Who Is My Love

Who Is My Love
Curhat


__ADS_3

Suara rintik hujan terdengar nyaring di telinga. Menunjukkan bahwa dunia sedang ikut berbela sungkawa atas rasa sakit yang Kate alami. Betapa tidak, ia bahkan bersedia menemani sang pujaan hati dari bawah sampai setinggi ini. Sedang aku masih belum mengerti, seputar hubungan masalah mereka berdua.


Kuteguk coklat hangat setelah selesai menyantap makanan berat. Memandangi Kate yang sudah kupanggil dengan "Kak Kate" tersebut. Ia diam, mata terarah ke bawah, tepatnya ke lantai keramik kafe yang putih. Hanya helaan napas yang beberapa kali ia lakukan. Selepas pertengkaran kami dengan Affandy beberapa saat yang lalu, sepertinya berhasil membuat Kak Kate lagi-lagi bernostalgia akan rasa sakitnya. Sampai aku tidak berani mengganggunya.


"Navya?"


"Ya, Kak? Ada apa?"


"Menurut kamu, Fandy orang seperti apa?" Pertanyaan yang sungguh mengejutkan. Dan herannya harus ditanyakan kepadaku. Tentu aku akan menjawab apa adanya sesuai yang aku ketahui. Hanya saja, apa Kak Kate menerima?


"Emm .... Fa-Fandy baik, Kak."


Nah kan!


Ya, Kak Kate seketika memandangku. Aku hanya bisa menelan ludah kelu. Apa aku salah bicara? Itulah yang menjadi pertanyaan terhadap diriku sendiri. Kak Kate terus saja seperti itu dalam beberapa waktu. Tentu saja aku salah tingkah parah. "Ke-kenapa, Kak?" tanyaku kemudian.


"Nggak, hanya bingung aja. Kenapa kamu lebih milih Andrew? Kamu emang anak baik. Tapi semakin wanita dewasa, mereka pasti melihat dari segi kemapanan pria. Dan .... Affandy jauh lebih mapan daripada Andrew."


"Oh .... aku nggak tau, Kak. Aku hanya mencintainya. Lagipula Andrew cukup bertanggung jawab. Dan menurutku itu udah cukup, apa gunanya kaya akan harta kalau tak ada tanggung jawab?"


Kak Kate tertegun. Kemudian mengalihkan pandangannya ke luar. Ya, hujan masih saja lebat. Sebuah rinai air yang turun ke bumi. Udara yang sejuk merasuk ke dalam setiap pori-pori tubuh manusia. Betapa indahnya suasana hujan ini. Bagiku suaranya memberikan kesan yang menenangkan, selagi tidak ada halilintar.


Hidupku sudah berangsur membaik. Namun satu insan lagi sedang tidak baik. Semua kisah cinta, apakah pernah mengalami hal semacam ini? Adakah yang malah lancar tanpa hambatan sedikit pun? Entahlah, pastinya hanya Tuhan yang tahu. Manusia hanya bisa menjalani dan berupaya, sedangkan takdir sudah ditangan-Nya.


Aku menyesap minumanku dan menatap Kak Kate kembali. Sampai saat ini pandangan matanya masih terlihat kosong. Walau sebenarnya rasa penasaranku sudah membesar, sebisa mungkin aku bertahan untuk tetap diam. Sudah diangkat menjadi teman sekaligus adiknya saja, aku sudah sangat berterima kasih. Bahkan ketika ia mengajakku makan seperti ini, ia yang membayari. Beberapa kali aku mencegahnya, namun Kak Kate tetap bersikeras. Sumpah! Aku tidak enak hati.


"Navya, kamu punya teman cowok? Mungkin bisa dikenalkan padaku."


Uhuk! Aku terkejut sampai tersedak minumanku sendiri. "Jangan! Aku nggak punya teman soalnya hehe."


"Jangan bohong dan jangan pelit juga deh, Nav. Syukur-syukur, kalau aku tertarik dan melupakan cowok itu."


"Sumpah, Kak. Nggak ada, hanya Andrew dan Fandy yang kenal. Oh .... mungkin Rezky di tanah air. Itupun hanya karyawan biasa. Mana ada Kak Kate tertarik."


"Oh .... jadi kamu pikir aku pemilih, begitu ya?"


"Bu-bukan gitu, Kak. Kak Kate kan cantik, baik, pinter dan pekerjaannya bagus. Banyak yang lebih tampan sesuai level Kak Kate pastinya."


"Hmm .... aku ingin pulang ke tanah air dan melepas posisi sebagai sekretaris Affandy."


"Eh???"

__ADS_1


Tatapan mata Kak Kate begitu serius. Benar juga kalau dipikir-pikir, tidak mungkin mudah melupakan pria itu selama ia masih terus bertemu. Bahkan setiap waktu, dekat dan sering bertatap muka. Seketika aku membuang rasa terkejutku, aku mulai memahami perasaan Kak Kate.


Kini aku sangat berharap Kak Kate bisa sedikit bercerita. Namun sepertinya mustahil. Ia masih memiliki privasi seperti yang aku katakan sebelumnya. Usia persahabatan kami yang sudah lima bulan, belum bisa memberikan keleluasaan. Aku paham karena aku pun berlaku demikian.


Namun aku benar-benar ingin sedikit tahu. Maka dari itu, aku mencoba bertanya sedikit, "apa Kakak bener-bener nggak tahu alasan Affandy?"


Kak Kate menatapku seketika. "Emm .... aku tahu. Sangat tahu, Navya," jawabnya.


"Oh .... cukup menyakitkan ya?"


"Sangat, Nav. Kami tidak direstui oleh orang tuaku. Karena Affandy, aku sampai memutuskan untuk melancong ke tempat ini. Aku tahu, Affandy berbuat seperti itu karna nggak mau jika aku jadi anak yang membangkang. Dengan kata lain, dia ingin aku pulang bersama kebencianku terhadapnya."


"Tapi, itu nggak bisa Kakak lakukan, kan? Aku paham tentang perasaan seperti itu, mungkin kita tipikal wanita yang berhati sama. Labil akan cinta."


"Kalau Fandy maunya gitu. Aku juga harus coba, aku capek, Nav. Udah sejauh ini hehe. Mungkin hubungan persahabatan emang yang paling cocok untuk kami."


Sendu, itulah raut yang tergambar di wajah Kak Kate. Semburat senyun manis yang sebenarnya berbanding terbalik dengan isi hatinya. Aku hanya diam sekarang. Aku tidak bisa memberikan saran lantaran aku bukan orang yang bijak dalam masalah seperti ini. Aku hanya mampu menjadi pendengar saja.


Sampai akhirnya Kak Kate menyudahi makan siang ini, lantaran waktu juga semakin mepet. Berbeda dengan yang lalu, aku segera mengambil langkah dan membayar semuanya, tidak peduli akan tanggapan Kak Kate yang berusaha mencegah. Mau bagaimanapun, aku bukan parasit yang selalu memanfaatkan orang lain.


Kemudian, kami melangkah keluar. Masuk ke dalam mobil setelah mencapai keberadaannya. Lalu, Kak Kate mulai melajunya menuju kantor kami.


"Nggak apa-apa, Kak. Itu wajar kok."


"Padahal sekarang, kalau kamu nggak sama Andrew. Aku pengen kamu sama Dandy. Lagian, Fandy juga suka sama kamu."


"Aku nggak bisa suka sama orang lain lagi, Kak. Kecuali Andrew, perjuangan dia udah banyak banget. Aku tahu dia punya salah, tapi aku bukan orang yang sesempurna itu untuk nggak maafin dia."


"Apa yang membuat kamu bisa sesuka itu sama dia, Nav?"


"Nggak tau, Kak. Mungkin dia lembut atau mandiri. Pekerja keras, dan nggak pernah minta aku buat ini itu. Alasan utamanya karna hati."


"Kamu beruntung masih diberi kesempatan bersama. Jangan sampai rusak lagi, semoga bahagia selalu."


"Makasih, Kak. Semoga Kak Kate juga begitu, walaupun bukan sama Fandy. Aku yakin Kak Kate bisa bahagia."


Ia menorehkan senyuman saja. Sedangkan kami masih terus melanjutkan perjalanan kembali ke gedung kantor itu.


****


Sesampainya di ruang kerjaku dan telah berpisah dengan Kak Kate, aku malah disuguhkan pemandangan yang sangat memuakkan. Linseyld yang terus membuntuti Andrew, tampaknya mereka tengah berdebat. Aku menghela napas dalam-dalam sebelum menghampiri meja kerjaku. Ingin rasanya kuhadang Linseyld, namun masih enggan lantaran masih didalam lingkup perusahaan.

__ADS_1


Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk acuh terlebih dahulu. Namun lihat saja nanti, setelah pulang jika aku bertemu dengannya aku akan mengakui Andrew sebagai kekasihku. Tidak peduli apa yang akan menjadi dampaknya, aku sudah muak. Semakin lama Linseyld semakin merajalela, ia pikir kekasih Andrew jauh disana padahal selalu dekat dengannya.


"Tolong dong, Lin. Jangan kayak gini!" seru Andrew pada wanita itu. Aku yang telah duduk di kursi kerjaku hanya bergidik sembari menahan kesal. Aku tahu kekasihku itu sangat kesulitan saat ini. Namun, aku belum bisa membantu.


"Aku nggak minta apapun, Ndrew. Aku hanya ingin dekat dengan kamu aja. Lagian pacar kamu jauh disana, kan?! Pasti kamu kesepian." Entah ingin menyindir diriku atau bagaimana, kesan pertanyaan itu terdengar sangat tegas dan pedas. Lagipula, tidak mungkin Linseyld belum mengetahui hubungan kami. Ya, pasti ia sudah tahu.


"Ck! Udah mau mulai kerja, Lin! Nggak malu apa?! Aku dan pacarku saling mencintai, aku nggak pernah kesepian. Kamu ini ....? Astaga!"


"Aku apa? Aku jauh lebih baik dari dia, Ndrew. Aku lebih modis dan feminim. Apa sih yang kamu cari dari dia?"


"Aku mencintainya, oke! Kayaknya loe udah tahu siapa pacarku. Ya, Navya adalah pacarku."


Deg!


"A-apa?! Jadi benar?"


"Ya, benar sekali. Pergi dari sini, sebelum karyawan lain masuk. Atau gue laporin loe ke Elena? Atas gangguan dalam pekerjaan?"


"Ck! Navya? Nggak bisa dipercaya, tipe wanita kamu sangat rendah, Ndrew."


"Lin!"


Brak! Aku menggebrak mejaku seketika. Tidak peduli ini di kantor atau dimana. Rendah katanya? Ia bahkan lebih rendah dariku, mengemis cinta pada kekasih orang. Bahkan ia telah ditolak mentah-mentah. Tanpa pikir panjang lagi, aku segera berdiri. Aku menghela napasku dalam-dalam. Ingin rasanya aku memberikan tabokan di wajahnya itu. Namun aku ingat akan orang tuaku yang harus dibebaskan, sehingga aku urungkan begitu saja.


Aku berjalan menghampiri Andrew, tepatnya dihadapan Linseyld. Mata kami bertemu, dan saling menatap tajam. Sejak kapan sebenarnya ia bisa menjadi segila ini? Aku tidak habis pikir saja. Aku menaruh kepalaku diatas pundak Andrew sebelum waktu kerja benar-benar dimulai. Wanita itu, tampak merasa terhina bahkan merasa malu dan tidak percaya. Lantas, aku maju satu langkah mendekat kepadanya.


"Kamu itu pelakor yang gagal, Kakak ...," bisikku kepadanya. Kemudian aku menarik diriku menjauh lagi. Wajah Linseyld sangat merah. Ia sudah malu, dan mengumpat lalu pergi. "Gitu aja nggak becus loe, Ndrew," kataku kepada Andrew.


"Bingung, Sayang. Nanti kamu marah kalau bawa-bawa nama kamu. Maaf ya?"


"Ck! Yaudahlah, dia udah pergi. Nggak tau kalau besok, balik kerja gih. Bentar lagi waktu istirahat bener-bener habis."


Andrew tersenyum. "Iya, Sayang."


Tak lama kemudian, para rekan kerjaku memang sudah mulai memasuki kembali ruang kerja ini. Aku berusaha melupakan kejadian yang sempat terjadi. Beruntungnya, tidak seramai sekarang pada saat itu. Mungkin hanya satu dua orang saja yang ada termasuk kami, itupun para bule yang memiliki sifat masa bodoh.


Aku kembali berfokus pada komputer dihadapanku dan mengerjakan semua tugas yang tersisa. Oh ... meskipun ancaman dari Linseyld masih bisa datang lagi. Pelakor memang tidak ada urat malunya. Membuatku gemas, bahkan ia tidak pernah melihat diriku dandan sudah bisa menilai bahwa diriku lebih rendah. Lihat saja nanti, aku akan tunjukkan bahwa aku jauh lebih pantas bersanding dengan Andrew.


Sudahlah, aku harus bekerja terlebih dahulu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2