Who Is My Love

Who Is My Love
Sitaku


__ADS_3

Sita tiba-tiba saja berlari ke arahku, memelukku dengan erat sembari menangis. Entah apa yang membuatnya sampai seperti ini, ia terlihat memilukan sekali. Aku hanya bisa membalas pelukannya, tanpa bisa menanyakan apa sebabnya. Kukira perihal pernikahanku, tetapi rasanya tidak harus seperti ini juga.


Andrew memandangi kami dengan mata terpana, maksudku bukan karena takjub, melainkan terkejut. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali terdiam. Mungkin karena seorang pria, tidak aka peka dengan perasaan wanita.


“Sorry, Vya, gue baru bisa dateng sekarang,” ujar Sita kepadaku sembari melepaskan pelukanku.


Aku mengangguk pelan. “Iya, enggak apa-apa kok. Santai aja lagi,” jawabku.


“Gue, kan, pengen nemenin akad loe.”


Aku tersenyum.” Loe dateng aja, gue udah seneng. Ayo masuk dan duduk di dalem.”


“Iya, Vya. Sumpah gue nyesel banget.”


Kemudian, aku dan Sita melangkahkan kaki bersama. Tangisannya memang sudah mereda, tetapi penyesalannya belum. Bahkan, membuatku tidak enak hati karena aku sempat merasa kecewa kepadanya. Aku rasa memang ada sesuatu yang membuat Sita tidak bisa datang lebih cepat.


Kuabaikan rencanaku untuk mandi. Sekarang, aku hanya perlu fokus dengan Sita. Membuag rasa rindu yang sejak dulu menyiksa hatiku. Kepada sahabatku yang sudah lama tidak aku temui, aku haru bahagia. Ia datang dengan luapan air mata, menyesalkan dirinya sendiri yang tidak menghadiri akad pernikahanku dan suamiku.


“Sayang, aku mandi duluan, ya?” ujar Andrew kepadaku.


Aku mengangguk pelan. “Iya, Ndrew.”


Setelah itu, ia berlalu meninggalkan diriku dan Sita. Dengan perassaan yang masih haru, aku mencoba menghibur sahabatku iru. Mengusap punggungnya halus dan mengusap air matanya yang terkadang masih mengalir membasahi pipi. Mengapa Sita lebih kurus daripada dulu? Apa yang terjadi kepadanya?


“Jangan nangis lagi dong, Sit.” Aku berusaha memberikan nasehat kepadanya.


“Gue bahagia akhirnya loe sama Andrew nikah. Setelah banyak jalan yang loe lalui. Loe menderita selama ini, Beb. Gue inget pas loe hampir dicelakain sama Haris, loe harus bertemu Nevan lagi. Sampai loe terpaksa pergi ke Singapura demi hutang bokap loe. Loe hebat, Beb, gue bahagia benget.” Sita, ia cukup paham dengan diriku, juga jalan hidupku yang penuh liku-liku. Selepas ia menikah, komunikasi kami memang berkurang, tetapi pada akhirnya ia tetap mengingat semua tentang diriku.


Sekali lagi, aku memberikan pelukan kepadanya. Air mata kami tumpah, rasa rindu yang bercampur dengan haru. Perasaan ini menjadi sebuah saksi atas persahabatan kami. Aku menyayanginya, sangat! Bahkan, jika boleh akan melebihi cintaku kepada Andrew. Namun, antara cinta untuk sahabat dan suami pasti memiliki perbedaan yang sangat besar, sehingga tidak boleh dibanding-bandingkan.


“Loe sendiri kenapa kurus kayak gini  sih, Sit.” Aku melepaskan pelukanku darinya.


“Mertua gue galak,” jawab Sita.


“Hah?! Tapi, masa’ iya nyampe segitunya.”


“Gue terlambat juga gara-gara mama mertua, gue harus bantu jaga butik, Beb. Mangkanya kayak tekanan batin, mana laki gue lebih belain dia lagi.”


“Hus! Jangan kayak gitu ah. Kan, emang sewajarnya suami bela ibu, loe yang nurut sama suami.”


“Hmm ... udahlah, males bahas gue. Gue enggak mau kebahagiaan loe tercoreng gegara masalah gue.”


Aku mengusap lengan Sita. “Loe yang sabar, ya.”


“Selalu, Beb. Emm ... ngomong-ngomong persiapan ntar malem udah?


Dahiku mengernyit. “Persiapan apa maksud loe?”


“Ituh lho.”

__ADS_1


“Apa?”


Sita maju mendekati diriku. “Bikin Andrew junior.”


Spontan, aku menepuk bahu Sita. Perbedaan orang yang baru menikah dan sudah lma, memang sangat kentara. Ia tidak lagi malu mengucapkan kata itu, kata yang memiliki makna tertentu. Namun, mengingat tentang hal itu, bagaimana nanti? Aku memang pernah berada di dalam satu ruang dengan Andrew, tetapi tidak ada apa pun yang melebihi romantisme biasa.


Sejenak, aku berpikir. Kutelan saliva karena perasaan cemas ini. Bagaimana kalau aku bau badan? Atau mungkin wajahku jelek ketika sedang tidur. Bukankah Andrew pernah menemaniku, meski tidur di bawah. Namun, kali ini rasanya sangat berbeda.


“Beb! Jangan dipikirin, yang tenang,” ujar Sita.


Mendadak wajahku menghangat, mungkin sudah memerah. “S-siapa yang mikirin, coba?”


Sita tergelak. “Kelihatan banget tauk!”


“Ih! Udah sih, emm ... loe tunggu di sini ya? Gue mau mandi dulu. Gerah dan bauk banget.”


“Oke deh.”


Aku menghela napas dan mengembuskannya kembali. Kutinggalkan Sita di tempat ini, tampaknya keluargaku juga sudah pulang, karena terdengar deru mobil yang memasuki pekarangan rumahku. Baiklah, aku harus mandi, demi menyegarkan badan dan juga pikiran.


Ada barang-barang milik Andrew yang berada di dalam kamarku. Jujur saja, aku sempat terkejut, tetapi langsung tersadar jika aku sudah menikah. Perasaanku benar-benar sangat gelisah, seolah ingin melewatkan malam inibegitu saja. Aku belum siap menghadapi malam nanti. Bagaiman, jika aku justru mengecewakan suamiku itu?


Tiba-tiba, tangan seseorang memelukku dari belakang. Aku yang terkejut berupaya untuk melepaskan diri, tetapi tidak berhasil.


“A-aku belum mandi, Ndrew. A-aku masih bau,” ujarku kepada priaku itu.


Ia memberikan kecupan manis di tengkuk leherkuy. Merinding.


“Kenapa sih? Kan, udah boleh, Sayang.” Andrew sedikit memberikan ruang untukku meski belum dilepasnya. Ia memutar tubuhku, sehingga aku bisa menatap wajahnya.


“Aku belum mandi dan masih capek banget.”


“Iya, aku tahu. Aku juga cuma lepas kangen dikit doang kok.” Ia tersenyum, sama sekali tidak mengerti apa yang aku khawatirkan saat ini.


“Aku mandi dulu deh.”


“Vya?”


“Ya?”


“Jangan takut sama aku.”


“Eh?”


“Aku takut trauma kamu masih ada, soal Haris.”


“Sepertinya hal itu enggak berlaku kalau sama kamu. Tapi, kamu juga jangan terlalu terburu-buru, ya?”


“Ya, nanti kita pelan-pelan aja.”

__ADS_1


Aku tersenyum. Aku tahu maksudnya. Belum menikah saja, ia hampir terlena oleh rindunya kepadaku. Mungkin, selama ini pun ia selalu menahan dirinya agar tidak berbuat macam-macam. Terima kasih, telah menghargai diriku, Andrew. Lalu, aku kembali melanjutkan rencanaku untuk mandi.


Beberapa saat kemudian, aku telah berkumpul bersama dengan keluarga besar, meski satu persatu bergantian untuk membersihkan diri. Sejak tadi pun, aku terus berada di samping Sita. Menemaninya berbincang, tidak peduli dengan topik pembicaraan para orang tua. Aku menceritakan kisahku selama ini, bahkan tentang teman-temanku di Singapura sana dan juga perihal jati diri Andrew yang sebenarnya.


“Loe beruntung, Beb. Akhirnya, loe bisa bangun diri loe sendiri menjadi lebih baik dan sekarang banyak teman. Dulu, loe sama sekali enggak mau berbaur, enggak sedikit yang suka nanyain loe ke gue,” ujar Sita setelah mendengarkan ceritaku.


“Ya, Sit. Gue bersyukur soal itu, dengan kemandirian gue di negara itu, gue lebih menghargai apa yang ada di depan gue. Due enggak mau jadi orang sombong lagi,” jawabku.


“Gue bangga sama loe, Beb. Loe bisa selesaiin masalah yang sempat dateng, sabar, bahkan hilangin semua trauma dan sikap yang buruk. Loe kayak bukan Navya lagi. Loe Vya yang baru.”


“Gue masih gue, Sit. Sifat buruk gue masih ada, kadang enggak dewasa. Tapi yah, gue bakalan belajar kok.”


“Beb?”


“Ya?


“Meskipun udah punya suami dan temen loe banyak, loe jangan lupain gue ya? Gue ada kado kecil buat loe, semoga loe suka, mungkin enggak sepadan sama pemberian Andrew yang ternyata pembisnis itu. Kurang ajar sih, selama ini kita ditipu.”


“Gue enggak bakalan lupain loe, Sita. Ada satu lagi sih,


umur dia ternyata udah tua.”


“Berapa emang? Empat puluh?”


Aku menggeleng. “Tiga puluhan.”


“Hmm ... gue udah tahu kali. Ke mana aja loe? Loe, kan,


ceweknya.”


“Hah?! Dari mana?”


“Dari Rezky.”


“Asem! Gue doang dong yang bodoh.”


“Emang.” Sita tergelak.


Aku tidak menyangka semua orang justru sudah tahu. Berarti yang bodoh hanya diriku. Aku merasa sangat dikecewakan, sungguh! Namun, mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur cinta kepadanya.


Aku menerima sebuah hadiah dari Sita dan membukanya saat itu juga. Sebuah tas cantik dengan merk ternama. Hatiku menjerit saking bahagianya. Aku memeluk tubuh Sita dan terus membisikkan kata terima kasihku kepadanya.


Bersambung ...


BACA JUGA =


Aku GENDUT!!!


Cinta Terbalut Benci

__ADS_1


Rumor Aktor Tampan


__ADS_2