
****
"Hati bukan mainan, Affandy. Gue udah banyak terluka. Jangan ngajak sesuatu yang aneh kayak gini," tolakku.
"Ya, itu emang bener, Vya. Tapi, aku tahu kamu pun tidak bisa melupakan cowok itu. Aku hanya datang membantu, kita bisa mencoba," jawab Affandy.
"Lalu, gimana dengan Kate? Kami sama-sama wanita, Affandy. Gue bisa tahu, dia suka sama kamu."
Affandy terdiam sejenak. Kemudian mulai bersuara lagi, "aku ingin dia mendapatkan yang jauh lebih baik dariku. Aku nggak mau merusak persahabatan kami hanya karena cinta yang bisa merusak semuanya."
Entah, kebetulan atau bagaimana, ternyata Affandy memang benar-benar merasakan hal yang serupa. Meskipun dalam masalah yang berbeda. Namun tetap saja, menurutku ini bukan jalan yang baik. Terlebih, diriku yang masih enggan dalam menjalin hubungan. Aku hanya tidak ingin Andrew menunggu terlalu lama untuk sesuatu di hatiku yang tidak jelas ini. Aku menyetujui perjanjian diantara kami, karena berhara Andrew sedikit membebaskan dirinya.
Seketika saja, aku berdiri. "Enggak, gue nggak mau melakukan hal itu. Gue nggak peduli tentang Andrew, tapi gue peduli tentang Kate. Gue nggak mau nyakitin dia, Affandy," jelasku.
"Tapi, Navya. Ini adalah salah satu cara biar kita tahu sejauh mana kita mencintai mereka. Aku tahu merasakan hal yang sama, Navya. Kita sama-sama bimbang akan perasaan. Dan akan lebih baik jika kita bisa saling jatuh cinta," jawabku.
Aku menghela napasku dan menghembuskan napasku perlahan. "Kasih gue waktu, Fandy. Mungkin satu minggu. Tapi, jika gue menolak, loe jangan minta lagi. Dan kalaupun gue setuju, gue harap kita hanya sebatas dekat. Tidak ada hubungan apapun, karna aku masih harus membebaskan papa. Anggap saja, kita masih tahap mengenal."
Giliran Affandy yang menghela napasnya. "Baiklah, kalau itu maumu."
"Hmm... yaudah, ayo balik. Dan jangan bayar makanan gue. Gue yang bayar punya loe juga."
"Tapi?"
"Diem aja."
Kemudian aku memanggil salah satu pelayan. Ia datang bersama sebuah kertas pembayaran. Aku membayarkan beberapa menu yang kami pesan. Setelah itu, kami bergegas keluar dan ke tempat parkir. Sesampainya disana, kami masuk ke dalam. Dilajulah sang mobil hitam oleh pemiliknya.
Dalam perjalanan yang singkat, aku masih mencoba mencerna semua ucapan Affandy. Kami bagaiman dua orang remaja labil dan belum sanggup membuat keputusan. Apa aku bisa mencoba memulainya bersama Affandy? Hati kami pada kenyataannya masih terpaut pada hati yang lain. Bahkan, selama ini aku tidak pernah memikirkan untuk menjadikan Affandy sebagai kekasihku. Aku tidak pernah menaruh sedikitpun perhatianku kepadanya.
Baiklah, dalam satu minggu ke depan aku harus memikirkannya secara baik-baik. Entah akan memulai hubungan baru, atau memilih tidak bersama siapa-siapa. Mungkin jika kepada Andrew, aku masih bisa mengabaikannya. Namun tentang Kate, sebagai sesama wanita, aku tidak sanggup melukainya. Lagipula, apa yang dirasakan oleh Affandy ini sebenarnya terbilang aneh. Memangnya, kenapa jika menjalin hubungan dengan sahabatnya sendiri? Alasan takut merusak hubungan baik diantara keduanya, menurutku terdengar sangat konyol.
Hingga beberapa saat kemudian, sampailah kami didalam area parkir kantor. Tanpa pikir panjang, kami segera bergegas turun dari mobil ini.
"Navya?" panggilnya.
"Ya? Kenapa?" tanyaku sembari berbalik badan lagi.
"Tolong pikirkan baik-baik. Lagipula kita bisa saling menguntungkan kok."
"Hmm... yeah."
Aku berlalu lebih dulu. Bahkan aku sampai melupakan akan ucapan terima kasih yang seharusnya kukatakan kepadanya. Sepertinya jika kami akan bertemu lagi, akan kukatakan kepadanya.
Lantai gedung ini terus kutapaki. Elevator kunaiki, kemudian keluar lagi. Aku berjalan menuju ruang kerjaku yang cukup luas dan elite itu. Yah, meskipun masih berbaur dengan karyawan yang lain. Untuk kondisi dan tatanan ruangan masih terbilang nyaman. Yang paling aku kagumi disini adalah para karyawan pribumi ataupun bule, tidak pernah ikut campur urusan orang. Mungkin mereka terlalu malas dalam membahas sesuatu yang tidak penting.
Aku membuka perlahan pintu ruang kerjaku. Kemudian masuk ke dalamnya. Tak kusangka sudah dipenuhi oleh orang-orang. Kedisiplinan mereka memang patut diacungi jempol. Namun, ada satu titik yang membuatku keheranan. Yaitu, titik dimana Andrew berada. Dua orang dari wanita yang tadi masih asyik menggoda Andrew. Aku akui, ketampanan Andrew memang luar biasa, ia bak seorang idol dari Korea.
Lantas, aku duduk diam-diam di tempat kerjaku sendiri. Kudengar celoteh-celoteg genit dari keduanya untuk Andrew. Dan sumpah! Aku ingin muntah. Apa mungkin karena mereka lebih tua dari kami, jadi membuat telingaku jijik? Lantas, bagaimana dengan Andrew?
"Ndrew, besok nge-date sama aku ya? Aku bakal ajak keliling Singapura hehe," ujar salah satunya.
"Boleh," jawab Andrew.
"Andrew sama Linseyld aja. Dia kan naksir berat sama kamu."
"Hmm... boleh."
"Bener?"
"Emm."
"Oke, minggu ya? Kayaknya libur kok."
"Boleh."
"Yeeey... berhasil nih comblangin kalian. Yang satu ganteng yang satu imut. Cocok, cocok. Kalian sama-sama dari Indo lagi."
"Hehe."
Boleh, boleh, dan boleh kemudian hehe. Oh... apa-apaan itu? Seharusnya menerima dengan baik, atau kalau tidak menolak dengan tegas. Membuatku geram saja dalam mendengarnya. Ah... mengapa aku harus geram?
"Iiiiissssshhh... sial!" umpatku tiba-tiba dan itu lumayan keras.
"What's wrong, Navya?" tanya seseorang kepadaku.
__ADS_1
Lantas, aku menoleh kepada sumber suara itu. "Sorry, Elena. It's oke," jawabku.
"Alright, everyone's back to work."
"Emm... yeah."
Kedua wanita disamping Andrew itu, kemudian berlalu pergi. Aku rasa, mereka hendak kembali ke tempat kerjanya sendiri. Sedangkan aku terlalu malu atas respon yang tiba-tiba kuucapkan dengan sangat kencang. Aku rasa, Elena merupakan orang yang memiliki posisi seperti Rezky. Karena, ia yang banyak mengatur dan juga memberi tugas kepada kami.
Aku menghela napasku dalam-dalam. Kemudian berfokus pada komputerku. Meski sangat kesulitan, aku tetap tidak akan kalah dengan perasaanku yang tengah kesal pada sesuatu yang tidak jelas. Pada akhirnya, otakku bisa hanyut dalam pekerjaan. Melupakan sejenak tentang kegusaran. Melihat berkas-berkas yang semakin berkurang membuatku tenang sekaligus senang.
Kondisi ruang kerjapun sudah cukup kondusif dan terkendali. Tidak ada satupun karyawan yang berbicara, selain dalam konteks berdiskusi. Tidak terlalu berbeda dengan kondisi kerja kantor tempatku bekerja dimasa lalu. Mungkin debit pekerjaanlah yang lebih besar daripada saat itu. Kebebasan untuk menyesap kopi pun tidak bisa didapatkan dengan leluasa. Meski diperbolehkan, hanya saja aku terlalu sayang membuang waktuku sia-sia.
****
Selang waktu berjalan, tiga jam telah berlalu dan semua karyawan hendak pulang. Wajahku yang sedari tadi terlihat kaku, kini mulai melemag kembali. Aku bisa bernapas lega karena akan segera bertemu dengan kasur kamar. Dan yang lebih membuatku lega adalah tidak ada sisa pekerjaan hari ini.
Aku sampai tersenyum begitu lebar. Kukemas barangku yang sempat kukeluarkan. Menata mejaku dengan rapi kembali. Setelah semua selesai, aku beranjak berdiri. Aku berbalik badan. Namun lagi-lagi wanita-wanita centil itu datang menghampiri Andrew. Astaga! Tidak di dalam negeri, tidak di luar negeri, mengapa ada orang seperti ini? Rasanya benar-benar memalukan negara sendiri.
"Andrew, hari minggu Linseyld setuju," ujar salah satunya.
"Emm... ya," jawab Andrew singkat.
"Oke berarti mulai jam sembilan pagi aja ya? Nanti kita berdua juga bawa pasangan sendiri," jelas yang lainnya.
"Boleh."
"Oke. Mau pulang bareng, kami antar.
Andrew diam sejenak. Kemudian bersuara, "Bo--"
"Tidak!" potongku seketika.
Bodoh!!! Apa-apaan gue?!
Lantas, mereka bertiga menatapku seketika. Aku menelan ludah karenanya. Apa yang baru saja aku katakan? Kini, aku hanya menggaruk kepalaku yang tidak terasa tidak gatal. "Ma-maaf, bukan ke kalian kok hehe. Itu ada temen saya diluar," ujarku sembari menunjuk pintu yang sebenarnya hanya ada orang yang bukan temanku.
"Saya permisi dulu," pamitku.
"Eh... tunggu. Anak Indo juga kan?" tanya salah satu dari mereka.
Aku berhenti dan mengangguk pelan. "Iya, Kak. Nama saya, Navya."
"Aku Bela, Navya. Yang satu masih ada lagi, Linseyld namanya. Suka sama Andrew."
"Emm... ya. Salam kenal kakak-kakak, saya duluan dulu."
"Wah, ternyata anaknya lembut juga ya? Kirain jutek banget hehe. Salam kenal, Navya."
"Sama-sama, Kak Nita. Mari."
"Iya hati-hati ya."
Aku mengangguk. Kemudian aku melanjutkan langkahku untuk pulang. Aku terus berjalan sembari menggerutu sendiri. Sesekali kutepuk jidatku lantaran mengingat hal tadi. Tentu saja, aku sangat malu. Terlebih kepada Andrew. Diriku seperti tidak memiliki harga diri saja. Aku yang menyarankan, namun aku yang menjilat lidahku sendiri. Memalukan!
Setelah melewati semua arah ke bawah. Aku duduk di pos tunggu demi menunggu Raya dan Sinta. Karena sepulang kerja seperti ini, Affandy tidak bisa mengantarkan kami. Sehingga kami harus menaiki taksi. Mungkin, mulai esok hari, Affandy juga sudah tidak menjemput ke rumah. Lantaran, ia memang bukan seorang sopir. Ia hanya ingin memudahkan akses untuk kami di hari awal.
"Navyaaaa!" seru seseorang memanggilku.
Aku menatap ke arah sumber suara. Raya dan Sinta berjalan lebih cepat demi menghampiriku. "Hai, udah lama ya?" tanya Raya kepadaku.
"Belum, Ray. Barusan nyampe sini," jawabku.
"Udah yuk, kita harus masak sore juga," sela Sinta.
Raya menampilkan raut meledek. "Emang loe bisa masak?"
"Hahaha... enggak sih. Tapi kan, gue terlibat dalam melahap."
"Hmmmmmmmm."
Kami tertawa kecil. Seperti layaknya anak SD yang pulang sekolah, kami begitu riang gembira berjalan bersama untuk mencari taksi diluar gedung kantor ini. Sesampainya di titik tertentu, kami berhenti. Tidak memerlukan waktu yang lama, sebuah taksi terhenti dihadapan kami. Lantas, kami masuk ke dalam dengan Raya yang memilih duduk didepan.
Sang driver pun melaju kendaraan ini setelah diberitahukan arah alamat tinggal kami. Sayup keramaian kota terdengar beradu dengan deru taksi. Langit berwarna jingga yang begitu indah menghibur mata. Bersama segala letih dan lelah, kami pulang ke kediaman sementara tersebut.
"Tadi, kalian nggak makan siang, Sin?" tanyaku.
__ADS_1
"Makan siang di kantin, tapi keburu-buru. Ada laporan yang salah, jadi mau nggak mau kami juga harus ikut benerin. Mana banyak lagi, bener-bener ngeselin. Yang salah siapa, yang tanggung jawab siapa," keluh Sinta.
"Namanya juga tim, Sin. Bukan individual, di Indo kan juga tim gitu."
"Iya sih. Kesel aja gitu, orang lebih lama tapi malah keliru."
"Mereka juga manusia, Sin. Sabaaaaaaar."
"Hmm... habis tidur, baru ilang kekesalan gue, Nav. Gue mah gitu orangnya, kalau kesel harus dibawa tidur dulu."
"Haha... aneh sih. Tapi kebanyakan cewek biasanya gitu juga sih."
"Makanya, apalagi kalau udah berantem sama pacar. Duh... duh... gue mah tidurnya kayak kerbau dulu, baru sembuh."
"Itupun, harus dia yang minta maaf dulu kan? Haha... sama aja. Namanya juga wanita, harus selalu bener."
"Nah, betul. Apalagi gue orangnya suka nggao mau kalah, walaupun kesalahan gue sih haha."
Aku dan Sinta sibuk membahas seputar hubungan pacaran. Raya malah asyik berkenalan dengan sang driver taksi. Aku menilik wajah driver tersebut. Kuteliti lagi, dan memang cukup muda dan tampan. Pantas saja, Raya bersedia duduk di depan.
"Eheeeeeeem!" deham Sinta kemudian. "Pantes si Raya betah, do'i cakep. Inget calon suami, Bu."
"Hahaha... cuci mata doang guys. Penghibur lara hati korban LDR," jawab Raya.
"Dasar, modus loe!" ujarku.
Raya pun akhirnya malu-malu. Aku rasa, ia khawatir jika sang driver mampu memahami bahasa kami. Namun, saat kutilik lagi sepertinya tidak mengerti. Parasnya yang tampan tersebut, tampak terbengong-bengong saja. Hanya tawa kecil yang ia berikan sebagai tanda keramahan. Lucu juga cara menggoda pria.
Hingga beberapa menit kemudian, sampailah kami di tempat tujuan. Aku membayar ongkos taksi karena sudah giliranku. Sang *drive*r menerima sembari tersenyum.
"Besok jemput lagi ya, Abang," celetuk Raya.
Driver tersenyum lagi. Kemudian melaju taksinya kembali. Kutepuk pundak Raya karena gemas akan sikap dan tingkahnya yang konyol itu. Lantas, ia mengaduh kesakitan diiringi tawa yang begitu lepas. Ketika kami hendak melangkah masuk, tiba-tiba datang sebuah mobil berwarna merah. Karena penasaran kami berbalik badan dan menyaksikan siapa pemiliknya.
Tak lama kemudian, Andrew tampak turun dari mobil tersebut bersama seorang wanita berparas lokal Indo. "Makasih, Lin," ujar Andrew.
"Sama-sama, Ndrew," jawab wanita itu sembari tersenyum.
Sinta merengku pundakku dan membelainya dari belakang. "Yang sabar, Nav. Andrew geraknya cepet banget," ujarnya.
"Hmm... bodo' amat!" tegasku.
Wanita yang aku rasa bernama Linseyld itu kembali ke dalam mobilnya kemudian melajunya pergi. Andrew berjalan masuk dan menatap kami bertiga yang masih tidak menyangka.
"Hai," sapanya. "Yuk, masuk."
"I-iya, duluan aja," jawab Raya.
Andrew tersenyum. Kemudian mendahului kami tanpa menatapku sama sekali. Baiklah! Aku baik-baik saja. Ya! Kuajak Raya dan Sinta dengan menarik tangan keduanya. Aku membalap langkah Andrew. Bahkan sampai menabraknya. Aku tidak peduli dan berlalu begitu saja.
Sesampainya diatas, segera kubuka pintu dengan menggunakan kunci yang telah aku ambil. Setelah terbuka, aku masuk ke dalam dan melempar ranselku secara sembarangan. Aku menghempaskan tubuhku diatas sofa yang pantang. "Aaaaaaaaaaaa!" pekikku sekencang mungkin.
"Sakit ya, Nav?" tanya Sinta.
"Nggak tahu. Kok gue kayak gini sih? Kan gue yang minta?"
Raya berjalan menghampiriku. Ia kini tengah duduk disampingku. "Seratus persen, loe masih ada rasa sama dia. Tapi, gue nggak nyangka dalam satu hari dia bisa cari perempuan," ujarnya.
"Nggak tahu, Ray. Gue juga bisa kok, bahkan lebih dari dia."
Mata Raya dan Sinta berbinar seketika. "Siapa, Nav?" tanya mereka bersamaan.
"Fandy alias Affandy. Dia tadi nawarin sesuatu ke gue. Dia mau gue sama dia mencoba menjalin hubungan."
"Woooooow!"
Yah, Affandy memang lebih dari segalanya daripada Andrew. Dalam segi fisiki, Andrew masih jadi pemenang. Namun, soal materi dan pekerjaan, Affandy jauh lebih baik. Wanita yang bersamanya tadipun tidak lebih cantik dariku. Aku masih menang darinya. Lalu mengapa aku harus kesal seperti ini? Apakah aku masih mencintainya?
Lalu, kuceritakan semua perbincanganku dengan Affandy tadi siang kepada Raya dan Sinta. Mereka mendengarku dengan seksama dan bahkan sangat antusias. Meski begitu mereka tidak menjadi pendengar yang pasif. Ada beberapa hal yang mereka katakan sebagai saran untuk diriku.
"Kalau kata gue, janganlah Nav, kalau buat pacaran. Hati itu bukan buat main-main. Ya, kalau Pak Fandy bisa jatuh cinta sama loe. Kalau nggak gimana? Dan takutnya loe yang malah jatuh cinta sama dia. Gue takut loe terluka lagi," ujar Sinta.
"Iya makanya, gue juga belum ngasih jawaban. Lagian kasian si Kate itu," jawabku.
Raya ikut andil dalam berbicara, "gue nggak nyangka bisa kenal sama orang yang serumit loe, Nav. Gue bisa stress kalau jadi loe haha. Tapi Nav, kalau buat pura-pura sih nggak apa-apa. Yah loe atau Pak Fandy, bisa bikin orang lain cemburu. Loe bisa balas dendak ke Andrew, Pak Fandy bisa menjauhi Kate seperti yang dia mau."
__ADS_1
Aku menghela napas dalam. Aku tahu akan maksud ucapan Raya. Namun, tetap saja aku harus menyakiti hati Kate. Lagipula Affandy belum tentu bersedia akan ide itu. Ia orang pintar, usianya sudah cukup untuk mencari istri. Tidak main-main anak SMP seperti ini.
Bersambung...