Who Is My Love

Who Is My Love
Permintaan Gila


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara beberapa orang sedang berbincang dari ruang tengah rumahku. Sehingga membuatku membuka mata dari tidur lelapku.


Bola mataku melongok kearah jam dinding. Ternyata sudah jam tujuh malam. Setelah pulang kerja tadi aku sudah terlelap dalam dua kalau tidak tiga jam. Tepat setelah meminum pil sakit kepala dan demam yang dibelikan Andrew dalam perjalanan mengantarkanku pulang.


Ironis sekali aku masih saja menyusahkan Andrew sampai sekarang. Kalau seperti ini terus kapan aku akan melupakannya. Aku tidak munafik masih menginginkan dirinya kembali jika terus memperhatikanku.


Ya sudahlah! Jika memang ia jodohku semoga Tuhan memberikan kemudahan. Namun, jika bukan semoga kami tetap tabah untuk saling melupakan.


Tubuhku lebih terasa ringan dibandingkan beberapa saat yang lalu. Meski rasa pusing belum sepenuhnya hilang. Tampaknya obat dari Andrew cukup manjur untukku.


Kemudian aku berjalan kearah ruang tengah. Untuk melihat siapa yang ada disana.


Sesampainya disana mataku mendelik seketika. Dua orang yang sudah meninggalkanku selama ini. Orang tuaku tiba-tiba pulang tanpa mengabari sama sekali. Haruskah aku senang? Namun, mengapa hatiku merasa biasa saja kecuali terkejut?


"Navya?" Ujar papa memanggilku.


"Ya pa," Jawabku sembari melangkah ke tempat dimana mereka berada.


"Kamu apa kabar sayang?" Tanya mama.


"Baik,"


"Anakku udah besar ya,"


"Emm,"


Rasa canggung tentunya merasuk kedalam hatiku. Padahal biasanya antara anak dan orang tua pasti akan saling melepas rindu. Namun, berbeda denganku. Rasanya kami sudah sangat jauh.


Mama berganti tempat duduk dan beralih disampingku. Mama membelas pelan rambutku. Entah apa maksudnya. Aku hanya terdiam tanpa respon apapun.


"Sayang kamu baik-baik aja kan selama ini?" Ujar mama.


"Menurut mama gimana?" Tanyaku kembali.


"Mama dan papa selalu mengharapkanmu bahagia," Sambung papa.


"Semoga aja pa,"


"Papa pulang karena rindu rumah,"


"Ohh,"


"Papa ada yang mau diomongin sama kamu,"


"Apaan?"


"Sehabis makan malam kita kumpul disini lagi,"


Aku beranjak meninggalkan orang tuaku. Aku menuji kamar mandi untuk membersihkan diri. Segala macam pertanyaan bermunculan dalam otakku. Sebenarnya apa yang akan dibicarakan papa?


Sudahlah aku tunggu saja.


Sehabis mandi aku turun kembali. Meja makan telah terisi penuh dengan makanan. Papa mama juga sudah duduk disana. Namun tidak dengan Bi Emi dan Cika. Aku rasa Bi Emi hanya tidak enak jika berbaur dengan orang tuaku. Apalagi kami akan berbicara.


"Duduk dulu sayang," Ujar mama.


"Iya ma," Jawabku.

__ADS_1


Kami melahap setiap hidangan yang disediakan. Entah sudah berapa tahun kami tidak berkumpul disini. Menurut perintah papaku, ketika sedang menyantap tidak diperkenankan untuk berbicara. Macam orang konglomerat saja.


Hingga selang beberapa saat kemudian aktivitas kami selesai. Bi Emi membereskan peralatan makan. Aku ingin membantunya namun papaku memintaku untuk keruang tengah.


"Maaf ya bi enggak bisa bantu," Ujarku.


"Nggak papa non hehe," Jawab Bi Emi.


Aku berjalan dibelakang orang tuaku menuju ruang tengah. Dengan penuh harap semoga bukan hal buruk yang akan disampaikan nantinya.


"Duduk Navya," Ujar papa kepadaku.


"Iya pa, kalian udah pulang dari tadi?" Jawabku seraya bertanya balik.


"Baru saja sayang," Sambung mama.


"Ohh, kenapa nggak ngabarin dulu?"


Mama hanya tersenyum tanpa menjawabku lagi. Dan Bi Emi datang membawa nampan berisi segelas kopi. Mungkin papa yang memintanya.


Sebelum memulai pembicaraan papa menyesap kopi perlahan dan menatapku. Aku semakin penasaran dibuatnya.


"Sayang coba liat," Ujar mamaku sembari menyerahkan sebuah foto pria padaku.


"Maksudnya?" Tanyaku kembali dan tentu saja merasa heran.


"Tampankan?" Tanya papa.


Aku terdiam sejenak dengan tangan yang memegang foto tersebut. Aku menelan ludah seketika, bukan karena takjub dengan sosok pada foto tersebut melainkan was-was.


"Dia suka sama kamu navya," Ujar papaku kemudian.


"Dia anak bos papa,"


"Aku nggak nanya itu pa,"


"Kamu sudah dewasakan? Kamu pasti tau,"


"Nggak, aku nggak ngerti sama sekali pa. Maksudnya apa?"


"Besok dia kemari,"


"Lalu?"


"Melamar kamu, jadi papa harap kamu siap,"


Degg!!!


Sial! Apa-apaan ini. Ternyata kekhawatiranku benar. Orang tuaku berniat menjodohkanku dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Oh shiittt!!!


"Papa gilaa apa???" Ujarku geram.


"Navyaa??? Bahasa kamu sama orang tua kok kasar begitu???" Balas papaku lebih geram setelah mendengar kata gila dari mulutku.


"Maaf pa, tapi ini keterlaluan tau nggak???"


"Keterlaluan bagaimana??? Papa pengen kamu bahagia sama orang yang mapan bisa jamin masa depan kamu!"

__ADS_1


"Nggak! Aku nggak mau! Ini nggak bener!"


"Kamu jangan jadi anak kurang aja,"


"Nggah orang tua macam apa kalian haaah? Setelah sekian lama pergi ninggalin aku terus belum ada sehari pulang kalian minta hal gila kayak gini??? Apa pantes kalian disebut orang tua???"


Plaaaakkkk!!!!


Tamparan keras dilayangkan oleh papa membuatku mengaduh kesakitan dalam hati. Bagaikan teriris pisau belati, perasaanku hancur sehancur-hancurnya.


Aku hanya menangis mendapatkan perlakuan seperti ini. Ayahku sendiri, ayah kandungku sendiri menamparku. Aku tidak habis pikir dengan otak mereka yang isinya hanya uang dan uang. Benar-benar memuakkan.


"Udah pa jangan kasar-kasar sama anak," Rintih mama berusaha menenangkan emosi papaku.


"Nggak, saya nggak mau tau besok kamu harus siap dan terima kedatangan dia dan jangan membangkak. Kamu pikir papa mau pergi jauh, ini semua demi kamu. Kalo papa mati warisan juga buat kamu Navya!!! Apa kamu nggak mau nurut satu permintaan papa??!!" Tegas papaku


"Warisan??? Aku bisa cari uang sendiri pa. Aku nggak butuh, persetan dengan uang, uang dan uang. Aku muak!!!" Jawabku dengan emosi meski air mata masih berderai dari pelupuk mataku.


"Navyaaaaa... berhenti kamu!!!"


Aku mengumpat dan berlari kearah kamar. Aku tidak memperdulikan lagi suara panggilan papa padaku. Di kusen pintu ruang tengan Bi Emi tampak mengintip sembari menangis.


"Non?" Ujar Bi Emi.


Lagi-lagi aku menghiraukannya seperti kebiasaanku ketika sedang bersedih hati.


"Brrraaakkkk!!!"


Daun pintu aku banting sekencang mungkin. Aku meratapi nasibku diatas ranjang sembari menyelimuti seluruh tubuhku. Mengapa nasibku setragis ini, permintaan gila dari orang tua semakin membuat terpuruk. Belum juga aku menyelesaikan masalahku dengan Andrew. Namun Tuhan begitu tega memberiku lagi dan lagi.


Aku rasa hati orang tuaku sudah mati dibekukan oleh yang namanya uang. Kata papa aku harus menerima lamaran dari anak bosnya dengan alasan masa depanku. Oh tidak, papa hanya ingin mencari keuntungan dibalik ini.


Rasanya ingin kabur malam ini juga, tapi aku harus kemana? Uangku habis karena shopping dua minggu yang lalu. Dan gajian pun belum kunjung tiba. Aku sangat menyesal sudah menghambur-hamburkannya.


Tokk... tokk... tokk...


Krrreeett...


Suara ketokan pintu terdengar dan seseorang membukanya. Karena marah aku sampai lupa menguncinya. Oh shiitt! Padahal aku tidak ingin diganggu.


"Sayang?" Ujar seseorang tersebut yang tidak lain adalah mama. Kamu turuti kata papa ya?" Sambungnya lagi.


Aku diam seribu bahasa. Meski isak tangis yang tersenggal-senggal masih terdengar.


"Kamu tau kan kami melakukan segala sesuatu buat kamu, kami gak pernah minta ini itu sama kamu sayang. Mama tau kamu pasti kaget, tapi mama ingin kamu mencobanya." Kata mama lagi kini tangannya merayap membelai rambutku.


"Kamu tau kan papa orang yang tegas, apalagi sekarang papa lagi sakit jantung. Beberapa kali kambuh ditempat dinas. Papa dan mama pengen liat kamu bahagia dan menikah, kamu gak pengen kan terus melajang sampai salah satu dari kami meninggal?"


"Hmm, mama ingin kamu besok bersiap diri. Papa yang bakal urus surat ijin dari kantor kamu. Ya sudah kamu tidur dulu dan jangan mikir aneh-aneh. Cup!"


Setelah berkata demikian dan mengecup rambutku, Mama beranjak keluar dari kamarku.


Sialnya lagi mama mengatakan tentang penyakit jantung yang diderita papa. Lalu aku harus bagaimana? Mau bagaimanapun papa adalah ayahku. Kalau sampai kenapa-napa, aku juga tidak rela.


"Ya Tuhan, berikan jalan terbaik padaku,"


Bersambung...

__ADS_1


Apakah masih ada yang setia????


__ADS_2