
Hari libur telah aku dapatkan, dan aku sudah harus pulang lebih dahulu dibandingkan calon suamiku. Selama ini, ia benar-benar tidak mengatakan apa yang ia sembunyikan dariku. Agak menyebalkan memang, tetapi aku tidak berhasil membujuknya. Ia hanya mengatakan bahwa itu merupakan hal yang baik, aku tidak perlu khawatir seperti ini. Namun, mana bisa aku tidak bertanya-tanya, yang ada semakin gusar perasaanku dibuatnya. Untuk marah pun sudah tidak ada gunanya, aku tidak mungkin bisa. Lagi pula kami adalah calon pengantin, tidak mungkin aku membuat hubungan kami menjadi runyam. Ya, meski Andrew lah yang menjadi biang onar.
Kututup resleting koperku dengan tenaga yang ekstra. Kali ini, aku membawa banyak pakaian. Tentu saja, karena sebentar lagi aku akan tidur bersama seorang pria, tidak mungkin aku berpenampilan buruk di malam harinya. Dan entah aku percaya diri atau tidak nantinya. Aku dan Andrew memang hampir setiaphari bersamanya, tetapi tetap saja, ada rasa canggung tersendiri yang akan datang setelah menikah nanti.
“Gimana? Ada yang bisa gue bantu enggak, Nav?” tanya Sinta yang sudah berdiri di ambang pintu kamarku.
“Dudukin ini, Sin. Kayaknya banyak muatan,” jawabku.
Sinta masuk ke dalam kamarku. Setelah itu, mengikuti permintaanku. “Lagian, ngapain sih loe bawa barang sebanyak ini?”
“Mau punya laki, gue kan khawatir kalau jelek nantinya.”
“Yaelah, si Andrew, kan, udah bucin akut. Enggak bakalan nganggep loe jelek.”
“Kan, dia enggak tahu gue gimana kalau lagi tidur. Seenggaknya baju gue bagus, gue kan, lebih nyaman pake baju jelek kalau tidur sendiri.”
“Hmm ... ya sih. Padahal, pernah tuh kalian tidur berdua.”
“Itu beda!”
“Iya, iya, emm ... sorry ya? Gue enggak bisa dampingin loe.”
Aku tersenyum. “Enggak apa-apa, Sin. Loe dan Raya, kan, ada kerjaan di sini.”
Raut wajah Sinta melemah, ia mengembuskan napasnya cukup pasrah. Mungkin karena kami merupakan teman satu rumah, sehingga membuatnya menyesal karena tidak bisa menghadiri acar pernikahanku. Sebenarnya aku tidak merasa kesal atau sejenisnya, aku cukup mengerti dengan kondisi Sinta dan Raya yang juga sama seperti diriku, bekerja di perusahaan orang. Ada peraturan yang tentunya harus mereka taati.
Entah mengapa, aku yang banyak masalah justru aku yang akan menikah duluan. Manusia memang tidak bisa menduga tentang masa depan. Mungkin karena Tuhan ingin membuatku segera mendapatkan suatu kelegaan hati, akhirnya aku mendapatkan takdir ini. Meski masih ada tanggungan orang tua, tetapi lebih baik daripada aku sering bersama Andrew dalam ikatan yang belum sah menjadi pasangan suami itri. Rasanya tidak etis saja jika berlanjut dalam waktu yang lama. Mungkin itu salah satu penyebab mengapa Andrew meminang diriku, selain takt kehilangan lagi.
Aku menghela napas dalam, lalu aku hembuskan. Kemudian, aku duduk di samping Sinta yang terdiam sembari bersandar pada ranjang. Tatapan matanya menatap lekat ke arahku, pasti rasa tidak enak hati itu masih ada di dalam hatinya. Aku mengusap pundaknya kemudian berkata, “gue enggak apa-apa, kok. Walaupun tetep pengen kalian bisa hadir, tapi keadaan, kan, enggak mendukung. Boro-boro loe dan Raya, gue aja dapet libur tipis. Kalau di dalam negeri sih enggak apa-apa, kerja gue, kan, di sini.”
“Iya, loe bener. Tapi loe udah kayak saudara geu sendiri, Nav. Masih enggak percaya sih gue bisa temenan bahkan satu rumah sama loe.”
Aku terkekeh. “Enggak percaya gimana? Emang gue artis terkenal apa? Nyampe segitunya.”
“Loe melebihi artis, Nav. Dulu, tiap ada loe sama temen loe yang satu itu lewat, gue sama Raya pasti bilang, dia tiap hari cantik ya? Kok bisa, ya? Kayak barbie, seneng ngeliatnya.”
Aku merasa tersanjung atas pengakuan itu. Sifat Sinta memang seperti ini. Meski seorang wanita, ia tidak segan menunjukkan kekagumannya pada wanita lain, bahkan kepada Kak Kate juga. Aku baru bertemu dengan orang seperti pertama kali, atau mungin banyak dan aku tidak mengetahui.
Karena merasa haru, aku sampai menitikkan air mata. Aku memeluk tubuh Sinta dengan erat sembari mengucapkan banyak terima kasih. Tentang kesabarannya atas sikap burukku selama ini, juga atas sikapku dan Andrew yang bisa saja menganggu dirinya, juga Raya. Dulu hanya ada sosok Sita di sampingku. Namun, ketika aku memberanikan diri merantau ke negara ini, aku bisa menemukan kedua teman yang luar biasa unik dan tentu saja baik.
“Jangan nangis dong, Nav. Gue juga ikutan nangis ini,” ujarnya sembari sesenggukan karena sikapku.
“Gue bahagia banget ketemu kalian berdua. Makasih ya, udah bantuin gue selama ini, dengerin curhatan gue dan buat gue sadar makna pertemanan,” jawabku.
“Gue yang harusnya berterima kasih, banyak banget hal enggak mungkin yang gue dapet selama kenal sama loe. Juga bisa lebih akrab sama atasan, bisa menghadiri pesta besar dan lain-lain. Loe diem-diem orangnya asyik
kok, dan Andrew pun sama. Kita bisa berangkat kerja gratis sekarang.”
“Apaan sih, cuman itu doang kok yang loe dapet dari gue. Enggak seberapa sama sisi positif yang loe kasih sama gue.”
Kami saling melepaskan diri. Sinta mengusap air mata yang jatuh membasahi pipiku. Aku pun melakukan hal yang sama. Ia adalah temanku, saudaraku, ia yang dulu aku pikir bukan siapa-siapa, kini justru seperti keluargaku sendiri. Meski tidak banyak keterbukaan yang bisa salingkami curahkan, tetapi kami bisa saling membuang rasa kesepian karena jauh dari keluarga besar. Juga Raya degan sikapnya yang selengekan itu, sama seperti diriku ketika mengubah penampilan.
Setelah banyaknya masalah yang aku lalui, proses jalan hidupku yang sama sekali tidak beraturan, pertentangan juga pertengkaran,
__ADS_1
akhirnya aku bisa sampai di titik sekarang. Aku akan menikah, aku akan menjadi seorang pengantin dari orang yang pernah aku tolak dalam waktu yang lama, seseorang yang juga aku cinta selama ini. Jodoh memang tidak akan ke mana, meski sempat terpisah, kecewa dan tidak percaya, akhirnya aku kembali ke dalm pelukannya.
“Ah! Raya mana nih?” tanyaku kepada Sinta ketika tersadar karena sejak tadi salah satu temanku itu tidak muncul
“Kencan, Nav,” jawab Sinta.
Dahiku mengernyit seketika. “Kencan? Cowoknya ke sini? Kok gue enggak tahu?”
Sinta menggeleng. “Baru seminggu yang lalu dia putus.”
“Hah?! Setelah selama ini bertahan dalam hubungan jarak jauh, putus? Masa’ sih?”
“Loe tahu sendiri, kan, selama ini mereka berantem terus. Ya, gitu, dia nggak tahan lagi sama sikap protektif darinya cowoknya. Jadi ya dia putusin. Biasalah namanya hubungan jarak jauh, pasti enggak ada kepercayaan.”
“Iya sih, terus loe sama cowok loe?”
“Ada sih tengkar-tengkar dikit, tapi kami bisa atasi kok. Kan, dia juga sering sibuk, jadi ya sama aja. Tapi kalau gue sih lebih santai orangnya, enggak mau berharap banyak. Dan udah bilang sama dia, misal udah enggak tahan, enggak apa-apa. Asal langsung ngomong, jangan bohong, tiba-tiba selingkuh aja gitu.”
“Kadang emang gitu, cowok yang dikekang malahan jadi seenaknya aja. Tapi, yang dikasih kebebasan malah setia, entah, gue juga bingung sama makhluk yang namanya pria. Tapi kalau kita udah jatuh cinta, luar biasa sakitnya.”
“Bener loe, Nav.”
Kami saling berpandangan setelah mengatakan tentang pria, kemudian tertawa lebar bagaikan tidak ada beban. Teman memang luar biasa, bisa diajak berkeluh kesah bersama. Bisa memberikan nilai tersendiri bagi kehidupan ini. Aku bersyukur karena aku masih mendapatkan kesempatan untuk berbaur.
“Eh?!” Aku teringat akan kencan yang sedang dijalankan oleh Raya. “Raya jalan sama siapa? Orang Indo apa asing? Gue enggak lihat berangkatnya.”
“Tadi, pas loe keluar beli minuman sama Andrew. Dia berangkat, sama orang assing. Temen loe.”
Dahiku mengernyit. “Temen gue? Siapa? Banyak yang bule di sana.”
“Oh Steve ... hah?! Steve?! Kok mau?” Betapa terkejutnya hati ini mendengar jawaban itu. Steve? Pria jahil itu? Aku memegang kedua pundak Sinta. “Kok bisa?! Serius enggak apa-apa nih?”
Sinta hanya mengangkat kedua pundak, serta tangannya. Benar juga, ia memang tidak mengenal siapa Steve. Kata Andrew anaknya memang agak jahil dan genit, tetapi juga baik. Tipe wanita yang ia inginkan adalah wanita yang memiliki karakter kuat. Dan itu ada pada sosok Raya. Hanya saja, rasanya aku sedikit tidak rela. Kalau temanku hanya dipermainkan oleh pria itu bagaimana? Namun, aku pun tidak bisa ikut campur ke dalam hidup orang. Bisa saja, yang mempermainkan justru Raya, mengingat putusnya dengan sang pacar baru terjadi seminggu yang lalu.
Lalu, Sinta beranjak berdiri. Ia hendak keluar karena ponselnya tiba-tiba berbunyi. Tampaknya dari sang kekasih. Baiklah, dengan siapa pun mereka akan menjalin hubungan—semoga saja tidak serumit kisah cintaku dan nantinya akan mendapatkan kebahagiaan sendiri.
Aku menilik waktu yang terjadi masih jam delapan malam, malam minggu seharusnya untuk jalan-jalan, sayangnya aku harus berkemas. Keberangkatanku akan aku lalui esok hari dan itu sendiri. Andrew akan berangkat di hari Selasa pagi. Tidak ada teman bicara di pesawat nanti. Untung saja hanya memakan waktu beberapa jam, sehingga aku tidak perlu khawatir.
Karena Raya sedang keluar, Sinta sibuk bercengkerama dengan kekasihnya, membuat diriku sedikit kesepian. Akhirnya, aku memutuskan untuk menemui Andrew di bawah sana, siapa tahu ia akan mengatakan rahasia yang belum ia ungkapkan.
“Sayang, kamu lagi apa?” tanyaku dari balik pintu sembari memberikan ketukan sebanyak tiga kali.
“Bentar, Vya!” teriaknya dari dalam sana dan entah apa yang sedang ia lakukan.
Aku menghentikan gerak tanganku dan memilih mundur. Melihat kursi kosong di sampingku, aku memutuskan untuk duduk sembari menunggu kekasih hatiku membuka pintu.
Grek! Suara pintu pun terdengar sedang dibuka. Aku membatalkan rencanaku untuk duduk lebih lama. Di sana Andrew tengah berdiri, mengatakan agar aku masuk ke dalam, setelah itu ia tampak buru-buru ke belakang. Aku cukup penasaran dengan apa yang ia lakukan sekarang.
“Kamu lagi apa sih?” tanyaku sembari mengintip apa yang mengintip aktivitasnya.
“Goreng ayam,” jawabnya, tanpa menoleh ke arahku sama sekali.
Melihatnya yang cukup sibuk sendiri, membuatku merasa tersisihkan. Dan kenyataannya ayam yang digorengnya, baru saja dimasukkan. Seharusnya tidak apa-apa jika menatap diriku terlebih dahulu, tetapi ia tidak melakukannya. Ia memilih mengiris bumbu lain yang mungkin untuk sayur. Cukup heran juga, sudah semalam ini baru memasak.
__ADS_1
Aku maju sedikit ke depan. Kuhela napasku dalam, setelah itu aku memberanikan diri untuk memeluk pinggangnya dari belakang. Sungguh, ini pertama kalinya aku melakukan ini. Sedikit malu, tetapi sudah maju. Malam mingguku harus bermakna, aku tidak boleh dibiarkan seperti ini.
“Sayang, aku pegang paprika lho. Pedes ini,” ujar Andrew.
“Enggak apa-apa. Jangan sentuh aku, lakuin apayang jadi kesibukanmu. Biarin aku kayak gini, sebentar aja.”
“Ais! Tumben banget calon istriku manja begini. Kenapa? Aku cuci tangan dulu kalau gitu.”
“Enggak mau, itu, kan, belum kelar. Ngapain cuci tangan?”
“Takut kalau istriku kena pedas.”
“Baru calon, jangan mengada-ada.”
Andrew berupaya melepas pelukanku dengan tangan kanannya yang bersih. Kemudian, ia berbalik menatapku. Memandangku dengan senyuman tampan itu. Dan ... memberikan kecupan manis di bibirku.
“Ayam!” pekikku, teringat tentang gorengan yang malah dibiarkan. Kudorong tubuh Andrew dan berlari ke hadpan kompor. Kuhembuskan napas lega. “Untung aja, belum gosong.”
“Hmm ... belum puas juga. Udah main kabur aja. Lagian juga baru dimasukin itu ayamnya.”
Aku hanya tertawa kecil mendengar keluhannya, lalu kuabaikan begitu saja. Ia melanjutkan apa yang sempat terhenti. Karena merasa iba, aku turut membantunya. Jarang ada pria yang mau masak sendiri seperti ini. Ia memang pernah berkata bahwa tidak puas jika membeli. Sudah porsi sedikit mahal pula. Dan setahuku, sejakdulu Andrew rajin dalam memasak.
Selang waktu berlalu, masakan pun sudah siap. Aku membantunya membawa ke ruang makan kecil di dapur ini. Melihat Andrew yang melakukannya sendiri, tanpa keluahan, misal aku tidak ad, membuat rasa iba semakin mencuat. Selama ini, pasti ia makan, minum bahkan melakukan semuanya sendiran. Aku hanya beberapa kali mengantarkan masakan, itu pun jika Sinta yang meminta. Ya, karena aku tidak enak hati jika terlalu sering. Meski aku adalah kekasihnya, selama ini kehidupan harian adalah urusan masing-masing. Tidak pernah ia memintaku untuk membantu.
“Ayok, makan,” ajak Andrew kepadaku yang kini berdiri diam.
Aku menggeleng. “Aku udah kenyang kok. Tadi, kan, udah makan sama Raya dan Sinta,” jawabku.
“Ini aku bikin lauk cukup buat dua porsi, Sayang.”
“Paling mau diangetin buat besok, kan?”
Andrew tertawa. “Tahu aja kamu. Aku males kalau masak pagi, rajin banget kayak anak gadis.”
“Ya, enggak apa-apalah, justru bagus.”
“Hmm ... ya udah makan bareng sini.”
“Aku udah kenyang, serius.”
“Aku suapin ya?”
“Enggak usah, Sayang.”
“Ya, masa’ kamu cuma ngeliatin aja?”
“Udah makan dulu. Nanti kalau mau, aku ngerusuhin kamu.”
“Hmm ....”
Andrew mulai menyantap hasil makanannya itu. Begitu lahap seolah sudah tidak makan selama dua hari. Namun, membuatku justru merasa senang, bahkan turut kenyang. Aku tidak sabar untuk nanti, ketika kami sudah
mnikah pasti aku akan menjadi chef pribadi miliknya sendiri. Niatku ingin menanyakan perihal rahasia itu menjadi terlupakan, ya, karena aku tidak ingin mengganggu makan malamnya.
__ADS_1
Bersambung ....