
Gaun manis berwarna kuning keemasan membalut di tubuhku. Riasan menawan, memberikan kesan indah di wajahku. Sedangkan, sepatu berhak tinggi sudah menghiasi kaki jenjangku. Pasti, Andrew akan terkesima tentang penampilanku pagi ini. Jarang sekali aku berdandan seniat ini. Semua kuusahakan yang terbaik dalam mengolah kemampuan stylish-ku
Hari ini, sebuah pesta akan aku hadiri. Pesta pertunangan yang akan digelar di sebuah gedung besar. Meski hanya sebuah pertunangan, ya, namanya juga petinggi perusahaan. Benar, Kate dan Affandy, maksudku Kak Kate. Hari minggu menjadi pilihan yang tepat untuk melaksanakan pesta itu bagi mereka, bersamaan dengan liburan para karyawan juga petinggi lainnya.
Sebenarnya, aku masih tidak menyangka bahwa aku dan Kak Kate bisa menyelesaikan pertengkaran kami dengan baik. Selama satu minggu ini, hubungan kami kian dekat, bahkan melebihi dulu kala. Kami berdua bisa mengambil hikmah setelah pertikaian itu. Bukan hanya dengan pasangan--kepercayaan harus dibangun, tetapi juga di dalam persahabatan.
Aku mengambil dompet berwarna keemasan, lalu kuambil langkah keluar. Raya dan Sinta terlihat di ruang tamu dengan pakaian pesta yang sudah rapi. Mereka merupakan teman dekatku juga saat ini, sehingga membuat Kak Kate dan juga Affandy turut memberikan undangan kepada mereka.
"Navya!" pekik Sinta ketika ia menyadari keberadaanku. Berjalan ke arahku dengan rahang yang menganga. Setelah, berada di hadapanku, ia mencengkeram kedua lenganku. "Gilak, cantik banget!" Ia mengulas senyuman, memberikan suatu pernyataan atas kekagumannya atas visualku sekarang.
Aku menunduk malu-malu. "Enggak, Sin, biasa aja ah," jawabku. Kuusap tengkuk leherku karena perasaan bernuansa pink itu. "Ayo berangkat."
Di belakang Sinta, ada Raya yang tadi melipat tangan ke depan. Ia menatap kami berdua dengan tersenyum-senyum, entah apa yang dipikirkan.
"Ayo, ayo, enggak sabar pengen makan di sana," timpal Sinta lagi. Wajahnya penuh dengan harapan, ah, benarkah tentang makanan? Aku tidak tahu secara pastinya.
"Ayo, Coy!" seru Raya.
Setelah itu, kami bertiga segera melangkah keluar. Tak lupa mengunci pintu rumah dengan rapat, selanjutnya menapaki anak tangga yang tidak pernah berubah jumlahnya. Seperti biasa, kami menyerahkan urusan kendaraan kepada Andrew. Selama ini pun, Raya dan Sinta sudah mencoba memberikan uang bensin, tetapi Andrew justru memberikan penolakan. Biasanya, seorang pria memang seperti itu, bersifat lebih menjaga dan ikhlas akan sesuatu.
Kombinasi kemeja, jas semi formal, crop pants, dan sepatu loafer membalut tubuh Andrew. Rambutnya tersisir rapi, sungguh ia tampan sekali, membuatku terkesima dan terpaksa menelan saliva. Tampannya, batinku.
"Gilak! Ini sih, pasangan yang bakalan ngalahin pengantin," ujar Sinta. Entah seberapa rasa kagumnya terhadap diriku, juga Andrew pada saat ini. Kalimatnya seperti dilebih-lebihkan, ah, atau memang kenyataan? Entahlah, bagiku--Kate tetap yang paling cantik. Visual wanita cantik itu bahkan hampir sama mirip dengan Raline Syah--artis ibukota yang super terkenal.
"Kedip, Andrew!" seru Raya tiba-tiba.
"Ah, maaf," jawab Andrew.
"Pacar loe cantik banget, ya? Nyampe melongo begitu?" Raya memberikan cibiran setelah mengatakan demikian.
"Banget!" Meski memberikan jawaban untuk Raya, pandangan Andrew tidak lepas dari diriku. Hal itu membuatku benar-benar salah tingkah dan entah harus berbuat apa.
Akhirnya, aku memberikan isyarat agar semuanya masuk ke dalam mobil. Seperti biasa, aku mendapatkan tempat di depan--di samping sang pengemudi tampan. Setelah dirasa siap semua, ia memacu mobilnya. Mungkin membutuhku waktu sekitar dua puluh menit hingga sampai di gedung pelaksanaan acara pertunangan.
Berbicara tentang pertunangan. Ya, masih acara pertunangan, tetapi sudah digelar pesta mewah. Aku tidak habis pikir dengan gaya hidup para orang kaya, mengapa tidak sekalian menikah saja? Akan sebesar apa, ketika pernikahan digelar, jika hanya pertunangan saja sudah semarak itu? Namun, semua adalah hak Affandy. Semua yang bisa ia lakukan sekarang adalah hasil dari upayanya selama ini. Pria yang memiliki masa depan gemilang, tentunya memberikan keuntungan dalam banyak hal bagi pasangan.
Aku mengulas senyuman diam-diam. Seandainya, dulu aku menerima penawaran dari atasanku itu--untuk mencoba menjalin hubungan, apakah aku akan merasa bahagia? Rasanya itu tidak, karena hati kami telah diisi orang lain. Pun meski, Andrew tidak sehebat dirinya, aku tetap bahagia telah memilih Andrew di hidupku.
"Hei, kamu cantik banget sih?" celetuk Andrew tiba-tiba, hal itu membuatku terpaksa membuyarkan lamunan tentang masa lalu.
Aku mengulas senyuman, diiringi gerak leher agar bisa menatapnya. "Terima kasih," jawabku singkat.
"Ini pertama kalinya aku lihat kamu secantik ini."
"Masa'?"
Ia mengangguk. "Biasanya juga cantik, sih. Tapi, jarang berpenampilan kayak sekarang."
Benar juga, selama aku mengenal Andrew, entah dulu atau baru-baru ini, aku sama sekali tidak menunjukkan diriku seperti saat ini. Ya, semua terjadi karena memang tidak ada pesta yang harus dihadiri. Meski kencan pertama aku tetap berpenampilan maksimal, tetap saja gaunnya tidak seindah sekarang.
Tepatnya, di lampu merah yang menyala, Andrew menatapku sembari menunggu nyala lampu hijau. Aku benar-benar sudah salah tingkah, seolah ada sesuatu yang aneh di wajah. "Kamu kenapa sih? Liatin mulu'?" tanyaku kepadanya.
"Cantik banget," jawabnya.
"Haduh, haduh, yang belakang kayak serangga," celetuk Raya.
Oh, malu sekali. Andrew tidak bersikap pada tempatnya saat ini. "U-udah, Ndrew. Fokus sama jalan, yang belakang pengen nanti."
"Kamu cantik, Navya."
"Ih! Udah!"
Raya dan Sinta tertawa diam-diam. Aku mengintip mereka dari kaca yang tergantung di hadapanku. Keduanya memberikan cibiran kepadaku, tetapi dalam maksud menggoda bukan hal negatif lainnya.
__ADS_1
Suara klakson mobil dari belakang mengejutkan kami berempat, hal itu membuat Andrew tersadar dan segera memacu mobilnya kembali. Sebenarnya, aku secantik apa, sampai membuat kekasihku kagum dan nyaris melupakan keadaan?
"Hmm ... segitu bucin-nya sih, Ndrew?" celetuk Raya lagi.
Sinta tampak memberikan cubitan di pinggang Raya. Setelah itu, sang korban menyeringis kesakitan. Sedangkan, Andrew hanya mengulas senyuman saja di bibirnya, sembari sesekali menatapku.
Jantungku cukup berdebar-debar, entah apa yang membuat diriku sampai merasakan hal itu. Bukan pertunanganku, tetapi seolah aku turut merasakan suatu kebahagian. Rasa tidak sabar ingin menggelar pesta milik sendiri pun kini mencuat dari dalam sanubari. Masih sekitar tiga minggu lagi, aku dan Andrew bisa pulang. Entah berapa hari izin bisa kami dapatkan, terlebih dua minggu sebelum hari H pernikahan kami, akan ada perpanjang kontrak di tahun kedua.
Beberapa saat berlalu, hingga akhirnya kami sampai di tempat yang dituju. Sepertinya tidak banyak tamu undangan, karena mobil yang terparkir masih bisa dihitung dengan jari. Meski pesta ini cukup mewah, bahkan jalan masuknya saja sudah didekorasi dengan mawar putih yang indah, juga pita-pita besar berwarna merah, tetapi menurutku hanya orang-orang terdekat saja yang diundang. Dan kami?
Glup! Aku menelan saliva. Kami siapa? Bukan salah seorang petinggi, melainkan hanya karyawan mutasi biasa. Aku menilik Raya dan Sinta dari kaca yang tergantung tadi, sepertinya mereka merasakan hal yang sama dengan diriku.
"Gue takut nih mau masuk," ujarku.
"Sama, Nav," sahut Sinta.
"BTW, kita siapa dan sebagai apa, ya?" tanya Raya.
Aku menoleh ke belakang sana. "Kita orang-orangan di antara para orang beneran."
"Udah, udah," sela Andrew. "Kita, kan, diundang dan ada bukti undangan. Pasti di dalem ada orang lain yang sama kayak kita."
"Amin," jawabku.
Andrew mulai membuka pintu mobil yang baru saja ia parkir. "Ayo, masuk."
Kami bertiga kompak saling bertatapan, menelan saliva lalu merasakan kegugupan yang luar biasa. Namun sudah kepalang tanggung, tidak mungkin meninggalkan tempat ini begitu saja. Baiklah! Aku akan menghadapi pesta itu, anggap saja sedang cari makanan.
Aku menggandeng lengan Andrew sebagai pasanganku. Raya dan Sinta di belakang kami dan mengikuti. Dengan debaran hati ini, kami mengupayakan diri untuk tetap masuk ke dalam gedung itu. Tidak jarang, aku menelan salivaku, bisa-bisa rahangku menjadi kering karena hal itu.
"Aku takut, Ndrew ...," bisikku kepada Andrew.
Ia menggenggam tanganku yang melingkar di lengannya. "Ada aku, jangan takut," jawabnya.
"Kita ada bukti undangan kok."
"Tapi--"
"Apa kita pulang aja?"
Aku menggeleng. "Enggak juga."
"Terus? Mau diem di tempat parkir?"
"Enggak juga."
"Hmm ... ya udah, kita coba masuk dulu."
Aku menyerah dengan perasaanku. Memilih pasrah dengan apa yang ada di dalam sana nanti. Dan pasti perhatian orang-orang mengatakan tentang siapa kami. Mengapa, pagi tadi kami tidak menyadari tentang hal ini? Justru merasa sangat tidak sabar.
"Hei!" Seseorang berseru, entah kepada siapa di antara kami. "Andrew, datang juga," ujar pria itu setelah menghampiri kami. "Navya, hmm ... semakin cantik saja," lanjutnya dengan logat baratnya yang masih sangat kental.
"Ah, Steve. Kamu juga datang?" balas Andrew.
Pria itu mengangguk. "Ya, perwakilan dari divisi. Aku pikir, kalian tidak diundang, yeah, kalian cukup dekat dengan mereka."
Ucapan Steve terdengar seperti sebuah sindiran untuk diriku. Kami cukup dekat dengan Affandy dan Kak Kate, menurutnya. Meski benar, aku dan keduanya hanya berteman saja, tidak mengambil hal lain di perusahaan. Namun entah kata orang. Meski begitu, setidaknya ada orang lain selain kami yang datang ke pesta ini.
Ditambah Steve, juga ketiga temanku, kami semua mulai melangkah masuk ke dalam ruangan gedung itu. Dekorasi kian menawan, bukan hanya bunga dani pita, melainkan juga lampu-lampu imut berbentuk cinta, taburan kristal yang menyala dan juga patung angsa yang entah terbuat dari apa. Aku sampai menahan napas dalam beberapa saat, bagaimana bisa seperti istana? Ini baru pertunangan, bukan?
"Nav, Nav, kita kayak masuk ke negeri dongeng," bisik Sinta tepat di belakang telingaku.
Aku menoleh ke arahnya. "Bukan lagi, ini mah dunia imajinasi," jawabku.
__ADS_1
"Gilak sih, mereka itu naroh duit di mana sih. Enggak mungkin bisa kayak gini kalau enggak ada duit banyak," timpal Raya.
"Pak Fandy, kan, petinggi, Guys. Ada banyak duitlah."
Raya mulai berkhayal. "Andai gue jadi Kate."
Aku tertawa kecil, setelah itu kembali mengarah ke depan. Di sana ada Kak Kate yang menatap kami, ia tersenyum kepadaku dan tentu saja aku membalasnya. Namun, kami tidak bisa mendekatinya. Sang MC mulai bersuara, membuka acara sesuai susunannya, menggunakan bahasa internasional.
Lalu, Andrew mengajakku ke tempat lain. Sedangkan, Raya dan Sinta sudah beranjak pergi, juga Steve. Kami menikmati pesta ini, tetapi menghindari wine yang ada di sana. Aku tahu Affandy dan Kate tidak meminumnya, hanya saja banyak tamu barat yang datang, entah rekan bisnisnya atau mungkin CEO dari perusahaannya.
"Sayang, aku enggak bisa fokus sama pesta ini," ujar Andrew tiba-tiba.
Aku yang masih asyik memandang pasangan itu, kini beralih menatapnya. "Kenapa? Enggak biasa, ya? Baru pertama kali, kan?"
"Aku terpana sama kamu."
"Halah! Dari tadi gombal mulu'."
"Hehe ... iya, iya, ini pertama kalinya bagiku. Emang kamu pernah?"
Aku mengangguk. "Pernah, dua kali. Tapi yang satu di pernikahan."
Dahi Andrew mengernit. "Siapa? Kok aku enggak pernah tahu?"
"Dulu, waktu sama Nevan terus ke tempat temennya."
"Oh."
Raut wajah Andrew langsung berubah, bahkan mengalihkan pandangan ke tempat lain. Aku tersenyum tipis. Kuambil lengannya lagi dan bersikap manja, tetapi lebih hati-hati.
"Sama kayak Raya," ujarnya lagi.
Kini, dahiku yang mengernyit. "Apanya?"
Ia menatapku. "Apa kamu sama kayak Raya?"
"Emang Raya kenapa?"
"Mau pasangan yang kayak Pak Fandy, sempurna, kaya, bahkan baru bertunangan aja, bisa semewah ini."
"Pft!" Aku tertawa kecil. "Kalau misal iya, apa kamu bisa kasih?"
"Demi kamu, akan aku usahakan, Navya." Tatapan mata Andrew menjadi lebih tajam dan serius sama seperti sebelumnya.
Aku menggeleng. "Aku hanya ingin kamu, itu udah cukup."
"Serius?"
Aku mengangguk. "Iya. Emang sih, nikah itu sesuatu yang mungkin terjadi satu kali dalam hidup, tapi aku enggak mau memaksa pasangan aku buat ngasih apa yang melebihi kemampuannya."
Ia menggenggam satu tanganku. "Makasih, Sayang. Aku janji akan buat kamu bahagia."
"Ya, aku tunggu."
Baru setelah itu, Andrew bisa menorehkan senyuman lagi. Ia selalu khawatir dengan hal ini, mungkin karena sosol Nevan dan Affandy. Nevan yang kaya raya, Affandy yang telah sukses karirnya, sedangkan ia masih saja menjadi karyawan biasa sama seperti diriku. Kuakui, tetapi dulu sekali, aku sangat mengidam-idamkan pernikahan mewah bak seorang putri. Namun, berjalannya waktu dan usia, idaman itu berangsur menghilang. Seandainya bisa sekali pun, aku tetap sayang dengan uang.
Hutang papa dan usahaku dalam melunasinya membuat diri ini sadar betapa sulitnya mencari uang. Dan kini, aku tidak ingin menyia-nyiakan barang berharga itu lagi. Akan tetap ada pesta pernikahan, tetapi masih hitungan wajar sesuai masyarakat biasa di Indonesia. Aku pikir, tidak akan menghabiskan biaya terlalu banyak, karena itu amanat dari orang tua Andrew. Mungkin, karena kekasihku ini adalah anak pertama yang juga akan digelarkan pernikahan pertama, sehingga Ibu Siti berharap ada momen indah itu di pernikahan kami.
"Navya?" Seseorang menyebut namaku dari arah samping.
Mataku terbelalak lebar, karena terkejut dengan siapa yang datang. Benar juga, Nevan Satya merupakan investor di perusahaan tempatku bekerja. Aku menelan saliva, seluruh tubuhku menjadi kaku dalam seketika. Tiba-tiba, Andrew agak menarikku, ia menaruh diriku di belakang tubuhnya yang saat ini menghalangi pandangan Nevan dariku.
Bersambung ....
__ADS_1