Who Is My Love

Who Is My Love
Keputusan Hati


__ADS_3

Pagi hari yang indah, aku mengerjibkan mataku untuk memperjelas pandanganku. Kamarku yang imut, akhirnya aku bisa melarikan diri malam tadi. Aku tidak segila itu untuk tetap berada di rumah kekasihku. Meski membutuhkan waktu satu jam sampai ia benar-benar tertidur pulas.  Masih mengantuk, karena bergadang yang tidak disengaja. Seharusnya Affandy memberikan hari libur khusus untuk diriku, lantaran ia adalah penyebab dari rasa kantukku pagi ini. Namun, sepertinya harapanku tetap menjadi kemustahilan, pembicaraan kami tadi malam tidak berkaitan dengan pekerjaan.


Lantas, aku harus bagaimana dalam menghadapinya? Sudahkah hatiku menerima Kate? Aku takut jika kami bertengkar lagi suatu saat nanti. Apalagi jika ia harus mengungkit apa yang telah diberikan kepadaku, maksudku menganggap aku akan diam dengan pemberiaannya.


“Uh!” keluhku. Aku mencoba menuruni tempat tidurku. Kuambil ponselku dan melihat waktu, masih jam lima. Pantas, aku masih mengantuk. Rasa hatiku memang tidak cukup tenang. Banyak yang aku bingungkan, ah tidak, hanya Kate saja. Tampaknya aku sedikit berlebihan.


Ingin rasanya aku kembali tidur, tetapi itu tidak mungkin karena merasa tanggung. Pagi ini aku dijadwalkan untuk memasak, ya, memang sih kedua temanku akan membantu. Namun, aku tetap menjadi chef utama.


“Males …,” gumamku pelan. Namun, meski merasa sangat malas, aku tetap bergerak meski asal-asalan. Aku tetap harus bertanggung jawab dengan tugasku.


Kubuka pintu kamarku. Ruang tamu masih gelap gulita, menandakan belum ada yang terbangun dari tidurnya. Kelihatannya seram juga, sehingga aku memencet sakelarnya. Tara! Akhirnya pandangan dan suasana menjadi lebih baik.


Langkahku gontai menuju dapur rumah ini. Sebelum melakukan tugasku, aku akan membasuh wajah, gosok gigi lalu melaksanakan yang perlu dilaksanakan. Baru setelah itu, peperangan menghadapi panci dan wajan akan dimulai.


****


Selang beberapa menit kemudian, aku telah bersiap untuk memotong-motong sayuran, juga macam-macam bumbu yang diperlukan. Mataku terasa pedas karena mengantuk ditambah dengan nakalnya si bawang merah. Pada akhirnya, air mataku jatuh berlinang, tetapi bukan kesedihan melain dua factor yang sudah aku sebutkan.


Suara pintu terdengar di buka, bahkan sampai membuatku terkejut dan sadar dari sikap terkantuk-kantuk. Astaga! Aku hampir ketiduran lagi. Beruntung tanganku tidak terkena tajamnya pisau. Aku mengusap-usap mataku yang masih berair. Setelah itu, aku mencoba berdiri untuk memastikan siapa yang datang.


Ah, ternyata bukan pintu utama yang sedang dibuka, melainkan pintu kamar Raya dan Sinta. Otakku sedang tidak beres rupanya.


“Pagi, Nav. Loyo banget kayaknya, masih ngantuk?” tanya Sinta sesaat setelah ia keluar dari kamarnya.


Aku mengangguk pelan. “Banget, Sin,” jawabku.


“Emm … semalem lembur, ya?”


“Iya, Sin. Lembur tambah-tambah.”


“tapi gue sempet denger pintu dibuka, apa gue mimpi ya?”


Aku menggelengkan kepala. “Itu gue, maaf ya tidur loe keganggu.”


“Loe main ke bawah?”


“Ada urusan, Sin. Pak Fandy dateng.”


“Hah?!” Bibir Sinta menganga. “Ngapain? Malem-malem begitu?”


“Adalah pokoknya mah.” Aku berbalik badan dan menuju dapur untuik melanjutkan aktivitas memasakku.


Dengan gerak yang masih malas luar biasa, aku kembali melanjutkan mengiris para bumbu. Bukan itu saja, aku harus mencuci daging ayam yang masih mengeras karena dimasukkan ke dalam freezer. Ya, kami bertiga telah sepakat untuk membuat sarapan yang lezat, pun meski tidak harus dengan bahan yang mahal. Karena, ketika perut kenyang, hati ikut senang.


Tak berapa lama kemudian, Sinta bergabung denganku, tepatnya setelah ia keluar dari kamar mandi juga melakukan kewajibannya. Ia membantuku mengerjakan yang belum aku pegang, tanpa banyak bertanya aku harus apa. Sedangkan Raya, aku yakin ia masih tidur tengkurap di atas kasurnya, apalagi di masa-masa datang bulan.


“Loe terlibat lagi sama mereka, Nav?”  tanya Sinta tiba-tiba. Tampaknya ia memikirkan kedatangan Affandy tadi malam.


Aku menggelengkan kepala, sembari menumis bumbu di atas wajan dan kompor yang telah aku nyalakan. “Enggak kok, Sin,” jawabku.


“Jangan mempersulit hidup lagi, Nav. Hidup loe udah kacau, mau nikah lagi, kalau bisa jangan ada beban.”


“Maunya sih gitu, tapi masalah ada aja yang nyamperin. Gue juga sempet berantem sama Andrew gara-gara mobil.”


“Lho? Katanya loe udah terima?”


“Iya sih, tapi akhir-akhir ini sikap dia sok kaya banget.”


“Sok kaya?” Dahi Sinta mengernyit, ketika aku memutar badan dan hendak mengambil sayuran yang sudah disiapkan olehnya dan sudah dicuci bersih. “Sok kaya gimana? Kalau mobil doang mah biasa lho, Nav. Maksud gue bukan apa-apa sih, kan, barang itu juga dibutuhin.”


Setelah itu, aku memasukkan sayuran yang itu ke dalam bumbu yang telah aku tumis. Sembari mengatasinya, aku kembali berkata, “Gue tahu, Sin. Tapi, dia sempet bawa gue ke restoran ala Eropa yang menu makanannya harganya selangit.”


Sinta terdiam, entah apa yang ia pikirkan. Aku berharap ia bisa mendukungku bukan Andrew. Hanya padanya, juga Raya aku bisa mencurahkan segalanya dan herannya aku mempercayai mereka. Lagi pula, tidak mungkin menyembunyikan sesuatu ketika kami berada di dalam satu atap rumah.


Terlebih, Sita—sahabatku sudah menikah, ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi cerita hidupku lagi. Aku sangat paham, karena wanita akan berbeda ketika sudah memiliki kehidupan rumah tangga. Hal itu juga yang membuatku bisa lebih dekat dengan Raya dan Sinta daripada Sita.

__ADS_1


“Guys, perut gue melilit banget,” celetuk Raya tiba-tiba. Ia yang sudah terbangun, kini berjalan dengan menekan bagian perutnya yang sakit akibat datang bulan.


“Obat habis, Ray? Gue ada kok,” sahutku sembari menatapnya.


“Iya habis, gue lupa nyetok.”


Sinta berdeham. Kemudian, ia berkata, “Jangan dibiasain minum obat, Ray. Nanti kalau begini, harus ada obat terus.”


“Ya gimana lagi, kalau dibiarin sakit, Sin. Mana, Nav? Gue pinjem dulu.”


“Yaelah pinjem, ambil aja udah. Di laci pertama lemari kecil gue. Gue kagak bisa ambilin, nanti gosong.”


“Thanks, Nav.”


“Sama-sama, Ray.”


Raya berbalik badan, mungkin akan menuju kamarku. Kasihan juga, seseorang yang mengalami penderitaan semacam itu ketika hari pertama memang sakit luar biasa, bahkan tidak sedikit yang bisa pingsan. Aku juga sering seperti itu, tetapi tidak separah Raya. Dan setelah behasil mengambil obat itu, Raya melesat masuk ke dalam kamar mandi. Kelihatannya, ia akan langsung mandi.


“Sorry, Guys. Gue kagak bantu, perut sakit,” ujar Raya setelah menyelesaian ritual di dalam kamar mandi.


Aku mengangguk. “Enggak apa-apa, minum dulu obatnya. Ada sisa roti tawar, buat pengganjal.”


Ia tidak memberikan jawaban dan memilih cepat mengatasi rasa sakitnya.


Sayuran yang aku tumis telah matang dan siap disajikan. Kini tinggal ayam yang sudah direbuskan oleh Sinta. Ah, kerja sama setiap pagi seperti ini rasanya seru sekali, meski bukan bersama keluarga, tetapi beberapa waktu terakhir ini, mereka sudah seperti saudara. Aku teringat saat pertama kali bertemu dengan Raya dan Sinta, mereka mengatakan bahwa aku sangat cantik, bahkan sampai terkenal di lingkup perkantoran. Namun, mereka menyayangkan penampilan baruku pada saat itu.


Lantas, apakah aku memang secantik itu? Sampai membuat para wanita justru merasa kagum terhadap parasku. Entahlah, aku merasa biasa-biasa saja.


Aku berdeham. “Emm … menurut loe, gue cantik, Sin?” tanyaku diiringi gigitan di bibir bawah karena menahan rasa malu.


“Eh?” Sinta menatapku seketika, bahkan nyaris tidak berkedip dalam waktu cukup lama.


“Ah! Lupain deh!”


“Ya, kan, nanya doang.”


“Emang kenapa gitu, tiba-tiba nanya pertanyaan narsis itu?”


“Emm … sebenarnya sikap Andrew akhir-akhir ini, ada penyebabnya.”


“Penyebab?”


Aku mengangguk. “Kata dia ada beberapa orang yang kasih cibiran. Ada juga petinggi perusahaan. Kata dia, mereka pengen kalau Andrew ngelepasin gue, tapi dia enggak maulah. Makanya dia coba mempertinggi gaya, biar dianggep pantas.”


“Hah? Kalian ini sebenarnya sama aja, naif semua. Ngapain sih harus dengerin kata orang. Loe dulu juga gitu sama yang loe bilang geng uler itu, nyampe mati-matian dandan lagi. Belanja baju-baju cantik lagi. Cuma, kalau Andrew, kan, udah perfect tuh penampilannya, cuma dia emang enggak sekaya mereka.”


“Sebenernya, dia itu kaya, Sin. Orang tuanya aja, pengusaha restoran yang cabangnya di mana-mana. Dia itu pengen usaha sendiri, enggak mau sikut hasil dari orang tuanya. Ya sih, mungkin karna dia anak pertama, jadi pikirannya paling beda.”


“Itu justru bagus, Nav. Nanti kalau kalian menikah, orang tua juga bakalan enggan buat ikut campur.”


Iya, aku membenarkan pendapat Sinta. Meski aku dan Andrew harus hidup seadanya di negara asing ini ketika sudah menikah nanti. Karena lebih baik memang menggunakan hasil sendiri. Akan tambah lebih baik, ketika suatu saat kami juga bisa merintis usaha, atau Andrew diangkat sebagai karyawan tetap. Masalahnya, kami ini hanya TKI yang kapan saja akan habis masa kerjanya. Ah, lupakan dulu masalah itu, aku harus segera membereskan masakanku.


Masakan yang sudah matang, aku tuangkan ke dalam mangkuk agak besar. Kemudian kuletakkan secara rapi di atas meja makan. Sedangkan Sinta mengatur minuman dan kerupuk sebagai pelengkapnya. Senyumku merekah lebar, karena sudah berhasil menyelesaikan tugasku pagi ini. Namun, sebelum menyantap hidangan itu, kami akan bergegas mandi secara bergantian terlebih dahulu.


“Astaga!” pekikku. Aku telah hampir sampai di kamar, kini terpaksa berbalik badan.


“Kenapa, Nav?” tanya Sinta ketika ia hendak mandi.


“Belum masak nasi, Sin.”


“Udah.”


“S-siapa yang bikin?”


“Gue-lah, hmm … melek dulu makanya.”

__ADS_1


Aku mengusap tengkukku dan tersenyum malu-malu. “Makasih, Sin.”


“Iye, ya udah gue mandi duluan.”


“Iya, jangan lama-lama.”


“Siap!”


Aku berdiri di hadapan jendela kamar ini. Langit sudah cerah berwarna biru dengan beberapa awan yang menggumpal seperti kapas. Hari ini masih harus kerja, apa aku bisa menghadapi Kate di sana? Dan keputusan apa yang bisa aku ambil agar menjadi sesuatu yang lebih baik? Bisakah kami dekat seperti dulu, seperti yang Affandy mau? Aku masih tidak menyangka, jika Kate sefrustasi itu atas sikapku yang menolak kehadirannya secara mentah-mentah.


Kuhela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Aku berbalik badan dan memilih duduk di atas ranjang. Memang tidak terlalu lama jalinan pertemananku dengan wanita cantik kesayangan Affandy waktu itu. Hanya saja, beberapa momen terhitung berkesan. Aku menganggap dirinya seperti kakak, apalagi aku merupakan anak semata wayang yang tidak memilih saudara, kehadiran Kate cukup berwarna serasa ada pelindung untuk diriku.


“Nav! Gue udah kelar!” Teriakan Sinta membuyarkan lamunanku.


“Ya!” balasku. Kemudian, aku mengambil beberapa helai pakaianku. Setelah itu, aku bergegas keluar dan berencana untuk mandi.


****


“Loe kenapa sih? Ngelamun mulu’? Perasaan yang sakit gue deh?” celetuk Raya ketika kami telah berkumpul untuk menyantap sarapan sebelum berangkat kerja.


Aku menatapnya. “Perut loe udah baikan?” tanyaku kembali.


“Udah nih, kenapa, Nav? Ada masalah?”


Aku menggeleng. “Gue cuma terlalu lebay.”


“Dih!”


“Haha … enggak apa-apa, Ray.”


Kuambil nasi dari baskom yang tepat berada di hadapanku. Lalu, lauk beserta sayuran hasil masakanku beberapa saat yang lalu. Kemudian, bergiliran dengan mereka. Setelah itu, kami menyantapnya Bersama.


Aku kepikiran dengan Andrew, sudahkah ia sarapan? Namun, tidak mungkin aku menyisihkan makanan untuknya. Tetap saja, ada rasa tidak enak kepada kedua teman tinggalku. Ya, semoga saja ia tidak melewatkan makan paginya. Ia cukup rajin dalam hal ini.


“Emm … tadi soal Pak Fandy, jadi diam mau apa lagi, Nav?” tanya Sinta.


“Pak Fandy?” sahut Raya.


Aku menatap mereka secara bergantian. “Ya,” jawabku untuk Raya. Kemudian, kembali berkata, “Dia pengen aku baikan sama Kate.”


“Bukannya udah?” Sinta menghentikan santapan makannya sejenak sembari menatapku.


Aku mengangguk. “Aku cuma maafin dia, enggak buat deket sama dia lagi.”


“Jangan mau!” timpal Raya.


Sinta mencubit lengan sahabatnya itu. “Jangan gitu. Jadi, maksud Pak Fandy biar kamu bisa baikan sama Nona Kate kayak dulu lagi.”


Aku mengangguk pelan. “Menurut kalian gimana?”


“Kalau gue sih enggak, ada peluang kalian bisa berantem lagi.” Raya teteap bersikeras dengan pendapatnya.


Namun, tidak dengan Sinta. Ia tetap bijak seperti biasanya. “Kasih dia kesempatan dan loe jangan merasa paling bener dan lagi, enggak mungkin Pak Fandy nyampe dateng malem-malem kalau si Kate enggak nyesel beneran.”


Mendengar ucapan Sinta, membuat hatiku terhenyak, ya, kali ini yang keterlaluan, mendiamkan Kate selama hampir tiga bulan dan sepertinya aku yang terus menghindar tanpa memberikan kesempatan. Bukan tanpa sebab, melainkan sebab aku tidak ingin terlibat.


Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Kulanjutkan menghabiskan sisa makananku. Nanti, aku akan memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu dengan Kate. Aku juga tidak ingin lagi berada di dalam situasi serba salah seperti ini. Siapa tahu, ketika hubungan kami bisa membaik, hatiku menjadi lebih tenang.


Selang beberapa saat kemudian, kami telah bersiap dengan penampilan khas orang kantoran. Bunyi klakson mobil dari bawah yang juga ulah dari kekasihku membuat kami bergegas lebih cepat. Hari memang semakin siang, jangan sampai terlambat untuk masuk kantor, meski mataku masih saja terasa pedas akibat begadang tadi malam.


Lalu, satu persatu dari kami masuk ke dalam mobil itu. Aku selalu mendapatkan tempat paling depan di samping sang pengemudi yang aku cintai. Ia tersenyum, lalu berbisik, “Kenapa tadi malem kabur?”


Aku hanya memelototinya, berharap ia bisa diam dan segera melajunya mobilnya. Tentu saja, ia cukup peka dengan sikapku. Ia mulai memutar setir mobil dan kami keluar dari pekarangan rumah ini. Salah satu dari kami, yaitu Sinta memilih turun dan menutup pintu gerbang. Setelah itu, Andrew melaju sang mobil menjadi lebih cepat.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2