama kemudian, Raya keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah dibalut dengan handuk berukuran sedang. Ia berjalan menghampiri kami. Kemudian diriku hendak berdiri dan menuju kamar mandi.
"Kita tadi nyamperin loe lho, Nav," ujar Raya sampai menghentikan langkahku.
Aku mengernyitkan dahiku dan berbalik menatap dirinya. "Kapan?" tanyaku.
"Tadi pas mau makan siang. Yah, gue pikir loe nggak ada temennya. Tapi, kata Andrew udah duluan makan siang gitu."
__ADS_1
"Andrew???"
Raya mengangguk pelan. "Iya do'i tadi masih lembur. Kayaknya sih nggak istirahat siang."
"O-oh ya?"
"Iya, kenapa kok loe kayak kaget gitu? Bukannya kalian satu ruangan?"
"Emm... enggak kok hehe. Yaudah, sorry ya? Gue tadi malah duluan."
"Nggak apa-apa, Navya."
Aku membalikkan badanku lagi dan melangkah menuju kamar mandi. Aku memikirkan tentang pria itu. Lantas, kemana ia pergi saat aku hendak keluar? Apakah Andrew sengaja, supaya aku tidak bersikeras meminta tugasku kembali? Sepertinya memang benar. Alasan itu juga yang membuatnya tidak mengajakku makan siang.
Hmm... cowok yang malang.
Mungkin setelah ini aku harus menemuinya untuk sekedar berterima kasih. Aku mulai mengguyur seluruh badanku dengan air dingin. Rasanya segar sekali. Meski lelah belum sepenuhnya hilang, setidaknya lebih nyaman daripada tadi. Aku melakukan setiap ritual bebersih sampai selesai.
****
Pukul tujuh malam. Setelah selesai mandi dan mencuci, aku merebah nyaman diatas pembaringan. Otakku berputar, ingin sekali aku kerjakan tugasku namun masih malas. Bahkan menyantap makanan saja belum sama sekali. Kini lapar mulai menggerayangi. Sepertinya menyantap mie instan nikmat juga.
Tanpa pikir panjang lagi, aku membangunkan diriku dan bergegas keluar. Saat masih menutup pintu kamarku, bahuku ditepuk pelan oleh seseorang. Sontak saja, aku membalikkan badan dan menatap sang pelaku yang ternyata adalah Sinta. Sinta bersama Raya sudah berpenampilan sangat rapi, bahkan wajahnya terhias polesan make up. "Mau kemana?" tanyaku kemudian.
"Kan tadi gue ajak loe makan diluar, Navya. Loe belum siap-siap?" tanya Sinta.
"Cepet gih, berangkat yuk. Keburu malem," sambung Raya.
Makan diluar?
Aku menggeleng pelan. Benakku teringat akan Andrew, tidak mungkin kubiarkan dirinya kelaparan lagi disini. "Sorry guys, gue nggak jadi ikut deh," tolakku.
"Kenapa? Ada janji ya?" tanya Raya.
"Nggak kok, kerjaan masih banyak. Gue mau diskusi bareng Andrew mungkin. Sambil minta jajan sama dia haha."
"Iiiih... Navya matre," canda Sinta.
"Enggak becanda doang hehe."
"Tapi kalau beneran, mau ya?"
"Iya hahaha."
Mereka terkekeh sembari menepuk pundakku berkali-kali. Setelah puas berkelakar, Sinta dan Raya berlalu pergi. Kini aku sendiri. Sepertinya, aku memang harus mengunjungi Andrew. Bukan untuk minta maaf dan terima kasih saja, aku juga perlu mendiskusikan pekerjaan dan memastikan tugasku yang ia ambil sudah selesai atau belum.
Bodo amat, dah!
Kukunci pintu kediamanku ini. Setelah itu, aku menuruni anak tangga satu persatu. Sesampainya dibawah, aku menatap gusar kearah kediaman Andrew. Betapa kesepiannya dirinya disini, apalagi tidak ada Rezky. Mungkin bisa mencari teman baru, namun akan sangat membutuhkan waktu yang lama untuk seakrab dirinya dan Rezky.
Andrew, kenapa demi gue, loe harus kayak gini? Apa loe siap nunggu gue bertahun-tahun? Apa loe siap dengan segala keputusan gue nanti? Gue emang udah maafin loe, tapi gue belum siap menjalin hubungan lagi sama loe, Bro.
Apa yang aku pikirkan? Dan memang seperti itu adanya. Boleh saja, aku dibilang munafik. Mungkin aku adalah tokoh utama dalam cerita hidupku, yang sangat berbeda dari yang lain. Yah, aku ini bodoh, angkuh, aneh. Tapi, orang-orang lain pernah berlaku seperti diriku, bukan? Kalau memang tidak ada, berarti aku memang orang terbodoh di dunia ini.
Lupakan, tentang itu, aku harus segera masuk ke dalam. Setelahnya, aku mengetuk pintu kediaman Andrew. "Ndrew? Udah tidur belum?!" panggilku kepadanya.
Hening.
"Ndrew?!" panggilku lagi.
"Iya iya, bentar Sayang," jawabny dari dalam.
Aku menunggu dirinya sembari berdiri didepan pintunya. Tak lama kemudian, suara engsel pintu terdengar sedang dibuka. "Hai?" sapa Andrew kepadaku.
"Emm...," jawabku sekenanya.
"Masuk gih."
"Iya."
Kami melangkah masuk. Aku melihat suasana didalamnya. Sama saja sepertu lantai atas yang merupakan kediamanku, Raya dan juga Sinta. Kamarnya pun sepertinya berjumlah dua dengan dapur dan kamar mandi.
"Duduk dulu, Navya. Aku bikinin minuman."
"Oke."
Aku mendudukkan diriku diatas sebuah kursi berbusa. Kuletakkan barang bawaanku diatas mejanya. Sedangkan Andrew berlalu pergi ke belakang. Demi menunggu dirinya, aku membuka laptop dan mencicil pekerjaanku. Sampai tidak lama kemudian, Andrew kembali bersama dua cangkir minuman.
Setelah memberikannya dihadapannya, aku mendapati kopi susu yang berada didalamnya. Andrew meletakkan nampan dan duduk disampingku. Ia menyenderkan punggungnya pada badan kursi sembari terpejam. Aku rasa ia pun tengah kelelahan. Jujur, aku merasa tidak enak hati. "Maaf ya," ujarku kemudian.
Andrew membuka mata dan membangunkan dirinya. "Soal?" tanyanya sembari menatapku.
"Gara-gara gue, loe nggak jadi makan siang."
__ADS_1
"En-enggak kok. Aku tadi makan siang."
"Bohong!"
Andrew terdengar menghela napas dan menghembuskannya kembali. "Tahu, dari temen-temen kamu ya?"
Aku mengangguk pelan. "Iya, kenapa loe tadi?"
"Ngumpet. Biar kamu mau makan siang, kalau nggak pasti udah ribet minta balikin tugas itu."
"Yaiyalah, tapi loe melewatkan sesuatu lho, Ndrew."
"Apa?"
"Gue diajak makan bareng Fandy."
"Serius???"
Sontak saja Andrew terkejut akan kejujuranku. Ia bahkan menggenggam tanganku seketika. Ia mengaduh tidak karuan yang aku rasa, ia benar-benar kesal. Yah, namanya juga Andrew. Apalagi sepertinya mereka sedang bertaruh untuk mendapatkanku. Memangnya aku barang? Main seenaknya saja!
Meski begitu, aku tidak merasa terlalu kesal. Toh, tidak merugikan diriku sendiri. Lagipula, aku sudah mengatakan tentang rencanaku ke depan. Mungkin, seorang Andrew bisa saja tahan dalam menungguku. Tidak dengan Affandy, karena aku melihat ia sudah berambisi untuk menikah.
"Jadi, kamu mau sama dia, Navya?" tanya Andrew lagi.
Aku menggeleng. "Gue pernah bilang tentang rencana gue kan ke loe? Waktu di pesawat," jawabku.
"Untunglah, hehe."
"Ndrew cara manggil gue jangan pake kamu sih. Nggak seimbang, nggak asik. Gue pengen balik lagi ke awal kita ketemu."
"Oke, kalau itu yang paling nyaman. Aku enggak, gue turutin."
Aku tersenyum. Aku menatap wajah pria yang pernah aku cintai ini. Parasnya masih sama. seperti waktu itu. Ia bahkan tidak ada kerutan karena bertambahnya usia. Andrew selalu menampilkan wajah selembut sutera. Seharusnya banyak wanita yang akan menyukainya dan tidak perlu bertumpu pada hatiku lagi. Padahal selama ini, aku tidak menjeratnya lagi, karena ingin ia mendapatkan tambatan hati yang lebih baik dariku ataupun Lusi.
Wajahku kupalingkan lagi ke arah laptopku. Aku mengetik beberapa data ke dalamnya. Sedangkan Andrew turut membantu dalam pemikiranku. Bahkan sering kali ia mengambil alih untuk menggantikanku. Jadi, percuma saja aku meminta maaf, pada akhirnya ia turut menyelesaikan pekerjaanku.
"Tadi capek ya?" tanyanya sembari mengetik.
"Banget, dua kali lipat, tau nggak? Ah... beda banget sama yang di kantor dulu. Gue kangen Sita dan meja," keluhku.
"Sabar, Navya. Demi papa hehe."
"Iya sih. Tapi, apa gue sanggup ya kerja disini selama tiga tahun pertama?"
"Harus dong. Ak... gue bakal bantu kok, dan nemenin disini selalu."
"Apa kalau nikah sama orang kaya, hutang papa bisa kebayar ya? Tapi, orang kaya mana yang mau sama Navya yang sekarang?"
"Nggak boleh!"
"Kenapa emang?"
"Karna cuma Andrew yang bisa nerima Navya apa adanya."
"Dihh..."
"Silahkan pacaran sama orang lain, tapi jangan nikah sama orang lain, Navya."
Aku terkekeh saja setelah mendengar ucapan kecemburuan dari Andrew. Padahal semua itu kuutarakan sebagai kelakar saja, tidak lebih. Lagipula, aku cukup trauma dengan orang-orang kaya seperti Nevan dan Haris. Mereka seenaknya saja, mempermainkan orang lain dengan kekayaan. Terlebih si tengik Haris, ialah yang membuat keluargaku seperti ini. Aku benci sekali kepadanya.
"Keluar yuk?" ajakku.
"Kemana? Ngajak kencan?" tanya Andrew.
"Jangan GR, gue laper."
"Sama sih. Yaudah ayo, jalan kaki aja ya?"
"Naik taksilah, tapi loe yang bayarin hehe."
"Hmm... yaudah iya, ayo."
"Beneran?"
"Kapan sih gue nggak pernah serius ke Navya?"
"Iya sih, loe kan dasarnya bucin. Tapi tenang, entar makannya gue yang bayar."
"Beneran? Ganti baju gih."
"Emm... nggak mau, gini aja. Kenapa malu?"
"Enggak sih, yaudah sama-sama pake kolor gini aja."
__ADS_1
"Oke!"
Bersambung...