Who Is My Love

Who Is My Love
Sebel, lalu kejutan ...?


__ADS_3

Aku mendengkus kesal ketika acara lamaran tiba-tiba berubah menjadi acara milik bapak-bapak yang tengah bercerita tentang masa muda. Awalnya aku sangat terkejut pada saat papa mengenal Pak Birowo--selaku ayahanda dari Andrew Birowo--kekasihku. Betapa tidak, aku tidak pernah memikirkan kemungkinan sampai sejauh ini. Melainkan dugaan aneh yang tersemat di dalam benakku. Tampaknya aku terlalu sering melihat acara televisi bertajuk drama, sampai-sampai menduga Pak Birowo musuh bebuyutan dari papa.


Gugup berangsur menghilang. Bagaimana tidak, semua orang begitu klop dengan masing-masing lawan bicara. Papa dengan Pak Birowo, mama dengan Ibu Siti. Para rombongan belum terlalu mengenalku, sehingga asyik berbincang sendiri sembari menyemil hidangan yang telah disiapkan. Obrolan para orang tua ini membuat kepalaku mendadak pusing, aku sama sekali tidak mengerti. Coba saja mereka bertanya perihal manajemen, pasti aku langsung menjawabnya.


"Jadi gimana? Sudah lama sekali enggak ketemu, aku pikir nggak bakalan ketemu lagi, Sur," ujar Pak Birowo sembari mengusap pundak papa.


"Dunia terlalu sempit, Wo. Padahal lulus SMA aku langsung ke kota. Kuliah di sini, karna kedua orang tuaku kerja di sini. Waktu berjalan, Wo. Bapak ibuku sudah meninggal," jawab papa.


Pak Birowo tersenyum simpul. "Aku ikut berduka cita, tapi sudah lama sekali ya? Enggak terasa, Sur. Dulu kita sering nongkrong di belakang sekolah cari jengkol."


Papa tertawa lepas. "Sekarang aku sudah enggak pernah makan begituan. Anak sama istri enggak doyan."


"Yo, mau doyan kepiye. Istrimu lho, model papan atas. Anakmu cantik banget."


"Ya jelas lho, bibitnya unggul dariku."


Iyuh!


Betapa papa bangga terhadap diri sendiri karena menghasilkan seorang anak yang katanya cantik. Padahal belum lama ini, beliau bak tidak menganggapku sebagai seorang anak. Ah, aku teringat kilasan masa lalu lagi. Maklum, hatiku belum sembuh secara sempurna meskipun sudah berbaikan dengan papa.


Yang menjadi masalah sekarang adalah makna diriku di sini. Diam membisu, hanya sesekali menjawab pertanyaan dari Ibu Siti. Selanjutnya beliau asyik berbincang dengan mama. Apa yang salah dengan acara ini? Aku benar-benar tidak habis pikir! Lamaran berubah menjadi perbincangan para orang tua. Sebenarnya meski merasa kesal, aku pun merasa lega. Mereka klop satu sama lain, bahkan Pak Birowo merupakan teman masa SMA dari papa.


Sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya.


"Navya, enggak Ibu sangka, kamu cantik sekali." Ini sudah kesekian kalinya Ibu Siti berucap demikian.


Aku hanya tersenyum menanggapi perkataan beliau. "Terima kasih, Bu," jawabku.


"Emm ... bisa masak?"


Aku menatap mama, mama memberikan isyarat agar aku mengangguk. Lalu aku melakukannya. Toh, aku memang bisa memasak. "Bisa, Bu. Tapi enggak banyak resep yang dihapal."


"Wah! Sempurna, sudah cantik, bisa masak. Jadi istri yang rajin nantinya."


"Amin hehe."


Ibu Siti kembali lagi ke arah mama. "Wah, enggak nyangka Bu Intan pintar didik anak. Cantik sekali, pantas anak saya kepincut."


"Anaknya mandiri, Bu Siti. Tanpa saya ajari pun, sudah bisa."


Pret!


"Kalau begini ya saya setuju saja to. Si Andrew juga udah sayang banget kayaknya, Bu."


"Saya pernah bertemu beberapa kali, Bu, sama Andrew. Tapi belum ada kesempatan bincang bareng."


"Iya. Langsung ke Singapura dianya. Nggak tahu nih, Bu. Dari dulu anaknya juga mandiri kayak Navya gitu. Enggak mau repotin orang tua. Suruh bantu di restoran juga enggak mau."


"Restoran?!" Aku dan mama sama-sama terkejut. Tak kusangka.


Lalu, Ibu Siti mengangguk. "Iya, lho belum denger toh? Iya, saya sama suami memiliki resteron sea food, sudah ada beberapa cabang. Di Jakarta juga ada, tapi kalau saya dan suami lebih fokus yang di kampung, di sana kan induknya."


What?


Aku menelan ludahku seketika. Tidak kusangka, ternyata orang tua Andrew pemilik restoran sea food yang cabangnya sudah berada di beberapa kota. Apa ini sungguhan? Namun seperti yang ibundanya katakan, Andrew selalu mandiri. Bisa jadi ia menolak membantu di restoran itu karena merasa kurang nyaman jika dari orang tuanya. Aku tidak mengerti. Sejauh ini, aku selalu berjuang mencari uang sendiri, tepatnya setelah lulus dari bangku kuliah.

__ADS_1


Dan aku tidak tahu harus senang atau sedih untuk ini, pada akhirnya aku jatuh kepada seseorang yang orang tuanya pengusaha, meski tidak sebesar Haris ataupun Nevan.


"Aku pikir kamu mau jadi pilot seperti kata kamu waktu itu, Wo," ujar papa untuk Bapak Birowo sampai fokusku teralih kepada mereka.


Bapak Birowo terkekeh. "Masih ingat aja, Sur. Hanya impian canda di masa lalu. Akhirnya jadi tukang nasi doang haha. Aku terlalu pendek untuk jadi seorang pilot," jawab beliau.


"Jangan begitu. Tukang nasi juga cabangnya udah menyebar luas, Wo. Sama saja kayak pengusaha."


"Iya, Sur, justru aku bersyukur. Apa yang aku usahakan kian membesar, nggak perlu jadi antek orang lain. Sayangnya si Andrew mau cari sumber sendiri."


"Ya bagus itu, Wo. Anak mandiri, enggak minta sama orang tua lagi."


Bapak Birowo menghela napas. "Entahlah, aku juga bingung mau bersyukur atau gimana lagi. Anaknya emang begitu. Emm ... ngomong-ngomong kamu sekarang kerja di mana?"


Deg! Papa langsung menciut. Aku menatap wajah beliau yang seketika memerah, sepertinya tengah menahan rasa malu. Bagaimana tidak, jika beliau sekarang adalah seorang pengangguran. Belum lagi, seorang mantan nara pidana yang kini pun masih menjalani hukuman.


"Surya ...?"


"Emm ...."


Bapak Birowo mendadak berdeham begitu keras. "Bilang saja, nggak perlu sungkan. Aku ini teman kamu sejak SMA."


Dengan raut cemas, papa berusaha menatap Bapak Birowo lagi. Namun sesekali menunduk dan menunda perkataan yang hendak beliau katakan. Bukan hanya papa, bahkan diriku juga, aku cemas. Mama juga begitu. Lantas, bagaimana kami akan menjawab pertanyaan dari Bapak Birowo ini?


"Aku ini pengangguran, Wo. Aku ... aku mantan na--"


"Papa?!" Aku memotong ucapan papa seketika. Takut, menjadi rasa yang mendera hatiku. Tidak ingin acara lamaran ini rusak karena pengakuan dari papa.


"Kita harus jujur, Navya. Jangan begini," tandas papa. Beliau tersenyum, meski terlihat sangat kecut. Hatiku berdegup kencang dengan tubuh yang gemetar luar biasa. Aku takut, ya, aku takut!


"Pa, Navya mohon!"


Dadaku sesak sekali. Ingin rasanya aku menghentikan waktu dan menghapus semua memori tentang masa lalu, namun itu mustahil, bukan? Mau menitikkan air mata pun masih merasa enggan dan malu. Hanya tubuh yang seketika kaku, namun tetap bergetar. Darahku seakan-akan mendidih, sampai membuat setiap jengkal tubuhku terasa panas. Aku ingin pingsan, kepalaky rasanya berputar-putar.


"Aku ...," ujar papa yang samar terdengar oleh telingaku. Beliau kembali terdiam dalam beberapa saat. "Aku ini ... seorang--"


Tok! Tok! Pintu utama yang tidak jauh dari tempat kami berada terdengar sedang diketuk oleh seseorang, sehingga membatalkan niat papa untuk berkata jujur. Di sini, keteganganku berangsur melemah. Karena tidak ingin meninggalkanku, mama memanggil Bi Emi supaya membukakan pintu itu.


Lantas, siapa lagi yang datang? Pikiranku kembali melayang; jangan-jangan pihak Haris yang sedang bertamu untuk meminta uang dari hutang papa? Ah, rasanya hari ini aku tidak boleh bahagia. Lamaran yang seharusnya menjadi hal bermakna malah kini menjadi hampir seperti malapetaka. Aku pasrah!


Bi Emi berlarian kecil dari arah pintu. "A-ada tamu penting, Pak, Bu, Non. Beliau ingin bertemu Non Vya," ujarnya. Setelah itu, ia pergi lagi ke belakang.


Dahi kami mengernyit, maksudku aku dan kedua orang tuaku. Jantungku kembali berdegup kencang, ini gila!


"Emm ... Navya ayo," ujar papa agar aku menyambut tamu yang belum aku ketahui sama sekali.


Dengan gerak kaku dan tubuh yang masih gemetar, aku mencoba berdiri dengan bantuan mama. Sedangkan kedua orang tua Andrew masih menyimpan rasa penasaran mereka. Sungguh, aku merasa sangat tidak enak hati. Aku takut, entah Ibu Siti atau Bapak Birowo membatalkan lamaran ini dan menolak diriku sebagai seorang menantu. Jangan sampai!


Perlahan, aku membuka pintu itu dan masih ditemani oleh mama. Seseorang berkemeja berwarna biru, celana bahan hitam. terlihat sedang berdiri membelakangiku di teras rumah ini. Aku tertegun. Kuamati lagi dari atas sampai bawah. Aku bertanya-tanya, namun merasa orang itu sangat tidak asing.


"Siapa ...?" lirih mama saat bertanya kepadaku.


Aku terdiam dan tidak memberikan jawaban sama sekali. Kini perasaan yang sempat cemas menjadi lebih cemas lagi. Apa orang itu adalah ...?


"Siapa ya?" tanya mama lebih keras ke arah orang itu. Beliau bahkan melangkah keluar dan menghampirinya.

__ADS_1


Perlahan orang itu membalikkan badan. Wajah itu membuatku terkesiap hebat, bahkan sampai terduduk. Ia membawa serangkai bunga mawar merah yang berukuran besar. Ia tersenyum kepada mama, setelah itu berkata, "Saya Andrew, Tante." Ia menjabat tangan mama dan mengecup di bagian punggung telapak tangan.


"Andrew? Kok ...?" Mama pun terkesiap. Bagaimana tidak, ini seperti sebuah kejutan yang sangat luar biasa. "I-iya, si-silahkan masuk." Mama sampai terbata-bata.


"Izinkan saya bertemu Navya terlebih dahulu, Tante." Andrew meminta izin, kemudian menatapku yang tengah terduduk lemas seperti ini.


"Oh ... bo-boleh." Mama beringsut mundur, memberikan ruang jalan agar Andrew bisa menemuiku. Sedangkan Andrew lagi-lagi tersenyum ramah dengan sopan.


Aku masih terpana, tidak percaya. Bahkan aku sampai menganga dalam menatap dirinya yang kian mendekat. Ludahku sulit sekali untuk ditelan, apa ini sebuah mimpi? Jika iya, tolong perpanjang durasinya. Sedangkan sebagian ruang hatiku masih bertanya; bukankah ia sedang bekerja? Dan itu di Singapura. Mengapa ia ada di sini?


Tak lama kemudian, Andrew mengulurkan tangan kanannya untuk membantuku berdiri. Masih tanpa kata, aku menyambutnya dan menggenggamnya dengan erat. Ia menatapku, lalu tersenyum. Saat aku berdiri, ia melepaskan tanganku. Namun satu tangannya bergerak mengambil sesuatu dari dalam kantong celana. "Will you marry me, Navya?" tanyanya. Tangan kanannya memberikan sekotak cincin di hadapanku, lalu yang sebelah kiri masih mengenggam rangkaian bunga mawar itu.


Aku benar-benar tidak habis pikir. Sampai tanpa aku sadari, buliran air mata membasahi pipiku. Rahangku masih menganga, namun kini tertutup oleh tangan kiriku.


"Hei, Navya?" Andrew berusaha menyadarkan diriku dari rasa terpana ini. "Gimana?"


"A-aku mau!" Aku menjawabnya, bahkan dengan nada yang sangat lantang karena rasa gugupku ini.


Mata Andrew berbinar, namun ia masih menjaga sikap di hadapan mama. Coba kalau kami hanya berdua, pasti ia sudah girang dan lantas memeluk erat tubuhku. "Terima kasih, Navya." Andrew terharu. Kemudian, ia mengesampingkan bunga itu dulu. Mama pun bergerak membantu membawakan bunga tersebut. Lalu, ia melepaskan cincin dengan permata berwarna putih yang bersinar terkena cahaya. Ia memasangkan di jari manisku dengan tangannya yang bergetar.


"Uh! Kenapa kamu enggak bilang kalau ikut pulang?" tanyaku setelah sekuat mungkin membuang rasa gugup dan cemas yang tadi sempat mendera.


"Ini kejutan, Sayang ...." Lirih sekali. Ketika cincin sudah terpasang di jari manisku, Andrew menghela napas lega.


Aku ingin sekali memeluk dirinya, namun ada mama. Beliau bahkan sampai menitikkan air mata karena momen romantis kami ini.


"Tanta, boleh saya meminang Navya menjadi istri saya?" Andrew menatap mama dengan penuh harap.


"Silahkan, mama sangat setuju," jawab mama kemudian.


"Ah ...." Pada akhirnya aku menjatuhkan diriku ke pelukan Andrew. Hati ini terlalu haru, bahkan mata tidak bisa lagi menahan derai air mata. Aku bahagia, meski masih ada sejumlah kekhawatiran mengenai papa.


Keadaan sekeliling seperti tumbuh banyak bunga. Indahnya tiada terkira. Aku pikir, acara lamaran ini tidak akan berjalan lancar. Ternyata, Andrew memiliki kejutan untukku, dan ini tiada terkira. Ia membelai halus kepalaku, meski masih merasa segan karena di hadapan mama. Aku melupakan semua orang yang ada di dalam rumahku.


Entah dari kapan, ia merencanakan semua ini. Bahkan ia bisa ambil libur, sepertinya ia sangat berusaha dalam membujuk Affandy. Padahal selama ini mereka seperti kucing dan tikus, selalu bermusuhan karena suatu rasa cemburu yang tidak jelas. Apa pun itu, aku akan sangat menghargai bahkan berterima kasih dengan segala upaya yang Andrew lakukan.


"Maaf ya? Aku bikin kamu syok," ujarnya kepadaku.


"Banget!" tegasku, namun tidak menutup semua rasa bahagiaku. "Kamu di sini dari kapan, Ndrew?"


"Sehari setelah kamu berangkat ke sini."


"Kamu enggak bilang."


"Kan biar jadi kejutan, Sayang ...."


"Hmm ...."


Seseoranf tiba-tiba berdeham begitu keras. "Lepas!" Suara seseorang memperingatkan kami, karena berpelukan seperti ini. Lagi-lagi jantungku dibuat berdegup kencang. Mau tidak mau aku melepaskan diri dari pelukan Andrew.


Aku menelan ludahku dengan ngilu. Tampak papa dan kedua orang tua Andrew di sana. Kini Andrew berhadapan dengan mereka. Namun mengapa suara tadi terdengar begitu tegas? Seolah tidak menyukai tindakan kami. Aku pun masih belum tahu, entah dari papa atau Bapak Birowo. Yang pasti, tatapan mereka semua sedang menatapku dan juga Andrew dengan tajam.


"Selamat pagi, Om," sapa Andrew sembari sedikit menundukkan kepalanya.


"Kamu?!"

__ADS_1


Apa lagi ini? Ya Tuhan!


Bersambung ....


__ADS_2