Who Is My Love

Who Is My Love
Jatuh Cinta Berkali-kali


__ADS_3

Malam yang sejuk, udara segar untuk dihirup oleh pernapasanku. Aroma masakan Sinta pun turut masuk. Dan malam ini bukan giliranku untuk memasak. Ya, kami sudah membuat jadwal seperti jadwal piket. Supaya semua berjalan dengan adil. Apalagi diriku belum pernah tinggal dengan orang lain, pasti banyak hal yang masih harus aku pelajari.


"Hei, Nav. Makan dulu yuk, udah jam delapan noh." Sinta tiba-tiba mendatangiku yang sedang asyik tertegun menatap langit yang berbintang. Tentu saja, aku langsung membalikan badan dan menatapnya.


Aku mengangguk seketika itu juga. "Iya, entar gue nyusul."


"Cepetan ya? Gue tunggu."


"Sip."


Sinta berlalu ke dalam kembali. Sebelum menyusulnya, aku kembali membalikan badan. Kutengok ke bawah, tepatnya ke kediaman Andrew. Apakah ia sudah makan? Namun aku harus cepat kembali daripada Sinta dan Raya mengomel lebih banyak lagi. Tentu saja dengan harapan kalau kekasihku sudah bersantap malam ini.


Tak lama kemudian, aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah. Menghampiri Sinta yang tengah duduk sendiri di meja makan. Ia bermuka sangat masam. Entah apa yang terjadi. Dan Raya juga tidak ada disana, aku rasa mereka sedang bertengkar. Ternyata ada sisi ngambek-nya juga diantara mereka. Padahal aku dan Sita malah tidak pernah seperti itu, mungkin saking cueknya diriku ini atau Sita yang memang kesal terhadapku, namun tidak menampilkannya. Ah ... aku jadi rindu kepadanya.


"Raya mana, Sin?"


"Tauk tuh, lagi ngambek."


"Kenapa?"


"Biasa berantem sama cowoknya, gue juga kena. Emang dasar bocah sih, nggak inget umur."


"Diem loe pada!" Suara Raya terdengar tegas dari kamarnya. Aku sampai terkejut dibuatnya. Tampaknya Sinta memang sengaja berucap seperti itu. Mungkin agar Raya merasa malu, walau kenyataannya tidak. Yah, namanya orang sedang kesal pasti tidak ingin diganggu. Aku pun seperti itu.


Lalu, tanpa pikir panjang lagi, aku segera menarik salah satu kursi. Menuangkan nasi beserta lauk seadanya. Kemudian kusantap bersama Sinta. Sedangkan pikiranku jauh menerawang, apakah papa sudah makan? Lalu mama? Kuharap kedua orang tuaku juga sudah bersantap di kejauhan sana. Ya, aku rindu kepada orang tuaku. Aku belum memiliki kesempatan untuk berkumpul bersama dengan bahagia.


"Eh, denger-denger, karyawan lain tinggalnya di rumah susun, Nav."


"Oh ya? Kata siapa loe, Sin?"


"Gue nanya sama rekan gue, orang-orang yang dari luar negeri. Tapi kita di rumah ini ya?"


"Gue sih malah bersyukur disini. Enak, leluasa, nggak terlalu bising. Loe kan nggak tahu di rusun, apalagi kalau nggak kedap suara."


"Bisa jadi, kita ampas doang haha. Kan kita datengnya belakangan. Jadi rusun udah isi semua, malah kayak apartemen. Jangan salah lho, namanya juga salah satu kota besar di dunia. BTW gue cukup penasaran sih, dulu yang di tempat ini siapa gitu?"


"Maybe, para petinggi yang dulu masih jadi karyawan biasa, Sin. Ini rumah lumayan lho. Yah, walaupun nggak terlalu luas. Tapi tetep mewahlah, ada isinya lagi. Kita tinggal beli beberapa barang."


"Soal isi mah, pasti dikasih sama pihak perusahaan, Nav. Secara perusahaan gede. Tuh pimpinan malu kalau kagak ngasih fasilitas."


"Ya gitu, maksud gue. Udah makan yuk, loe juga harus urus satu bocah tuh haha. Gue punya bayi gede di lantai bawah hihi."


"Ealah, bucin loe berdua."


Aku tersenyum malu-malu sekaligus merasa geli atas kelakarku yang menjijikan itu. Lantas, kami melanjutkan aktivitas menyantap ini. Soal Raya, ia masih gengsi. Mungkin saat kami tidur, ia baru berani keluar kamar.


Sampai tak lama kemudian, kami selesai. Giliranku yang mengurua piring-piring kotor. Sedangkan Sinta membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bersiap merebahkan diri. Mungkin suasana kamarnya nanti akan panas sekali jikalau belum juga berbaikan dengan Raya. Biarlah, aku tidak ingin ikut campur. Tipikal orang seperti Raya, sepertinya akan lekas membaik beberapa jam berikutnya.


"Gue, tidur kamar loe ya, Nav?" izin Sinta tiba-tiba. Aku menelan ludah seketika. Bagaimana ini? Aku belum pernah bersama orang lain kecuali Sita. Namun tidak enak hati ketika ingin menolak.


"O-oke, masuk aja," jawabku kemudian.


"Tenang, gue orangnya aman kok. Anteng juga hehe. Males gue sama bocah satu itu."


Raya berteriak lagi, "serah loeee!"


"Masuk aja, Sin. Gue mau cari angin malem dulu."


"Mau pacaran lagi loe ya?"


"Kagak. Tapi boleh deh, kalau ada kesempatan haha."


"Dasar! Hati-hati, jangan aneh-aneh."


"Siap-siap."


Sinta mengerjipkan satu matanya kepadaku, seolah memberikan kesan yang sangat genit. Lalu, ia berjalan memasuki kamar yang aku diami. Biarlah, toh aku tidak memiliki barang berharga apapun. Lagipula, aku tidak boleh menaruh curiga kepada orang lain yang baik seperti Sinta.


Kemudian diriku keluar dari rumah ini. Kututup pintu, namun tidak penuh. Aku duduk di tangga paling atas sembari memandang ke arah jalan yang masih ramai dilintasi beberapa kendaraan. Udara malam ini cukup dingin. Aku menyesal tidak membawa jaket, namun enggan untuk kembali masuk. Biasanya jika banyak pikiran, aku melakukan hal yang sama di balkon rumahku. Namun, apa yang sedang aku bimbangkan sekarang? Kurasa, aku benar-benar merindukan rumahku. Rindu kedua orang tuaku, Bi Emi, Cika bahkan Sita.


Kenyataan bahwa aku harus tetap berada disini sampai uangku terkumpul banyak. Demi menebus papa sekaligus membuka usaha. Kapan tiga tahun akan berakhir? Jauh sekali rasanya, apalagi kalau sampai lima tahun atau lebih. Mungkin aku sudah sangat beradaptasi, bahkan enggan untuk pulang. Beginikah perasaan para perantau? Apakah Andrew juga merasakan hal yang sama? Berat sekali rasanya.


Apalagi aku masih harus mengurus ketiga wanita itu, bahkan terlibat ke dalam masalah Affandy dan Kak Kate. Rasanya hidupku tidak pernah terlepas dari jerat masalah. Apa aku ditakdirkan untuk seperti ini? Membuat diriku jengah saja.


"Capek," gumamku sembari menatap angkasa yang semakin gelap. Rasa bosan kini sedang bergelayut pada diriku. Semoga aku bisa bertahan sampai semua yang aku inginkan tercapai.


"Hei, Beb. Ngapain?" panggil seseorang dari bawah sana. Siapa lagi kalau bukan kekasih hatiku itu.

__ADS_1


"Andrew? Ngapain?" balasku.


"Kok balik nanya lho? Sini, turun."


"Nggak mau, udah malem."


"Aku mau ngecek kamu, daritadi nggak bales pesan aku. Iseng aja keluar, ternyata disini beneran. Mau naik nggak enak sama yang lain."


"Oh ... maaf, HP-ku didalem. Jadi, kamu kalau kangen aku ngintip dari bawah ya?"


Andrew mengangguk. "Iya, Sayang."


"Pantes tahu kalau aku keluar sama Pak Fandy."


"Hehe ... konyol ya? Tapi ada manfaatnya juga kalau kamu lagi bohong."


"Iya, iya, aku minta maaf sekali lagi."


"Turun gih."


Aku tetap menggeleng atas permintaan Andrew. Pura-pura jual mahal, walaupun jauh didalam hatiku aku sangat ingin menghampirinya. Ya, waktu yang semakin malam membuatku menolaknya. Aku khawatir ada hantu yang membuat kami tergiur oleh sesuatu yang tidak diperbolehkan.


Namun, tak lama kemudian Andrew yang memutuskan untuk naik mendekatiku. Satu persatu anak tangga ia tapaki, sampai akhirnya semakin dekat dan duduk disalah satu anak tangga dibawahku. Ia menyenderkan kepalanya di betis kakiku.


"Aku kangen kamu, Vya. Gelisah kalau nggak ketemu. Padahal deket ya? Konyol banget nggak sih?"


"Masa'? Konyol sekali, banget, parah."


"Khawatir kalau kamu kabur lagi."


"Kamu masih nggak percaya sama aku, Ndrew?"


"Bukan nggak percaya, Sayang. Khawatir aja, kalau kamu lepas lagi kayak dulu-dulu."


"Emang aku burung? Pake lepas-lepas gitu."


"Yah, pokoknya gitulah. Intinya aku nggak mau kehilangan kamu. Aku nggak sabar mau nikahin kamu."


"Hmm ... sabar ya? Masih lama lho, tiga tahun lagi. Itupun kalau tabungan aku cukup buat bayar hutang papa."


"Hutang papa kamu banyak ya? Kenapa kamu nggak pernah mau aku bantu, Sayang? Aku miskin banget ya?"


"Beib? Haha."


"Yee, tawa lagi."


Kami terus berbincang berbagai masalah. Sembari mendengarnya, tanganku sibuk memijat kepala Andrew perlahan-lahan. Tampaknya ia sangat menikmatinya, terbukti saat ia memejamkan mata sembari tersenyum begitu tampannya. Ah ... kami sering bersama, namun tidak pernah kulihat lagi wajahnya secara detail seperti ini.


Kulitnya putih dan halus. Mungkin hanya ada beberapa bekas jerawat, namun tidak banyak. Bulu matanya tidak panjang namun terlihat indah oleh mataku. Hidungnya mancung dan cukup menggiurkan, sampai rasanya aku ingin menggigitnya. Ya, dibawah sinar lampu ini wajahnya sangat jelas dari biasanya. Momen yang tidak aku inginkan berakhir begitu saja.


"Hei, kamu pasti lagi lihatin ketampanan Mas-mu ini ya?"


"Eh?" Aku terkejut karena ucapannya yang benar itu. "En-enggak kok. PD banget jadi orang."


"Pijitan tangan kamu di kepalaku tiba-tiba berhenti. Berarti lagi lihatin aku, iyakan?"


"Enggak!"


"Kata orang, cewek kalau ngomong enggak berarti iya lho, Sayang."


"Sok tahu kamu. Lagian orang bodoh mana sih yang bilang kayak gitu? Hmm ...."


"Ih, si Sayang galak banget. Jadi gemes deh, pengen nyubit."


"Ih! Jijik!"


Pria ini yang selalu membuatku berhasil jatuh cinta lagi dan lagi. Sejauh mungkin aku menolak perasaanku kepadanya, pada akhirnya aku malah menambah luka kerinduanku terhadapnya. Beberapa kali ia datang dan selalu berusaha aku singkirkan, namun ia kembali dengan banyaknya perjuangan. Hidup ini tidak ada yang tahu, pada akhirnya aku kembali jatuh ke pelukannya, pria yang sempat menyakitiku. Bahkan aku tidak bisa membayangkan jika kami harus berpisah lagi.


Cukup sudah kami bermain-main. Harapanku hanya terus melangkah maju sembari memperbaiki setiap kesalahan. Aku bertekad untuk selalu setia dan ia pun setia terhadap diriku, bahkan sampai kami bisa naik ke pelaminan suatu saat nanti.


Ya, begitulah. Sedangkan malam semakin beranjak lebih meninggikan kegelapannya. Udara dingin sudah teramat menusuk kulitku. Hanya kaos biasa yang membalut tubuhku sehingga tidak mampu menepis lagi udara dingin itu. Aku ingin kembali masuk, namun masih enggan terpisah dengan dirinya--kekasihku. Aku masih ingin lebih lama, sebelum besok bertugas kembali. Namun, itu tidak mungkin, bukan?


"Sayang, ke bawah yuk? Dingin tauk."


"Nggak mau, Ndrew."


"Kamu udah ngantuk?"

__ADS_1


"Belum sih."


"Yaudah ke bawah dulu. Nggak enak nih sama Raya dan Sinta, nanti kita berisik."


"Justru itu aku malu, pacaran terus sama kamu. Apalagi di bawah, nanti dikira ngapa-ngapain."


"Cuek aja sih, Sayang."


"Nggak bisa."


"Dingin lho. Pengen dipeluk sama kamu."


"Dih ...."


Andrew bangkit dari posisi duduknya. Kemudian ia berdiri tepat menghadapku. Ia terus mendesak diriku untuk ikut ke bawah. Namun aku benar-benar enggan. Ya, aku akui, kami pernah berada didalam satu apartemen. Namun dalam keadaan yang sangat terdesak, dan jauh sebelum itu karena aku tidak perpikir panjang.


"Yaudah deh. Kamu masuk kamar aja, dingin disini."


"Kamu mau kemana?"


"Mau turun, Vya."


"Ih, jangan dulu."


"Yee, diajakin nggak mau lho. Udah malem tidur gih, besok masih kerja."


"Bentar lagi ya, Ndrew."


"Kenapa gitu?"


"Emm ... aku masih kangen."


"Hmm ... turun ayo. Janji aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu lho. Nggak enak sama Raya, Sinta Ramayana itu. Aku bikinin minuman hangat, biar nggak masuk angin, Sayang."


"Rama kali bukan Raya."


"Iya itulah."


Akhirnya aku menimang-nimang ajakan Andrew. Sebenarnya bimbang, namun apa yang ia katakan memang benar. Dan aku masih ingin lebih lama bersamanya. Sedangkan dirinya masih setia menunggu keputusanku. Aku berdiri, berbalik badan dan menghampiri pintu yang masih sedikit terbuka.


"Tidur yang nyenyak, Sayangku Navya."


"Entar, aku ikut. Tapi janji ya? Jaga sikap, bikinin aku minuman sereal yang hangat."


"Eh? Siplah."


Kututup pintu rumah itu. Setelahnya aku mengikuti Andrew kembali. Seperti biasa, aku merengkuh satu lengannya dengan manja. Kami berjalan bersama menuruni tangga ini. Tidak kupedulikan lagi, apakah kedua temanku sedang mendengar atau menilaiku. Lagipula aku sudah percaya pada kekasihku, ia bukan orang jahat. Ia bisa menjagaku tanpa merusak diriku.


Lalu, tidak lama kemudian, kami telah berada di ruang utama rumah ini. Aku duduk disalah satu sofa ruang televisi. Sedangkan Andrew berlalu ke belakang, mungkin hendak menyajikan sesuatu yang telah aku pesan. Sembari menunggunya, aku meraih remote televisi dan menyalakannya. Kucari channel terbaik untuk siaran daerah Singapura ini. Yah, seadanya, aku tidak terlalu paham tayangan yang disajikan.


"Pesanan telah siap, Nona Cantik," ujar Andrew sembari meletakkan cangkir besar berisi sesuatu yang aku inginkan. Kemudian ia duduk tepat disebelahku sembari melingkarkan satu lengannya ke belakang pundakku. "Gini kan enak, nggak dingin-dingin banget. AC-nya sengaja aku matiin."


"He'em, tumben dingin. Biasanya gerah aja tuh."


"Mau hujan kali, Sayang."


"Mana ada, dari tadi nggak turun-turun tuh."


"Airnya malu sama kecantikan pacarku, jadi ngumpet lagi."


"Dih ... apaan sih?"


"Bukan apa-apa, Sayang. I love you dah."


"Emm ... gimana jamnya? Kamu suka?"


"Oh iya! Kamu ya? Apaan sih, Vya? Ngapain beli-beli kayak gitu? Ditabung buat papa dong. Nggak perlua lah, jual lagi deh, uangnya nanti aku balikin kamu."


Plak! aku menepuk lengan tangan Andrew dengan kuat. Salahku malah menanyakan hal itu. Namun aku tetap kesal pada saat ia berniat ingin menjualnya lagi. Seketika itu juga, aku bersikap dingin lantaran kecewa.


"Ma-maaf, tapi kamu nggak seharusnya beliin aku barang semahal itu, Sayang. Kamu sendiri kondisinya lagi begini. Justru, aku seharusnya nurutin kemauan kamu."


"Enggak gitu, Ndrew. Sesekali aku juga pengen ngasih pacar aku sesuatu. Sebel aja kalau ada niatan dijual lagi. Toh, duitnya baliknya malah nggak seberapa. Duitnya habis dalam waktu satu minggu, jamnya masih awet bertahun-tahun. Kalau nggak suka mending buang aja diam-diam. Yang penting aku nggak tahu!"


"Uluh, ngambek. Maaf, maaf. Aku suka kok, suka banget. Nggak ngomong gitu lagi deh." Andrew berusaha menenangkan diriku dan terus meminta maaf kepadaku.


Semakin lama, rasa kesalku pun hilang seketika karenanya. Aku menjatuhkan kepalaku ke dalam pelukannya yang selalu nyaman itu.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2