Who Is My Love

Who Is My Love
Bertemu Diam-Diam


__ADS_3

Hari selanjutnya, tepatnya dimalam hari. Aku merebah seenaknya di atas ranjang yang kini menjadi milikku. Sore tadi, aku menghabiskan waktu untuk berbincang dengan mama dan Sita. Sangat lama, sampai aku lupa waktu. Bahkan keberadaan Raya, Sinta ataupun Andrew--kekasihku kuabaikan begitu saja. Ya, aku sangat rindu dengan mama dan Sita. Pembahasan mengenai papa yang sehat tanpa kekurangan apapun, beberapa gedung yang disita oleh ayah Haris tampaknya bisa sedikit melunasi hutang papa. Yah, meski sisanya harus menunggu uang dariku.


Namun kabar gembiranya adalah aku tidak perlu memperpanjang kontrak kerjaku selama lima tahun, mungkin dua sampai tiga tahun cukup. Seandainya aku sudah tidak betah di tempat ini, apalagi jika aku tidak memperpanjang kontrak disini aku belum tentu mendapatkan pekerjaan lagi. Karyawan yang dimutasi seperti kami, tidak bisa kembali ke kantor awal kecuali ada permintaan dari sana. Beginilah nasib sebagai karyawan bawah. Hanya nurut kata atasan, tidak rajin lantas dibuang. Libur kurang dan lebih banyak lembur sampai tidak tahu kondisi alam. Hebat sekali, bukan? Beruntungnya, nasib kami lebih baik daripada para kuli di jalanan. Oleh karena itu, kami harus berusaha menikmati pekerjaan ini.


"Ah ... gue kangen rumah," gumamku sembari memeluk erat guling dihadapanku. Benakku menerawang jauh mengingat tentang semua hal yang terjadi. Sudah sejauh ini, apakah aku masih menyimpan sisa trauma tentang Haris? Terkadang aku ingin pulang, namun selalu bergidik membayangkan wajah Haris dikala itu. Mungkin aku tidak akan kuat bertemu dengannya lagi, walau akhir hari sebelum aku berangkat, aku sempat meminta penjelasan darinya.


Tak lama kemudian, lamunanku buyar lantaran dering ponsel yang terdengar nyaring di telingaku. Aku meraihnya dan mulai menyalakan layarnya. Affandy? Untuk apa ia menghubungi malam-malam seperti ini? Aku bimbang sembari menimang-nimang benda kotak tersebut. Sampai akhirnya berakhir tanpa dijawab begitu saja.


Sorry, Fandy. Mungkin gue emang nggak tahu diri. Tapi, gue nggak mau aneh-aneh lagi.


Klung! Sebuah pesan masuk di ponselku lagi. Kali ini, aku cukup penasaran dan aku pikir adalah Andrew. Namun, Affandy lagi. Lantas aku membukanya.


Affandy : Aku didepan, Vya. Boleh ketemu? Kalau kamu nggak mau, aku naik biar Andrew juga tahu.


"Apa-apaan ini?! Dia ngancem gue?" Aku tidak mengerti apa maksud Affandy datang ke tempat ini. Untuk bertemu denganku? Untuk apa? Ia bahkan mengancam akan naik ke atas, bahkan biar saja sampai Andrew tahu. Pertengkaran, perdebatan serta kecurigaan yang mungkin bisa terjadi. Apalagi malam hari seperti ini. Aku menelan ludah dengan kelu, lantaran bingung harus berbuat apa.


Sampai akhirnya, aku memutuskan untuk menelepon Affandy. Dan tidak butuh waktu yang lama, ia mengangkatnya. "Ngapain? Pak Fandy ada keperluan apa sih?" tanyaku.


"Keluar, aku butuh bicara. Jangan di tempat ini, kalau kamu nggak mau bertengkar dengan pacarmu itu," jawabnya sembari mengancam.


"Emangnya nggak bisa dibicarain lewat telepon?"


"Enggak. Penting! Turun, Vya. Kita keluar atau aku benar-benar naik dan membuat masalah?"


"Sial! Iya, tungguuu!"


Aku mematikan panggilan tersebut begitu saja. Lalu aku mengambil jaket berwarna hitam dan keluar dengan pakaian ala kadarnya. Kesal sekali rasanya, jika bukan ancaman itu aku tidak akan bersedia. Terlebih ada Raya dan Sinta yang membutuhkan istirahat yang cukup dan tenang.


"Hei, Nav? Mau kemana? Udah jam setengah sembilan lho," celetuk Sinta tiba-tiba, pada saat aku akan membuka pintu rumah lantai kedua ini.


"Eh, Sin kebetulan. Jangan dikunci dari dalem ya? Gue mau keluar sebentar," jawabku.


"Keluar bareng Andrew?"


Aku menggeleng. "Bukan, justru gue minta tolong jangan bilang sama dia. Please ...."


"Oh ... oke, oke. Hati-hati di jalan. Loe bawa kunci sendiri aja, biar enak."


"Thanks, Sin."


Beruntung, Sinta cukup pengertian. Ia tidak banyak bertanya dan membiarkanku berlalu pergi. Semoga saja janjinya untuk tidak bicara kepada Andrew juga ditepati. Dengan langkah yang super pelan, bahkan aku sampai melepas alas kakiku alias sendal. Aku tidak mau Andrew menyadari keberadaanku sekarang. Ia memang sangat mengerti diriku, namun jika sudah berkenaan dengan Affandy, ia sangat tidak suka. Jadi mau tidak mau, aku harus berbohong. Sebisa mungkin tidak membuatnya kesal atau kami akan bertengkar lagi. Terlebih sejauh ini, aku sudah sangat menjaga hubungan kami.


Dan yeah, aku berhasil mencapai gerbang lalu keluar. Aku menoleh ke kanan kemudian kiri. Benar saja, sebuah mobil tidak asing sedang teronggok diam di seberang jalan sebelah kiri. Orang itu benar-benar tidak main-main. Lalu, hal apa yang perlu dibicarakan denganku? Aku sangat tidak mau terlibat lebih banyak lagi. Apalagi hubunganku dengan Kak Kate sudah mulai akrab.


Setelah menghampiri mobil itu, aku mengetuk kaca jendela mobil dibagian Affandy menyetir. Tak lama kemudian, ia membukanya dan memintaku masuk. Aku menampilkan wajah masam, dan dengan malas kumasuki mobil ini tepat bersebelahan dengan dirinya. Tanpa pikir panjang lagi, Affandy mulai melaju mobilnya meninggalkan rumah dinasku untuk sementara waktu.


"Bapak mau ngomong apa sih? Ngantuk lho."


"Bisa nggak sih, kamu bersikap seperti sedia kala? Nggak perlu pakai bapak-bapakan, Vya?"


"Hmm ... enggak."


"Kenapa? Karna Andrew? Atau Kate?"


"Emm ... dua-duanya hehe."


"Terserah, tapi intinya jangan terlalu formal."


"Ya, ya."


"Emm ... kamu serius keluar pakai baju begitu? Buru-buru ya? Kita belanja dulu yuk, mall belum tutup."


Aku mengernyitkan dahiku seketika. Merasa heran akan sikap Affandy. "Untuk apa? Saya nyaman seperti ini. Oh ... Pak Fandy merasa malu? Emm ... kalau gitu, balikin saya pulang lagi."


Affandy menggelengkan kepalanya. "Enggak! Kamu mau kabur, kan? Ng-nggak malu kok."


"Jangan melihat orang dari tampilan dan fisik, Pak. Yang penting hati hehe. Ya, walaupun saya juga berhati busuk sih."

__ADS_1


"Udahlah, jangan bahas yang seperti itu. Aku udah paham siapa Navya. Bahkan yang sekarang."


"Makasih, Pak. Saya jadi terharu."


Uh ... sial! Kenapa dia tahan sama sikap gue sih?! Gue pengen balik!


Entah, akan dibawa kemana diriku ini oleh atasanku. Segala upaya yang kulakukan untuk membuat Affandy jengah nyatanya tidak berhasil. Bahkan tidak jarang, aku bernyanyi begitu lantang dengan nada tidak karuan. Karena suaraku memang sangat jelek. Ia malah menertawaiku bukannya memarahiku. Aku rasa, masalah yang ingin ia katakan memang bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.


Sejak tadi ponselku terus berdering. Pada saat aku memastikannya, beberapa pesan dari Andrew telah masuk disebuah aplikasi pesan. Karena sudah cukup lama aku tidak membalasnya, Andrew memastikan keadaanku.


Andrew : Udah tidur ya, Sayang?


Misal seperti itu, sampai lima kali. Karena ia sudah menduga hal tersebut, aku tidak membalas lagi. Yah, semoga ia tidak menaruh curiga terhadapku. Setidaknya, aku tidak ingin jujur pada saat ini. Yang ada ia akan berusaha menyusul diriku dan pastinya kecewa. Sedangkan deru mobil milik Affandy ini masih terdengar bising di telingaku. Sudah beberapa menit berlalu, namun ia tidak kunjung berhenti. Sebenarnya diriku mau dibawa kemana?


Aku membuka jendela mobil ini sedikit, tak peduli bahwasanya didalam sini sudah terasa dingin. Pada kenyataannya, angin dari alam lebih segar. Kupandangi setiap pinggiran jalan yang terbangun gedung-gedung yang kokoh. Kota metropolitan yang sangat megah, bahkan negara ini memang sudah maju dengan segala kecanggihannya. Namun bukan berarti membuatku semakin betah tinggal disini dalam kurun waktu yang lama. Aku tetap ingin pulang dan hidup di rumahku sendiri dengan damai. Tidak! Jika nanti Andrew benar-benar akan melamar diriku, aku akan hidup bersamanya. Berkhayal kecil boleh, bukan?


Sampai tidak lama kemudian, Affandy mengarahkan mobilnya untuk berbelok ke suatu kafe. Aku menepuk jidatku seketika lantaran salah dalam memakai kostum, terlebih sangat kontras dengan penampilan Affandy yang rapih dan maskulin itu. Aku menelan ludah kelu, jika saja ke tempat ini bersama Andrew, pasti akan menjadi hal yang gila dan seru. Namun, bersama Affandy? Rasanya aku benar-benar tidak tahu diri.


Selepas memarkir tenang mobil kesayangannya, Affandy memintaku untuk turun bersamanya. Secara spontan, aku menjaga jarak satu meter di belakangnya sembari mengikutinya. Sumpah! Diriku seperti gembel yang nyasar ke dalam kafe. Hanya balutan setelan baju tidur, jaket dan sendal jepit rumahan. Kalau di negeraku sendiri, sepertinya hal ini masih dianggap biasa atau dimaklumi. Eh ... tidak! Bahkan Indonesia selalu mengedepankan norma kesopanan. Pada kenyataannya, dirikulah yang tidak waras.


"Duduk disana aja, Vya." Affandy memberikan intruksi kepadaku sembari menunjuk meja di pojok kanan. Lantas, aku hanya mengangguk dan mengikuti dirinya.


Beberapa kali, aku menggaruk leher belakangku yang sebenarnya tidak merasa gatal, lantaran malu dan salah tingkah. Tempat ini milik orang-orang kalangan atas, apa yang aku lakukan disini? Semakin hari bukannya lebih baik, aku malah semakin gila. Sesampainya di meja tersebut, Affandy menarikkan salah satu kursi untuk diriku. Ia mempersilahkan aku untuk duduk, dan lagi-lagi aku hanya bisa menurutinya. Lalu, pria ini memanggil salah satu pelayan dan memesan dua gelas americano dan dessert.


Affandy menatap diriku. "Lumayan, kan? Bisa sedikit refreshing," ujarnya.


"Apa yang ingin Pak Fandy katakan pada saya?" Karena sudah cukup jengah, aku mulai pada topik utama tentang tujuan apa ia membawaku ke tempat ini.


"Santai dulu, Vya. Udah aku bilang, jangan terlalu formal."


Aku menggeleng. "Nggak, saya nggak formal. Saya hanya ingin berlaku seperti karyawan lainnya."


"Apa Kate yang menyarankan ini? Atau Andrew?"


"Saya sendiri." Mataku menatap tegas wajah Affandy. Selalu saja ia membawa-bawa nama Kak Kate bahkan Andrew. Memangnya apa salahnya jika diriku berlaku seperti Raya dan Sinta dalam menghormati dirinya sebagai atasanku? Ya, setidaknya aku berusaha menyamaratakan posisiku seperti mereka, dan pastinya tidak kurang ajar terhadap atasanku.


"Vya, apa hubungan kamu dengan Kate?" Dan benar saja, ia memaksaku untuk ikut dengannya adalah membahas masalah mereka.


"Emm ... kami hanya berteman biasa. Apa salahnya?" tanyaku kembali.


"Nggak mungkin. Kate bukan tipikal orang yang mudah terbuka seperti itu. Apalagi sama kamu yang pernah aku akui sebagai pacarku."


"Emang kenapa, kalau sekarang seperti itu? Dulu saya juga berlaku demikian, bahkan hanya Sita satu-satunya teman saya. Tapi seiring berjalannya waktu pertemanan itu ternyata penting."


"Kate nggak sama kayak kamu, Vya. Dia orang yang keras dan apalagi sama cewek yang kenal denganku."


"Dia posesif ya? Ya jelaslah! Secara Kak Kate yang menemani Pak Fandy dari nol terus dibiarkan begitu saja. Saya tahu ... pasti kalian pernah saling mengungkapkan perasaan. Makanya dia susah melepaskan Pak Fandy."


"Sok tahu kamu."


"Yee ... tapi bener, kan?"


Affandy diam seketika. Sepertinya dugaanku memang benar. Sama saja apa yang terjadi kepadaku dan Andrew pada saat itu, sebelum kami menjalin hubungan secara resmi. Melihat Affandy seperti mengenang diriku, aku terus berjalan menjauh untuk melupakan Andrew karena kesalahannya pada saat itu. Mungkin yang membedakan kami adalah segi masalahnya dan juga kestabilan emosinya.


Aku rasa, Affandy bisa jauh lebih bijak dariku. Ia atasan yang penuh prestasi. Dalam usia yang sebentar lagi mencapai tiga puluh tahun, ia sudah sukses. Kepulangannya ke tanah air untuk mencari karyawan mutasi seperti kami, tampaknya bisa membuatnya sedikit tenang. Sedangkan Kak Kate menggantikan pekerjaannya di negara ini. Hanya saja, setelah ia kembali ke tempat ini, lagi-lagi ia harus dihadapkan dengan sang pujaan hati yang kasihnya belum sampai. Apalagi penghalangnya adalah restu orang tua.


"Ck! Heran saya, Pak. Udah sih balik aja sama Kak Kate. Apa susahnya?"


"Susah sekali. Tapi, Vya. Sejujurnya rasa sukaku padamu itu serius, mungkin sebelum berangkat ke sini."


"Oh ya? Saya nggak percaya, Pak."


"Apa yang membuat kamu nggak percaya?"


"Saya hanya pelarian semata. Saya sangat berterima kasih, karena Pak Fandy banyak membantu saya. Tapi, saya nggak yakin soal perasaan itu. Emangnya apa yang bisa Pak Fandy suka dari saya?"


"Kamu cantik. Kenapa kamu malah memilih kembali pada Andrew? Gimana kalau kamu disakiti lagi?"

__ADS_1


"Cantik? Kalau saya udah nggak cantik, gimana? Saya percaya pada Andrew, dan mungkin Pak Fandy adalah salah satu saksi dari perjuangan Andrew dalam membuat saya kembali ke pelukannya."


"Tapi, kamu selalu cantik, Vya. Bahkan gimanapun kamu memaksakan diri untuk berpenampilan seperti apa, kamu udah diwariskan wajah cantik seperti itu."


"Oh ya? Tapi, Kak Kate jauh lebih cantik, pinter dan sexy. Saya hanya seujung kuku hitamnya."


Affandy menghela napas berat. Ia menjatuhkan kepalanya diatas pangkuan tangganya sembari terpejam sejenak. "Kate memang cantik."


Ucapan terakhirnya itu semakin membuat yakin hatiku bahwasanya dirinya memang mencintai Kak Kate. Dan sejauh mana ia menampik tentang perasaannya, jelas tidak akan mudah menghilang begitu saja. Pengakuan Affandy tentang rasa sukanya kepadaku, hanyalah sebuah pelarian hatinya yang lelah. Beruntung aku tidak menyetujui ajakannya untuk menjalin hubungan, yang ada aku malah menjadi musuh bebuyutan bagi Kak Kate.


Pada kenyataannya, seorang pria juga bisa bersikap labil seperti ini. Dalam urusan asmara pastinya.


"Apa Pak Fandy tahu?"


"Soal?"


"Rencana Kak Kate?"


Affandy mengernyitkan dahinya seketika. "Rencana apa?"


"Soal rencana kepulangannya ke tanah air."


"A-apa? Lalu pekerjaannya?"


"Resign-lah. Kak Kate ingin cepat move on dari Pak Fandy."


"O-oh, begitu."


Rasa terkejutnya melemah seketika. Pandangan mata Affandy mengarah ke bawah, tepatnya pada papan meja. Aku rasa, ia belum mengetahui tentang rencana itu. Ia tampak menelan ludah beberapa kali dan sedang berpikir.


Fandy, Fandy, gengsi amat dah!


Sedangkan diriku malah asyik menyesap minumanku dan menyantap dessert dihadapanku. Sembari menunggu ucapan selanjutnua dari atasanku ini. Angin malam bercampur dengan dinginnya AC ruangan ini merasuk ke dalam pori-pori kulitku. Aku masih menahan rasa maluku, bahkan sesekali aku masih menggaruk dan mengusap tengkukku untuk menghilangkan perasaan itu. Para pengunjung keluar masuk begitu saja, tempat ini masih cukup ramai di jam sembilan malam.


Aku berencana ingin sesekali keluar kencan bersama Andrew di tempat semacam ini. Atau mungkin berkumpul dengan teman-teman. Setidaknya harus dari negara yang sama supaya memiliki kesopanan yang sama.


"Emm ... Vya, apa kamu tahu tanggal keberangkatannya?"


Aku menggeleng mantap. "Enggak, Kak Kate belum bilang soal itu. Lagian saya bukan siapa-siapa hehe."


"Oh ... yaudah."


"Pak Fandy kenapa? Nggak rela ya?"


"Bu-bukan seperti itu."


"Halah ... masa' sih? Awas lho kalau beneran pulang, nanti digaet sama cowok lain."


"Mungkin begitu lebih baik."


Aku terkejut mendengar ucapan itu. "Apa?! Parah banget sih! Usaha dong, Affandy! Ya ampun, gila ya kamu, nggak ada perjuangannya sama sekali. Astaga! Gemes kan gue, jadi panas rasanya."


Setelah menyadari tingkah konyolku, aku mengibas-ngibaskan telapak tanganku seperti layaknya kipas. Aku hanya tidak menyangka Affandy bisa bicara semudah itu. Sebagai seorang wanita, siapa yang tidak ikut emosi? Apalagi aku adalah saksi dari semua penderitaan Kak Kate. Aku pikir, ia menanyakan tanggal keberangkatan adalah untuk mencegahnya. Kejam sekali.


"Ma-maaf, Pak. Spontanitas sebagai wanita."


"Nggak apa. Aku emang mudah menyerah."


"Hmm ... baiklah. Aku sarankan, cepat putuskan tentang perasaan hati kamu, Fandy. Kali ini sebagai teman lama. Aku nggak mau kamu menyesal. Lihat semua upaya Andrew, pada akhirnya aku merasakan ketulusan itu. Tapi, Andrew seorang pria. Dia masih pantas dilihat dalam mengejarku. Tapi, Kate? Dia cewek, Fandy. Mana hati kamu? Restu orang tua, kan? Harusnya kamu bisa datang, berjuang dan meyakinkan dong."


"Tapi, semua nggak sesimpel itu, Navya!"


"Tapi, semua bisa kalau ada usaha!"


"... Tapi, ini bukan pertama kalinya aku berusaha."


"...."

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2