Who Is My Love

Who Is My Love
Persiapan


__ADS_3

Akhirnya izin aku dapatkan yaitu selama lima hari. Meski sebentar tidak mengapa, asal aku bisa pulang demi Sita. Toh penerbangan tidak akan memakan waktu terlalu lama. Dan kini aku sudah bersiap-siap sejak jam empat pagi. Aku membiarkan Andrew naik ke atas untuk menemaniku berbincang. Raya dan Sinta masih terlelap tidur.


Aku sibuk mengemas beberapa pakaianku, bahkan aku sudah membeli satu dress panjang tanpa lengan, berwarna biru langit. Tentunya aku sangat ingin tampil se-maksimal mungkin. Senandung kecil pun aku dendangkan, rasa tidak sabar ingin pulang. Meskipun hanya sebentar, setidaknya rasa rinduku terhadap kampung halaman bisa terobati.


"Seneng ya, Sayang? Mau pulang," celetuk Andrew tiba-tiba. Ia meringkuk dengan kaki dilipat dan kepala yang merebah diatas lututnya. Ia duduk dengan posisi demikian di tengah pintu kamarku yang terbuka. Matanya masih tampak sembab, ia baru terbangun dan baru saja datang kemari. Aku rasa, ia sengaja menyalakan alarm sesuai perjanjian kami kemarin.


"Iya dong, kamu baik-baik ya disini. Jangan genit, aku pulang bentaran doang kok," jawabku diiringi senyuman manis untuk dirinya.


Andrew terdengar mengeluh. "Hmm ... aku pengen nemenin kamu, Sayang."


"Nanti kan kita juga bakalan pulang, kata kamu mau nikahin aku? Tiga bulan lagi kok."


"Lama, serius pengen ikut sekarang. Takut kamu dibawa orang."


"Nggak bakalan, Andrew. Aku cuma cinta sama kamu."


"Itu harus dan wajib, Navya."


Begitulah seorang Andrew yang luar biasanya bucin-nya. Bak tidak ingin berpisah, meski hanya sebentar saja. Itu mengapa, ia sangat ingin segera meresmikan hubungan kami. Disatu sisi supaya tidak was-was, kami juga tidak perlu berpisah lagi. Ah, aku menjadi tidak sabar. Ingin segera menjadi mempelai wanitanya di singgasana pernikahan kami.


Oh iya, kata calon ibu mertuaku beberapa saat yang lalu. Tepatnya ketika kami saling berbincang melalui telepon, beliau ingin kami menikah dan langsung resepsi. Yah, namanya juga orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Beruntungnya, papaku sudah keluar dari jeruji besi. Sehingga aku dan keluargaku tidak terlalu khawatir atas respon dari keluarga Andrew. Entahlah, aku tidak bisa membayangkan respon mereka jika tahu papaku tengah masuk penjara lantaran terlilit hutang. Meskipun tahu, aku pikir mereka akan mengerti. Toh masalah hutang, dan bukan kriminal.


"Ngomong-ngomong, kamu mau ketemu ibuku, Sayang? Ibu ada di Jakarta sekarang," tanya Andrew. Ia mengubah posisi duduknya untuk menghadap diriku tanpa masuk ke dalam kamarku.


Aku mengernyitkan dahi. "Aku kemarin udah bilang mau pulang sih.Tapi ibu kamu nggak bilang apa-apa, Ndrew," jawabku.


"Hmm ... tapi beliau bilang mau ke rumah kamu sebagai pihak laki-laki. Yah, mumpung kamu-nya juga pulang, jadi sekalian. Biar ada omongan sesama keluarga mungkin."


"Emm ... gitu, mungkin nanti kalau aku nyampe kali ya? Eh, ngomong-ngomong kata ibu kamu, kalau bisa kita harus langsung resepsi. Yah, walaupun sederhana, yang penting ada gitulah."


Andrew tersenyum sekilas. "Keluargaku orang kampung, Vya. Jadi emang hal itu agak perlu, kalau di tempatku sana biar nggak diomong tetangga katanya."


"Sama sih, di tempat aku juga gitu. Rumahku kan di komplek perumahan biasa bukan elite, cuman emang deket jalan. Jadinya papa-ku bisa bangun agak besar dan berlantai dua."


"Hmm ... kamu orang komplek perubahan biasa. Tapi heran, mantan kamu, fans kamu, semuanya orang-orang elite. Eh, sekarang nyangkutnya sama orang kampung kayak aku. Kadang aku minder, kamu terlalu cantik."


Hanya senyuman saja yang aku berikan untuk membalas ucapannya. Jika tentang hal itu, aku tidak mau membahasnya lagi. Entahlah. Lagipula aku sudah bersamanya dan kami akan melaju ke pelaminan. Apa yang kurang dari dirinya sudah pasti aku terima, begitu pun ia kepadaku. Jadi membahas mantan dan sejenisnya rasanya tidak ada gunanya, toh hanya masa lalu.


Tak lama setelah itu, aktivitas beberesku telah selesai. Tidak banyak yang aku bawa, mungkin koper berukuran sedang berisi pakaianku dan juga sekardus oleh-oleh dari Singapura, hanya barang souvenir saja yang beberapa waktu yang lalu aku dapatkan didekat lokasi patung Merlion. Tidak terlalu berat membawanya, lagipula hanya sebentar dan memakai jasa transportasi.


"Itu tadi, baju yang biru apaan, Sayang? Ada bling-blingnya gitu?" tanya Andrew sembari mengintip koper yang belum sempat aku tutup.


"Dress cantik. Kenapa emang?"


"Mau kamu pake?"


"Iya dong. Biar nggak kalah cantik dari pengantinnya."


"Hmm ... percuma aku nggak lihat."


"Aku nggak pengen kamu lihat kok. Yee!"


"Sadis!"


"Yang penting sayang."


"Iya sih."


Kemudian kami terdiam dengan pemikiran masing-masing.


Udara dingin menyeruak masuk melalui pintu rumah yang memang terbuka lantaran Andrew ada disini. Membuatku bergegas mencari remote AC dan segera mematikannya. Sebab masih pagi buta, maka dari iti udara masih sedingin ini untuk didera oleh kulitku. Setelah itu, aku memastikan lagi isi koperku. Cukup, tidak ada yang tertinggal. Lalu, aku beranjak berdiri dan melangkah menghampiri sang kekasih hati yang tengah bersedekap di tempat yang masih sama.

__ADS_1


Andrew kembali menopang wajahnya di lutut yang terlipat. Matanya terpejam, bibirnya terdiam, sepertinya ia kembali ketiduran. Kemudian aku duduk tepat dihadapannya. Mataku sibuk mengamati betapa tampannya wajah kekasihku ini. Wajah tampan namun bercampur sifat konyol dan naif. Lelaki paling bucin yang pernah aku temui dan kini aku miliki.


"Jangan lihat-lihat, nanti jatuh cinta," celetuknya tiba-tiba. Membuatku beringsut mundur karena terkejut. Ah, ternyata ia sadar dari pandangan mataku.


"Aku emang udah jatuh cinta sama kamu, Sayang," jawabku dengan nada lembut nan manja.


"Hmm ... kok centik kedengarannya ya? Jangan menggoda diriku, Beb."


"Mana ada begitu, aku cuma menjelaskan isi hatiku."


Andrew membuka matanya seketika. "Kamu terlalu imut kalau manja-manja gitu. Hampir membuatku ingin."


"Ingin?" Dahiku mengernyit heran, sekaligus merasa bingung atas ucapannya.


Kemudian, Andrew mendekatkan dirinya kepadaku. "Ingin habisi bibir dan wajah kamu, Sayang ...," bisiknya kepadaku.


Bagaimana aku tidak terkejut jika ia bertingkah demikian. Terlebih kami berada di rumah yang memiliki penghuni lain. Meski Raya dan Sinta masih terlihat terlelap, tetap saja aku perlu waspada untuk menghindari ledekan yang bak gunung apik sedang erupsi.


Kudorong tubuh Andrew supaya menjauh dariku. Ia pun hanya terkekeh, merasa lucu atas tingkah malu-maluku. Setiap hari godaan itu ia lontarkan sampai membuatku terkadang bergidik merinding, takut jika ia melakukan hal diluar batas terhadap diriku. Tentu saja aku belum siap, prinsipku sejak awal adalah menjaga mahkota berharga milikku. Baiklah, aku akui aku memang terhitung gadis nakal. Namun tidak pernah berbuat lebih jauh daripada sebatas kecupan.


"Edaaaaaan! Masih pagi, Cuy. Udah berduaan aja loe pada." Tiba-tiba suara celetukan milik Raya terdengar, tentu saja membuat kami terkejut karenanya. Ia duduk di ujung ruang dan bersandar pada dinding.


Andrew senyum-senyum, lalu memberikan jawaban, "gue mau ditinggal pulang, Ray. Lepas rindu dulu."


"Hilih, apaan? Cuma beberapa hari doang geh. Lebay ah, lagian tiap hari juga berduaan aja kok."


"Ya gimana, Ray. Gue udah cinta mati sama Navya, nggak bisa jauh meski sedetik saja."


"Hoek!"


"Hahaha ... dibilangin, gue bukan master LDR. Jadi nggak betah jauh, demi dia aja gue ngebuntut nyampe sini."


Putus? Aku belum tahu sama sekali, namun beberapa hari Raya memang enggan untuk menyantap makanan. Sedangkan sikapnya masih biasa saja. Mendengar hal itu, aku dan Andrew saling bertatapan. Kami merasa tidak enak hati tentunya. Lalu, memilih untuk tidak membahas soal hubungan.


Raya memang terbilang memiliki kekasih yang seringkali bertengkar dengannya. Aku rasa karena jarak yang memisahkan. Sepertinya memang sangat sulit dalam menjalani hubungan jarak jauh. Beruntung, Andrew ada disampingku. Namun berbeda dengan Raya, hubungan Sinta malah terlihat baik-baik saja. Ia sering mendapang video call dari sang kekasih. Yah, aku pikir setiap orang pasti memiliki pemikiran dan prinsi berbeda-beda.


"BTW, loe berangkat jam berapa, Nav? Mumpung libur juga, gue bisa anter kalau loe mau. Siapa tahu agak kerepotan?" tanya Raya kepadaku.


"Nggak sih kalau repot, Ray. Bawa koper sedengan sama satu karton kecil doang sih. Nanti penerbangan jam sembilan, jadi jam tujuh gue berangkat," jawabku.


"Sama sekretaris Pak Fandy itu beneran?"


"Emm ... dia mau pulang sih. Gue rasa nggak bakalan balik."


"Wah! Kesempatan bagus nih."


"Maksud loe?"


"Gue mau nggebet Pak Fandy."


Andrew terkekeh seketika mendengar niat Raya. "Mimpi loe ah. Fandy seleranya tinggi, Ray. Gue ngerti dia orang kayak apa."


"Sirik aja sih loe. Ya siapa tahu kan dapet, body gue sexy kali. Nggak kalah lah sama si Kate," jawab Raya.


"Oke, oke, percaya dah."


"Percaya, tapi muka loe ngeledek gue, Ndrew. Untung ganteng, kalau kagak udah nggak ada yang bagus sama diri loe."


"Sadis!"


Aku menepuk bahu kekasihku. Melihat mereka berdua saling melempar canda yang terkesan kasar, tidak membuatku heran. Setiap harinya memang seperti ini. Mungkin tipikal orang seperti Raya ini, tidak mudah tersinggung. Sehingga membuat Andrew gemar memberikan ledekan kepadanya, bak Desta dan Enzy Storia, komedian yang sedang melejit namanya melalui sebuah acara.

__ADS_1


Hal itu tidak pernah membuatku cemburu. Entahlah, saat ini diriku jauh lebih tenang daripada sebelumnya. Mungkin karena sudah melalui banyak hal dan mencoba hal baru, jadi setidaknya pikiranku bisa sedikit dewasa.


"Sinta belum bangun? Tumben tuh anak?" tanyaku.


Raya menggeleng. "Pengen rebahan lama katanya, biasa hari libur," jawabnya.


"Halah, palingan kalian lagi sama-sama galau," timpal Andrew.


"Yee, enak aja. Nggaklah, cewek strong nggak bakalan galau karna putus cinta."


Andrew tersenyum meledek. "Tadi apaan? Hayati lagi sakit katanya?"


"Iya, kan si Hayati, bukan gue! Halah udah kenapa? Jangan bahas. Awas pas Navya pulang, gue lihat galaunya loe kayak apa. Kalau pagi-pagi mukanya udah melas, gue bakal ketawa paling keras!"


"Sadis! Cewek kok bar-bar."


"Halah! Cewek loe pernah tuh lebih bar-bar. Anak orang hampir dicekek tuh."


Aku mendengus kesal. "Apaan sih? Ngapain bawa-bawa gue? Itu udah masa lalu, Ray. Gue udah lewatin masa-masa gila dan labil. Cukup deh sekarang, capek. Itu cewek juga udah nggak berani lagi buat macem-macem sama gue."


"Bagus tuh. Berarti loe hebat!"


Perbicangan kami terus berlanjut sampai sampai bosan. Meski terdengar tidak penting, namun sangat mengasyikan. Mereka adalah orang-orang terbaik yang ada didalam hidupku. Aku tahu, seberapa beruntungnya diriku saat ini. Aku berharap tidak ada masalah lagi.


****


Selang waktu berjalan, mentari sudah menyingsing dari ufuk timur. Menandakan hari sudah pagi. Andrew sudah kembali ke kediamannya di bawah sana. Kedua temanku pun sudah selesai mandi maupun beberes rumah ini. Sarapan telah tersaji, tinggal menunggu gigi kami menyantapnya saja dan kami memang sudah siap dimasing-masing kursi meja makan.


"Eh, Nav. Gue boleh nitip sesuatu nggak?" tanya Sinta disela gerakan tangannya yang sibuk mengambil nasi.


"Boleh," jawabku sembari mengangguk pelan.


"Pengen peuyeum. Ada nggak ya, nanti kalau loe pulang?"


"Kirain gue pengen apa gitu, Sin. Peuyeum doang? Yang dari singkong agak lembek itu, kan?"


Sinta mengangguk dengan raut wajah yang memelas penuh harapan. "Iya, udah lama nggak makan itu. Biasanya di pasar tradisional banyak, Nav. Mau nggak loe mampir bentar cariin tuh makanan?"


"Bisa sih. Tenang aja, lima hari kok izin gue. Agak lapang hari gue. Sita nikahnya juga paling sehari doang resepsinya."


Spontan mata Sinta yang memelas, kini menjadi bersinar bak seseorang yang mendapatkan hadiah besar. Sedangkan Raya hanya mencibir diam-diam, lalu aku tersenyum. Selanjutnya kami mulai bersantap sarapan dengan lauk tumis kacang panjang, sambel terasi dan ikan goreng. Sedap juga, tidak mulu dengan makanan asing yang kurang cocok di lidah warga Indonesia


Suasana ini, aku pasti merindukan mereka. Meski lima hari hanya sebentar, namun kebiasaanku dengan mereka sudah melekat pada hidupku. Pastinya akan merasa kurang jika kami tidak bertemu. Suatu saat ketika kami sudah tidak lagi bekerja bersama, kebersamaan ini pasti akan menjadi salah satu kenangan terindah. Aku akan terus mengingatnya.


"Ngomong-ngomong si tengil kesayangan loe itu, udah makan belum, Nav?" tanya Raya.


Aku mengangkat kedua pundakku. "Nggak tahu gue, Ray. Kadang masak sih dia," jawabku.


"Kasih nih, masih banyak."


Sinta sontak mencegah, "jangan dong. Harusnya tadi pas belum kita ambil. Nggak sopan banget, meskipun bersih tetep jadi bekas makanan kita, Ray."


"Iya, iya, Mak. Kagak jadi kok."


"Nggak apa-apa kok. Toh Andrew udah gede, bisa cari makan sendiri," selaku.


Kami pun tenang kembali dan bergegas menghabiskan makanan.


Hingga selang beberapa saat kemudian, aku telah bersiap dengan koper dan barang bawaanku. Sinta dan Raya sudah memberikan wejangan agar aku tetap hati-hati. Lalu, mobil taksi yang dipesankan oleh Andrew sudah datang. Aku bergegas masuk ke dalam taksi yang telah kami hampiri. Ya, Andrew akan mengantarkanku sampai bandara. Aku pun sudah memberitahukan Kak Kate perihal keberangkatanku ke bandara.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2