
Aku membuka pintu sembarangan saja. Namun, aku rasa Raya dan sinta sudah pulang, lantaran pintu sudah salam keadaan terbuka. Kami memang memiliki dua kunci dan aku membawa salah satunya. Entah mengapa rumah ini tidak menggunakan kunci password saja. Sehingga lebih mudah begitu. Tapi, ya sudahlah, namanya juga menumpang secara gratis, tidak mungkin aku meminta berlebihan lagi.
Tampak Raya dan Sinta begitu asyik melihat tayangan televisi yang ada di rumah ini. Meski jam sudah mulai malam yaitu pukul sembilan waktu Singapura, mereka belum kunjung tidur juga. Lantas, aku menghampiri keduanya. Sesampainya disana aku taruh beberapa cemilan itu diatas meja dihadapan mereka. "Hai guys," sapaku kemudian.
"Hei, Nav. Baru pulang? Abis darimana? Sama Andrew ya?" tanya Raya.
Aku mengangguk pelan. "Ya, haha."
"Widih... pacaran nih malem-malem. Pantes diajak keluar bareng nggak mau," celetuk Sinta.
"Dia bukan pacar gue kok."
"Hmmm... okelah."
Aku merebahkan diri diatas salah satu sofa. Bola mataku menatap layar televisi, namun tidak dengan otakku. Mengapa disaat Andrew menyetujui hal itu, aku malah gusar seperti ini? Sebenarnya apa yang aku inginkan darinya? Tidak cukupkah diriku mempermainkan dirinya? Ia memang bersalah, tapi aku jauh lebih bersalah.
Oh... mengapa aku seperti anak remaja yang baru belasan tahun? Sudah hampir 25 tahun usiaku, aku malah kekanak-kanakan seperti ini. Padahal aku ingin hidup dengan baik-baik saja setelah semua yang terjadi. Padahal aku ingin fokus pada kebebasan papa dulu. Namun, mengapa kegalauan semacam ini datang lagi? Mengapa aku harus menjadi menusia yang memuakkan seperti ini?
"Aaaaaaaaaa! Sial!" pekikku. Tentu saja kedua teman tinggalku merasa terkejut karena suaraku yang melengking.
"Kenapa sih, Navya?!" tanya keduanya secara bersamaan.
"Ray, Sin, gue harus gimanaaaa???"
Raya dan Sinta saling bertatap mata, kemudian kembali menatapku. "Ada apa, Nav? Coba cerita?"
"Gue ini masih cinta nggak sih sama Andrew? Nyebelin banget sih gue jadi orang."
"Lah kok nanya kita," heran Sinta.
Kemudian mereka berdua berjalan menghampiriku. Di sofa panjang yang kutiduri ini, mereka membangunkan diriku. Kemudian duduk di samping kiri dan samping kananku. Mata mereka berbinar seolah mengharapkan aku bercerita banyak hal. Rasa hatiku ragu, lantaran kami terbilang baru mengenal satu sama lain.
Namun, tidak ada Sita disini, pasti aku tidak bisa memendam semuanya sendiri. Sepertinya aku harus menceritakan semuanya supaya lebih lega. Toh, mereka akan mengatakannya pada siapa lagi. Orang-orang disini tidak peduli gosip dan lebih mementingkan pekerjaan, bukan? Lagipula aku bukan siapa-siapa yang bisa menjadi bahan perbincangan.
"Gimana, gimana? Cerita sama kami, kami pintar jaga rahasia kok. Siapa tahu bisa kasih saran," ujar Raya.
"He'eh, Nav. Lagian loe disini kan nggak punya siapa-siapa selain kita-kita," sambung Sinta.
"Gue abis ciumaan," jawabku sekenanya.
Raya terkejut. "What?! Sama siapa? Blak-blakan banget."
"Katanya suruh cerita?"
"I-iya sih hehe."
"Sama Andrewlah siapa lagi. Gue kan pernah deket sama dia tapi bukan pacaran. Gue nggak tahu kalau ternyata dia masih punya pacar. Eh tapi belakangan ini dia udah putus bahkan nggak jadi nikah demi gue. Dateng ke sini pun karna gue. Tapi, sepanjang hari itu, gue selalu PHPin dia. Gue nyuruh dia cari cewek lain, terus tadi setuju. Tapi, kenapa gue malah kecewa?"
Sinta mengusap bahuku pelan. "Karna dia masih cinta sama loe, Navya. Gue ngerti loe kecewa, tapi ya ditilik lagi semua yang dia perjuangin buat loe. Sebelum terlambat lho."
"Hmm..."
Setelah itu, aku semakin menceritakan semua tentang hidupku dan masalahku. Semua keluar begitu saja dari bibirku, seolah seperti air bah kotor yang telah lama tersendat didasar hatiku. Aku bahkan tidak peduli apa yang akan dipikirkan oleh Raya maupun Sinta. Aku tidak peduli bahwa mereka bukan Sita, sahabatku. Perkenalan kami yang baru terhitung beberapa hari pun, tidak menghentikan laju bibirku dalam mengeluarkan unek-unekku.
Entah, saat pertama kali aku disakiti oleh Nevan. Entah, saat pertemuanku dengan Andrew. Proses hubunganku dengan Andrew. Kehadiran kedua orangtuaku bersama Haris. Dan masalah terberatku dalam menghadapi Haris. Semua yang kukatakan adalah alasan yang mendasari perubahan akan penampilan dan juga emosiku yang terkadang berubah-ubah. Atau mungkin aku sudah gila.
Sedangkan Raya dan Sinta hanya manggut-manggut. Atau sesekali menitikkan air mata tatkala aku menceritakan masa-masa tersulit yang kualami. Hanya belaian di pundakku saja, yang bisa mereka lakukan. Aku terus berbicara tanpa lelah sampai habis tanpa air mata. Entah mengapa, setelah itu hatiku merasa sangat lega sekali.
"Gue pikir jadi orang cantik itu enak, Navya. Seolah semua mata memandang, selalu diutamakan. Buktinya sekarang semua malah terbalik dari pemikiran gue," ujar Sinta.
__ADS_1
"Yah, mungkin setiap manusia punya proses hidupnya masing-masing guys. Tapi, Nav? Menurut gue, Andrew nggak main-main melakukan itu semua. Secara semuanya dipertaruhkan demi mengejar loe dan bikin loe percaya lagi," sambung Raya.
"Yeah, makanya gue mikir gue ini nggak pantes buat dia. Terlepas dari semua kebohongannya, dia itu cowok yang terlalu baik. Gue ini orang gila. Gue nggak enak kalau nahan dia terus tanpa kepastian," jawabku.
Sinta menyentil dahiku seketika. "Jangan sembarangan ngomong gila! Loe itu cuma terlalu capek sama semua masalah itu. Jadi, mau melangkah pun jadi takut."
"Iya, Nav. Bener kata Sinta. Yah, loe jalanin aja rencana dari Andrew. Biar loe juga sadar yang loe sukai itu dia atau bukan. Tapi, jangan lama-lama juga. Takutnya Andrew beneran diambil orang. Inget, Nav. Jangan menjadi orang paling bener, sampai nggak menghargai usaha orang lain."
Aku manggut-manggut saja. Yah, sepertinya benar apa yang disarankan oleh Raya. Dengan menjalani perjanjian itu, aku ingin tahu sejauh mana perasaanku yang tersisa untuk Andrew. Benar! Jangan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku tidak boleh merasa paling benar dan menganggap Andrew selalu salah.
Kulukiskan semburat senyum di wajahku melalui bibirku. Kutatap kedua teman tinggalku ini. Mereka mengepalkan tangannya supaya aku lebih bersemangat lagi. Menyelam sambil minum air, cari nafkah sembari cari cinta. Entah, benar Andrew atau siapapun nantinya. Papa keluar dari bui, aku harus membawa calon menantu untuk beliau. Ya! Mungkin itu yang menjadi salah satu cara untuk membahagiakan kedua orangtuaku bahkan diriku.
"Eh, Navya?" panggil Sinta.
Aku menoleh ke arahnya. "Apa?" tanyaku.
"Tapi, kayaknya Pak Fandy juga suka sama loe, deh."
"Oh ya? Tapi tadi do'i bawa cewek ke restoran. Awalnya gue pikir juga suka sama gue. Tapi, kayaknya nggak mungkin deh."
Mata Raya berbinar lagi. Jiwa keponya seketika bangkit kembali. "Cewek yang mana? Cantik nggak? Soalnya gue lihat dia tadi sama sekretarisnya, kayak deket banget gitu. Orangnya cantik sih, lebih cantik daripada loe, Nav. Haha."
"Bener banget, Ray. Do'i bawa sekretarinya, tapi kayak malu-malu gitu. Ya, namanya juga laki. Apalagi Fandy orangnya pinter, mapan. Nggak mungkin kalau nggak ada yang naksir."
"Hmm.. bener tuh Nav, Ray. Biasanya kalau cowok udah punya masa depan gitu, malah milih-milih. Mereka nyeleksi calon istri yang baik. Nggak heran sih, namanya udah punya prestasi, pasti pasangan pun harus terbaik dan pintar juga."
"Padahal, kalau Navya nggak mau. Bakalan gue sikat haha. Tapi setelah tahu sekretarisnya yang cantik, body-nya guys kayak gitar Spanyol. Mantaaaaf."
"Iyuuuhh..." Aku merasa geli atas ucapan Raya yang begitu mengagumi Kate. Bukan apa-apa, masalahnya ia mengagumi sesama wanita. Namun setelah itu, kami tertawa lepas seolah tak ada beban kehidupan. Bahkan, aku bisa melupakan sejenak kerisauan hatiku.
Nyatanya, memiliki beberapa teman itu lumayan mengasyikkan. Aku jadi menyesal, karena selama ini terlalu cuek dan angkuh terhadap orang lain. Namun semua akan kubayarkan tuntas mulai sekarang.
****
Selang waktu berjalan, akhirnya aku, Sinta dan Raya merasakan kantuk yang luar biasa. Sudah dua jam lamanya, kami saling berbincang. Saat jarum jam sudah menunjukkan di angka sebelas, aku memisahkan diri dan masuk ke dalam kamarku. Begitupun dengan mereka setelah mematikan lampu ruang tengah.
Sebelum masuk ke dalam kamar, aku teringat akan kondisi diriku. Tanpa pikir panjang, aku menuju kamar mandi kemudian membasuh wajah dan gosok gigi. Tidak memerlukan waktu yang lama. Setelahnya aku kembali menuju kamar baruku itu.
Aku merebah tengkurap diatas ranjang berukuran sedang. Kemudian membalikkan badan lagi, bola mataku menatap langit-langit kamar. Bayangan wajah mama dan papa seolah terlukis disana. Aku sedang merindukan kedua orangtuaku. Terlepas dari semua perlakuan tidak mengenakkan itu, aku adalah seorang anak yang mencintai orangtuaku sendiri.
Lalu, tiba-tiba saja ponselku berdering. Tanpa pikir panjang, aku meraihnya dari saku celana training yang masih aku gunakan. Sebuah nama kontak milik mama sedang menghubungiku. Oh... inikah yang dinamakan ikatan seorang anak dan ibu?
"Malam, Ma," sapaku kepada beliau sesaat setelah mengangkatnya.
"Malam juga, Sayang. Kamu belum tidur? Padahal Mama cuma iseng," jawab beliau dari kejauhan sana.
"Belum, Ma. Kebetulan aku habis mikirin Mama dan Papa. Mama sehat kan?"
"Hmm... manisnya anak Mama. Iya Mama sehat kok. Kamu sendiri nggak kesulitan kan disitu?"
"Nggak, Ma. Navya baik-baik aja. Mungkin masih tahap adaptasi aja hehe."
"Iya, Mama paham, Sayang. Pelan-pelan aja, jangan begadang ah. Udah malem gini, besok masih kerja kan?"
"Iya, Ma. Ini juga udah ditempat tidur kok."
"Ya udah gitu aja, udah malem soalnya. Kamu besok masih kerja, Sayang. Tidur yang nyenyak ya?"
"Emm... salam buat Papa, kalau Mama lagi besuk. Navya akan usahakan secepatnya, Ma."
__ADS_1
"Iya, kamu tenang aja, Sayang. Jangan terlalu memaksakan diri. Tidur gih, malam putriku yang cantik."
Setelah itu, mama mematikan panggilan. Aku melepaskan ponsel dari genggamanku. Lantas, aku mulai mencoba melelapkan tidurku. Namun, apa daya bayang-bayang Andrew masih ada didalamnya. Tidak mungkin aku bisa tidur nyenyak. Oh... aku tidak boleh gentar dengan ambisiku itu.
Dan, tiba-tiba ponselku berdering kembali. Aku pikir adalah mama, namun sepertinya tidak mungkin. Dengan gerak malas, aku meraih benda kotak tersebut. Aku menghidupkan layarnya dan tampak kontak milik Affandy terpampang nyata disana. Demi menghargainya, akhirnya aku memutuskan mengangkat teleponya.
"Hai," ujarku singkat.
"Kok belum tidur? Kontak kamu masih online, Vya?" tanyanya kepadaku.
"Emm... belum ngantuk, Fandy."
"Oh... habis jalan sama do'i, jadi terbayang gitu ya?"
"Maybe. Kenapa telpon?"
"Nggak, pengen aja. Ngomong-ngomong, Kate hanya sekretarisku kok."
"Oh... nggak nanya sih."
"Ya, ya ngasih tahu doang, Vya."
"Yah, sebenarnya nggak perlu juga. Tapi, nggak apa-apa deh hehe. Kalian cocok kok."
Affandy terdiam seketika. Dahiku berkerut heran. Untuk apa ia menjelaskan hal itu? Memangnya siapa yang peduli?
"Kami nggak ada hubungan apa-apa, Navya."
"Yaudah, dibuat ada hubungan dong."
"Nggak ah, maunya sama kamu."
"Tapi, gue belum mau."
"Tapi, ada kemungkinan kan?"
"Entahlah. Udah ya, gue udah ngantuk, Fandy."
"Hmm... yaudah deh. Matiin aja, terus istirahat ya."
"Emm..."
Aku mematikan panggilan dari Affandy seketika. Sebenarnya bola mataku masih segar-segar saja, namun entah mengapa aku merasa malas untuk berbicara dengannya. Apalagi kalau sudah menyangkut perbincangan tentang hubungan, atau ada beberapa kalimat yang menurutku tidak perlu dijelaskan. Untuk apa? Untuk menarik minatku? Lalu, sekretarisnya yang dekat itu dianggapnya sebagai apa? Apakah benar ucapan Sinta tentang seleksi calon istri bagi orang mapan memang benar?
Oh... aku tidak mengerti. Aku tidak mau tahu lagi. Menghadapi hati tentang Andrew saja, aku telah dibuat pusing tujuh keliling. Apalagi kalau benar, Affandy menyembunyikan sesuatu mengenai dirinya dan Kate. Bisa-bisa, aku dianggap sebagi perusak hubungan orang di negara orang. Lebih baik cari aman saja. Menjalani dan menyelesaikan sesuatu yang ada terlebih dahulu.
Baiklah, lupakan semua itu. Lantaran esok hari aku masih harus menjalani banyaknya pekerjaan di kantor. Aku mencari remote AC dan sedikit menaikkan suhunya. Setelah itu, aku menarik selimut dan aku pakai. Hawa dingin seperti ini memang pas untuk membawaku semakin terlelap bersama mimpi yang akan kurajut sendiri.
Tak lupa, kupanjatkan do'a malam sesuai perintah agama. Mataku perlahan terasa begitu berat sekali. Aku mulai memejamkan mataku bersama harapan diesok hari. Semoga hariku semakin cerah dan bahagia, semoga segala sesuatu kuselesaikan dengan baik. Semoga juga, otakku tidak semakin menggila. Karena aku ingin waras seperti sedia kala.
Bersamaan dengan harapanku, tiba-tiba terdengar derasnya hujan. Hawa ruangan semakin dingin saja. Mau tidak mau, aku meraih remote AC dan memperkecil suhunya kembali. Lebih kurekatkan selimut pada diriku lagi. Lantas, aku kembali memejamkan mataku sembari mengulangi beberapa do'aku.
Papa, Mama, tunggu Navya pulang. Pulang dengan sejumlah uang untuk mengeluarkan Papa dari bui. Navya rindu kalian, Navya ingin merasakan kebahagiaan bersama Papa dan Mama.
,
Bersambung...
Ikuti aja alurnya ya guys, hehe. Maaf kalo rada kecewa karna aku ngambil bberapa kisah dari orang-orang dunia nyata. Yang labil meski sudah cukup dewasa. pisss hehe
__ADS_1