Who Is My Love

Who Is My Love
Tring


__ADS_3

Kepalaku terantuk pada papan meja dan memang aku sengaja. Pekerjaanku masih sama banyaknya, bahkan minggu kedua lebih gila. Seolah mampu memanjangkan hari sampai jam istirahat tidak kunjung datang. Aku melupakan tentang kopi ataupun toilet untuk saat ini. Namun, nyatanya aku lemah lunglai sendiri. Ingin aku berteriak, tiada daya untuk memberanikan hal itu.


Lalu, aku kembali mengangkat kepalaku dan fokus pada layar komputerku. Sebelumnya aku menghela napas terlebih dahulu. Sialnya, tidak ada yang berlaku sekonyol diriku. Suasana ruangan cukup kondusif, mereka semua sangat konsenterasi. Aku merasa bahwa diriku adalah karyawan yang paling bodoh disini.


Kenapa orang kayak gue bisa dipilih kesini ya?


Tiba-tiba ponselku yang berada di atas meja menyala. Satu notifikasi pesan yang masuk. Ingin rasanya aku mengabaikannya, namun rasa penasaran hati ini cukup besar. Diam-diam, aku meraihnya dan mulai membukanya. Toh, tidak ada larangan bermain ponsel dengan syarat pekerjaan harus selesai.


Andrew : Jangan ngantuk, suara napasmu terdengar hehe. Semangat Sayang. Love you.


Itulah pesan yanh dikirimkan oleh sang pelaku untukku. Sampai akhirnya membuat wajahku melukiskan senyuman melalui bibirku. Aku membalasnya singkat dengan kata "iya Sayang". Kata sayang yang mungkin akan sulit aku ucapkan melalui bibirku ketika kami bertatap muka. Mengapa? Karena aku masih terlalu gengsi untuk mengucapkannya kepada kekasihku itu.


Setelahnya, aku kembali meletakkan ponselku dan kembali bekerja. Rasa lelah seakan menghilang begitu saja. Satu perhatian itu mampu memupuk rasa semangat untuk diriku. Aku menjadi tidak sabar untuk bertemu dengannya secara bebas. Meskipun letak meja kami sangat dekat.


Satu persatu lembaran berkas aku kerjakan kembali. Dengan mengerahkan isi otak ini, aku terus berusaha menyelesaikannya. Rasanya jika dibawa ke dalam keseriusan, pekerjaan menjadi lebih gampang. Mungkin setelah ini, aku tidak boleh mengeluh lagi. Dengan begitu pekerjaanku selesai dan tidak harus lembur atau membawa sisanya saat pulang nanti.


****


Ruangan yang teramat sepi, tiba-tiba ramai begitu saja. Aku membalikkan diriku dan menatap ke segala penjuru. Para rekan kerjaku sudah berdiri, atau bahkan keluar dari ruangan ini. Saat kutilik sekilas pada jam di dinding ternyata waktu makan siang sudah tiba. Wow! Tanpa aku duga, rasanya cukup cepat tidak seperti tadi, pada saat aku merasakan letih dan kantuk yang luar biasa.


Beruntungnya, pekerjaanku untuk setengah hari ini sudah banyak berkurang. Oleh karena itu, aku bisa menutupny terlebih dahulu. Namun, aku masih bingung akan makan siang bersama siapa. Karena tidak mungkin jika bersama Andrew saja, pasti akan timbul kecurigaan. Terutama oleh Linseyld dan teman-temannya. Bukannya diri ini takut, hanya saja aku malas jika muncul suatu kebencian dari orang lain lagi. Terlebih hanya karena seorang pria. Dan ... aku tidak ingin dipisahkan dengan Andrew.


"Hei," sapa seorang pria kepadaku. Saat aku menolehnya ia berkulit putih dengan rambut pirang. Menurutku cukup tampan.


"Ya?" jawabku.


"What's your name?"


"Navya."


"Nice to meet you, Navya. I'am Steve. Aku seorang blasteran, Nav. Aku pintar berbahasa Indonesia dan empat bahasa lainnya."


"Oh ya?"


"Emm ... So, aku cukup menarik, bukan? Boleh aku meminta nomor ponselmu?"


"No."


"Why? Do you have a boyfriend?"


"Ya."


"Uuh ... tapi kita hanya teman, bukan?"


"Sorry, i can't give it to you."


Aku tersenyum saja. Lalu, aku membuang pandanganku dari pria bule ini. Lagaknya seperti seseorang yang sedang menggoda. Ia bahkan meminta nomor ponsel beberapa kali, namun kutolak mentah-mentah. Aku merasa sangat risih, terlebih Steve terbilang sangat bangga terhadap dirinya sendiri. Aku tahu, mungkin ia cukup pintar dan bahkan mampu berbicara dengan bahasa lain seperti yang ia akui.


Dan pada akhirnya, ia bersedia pergi mungkin karena malu akan penolakanku. Aku bisa bernapas lega setelah ia berlalu. Kutolehkan kepalaku ke samping kiri meja kerjaku, lebih tepatnya ke arah meja kerja milik Andrew. Tampak tatapan matanya diarahkan begitu tajam kepadaku. Sampai membuatku sedikit salah tingkah. "A-apa?" tanyaku.


"Aku cemburu ...," jawabnya lirih.


"Aku menolak. Cowok itu hanya iseng."


"Tapi, dia lebih ganteng dariku."


"Dan tapi, aku lebih mencintai kamu."


Andrew tersenyum cukup lebar. "Aku tahu. Yuk makan siang."


"Emm ... aku nungguin Raya dan Sinta dulu."


"Yaudah, kita bareng berempat aja."


"Ide yang bagus."


Aku bergerak mengambil ponselku dan membuka sebuah aplikasi pesan. Kuketik beberepa kata didalamnya dan kukirimkan kepada kedua temanku. Yah, semoga mereka belum berangkat makan siang. Setidaknya, aku memiliki teman untuk bersantap, sekaligus sebagai kamuflase ketika ingin bersama Andrew. Tentunya dengan persetujuan mereka berdua.


"Navya." Seseorang memanggil namaku. Aku menoleh ke arah pintu. Affandy? Ia mengarahkan langkah kemari. Aku tertegun dan menelan ludah. Aku rasa ia hendak mengajakku makan siang lagi. Tapi, aku harus menjaga perasaan Andrew sekarang ini.


"Maukah kamu makan si--" Ucapan Affandy terputus begitu saja, sesaat setelah Andrew berdiri dari duduknya.


"Navya bersama saya, Pak," jawab Andrew dengan nada yang ketus.

__ADS_1


Tatapan mereka berdua saling beradu, seolah menghasilkan aliran listrik didalamnya. Lantas, aku harus berbuat apa sekarang? Dua orang yang merupakan bawahan dan atasan saling bertentangan sekarang ini. Terlebih masih berada didalam lingkup kantor. Aku sedikit heran, bagaimana seorang Affandy yang seorang dewan direksi bebas lalu lalang seperti ini? Bukankah ia adalah salah satu pemegang saham dan tentunya sangat menjaga privasi dirinya? Ah ... kenapa aku selalu dipertemukan dengan orang-orang serumit dirinya?


Kemudian aku mendorong tubuh keduanya dari tengah. Mereka saling membuang muka dengan ucapan "cih" yang muncul dimasing-masing bibir. "Aku nggak akan makan sama kalian berdua. Aku ada janji sama Raya dan sinta," ujarku.


"Aku ikut!" Mereka pun menjawab secara bersamaan.


"Nggak bisa. Hari ini khusus para wanita. Kalian mau jadi cowok kemayu? Dan ... maaf, Pak Fandy. Bapak ini kan orang penting disini. Tolong bersikap lebih normal pada saya. Jangan terlalu mencolok seperti ini. Pak Fandy, dan bahkan saya bisa menjadi pusat perhatian."


Affandy seketika menatapku. "Apa maksud kamu, Vya? Emm ... kenapa kamu berubah sikap seperti ini? Pak? Apa kamu merasa risih atas pernyataanku beberapa saat yang lalu?"


"Iya, Pak. Sejujurnya, saya merasa risih. Tapi, bukan sepenuhnya karna hal itu. Saya sekarang berpikir, kalau saya hanya karyawan biasa. Saya berterima kasih karna sudah dipilih dan dipekerjakan disini. Tapi, sikap Bapak sangat berbeda. Jadi, saya tidak mau ada salah paham dari orang lain."


"Kenapa harus dengarkan orang lain?"


"Maaf, Pak. Perkataan orang lain sangat berpengaruh pada kehidupan saya. Dan ... tolong jangan mengakui sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi."


"A-apa?"


"Maaf, soal pernyataan itu. Bahkan sampai sekarang saya tidak kepikiran untuk menerima."


Affandy tersentak atas ucapanku. Namun tak lama kemudian, ia menjadi tenang setelah menghela napasnya. "Maaf, sepertinya aku keterlaluan karna mengaku-aku atas dirimu, Navya. Karna terlalu bingung. Tapi, ucapanku bukan main-main belaka. Aku akan menunggumu menjawabnya."


"Eh???"


Belum sempat kutegaskan lagi, Affandy mengambil langkah pergi. Menunggu? Itu tidak mungkin berbuah manis lantaran aku sudah bersama Andrew sekarang. Namun rasanya ada yang aneh. Untuk sekelas Affandy, tidak mungkin ia mengakui sesuatu yang tidak benar. Lalu, alasan apa dibalik pernyataannya itu? Ataukah hanya ingin membuat Kate menjauh? Jika benar seperti itu, sungguh malang nasib hati wanita itu. Aku sungguh tidak ingin terlibat dalam kebohongannya itu.


"Tunggu, tunggu. Enak aja nungguin pacar orang," omel Andrew. Aku menatap dirinya yang sedang bertingkah kesal. Ia sangat geram akan ucapan Affandy. Mungkin jika tidak ditempat ini, ia sudah tidak bisa menahan amarahnya.


Akhirnya aku meraih tangannya dan kubelai halus. Aku tersenyum penuh rasa cinta. "Nanti, aku jelasin. Ini masih di kantor, nggak etis," kataku.


"Enggak boleh. Gue yang bakal maju, Vya. Loe jangan ketemu dia lagi," jawabnya.


"Hei, hei!"


"Yaudah, makan yuk. Keburu waktu habis, dua orang itu kemana? Kita mau makan diluar apa di kantin?"


"Kan tadi, udah ngomong waktu buat para ciwi. Ngapain nanya? Mau ikut?"


"Iya, kenapa? Nggak boleh? Biarin dianggep cowok kemayu, selama bisa deket kamu."


"Kan kalau dianggep doang, Sayang. Ikut ya?"


"Hmm ..."


Aku mengangguk pelan. Kemudian, kami berjalan keluar dari ruangan ini bersama. Kami menunggu kedatangan kedua teman kami, karena ruangan ini cukup dekat dengan elevator berada.


Sampai akhirnya, tampak kedua wajah wanita itu. Kami berkumpul dan berjalan bersama dengan satu pria yang bersama Andrew. Oh ... sunggu lelaki yang bucin akut. Namun, mengingat ini pertama kalinya, ia menyandang status sebagai kekasihku, sepertinya tidak ada salahnya. Yang penting, beberapa saat kemudian, ia tidak terlalu berlebihan lagi.


Mengingat status kami yang hanya seorang perantau, akhirnya kami memutuskan untuk bersantap di kantin perusahaan yang mana memang gratis. Aku bukan lagi seorang kekasih dari pria yang kaya raya, untuk menikmati santapan mewah dan berkelas sepertinya bukan sesuatu yang mudah diraih lagi. Entah, mengapa bersama orang yang senasib sepenanggungan, rasanya lebih asyik dan seru. Banyak kekonyolan yang ditemui, bahkan kami harus berbagi lauk, entah di rumah ataupun dimanapun. Beruntungnya aku bertemu dengan Raya dan Sinta, aku banyak belajar tentang kehidupan sosial dari mereka berdua.


Dan kini, kami telah duduk di tempat makan yang cukup untuk empat orang bersama santapan masing-masing.


"Navya, tuh, tuh liat," ujar Sinta.


"Apaan?" tanyaku.


"Itu cewek-cewek yang sempet nyariin cowok loe."


"Oh itu, gue kenal."


"Ke-kenal?"


Aku mengangguk. "Ya, kenal biasa doang. Enggak akrab gitu, enggak. Nih si do'i yang kenal akrab!"


Raya menyela, "lah ngegas haha."


Andrew tersenyum. "Enggaklah. Akrab apaain sih, Sayang?"


"Tauk. Udahlah makan aja, nggak penting."


Ya, tidak penting meskipun aku memang kesal. Namun, untuk apa dipikirkan? Lebih baik, aku segera mengunyah makanan. Lagipula perutku sudah sangat lapar, aku butuh asupan nutrisi dan juga vitamin. Supaya tenaga dan otak ini.


Canda tawa khas anak Indonesia terus membaur diantara kebersamaan kami berempat. Beberapa perhatian kecil pun saling aku dan Andrew berikan. Namun dibalik itu semua, aku menyadari akan suatu mata yang seakan mengintai kami. Aku melirik sekilas dan benar saja, sejak tadi Linseyld melihat ke arah sini. Aku rasa ia menatap Andrew, aku tidak suka, namun belum bisa membuktikan bahwa lelaki ini sudah menjadi milikku.

__ADS_1


Mungkinkah ia sudah curiga? Sekalipun benar, aku tidak peduli. Lagipula, ia bukan Elena yang memimpin tim. Aku rasa pengaruhnya tidak terlalu banyak pada pekerjaan kami. Hanya saja, aku sangat terganggu atas sikapnya itu. Padahal, jelas-jelas Andrew sudah mengatakan jika dirinya memiliki seorang kekasih.


"Nyebelin ...!" keluhku namun dalam nada yang lirih.


"Kenapa, Navya?" tanya Raya kemudian.


"Nggak apa-apa, Ray. Hehe."


Andrew langsung memandangku. Sontak saja, aku mendorong wajahnya agar menjauh. Ia menangkap tanganku lalu merangkul bahuku dari belakang layaknya seorang teman yang akrab. Lagi-lagi, aku melirik pada keberadaan Linseyld yang tidak jauh ataupun tidak terlalu dekat juga. Ia membuang tatapannya kemudian.


"Kenapa sih?" tanya Andrew kemudian.


"Gebetanmu kayaknya masih berharap tuh," jawabku.


"Sok tau kamu."


"Daritadi lihat sini terus. Udah kayak cctv, ngawasin teros."


Sinta terkekeh. "Cemburu nih ye."


"Enggak sih. Kesel aja, Sin. Matanya tajem banget kayak belati. Heran."


"Namanya juga udah jatuh cintrong, Cyn. Haha."


"Hmm ...."


Aku menunduk diam. Benar kata Sinta, kalau sudah jatuh cinta bisa lupa dan berbuat segalanya. Tapi, Linseyld terlalu dini untuk melakukan semua itu, bukan? Tidak wajar sekali. Kuakui, ia tidak banyak bertindak atau mungkin belum. Aku tidak boleh berprasangka buruk. Hanya saja, ia seharusnya tidak memberikan tatapan itu. Sekalipun untuk Andrew dan bukan diriku. Aku tidak menyukainya. Baiklah, aku harus melupakan semua praduga itu. Habiskan terlebih dahulu santapan ini.


Sisa waktu yang tinggal setengah jam lagi memberikan keleluasaan untuk semakin berkelakar tidak menentu. Apalagi kantin di perusahaan cukup sejuk karena terpasang beberapa AC, cukup seimbang dengan beratnya pekerjaan. Fasilitas disini sangat memadahi, seolah ingin memanjang setiap diri karyawannya. Yah, namanya perusahaan besar, maju dan juga terkenal. Menjadi salah satu karyawannya sudah menjadi suatu kebanggaan.


"Eh, kok gue curiga ya?" celetuk Raya tiba-tiba.


"Soal?" tanya Sinta.


"Perusahaan segede gini. Pak Fandy udah bisa jadi petinggi diusia muda ya? Gue rasa, dia salah satu anak pengusahanya deh."


Aku menyela, "menurut gue sih, emang gitu. Atau bahkan udah tanem saham disini."


"Tahu banget kamu, Sayang?" sambung Andrew.


"Kan menurut, Ndrew. Belum tahu kebenarannya."


Sinta terkekeh. "Tauk loe, Ndrew. Cemburu ya? Haha. Tapi, do'i naksir tuh kayaknya sama Navya, kalau menurut cerita Navya. Saingan loe berat, Ndrew."


"Pada akhirnya Navya balik sama gue, Sin. Gue tetep bukan, harta bukan segalanya kan?"


"Iya sih, bukan segalanya. Tapi segalanya pake uang dan uang itu adalah salah satu harta, Ndrew. Hayo lho."


Aku menendang kaki Sinta yang kebetulan duduknya dihadapanku. Ia pun hanya meringis dan menutup mulutnya kemudian. Berbicara tentang hal itu, tampaknya cukup membuat Andrew tersinggung. Buktinya, ia hanya tersenyum tipis sembari memandang bawah dengan gusar.


Yah, lagipula pria mana yang sanggup ketika dibanding-bandingkan? Padahal aku tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu untuk mencintai seorang manusia. Hanya saja, nasibku dimasa lalu, memang sedang dipertemukan dengan beberapa pria yang kaya. Dan pada akhirnya, hubunganku dengan mereka tidak baik.


"Udah ah. Balik yuk, nyicil kerjaan," ajakku kemudian.


"Duluan aja, Nav. Gue sama Raya belakangan aja," jawab Sinta. "Emm ... sorry ya, gue nggak ada maksud nyinggung kalian soal tadi."


"Santai, Sin."


Aku berdiri, kudorong kursiku ke belakang diam-diam. Aku berjalan bersama Andrew untuk menaruh piring dan gelas kotor pada tempat yang disediakan. Selanjutnya, kami keluar dari kantin ini.


Kini kami hanya berdua menyusuri lantai keramik di gedung kantor ini. Kusiapkan otak, tenaga dan hati untuk berperang kembali. Mungkin Andrew juga melakukan hal yang sama.


"Eem ... maaf, belum bisa membuat kamu bahagia, Navya. " Andrew berkata demikian secara tiba-tiba. Bahkan aku sampai terkejut dan menghentikan langkahku. Aku menghela napas panjang dan menghembuskannya kembali. Disuatu lorong kosong, kami sedang berdiri.


"Please ... jangan pikirkan ucapan Sinta, dia hanya bercanda."


"Tapi, yang dia katakan emang benar adanya. Aku lelaki miskin yang nggak punya banyak harta."


"Lalu? Kamu mau nyerah setelah semua ini?"


Andrew menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku nggak bisa kehilangan kamu lagi, Sayang. Aku minta maaf soal itu, karna aku sadar soal itu. Aku harap kamu tetap setia, aku akan berusaha biar lebih sukses dari ini."


Aku tersenyum puas tentang jawabannya. Ya, aku akan selalu setia. Dengan catatan, ia juga harus setia dan tidak berbohong lagi. Apapun kondisinya sekarang belum tentu sama atau buruk dikemudian hari. Selagi ada hati yang yakin disertai do'a dan usaha, aku yakin Andrew bisa berhasil. Bahkan memenangkan hati orangtuaku, begitupun sebaliknya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2