Who Is My Love

Who Is My Love
Tidak, setelah kecewa.


__ADS_3

Malam ini, akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengan Kate. Semua aku lakukan karena perasaan yang tidak nyaman muncul di dalam hatiku, tepatnya setelah aku memberikan penolakan itu. Aku meminta agar Kate mengirimkan alamat restoran sebagai tempat pertemuan dan aku juga menolak pada saat ia akan datang menjemput diriku. Aku tidak ingin lagi menggunakan jasa orang lain tanpa imbalan, seperti saat aku dan ia belum bertengkar.


Gaya pakaian kasual, aku pilih sebagai penampilanku malam ini. Polesan make up di wajah pun hanya tipis saja, yang penting terlihat segar. Untuk sepatu, aku memilih sneakers dalam menunjang penampilanku. Hanya bertemu


Kate dan bukan Andrew, jadi, rasanya tidak perlu jika tampillebih memukau lagi.


“Loe yakin mau ketemu dia?” celetuk Raya sembari berdiri di ambang pintu kamarku yang masih terbuka.


Aku membalikkan badan dan menatapnya. Setelah itu mengangguk dan berkata, “Iya, gue yakin, Ray.”


“Bawa Andrew aja, gue khawatir loe berantem lagi.”


“Enggaklah, sekali pun berantem, gue juga enggak bakalan tonjok-tonjokkan sama dia.”


“Iya sih, tapi pasti canggung banget.”


“Hmm … kalau itu sih udah jelas.”


“Sebenarnya gue bisa temenin loe, Nav. Tapi, badan Sinta masih demam, gue enggak tega.”


Aku tersenyum dan beranjak berdiri dari dudukku. Kuhampiri Raya yang saat ini sedang mengkhawatirkan kedua teman tinggalnya, termasuk diriku. “Thanks, loe udah khawatir sama gue, tapi Sinta lebih penting saat ini. Justru gue minta maaf karna malah pergi keluar.”


“Halah, kagak apa-apa, Nav. Sinta udah biasa begitu kalau lagi kecapekan. Loe ada urusan penting, jadi pergi aja. Si Sinta juga udah ngorok tuh habis minum obat.”


“Ya udah, loe istirahat sana. Gue mau berangkat sekarang.”


“Loe hati-hati ya, Nav. Hindarin hal yang merugikan diri loe.”


Aku tersenyum mendengar nasehat dari Raya. Tidak biasanya ia bijak seperti hari ini, mungkin karena mangkhawatirkan diriku. Hidupku sepertinya selalu saja sengsara, hal itu menimbulkan rasa simpati darinya, juga Sinta. Apakah aku terlihat sangat menyedihkan? Hmm … sepertinya benar.


Selang beberapa menit, setelah Raya berlalu, aku kembali ke dalam kamarku. Melihat cermin untu terakhir kalinya sebelum aku berangkat ke pertemuan itu. Tampilan diriku sudah rapi, meski tidak bias mengalahkan kecantikan dari seorang Kate. Kuambil selempang berwarna biru dan juga kacamata bening yang bulat. Setelah itu, aku benar-benar bergegas berangkat.


Tapak kakiku di anak tangga, menimbulkan bunyi khas antara sepatu dan juga anak tangga berbahan keramik itu. Sedangkan tatapan mataku kini justru terpaku pada benda di depan rumah Andrew. Sebuah mobil berwarna putih susu, jika dugaanku benar karena hanya ada cahaya lampu sebagai penerang. Siapa yang datang ke rumah kekasihku?


Karena rasa penasaran yang sangat besar, akhirnya kuambil ponselku yang sudah berada di dalam selempang. Aku mengirimkan sebuah pesan perihal siapa yang datang. Setelah pesan itu terkirim, cukup beberapa detik kemudian, balasan datang.


Andrew : Kamu udah mau berangkat, Sayang? Bentar aku keluar, jangan pesan taksi.


Balasan dari Andrew, sungguh membuatku terheran-heran. Mengapa ia hendak keluar? Untuk mengantarkanku sampai gerbang, kah? Aku bahkan belum memesan taksi online sesuai permintaannya sejak tadi. Sebenarnya ia mau apa kepadaku? Mau mengecup pipiku sebelum aku berangkat? Rasanya sangat konyol sekali jika benar jika ia akan melakukan hal itu.


“Vya!” Seruan dari Andrew, membuatku terkejut, bahkan sampai berhasil mengangkat kedua pundakku. Sedangkan dirinya hanya tersenyum sembari merentangkan kedua tangannya seolah hendak menangkap tubuhku.


“Siapa tamu kamu, Ndrew?” tanyaku kepadanya sembari melangkahkan untuk turun.


Ia memeluk diriku ketika aku sampai di hadapannya. “Ayuk berangkat.”


“Hah?! Aku doang kali, kamu mau ikut?”


“Aku anter kamu, Sayang. Ini udah malem.”


“Anter? Pake apa? Taksi? Sama aja bohong ih.”


Andrew menunjuk mobil tersebut . “Pake ini.”


“Heh?! Punya siapa? Rental?”


Andrew menggelengkan kepala. “Ini mobil kita.”


“Hah?! Jangan becanda.”


Ada-ada saja tingkah kekasihku ini, mana ada ia memiliki mobil di sini. Lagi pula, uang dari mana? Aku hanya bisa bergeleng-geleng kepala. Aku yakin mobil itu milik salah satu temannya yang datang dan Andrew hendak meminjamnya untuk mengantarkan diriku bertemu dengan Kate. Pria yang kurang modal karena keadaan. Meski begitu, aku tetap menghargai usahanya.


Melihat diriku yang tidak percaya, membuat Andrew mengerucutkan bibirnya. Lantas, untuk apa ia murung seperti itu jika dugaanku memang benar? Sikapnya malam ini sangat aneh sekali, seharusnya ia tidak perlu mengakui barang milik orang lain sebagai barang miliknya.


Lalu, tiba-tiba saja ia meraih kedua tanganku. Ia menatapku dalam-dalam. “Apa kamu enggak percaya sama aku?” tanyanya kepadaku.


“Emm … untuk hal lain aku selalu percaya sama kamu, Ndrew. Udah ah, aku mau berangkat udah mau jam tujuh, enggak enak kalau ditungguin,” jawabku.


“Aku anter, Vya.”


Aku menggelengkan kepala, sebagai tanda penolakanku. “Jangan merepotkan orang lain.” Kemudian, aku melepaskan genggaman tangannya dan bermaksud ingin memesan taksi online dari ponselku.

__ADS_1


Namun, ia merebut ponsel milikku. Aku terkesiap dan menatapnya. “Kamu apa-apaan, sih?”


“Ini mobil aku, baru beli.”


Aku masih saja mempertahankan pendapatku. Itu tidak mungkin, memangnya kapan ia memiliki waktu untuk membeli barang tersebut. Memang benar, sore tadi ia pulang lebih awal dan alasannya ke tempat temannya. Ah, tunggu! Jangan-jangan, ucapannya memang benar. Ia tidak ke tempat temannya, melainkan ke dealer mobil. Tetapi, kenapa prosesnya cepat sekali? Atau jangan-jangan, ia memang sudah melakukan nego dari jauh-jauh hari?


Aku menatapnya dengan perasaan yang tidak menentu. Lalu kembali berkata, “Jdi itu beneran mobil kamu?”


Andrew menganggukkan kepalanya. “Iya, Sayang.”


“Kok bisa?”


“Ayo, aku anter. Kita bicara di jalan.”


“O-oke.”


Entah mau senang atau justru sedih, jika ia tidak berbohong,berarti mobil itu memang miliknya. Langkahku sangat pelan dan terkesan ragu hanya untuk memasuki ruang mobil tersebut. Rasanya masih tidak percaya saja. Namun, pada akhirnya aku mengikuti permintaan darinya.


Kemudian, ia mulai menjalankan mobil tersebut, sembari sesekali menatapku dengan senyumnya. Sedangkan aku masih tidak bisa memberikan respon apa pun, aku masih sangat terkejut dan tidak percaya.


“Jadi ….” Andrew memulai ucapannya sembari memutar-mutar kemudi sesuai arah jalan. “Udah satu bulan yang lalu sih.”


“Kenapa kamu enggak bilang sama aku? Iya sih ini hak kamu, tapi … kita mau menikah, Andrew.”


“Aku mau kasih kejutan sama kamu, Sayang.”


“Iya aku tahu, tapi kita, kan, di negara orang.”


“Justru karna itu, kamu tahu sendiri ongkos perjalanan yang habis berapa setiap harinya, kan? Boros banget.”


“Tapi, kalau  beli juga pasti mahal dan kita enggak bisa bawa benda ini pulang, kan?”


“Nanti kalau kita udah siap pulang, kita jual mobilnya. Anggap aja investasi.”


“Inves kalau naik harga, Ndrew. Misal rumah atau tanah, kalau mobil justru turun. Dan lagi, kita masih butuh modal buat pernikahan, kita emang udah sepakat enggak resepsi dulu. Tapi, mama kamu yang mau adakan resepsi itu, kan?”


Andrew terdiam. Aku sendiri merasa bingung harus bagaimana kecuali memprotes tindakannya. Apakah aku salah setelah ia memberikan kejutan ini? Aku sangat berterima kasih, tetapi pembelian benda mahal ini di waktu yang


 Alasan lain yang membuatku tidak menerima hal ini adalah permintaan orang tua Andrew perihal resepsi pernikahan. Pesta itu pasti membutuhkan biaya yang sangat banyak. Dan aku … aku masih harus mencicil hutang papa. Benar juga, sebenarnya yang menimbulkan masalah di sini aku atau dirinya. Uangku yang habis untuk hutang papa pasti tidak akan bisa dalam membantu biaya resepsi itu.


“Maaf ….” Begitu lirih, aku mengucapkan kata itu. Aku tidak bisa menyalahkan Andrew, membeli mobil adalah haknya pribadi dan memang benar ongkos sehari-hari sangat mahal. Aku yang egois, kemarahanku terjadi karena


memikirkan kesulitan keuanganku sendiri. Lagi pula, ia pasti bisa mengatasi biaya pernikahan kami. Hanya saja, aku berharap ia tidak akan meminta sepeser pun dana kepada orang tua.


Mobil ini berhenti, tepat di sebuah restoran yang dijanjikan sebagai tempat pertemuanku dengan Kate. Karena telah sampai, aku tidak bisa banyak berbicara lagi dengan Andrew. Kuhela napas dalam-dalam, kucoba menenangkan hatiku atas setkiap perasaan yang tidak nyaman, akan bertemu dengan Kate, juga perihal mobil ini.


Tiba-tiba, Andrew menarik lenganku sebelum aku berhasil keluar. Aku menoleh ke arahnya dan berkata, “Kamu pulang aja, takut kelamaan.”


“Aku minta maaf karna enggak bilang sama kamu, Vya,” jawabnya sembari menundukkan kepala, meski tangannya belum dilepaskan dari lengan tanganku


“Itu hak kamu, kok. Kali ini aku yang egois.”


Andrew menggelengkan kepala. “Ini salah aku, Vya.”


“Ya udah nanti aja kita bahas. Aku ada perlu. Kamu pulang aja.”


“Enggak, aku tunggu di sini nyampe kamu keluar.”


“Enggak apa-apa kalau lama?”


Ia menggeleng lagi. “Enggak, Sayang.”


“Oke.”


Dengan perasaan yang masih tidak enak, aku mencoba melangkahkan kaki untuk memasuki restoran itu. Sungguh, jantungku berdegup kencang dan tidak beraturan. Sebenarnya apa yang hendak Kate katakan kepadaku? Aku berharap--jangan masa lalu, aku berharap jika itu sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan saja. Lagi pula, aku dan juga Affandy sudah bersedia untuk bersikap professional dalam konteks pekerjaan, tidak ada yang bisa digunakan sebagai bahan kecurigaan. Astaga! Rasanya hampir gila.


Setelah masuk ke dalam restoran, segera aku cari meja yang sudah direservasi oleh Kate. Aku mendapatkannya, tetapi tidak ada siapa pun di sana. Apakah seorang Kte yang tidak pernah terlambat itu, kini jutru belum datang sebelum diriku? Entahlah, ada baiknya aku duduk sembari menunggu kedatangannya.


Lalu, selang beberapa menit kemudian, muncullah sosok cantik itu. Jantungku yang sempat tenang, kni mendadak berdegup kencang. Rasanya berat sekali, meski hanya untuk menelan air liur. Sepertinya, sosok Kate di mataku begitu sempurna dan membuatu benar-benar canggung ketika berada di hadapannya.


“Hai, Nav. Maaf, nunggu lama, ya?” tanyanya kepadaku sembari menarik salah satu kursi, kemudian ia duduk tepat di hadapanku.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepala. “Enggak, saya juga baru sampai,” jawabku tanpa sekali pun menatap wjah cantiknya.


“Kenapa formal sekali cara bicaramu?”


“Lantas, saya harus bersikap lebih kasual lagi, begitu?” Kali ini, aku memberanikan diri untuk menatap Kate.


Wajahnya mendadak memerah. Ia pasti sangat tahu perihal rasa kecewa yang sampai saat ini masih bersarang di hatiku atas sikapnya kala itu. Melihat sikapnya yang mendadak salah tingkah, apakah ia sudah merasa bersalah


atas kecurigaan terhadap diriku kepada Affandy? Dan juga caranya memanfaatkan diriku dengan menjadikan aku sebagai teman dekatnya? Pada akhirnya aku tahu bahwa semuanya adalah palsu. Ia tidak tulus dalam menjalin sebuah persahabatan. Dan naifnya, aku mempercayai dirinya.


Seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makanan, yang bahkan aku belum memesan sama sekali. Aku spontan menatap Kate, tampaknya ia sengaja memesan hidangan yang selalu aku pesan ketika belum terjadi pertengkaran di antara kami. Apa maksud dirinya?


“Terima kasih, Nona Kate,” ujarku dengan maksud untuk makan itu.


Dahinya mengernyit. “Untuk apa? Terima kasih?” tanya kembali yang entah tidak tahu atau hanya sebatas kepura-puraan semata.


“Untuk hidangannya. Dan saya berharap Nona Kate tidak membayarkannya untuk saya.”


Kate tampak menelan ludahnya Setelah di piker-pikir, ucapanku memang terkesan sebagai sebuah sindiran. Dan semua itu seolah meluncur tiba-tiba dan tanpa kesengajaan yang aku buat-buat. Jika aku berada pada posisi


Kate, aku pasti sudah tersinggung. Meski menyadarinya, aku sama sekali tidak bisa menghentikan tindakanku ini.


Lalu, kuabaikan semua itu. Aku menyantap daging steak yang sudah berada di hadapanku. Sungguh, meski sejatinya rasanya lezat, aku sama sekali tidak bisa menikmatinya, justru rasanya seolah menjadi hambar. Sedangkan wanita cantik yang saat ini duduk di hadapanku, belum juga menyentuh makanannya sama sekali.


“Navya …?”


Aku menatapnya lagi. “Ya?”


“Kamu masih marah padauk?”


“Ya, hanya kecewa bukan marah.”


“Memang apa bedanya?”


“Marah bisa sembuh dalam waktu sebentar, tapi tidak dengan kecewa.”


Astaga, mulutku!


Aku menggigit bibir bawahku, lagi-lagi aku mengatakan kata halu tetapi menyakitkan seperti itu. Bahkan samapi membuat Kate tampak kebingungan. Ia pasti tidak tahu harus menghadapi diriku dengan cara apa lagi. Lalu, demi membuang kecanggungan ini, kami memilh menyantap hidangan masing-masing.


Melihat meja lain yang ada pengunjung penuh keceriaan dan berbincang satu sama lain, sebenarnya membuatku semakin tidak nyaman. Rasanya ingin cepat-cepat menyelesaikan pertemuan ini, tetapi itu tidak mungkin. Aku harus setidaknya sedikit menghargai Kte, tidaklantas nyelonong pulang hanya karaena perasaan pribadiku ini. Oleh karena itu, aku harus lebih bersabar lagi.


Kutatap wajah Kate yang masih menunduk sembari menyantap hidangannya pelan-pelan, seakan tidak berselera sama sekali. Dan rasa penasaranku mengenai hubungannya dengan Affandy tiba-tiba muncul di benakku. Sudahkah mereka bertunangan? Atau memang sudah merencanakan pernikahan? Entahlah, aku tentu tidak tahu tentang hal itu. Dan juga aku tidak memiliki hak untuk mengetahuinya. Hanya saja, jika hubungan mereka masih sama saja, rasanya cukup iba juga.


Kate yang tiba-tiba menatapku, membuatku terkejut dan salah tingkah. Segera kualihkan pandanganku pada makanan yang tinggal separuh dari porsi awal.


“Navya …,” panggilnya pelan, bahkan nyaris tidak terdengar.


“Ya,” jawab singkat, tetapi dengan nada stabil dan cukup sampai di pendengaran orang lain.


“Maafkan aku.”


“Untuk?”


“Untuk kejadian waktu itu, aku, aku hanya kalap atas rasa cemburuku.


Sejenak aku berpikir. Setelah beberapa menit kemudian, aku kembali menatap wajah Kate yang penuh harap atas jawabanku. Lalu, aku berkata, “Nona enggak bersalah. Saya yang terlalu naif dalam bersikap, seharusnya saya juga berpikir bahwa enggak aka nada orang yang bisa baik-baik saja dengan seseorang yang sempat disukai lelakinya.”


“Tapi, aku udah nuduh kamu yang enggak-enggak.”


“Hmm … lupakan. Saya sudah memberikan maaf buat Nona.”


“Lalu, hubungan kita apa bisa menjadi seperti dulu lagi, Nav? Aku merindukanmu.”


Aku menggelengkan kepala. “Enggak akan bisa lagi. Seperti yang saya ucapkan tadi, jika marah bisa sembuh secara cepat, tidak dengan kecewa. Saya juga meminta maaf karna terkesan memanfaatkan keuangan Nona pada saat itu. Tapi, saya tipikal orang yang enggak bisa membuang rasa kecewa dengan cepat. Bahkan, untuk menerima Andrew kembali, membutuhkan waktu dan proses pembuktian yang lama dan banyak sekali.”


“Tapi, kita, kan, teman dan sebenarnya aku enggak menganggap kamu memanfaatkan uangku. itu mauku sendiri, Navya, maaf.”


Mendengar Kate meminta maaf, sebenarnya membuatku menjadi haru. Namun hatiku mengatakan untuk tidak menjalin hubungan baik seperti dulu lagi. Mungkin aku egois karena takut kecewa. Anggap saja, aku adalah mantan dari Affandy yang tidak bisa bersatu dengan kekasihnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2