
Ketika sampai di rumah, aku sudah harus menghadapi beberapa persiapan lagi. Memang, aku disarankan agar beristirahat. Namun tetap saja, aku tidak bisa. Ketidakhadiranku beberapa waktu yang lalu, membuat perencanaan pernikahan menjadi bahan perdebatan. Mama dan calon ibu mertuaku berbeda pikiran, bahkan sampai ngambek satu sama lain. Belum jadi besan saja seperti ini, lantas bagaimana jika sudah sah nanti? Pasti ada rasa iri yang di antara mereka.
Mendengar gerutu mama yang sejak tadi keluar dari bibir beliau, rasanya jengah juga. Aku pun tidak mengerti bagaimana cara meladeninya. Tidak mungkin marah, karena mama sudah terlalu lelah mempersiapkan segalanya. Dekorasi pernikahanku pun sudah di pasang gedung sewaan. Tadinya, mama tidak menyetujuinya karena akan banyak memakan biaya, tetapi Ibu Siti lebih banyak maunya.
"Kalian, kan, cuma pegawai biasa. Kalau beliau mau bayar juga enggak masalah, mana ada kalian uang sebanyak itu? Malahan, dekor dan gedung udah disewa diam-diam," gerutu mama lagi. Benar-benar pasrah dengan keadaan yang sudah terlanjur terjadi.
"Tapi, Ma, kalau udah terlanjur ya gimana lagi. Andrew, kan, anak pertama yang mau dinikahin. Mungkin itu yang bikin Ibu Siti maunya begitu," jawabku.
"Ya kalau calon kamu itu kayak Nevan sih enggak apa-apa. Kalau cuma karyawan biasa, ya, gimana. Nanti kalian yang susah sendiri."
Aku mendengkus kesal. "Apa-apaan sih kok malah bawa-bawa Nevan. Mama jangan kayak papa deh!"
"Itu, kan, cuma perumpaan doang, Navya. Mama enggak ada maksud kayak gitu."
"Tetep aja, aku paling anti sama dia dan juga Haris."
"Hmm ... iyalah, calon kamu si Andrew."
Kekesalan mama kepada Ibu Siti, membuat beliau juga meragukan Andrew. Dan lagi, harus membawa-bawa nama Nevan. Sungguh sangat menyebalkan. Ujian macam apa lagi ini? Meski sebenarnya aku juga merasa kesal atas sewa gedung yang diputuskan secara sepihak itu. Namun, apakah Andrew juga tidak mengetahui ulah ibunya sama sekali?
Beban kami setelah menikah pasti akan banyak sekali. Mau tidak mau, aku juga harus membantu. Menghidupi orang tuaku, juga hutang papa yang seakan tidak pernah bisa dilunasi. Aku menelan saliva ketika membayangkan segala kemungkinan. Ingin menangis, tetapi malu. Pasti mama juga akan merasa khawatir. Lalu, Andrew? Bagaimana aku menjelaskan tentang kehidupanku, meskipun ia sudah tahu.
"Kalau adatnya, calon ibu kamu maunya full adat jawa. Karna mereka, kan, orang jawa," celetuk mama lagi.
"Iya, aku tahu, Ma. Tapi, aku juga pengin pake siger sunda," jawabku.
"Mama udah bilang, tapi kayak enggak terima. Mentang-mentang lebih kaya dari kita, seakan pendapat kita enggak dihargai sama sekali. Awal ketemu aja, orangnya ramah, enggak tahunya egois."
Aku terdiam mendengar keluhan yang mama ucapkan. Sepertinya, rasa kesal beliau terhadap calon ibu mertuaku sudah sangat besar. Memang sih, sebenarnya aku setuju dengan ucapan mama, hanya saja aku tidak ingin semakin memperkeruh suasana. Mereka memang lebih kaya, cabang restoran ada di mana-mana, tetapi biaya tetap Andrew yang menanggung.
Kami yang berada di dapur sibuk membuat kue-kue kering, saling menyimpan rasa kesal satu sama lain dan untuk satu orang yang entah ada di mana. Aku menjadi takut jika Ibu Siti menjadi mertua yang super galak. Membayangkannya sudah membuatku bergidik merinding. Banyak adegan drama perihal mertua galak yang mendadak melintas di benakku. Aku mohon, jangan sampai itu terjadi.
"Emm ... Ma? Terus sewa gedung sama dekorasi yang udah dipasang itu udah dibayar?" tanyaku untuk memastikan.
"Setahu Mama baru DP-nya aja. Katanya sih, pemiliknya istri teman Pak Birowo, jadi agak kasih keringanan. Nanti pelunasannya di akhir acara," jelas mama.
"Terus siapa yang bayar?"
"Calonmu, Sayang."
"Sejak kapan?"
"Udah satu bulan yang lalu. Emang enggak ngomong?"
"N-ngomong sih, kayaknya aku yang lupa."
Aku menggigit bibirku. Bagaimana bisa aku sampai tidak tahu? Jangan-jangan yang dimaksud rahasia adalah hal ini? Sesuatu yang bahkan lebih penting daripada izin kerja. Uh! Andrew selalu berbuat seperti itu. Mulai dari mobil, lalu hal ini. Memangnya, aku ini apa? Aku calon istrinya, bukan? Rasanya tidak dianggap sama sekali.
Kemudian, ak berdiri. Rasa kesalku sudah menumpuk dan bersarang di hati. Jika mendengar gerutu dari mama akan membuatku semakin pusing berkunang-kunang. Aku membersihkan tanganku dari tepung yang menempel. Baru setelah itu aku pergi dari tempat ini, mengabaikan mama dan Bi Emi.
Papa juga sedang tidak ada karena ada panggilan kerja, Cika masih bersekolah karena hari ini adalah hari Senin. Andrew pasti masih bekerja, ia mulai libur esok hari. Sedangkan hari pernikahanku akan digelar di hari Sabtu.
Kujatuhkan tubuhku pada ranjang yang sudah jarang aku temui. Ranjang di dalam kamar yang selalu dirawat oleh Bi Emi, sehingga tidak terlihat kotor sama sekali. Pikirku menerawang jauh--membayangkan banyak hal yang baru-baru ini terjadi. Ulah Ibu Siti, juga Andrew yang menyembunyikan kebenaran itu.
Aku paham jika mereka menginginkan pesta resepsi yang mewah. Tetapi, kondisi kami tidak memungkinkan, bukan? Rasanya serba dipaksakan. Aku juga tidak ingin menyalahkan mereka secara sepenuhnya, karena hidupku sendiri sudah berantakan. Bagaimana jadinya jika orang tua Andrew mengetahui perihal hutang papa yang menumpuk banyak.
"Kapan sih gue bahagianya?!" Aku mendengkus kesal. Kadang diri ini sudah tidak mampu lagi berdiri, tetapi keyakinan hati yang membuat diri tetap bangkit.
Tiba-tiba ponselku bergetar, ada pesan yang masuk ke dalam aplikasi hijau. Aku segera memastikannya dan membacanya.
Mamanya pacar : Neng, ketemu jam sembilan, ya. Nanti fitting baju buat kamu. Alamatnya ibuk kirim, ya.
__ADS_1
Seperti itu, lalu ada pesan masuk lagi dari beliau. Pesan yang berisi alamat tempat yang perlu aku tuju. Fitting baju? Aku ingin ditemani oleh mama bukan calon mertua. Mama adalah mantan model dan pasti lebih mengerti fashion, sedangkan ibunya Andrew? Tampaknya, pernikahan yang aku inginkan tidak bisa berjalan dengan lancar.
Setelah mengiyakan pesan tersebut, aku segera bergegas. Meskipun sudah mandi, aku tetap mandi lagi. Takut jika ada bau dapur yang melekat, bisa-bisa aku dikatai tidak bisa merawat diri.
"Kamu mau ke mana, Navya?" tanya mama sebelum aku masuk ke dalam kamar mandi.
"Mau mandilah, Ma," jawabku sekenanya saja.
"Lho? Bukannya tadi udah?"
Aku mengangguk. "Ada urusan sama mertua, Ma."
"Ngapain?"
"Fitting baju."
"Mama ikut."
"Ah jangan, jangan, nanti malah tengkar lagi."
"Kamu harus menang, pikirkan pernikahan yang kamu inginkan. Jangan mau diatur, Mama khawatir kalau model bajunya jelek."
Mama segera mengambil langkah pergi. Memang benar ucapan beliau, aku pun merasa khawatir. Tetapi, jika mama ikut, bagaimana jika mereka berdebat di tempat perias itu?
Meskipun tidak setuju dengan pagelaran pesta yang megah, aku tetap mengutamakan yang namanya make up. Kalau riasannya bagus, wajahku juga akan menjadi cantik dan pantas untuk dipotret. Namun, kalau tidak bagus, aku pasti akan menggerutu sepanjang acara. Ada baiknya mama ikut, semoga tidak terjadi apa-apa nantinya.
Aku melanjutkan rencanaku untuk mandi setelah perdebatan di dasar hatiku sudah sedikit mereda.
"Non Vya, pasti pusing, ya?" tanya Bi Emi setelah aku keluar dari kamar mandi.
Aku mengangguk pelan. "Iya, Bi, bukan lagi. Takut kalau mama dan mamanya Andrew berantem juga," jawabku.
"Iya, Bi. Aku usahain juga kok."
"Ya udah, berangkat sana. Nanti ditungguin kelamaan sama mertua."
Kuulas senyuman di bibirku. Setelah itu, aku melanjutkan langkahku. Tempat yang hendak aku tuju adalah kamar tercinta. Akan berdandan rapi nantinya, dan bergegas berangkat.
****
Mobil yang aku kemudikan, dan ada mama di dalamnya, sudah berhenti di sebuah tempat. Rumah yang cukup mewah. Aku pikir aku salah alamat, tetapi ada banner yang menunjukkan bahwa tempat itu yang dimaksud oleh calon ibu mertuaku.
Aku dan mama segera turun, setelah mobilku terparkir di halaman rumah itu. Dengan perasaan berdebar, aku mencoba masuk ke dalam bersama mama. Tampaknya, Ibu Siti juga telah sampai di sana.
"Itu, itu, calon mantu saya, Des," ujar beliau dengan mungkin pemilik tempat ini. "Cantik, kan? Iya to, lha wong anak saya juga ganteng hehe."
"Iya, Mbak Siti, cantik sekali, mirip artis. Ayo silahkan masuk, Nona dan Nyonya," timpal wanita yang mungkin seusia dengan mama.
"Selamat pagi, Ibuk, Tante," sapaku kepada keduanya diiringi kecupan dahi di punggung tangan keduanya.
Sang pemilik mengulas senyuman dengan ramah. "Nama saya Desi. Jangan malu-malu di sini, ya. Coba dipilih dulu gaun mana yang mau dipakai."
"Iya, Tante Desi."
Aku melihat berbagai macam gaya gaun pernikahan. Sangat cantik dan luar biasa indah, bahkan ada yang bergaya bak milik putri raja. Aku tidak menyangka Ibu Siti memiliki kenalan seorang perias yang sebagus ini. Tampaknya, aku dan mama sudah berprasangka buruk terhadap beliau. Oh, aku benar-benar minta maaf.
"Yang adat Jawa aja, Neng. Ibuk, kan, orang Jawa," celetuk calon mertuaku itu.
"Navya maunya siger Sunda, Jeng Siti. Kalau resepsi baru salinnya adat Jawa," sahut mama.
"Jeng Intan ini gimana lho. Kan, kalian juga ada turunan kejawen. Kok malah milihnya yang Sunda? Saya, kan, udah bilang kemarin."
__ADS_1
"Bukan masalah suku, kalau anaknya maunya begitu, orang tua bisa apa, Jeng. Coba deh kasih kesempatan anak saya memilih gayanya sendiri."
"Ya enggak bisa begitu. Kita juga harus mengutamakan suku sendiri."
"Saya, kan, bukan orang Jawa, yang Jawa suami saya. Justru, saya ada keturunan Bandung."
"Calon lakinya lho orang Jawa. Pye to, Jeng Intan ini."
"Saya, kan, udah ambil jalan tengah. Diadain semuanya dan adil. Sunda ada, Jawa juga ada."
"Tapi kalau akad saya tetap mau mantu pake adat Jawa. Akad itu momen sakral."
Perdebatan yang sempat aku khawatirkan kini terjadi. Aku hanya bisa menatap dan membiarkan sampai berakhir sendiri. Ada tangannya yang mengusap pundakku yaitu milik Tante Desi. Beliau membisikkan kata sabar untukku. Ucapan mama sesuai permintaanku, tetapi aku tidak bisa memberikan penolakan secara terang-terangan begitu saja.
Pernikahan yang tadinya direncanakan dengan akad saja, kini malah semrawut meski akan ada pesta resepsi setelah akad di pagi hari. Membuat perdebatan tidak penting seperti ini. Aku sampai bingung harus memihak siapa. Keduanya memiliki pendapat masing-masing. Aku calon pengantin, tetapi mereka yang ribut sendiri.
"Aku mau sanggul biasa aja, enggak perlu adat-adatan. Nanti pas resepsi, aku mau dua kali ganti aja. Jawa dulu, baru sunda," ujarku setelah merasa jengah dengan perdebatan itu.
Mama dan Ibu Siti seketika menatap diriku. Mungkin, merasa terkejut atas keputusanku. Namun, aku sudah tidak peduli. Ini adalah yang paling adil.
Aku menatap Tante Desi. "Tante, saya mau kebaya yang biasa aja, ya? Sama bawahnya kain batik. Rambut saya panjang dan tebal, jadi Tante pasti bisa mengatasi sanggup yang bagus kayak gimana."
Tante Desi mengulas senyuman. "Bisa Tante atur. Keputusan yang tepat, Nona cantik. Yuk, coba gaun-gaunnya dulu buat resepsi nanti. Kamu suka yang gimana?"
"Yang simpel, menarik dan elegan, Tante."
"Silahkan ada banyak gaya di sini. Kalau calon kamu seberapa tinggi dan besar badannya ya? Tante lupa, terakhir ketemu dia masih kurus. Siapa tahu udah besar sekarang."
Aku mengikuti langkah Tante Desi ke suatu ruang ganti. "Emangnya Tante Desi kenal sama Andrew?"
"Lho, kamu ini gimana, saya ini bibinya. Paling deket malah."
Tante Desi mengambilkan beberapa gaun pengantin agar aku mencobanya. Cantik dan bagus sekali. Aku yang gemar memakai warna emas, kini terpanggil untuk mencoba gaun berwarna gold itu. Gayanya tetap kebaya, tetapi di bagian belakangnya ada kain panjang, memiliki setelan kain batik sebagai bawahan. Aku kepincut.
Segera kuambil gaun itu. Dengan dibantu Tante Desi, aku mulai memakainya. Indah sekali. Aku ingin memakai gaun ini di resepsi nanti.
"Hmm ... Andrew mah matanya jeli banget lho. Bisa nemuin kamu, cantik banget kamu, Neng. Ada turunan luar negeri apa?" puji Tante Desi untuk diriku.
Aku menggeleng. "Sunda, Jawa sih, Tante. Tapi kakek saya orang Jakarta, jadinya tinggalnya di sini."
"Kata mama kamu tadi, ada keturunan Bandung, ya?"
Aku mengangguk. "Iya, Tante."
"Hmm ... orang Jawa manis, Bandung biasanya bersih-bersih geulis. Pantes kalau kamu secantik ini. Tapi kalau beda suku mah ya gitu, Neng. Ada perbedaan pendapat."
"Hehe ... mungkin mereka mau yang terbaik buat saya, Tante."
"Iya, tapi saya juga salah fokus sama mama kamu lho. Meski udah berumur, style-npya bagus juga ya, masih cantik awet muda lagi. Kamu pasti yang dandanin."
Aku menggeleng, memberikan penolakan tentang itu. "Malahan, saya yang belajar dari mama, Tante. Mama, kan, mantan model, jadi pinter fashionnya."
"Wualah! Pantes to, pada ayu-ayu semua. Ada darah selebritis. Pancen si Andrew ini beruntung sekali. Tapi kamu juga beruntung dapet anak itu. Gemar inves anaknya, pinter gitu."
"Hah?!"
Ingin sekali bertanya tentang hal itu, tetapi aku takut jika hubunganku dengan Andrew dibilang tidak bagus. Sehingga aku memilih menunda. Entah inves yang bagaimana. Ada dua macamnya, investasi properti dengan membeli rumah atau tanah dan semacamnya. Ada pula investasi saham, atau investor. Aku akan memastikannya nanti.
Semua orang terpana dengan penampilanku. Justru membuatku malu-malu. Ini baru memakai gaun tanpa rias, bagaimana jika sudah lengkap nanti? Semoga saja, hasil riasan Tante Desi sebagus gaun-gaun juga tempat ini.
Bersambung ....
__ADS_1