Who Is My Love

Who Is My Love
Oh Haris!


__ADS_3

Pagi hari yang sebenarnya tidak ingin aku tunggu. Entah sudah pukul berapa, yang pasti cahaya mentari sudah menembus jendelaku yang terhias gorden tipis. Sampai mataku merasakan silau. Sehingga menutupinya dengan selimut tebal. Dingin AC juga membuatku semakin ingin memulaskan tidur di pagi hari ini.


Padahal, hal tersebut tidaklah pantas dilakukan oleh perempuan muda sepertiku. Biarlah, aku sudah tidak peduli. Bayangan wajah Haris memenuhi benakku, membuatku semakin malas untuk bangun. Mengingat lagi tentang rencana lelaki itu hari ini.


Jika, ia memang benar ingin datang. Setidaknya, aku masih memiliki waktu untuk menunda pertemuan. Yaitu dengan mandi, berdandan yang lama dan juga makan. Semua rencana yang kuupayakan dengan baik agar Haris jenuh lalu pergi.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku.


"Sayang, sudah siang lho." Suara Mamaku yang terdengar. Sepertinya beliaulah pelakunya.


Aku diam, berpura-pura untuk tidur. Tidak memperdulikan peringatan dari Mama. Karena kasur ini masih menjadi tempat yang paling nyaman. Mengingat benda inilah yang menjadi saksi atas kesenangan maupun kepedihanku.


"Navya sayang, ayo bangun," ujar Mama lagi.


Lagi-lagi aku diam. Untung saja, pintu kamar sudah aku kunci dengan rapat. Dan hari ini siapapun tidak ada yang bisa menganggu. Aku bisa memiliki waktu lama untuk bercengkerama dengan mimpi. Walau, tetap saja aku tidak bisa tidur dengan pulas di pagi seperti ini.


Beberapa saat kemudian, Mama sudah tidak ada tanda-tanda keberadaannya dibalik pintu. Selimut yang menutupi wajahku, aku buka perlahan. Mengerjipkan mata agar lebih cerah dalam memandang. Ternyata aku memang semalas ini.


Jendela yang terbingkai indah dengan balutan kain tipis, tampak terang terlihat oleh mata. Mentari sudah mampu menembuskan cahaya melalui benda tersebut. Sedangkan teriakan pedagang keliling menyeruak, seolah menggema ke seluruh penjuru kompleks perumahan. Sama halnya dengan aroma masakan dari dapur rumah ini ataupun tetangga. Suara kicau burung sesekali masih terdengar nyaring.


Syahdunya, akan lebih hangat jika disajikan segelas kopi dan roti tawar selai Strawberry.


Saat kutatap jam kecil yang terpasang didinding rumahku, aku menyadari sesuatu. Bahwa hari memang masih berjalan sebagaimana mestinya. Meninggalkan sisa-sisa asa dalam memoriam waktu. Hampir pukul 07.00 WIB, dan aku baru beranjak turun dari ranjang. Rajin sekali bukan?


"Aku harus ketemu Haris, gimana ya?" gumamku bertanya pada diri sendiri.


Kembali lagi pada rasa bimbang. Menemui calon suami yang tidak aku inginkan. Rasa ngilu didasar hati mulai menggerayangi. Oh Haris! Kapan aku bisa terlepas darinya?


Aku mengabaikan tentang hal itu terlebih dahulu. Merebahkan tubuhku lagi pada ranjang kesayangan. Namun mata tidak terpejam, aku membelalak menatap langit-langit kamar. Menyusun setiap rencana yang harus kulakukan. Demi lari dari Haris dan bisa bergegas ke Negara Tetangga.


Namun, lamunanku membuyar. Tatkala ponselku berdering, membunyikan nada dering. Menandakan seseorang sedang menelepon. Tanganku meraihnya, kutatap ponsel tersebut dengan malas. Aku pikir adalah Haris, nyatanya bukan. Tapi Andrew.


Mau apa lagi dia?


"Ya Ndrew, hai?" sapaku dari tempat ini, untuk dirinya yang jauh disana.


Andrew terdengar terbatuk-batuk. "Hai Navya, selamat pagi," ujarnya.


"Kenapa? Masih pagi udah telpon?"


"Nggak kok, kalau aku bilang kangen pasti kamu juga nggak terima."


Helaan napas berat, aku lakukan. Mendengar perkataan Andrew, seolah membuatku merasa bersalah lagi. Aku menjawabnya, "Iya makasih. Aku terima kok."


"Wah! Thank's ya?"


"Yaudah, kalau gitu matiin ya?"


"Jangan dulu dong! Aku mau nanya sesuatu sama kamu?"


"Soal apa lagi?"


"Apa kamu mendapat tawaran itu, Navya?"


Aku diam sebentar. Merasa heran dengan pertanyaan dari Andrew. Tawaran mengenai apa? Sepertinya aku tidak mengatakan apapun pada siapapun. "Tawaran?" tanyaku.


"Ke Singapura?"


"Oh iya... tau dari siapa?"


"Rezky."


"Kalian udah baikan?"


"Udah Navya, jadi mau ikut?"


"Nggak tau."


"Kok gitu?"


"Iya gitu kok."


"Navya aku bakal bantu kamu. Aku tau, kamu sulit memutuskan karena jeratan tali perjodohan itu kan?"


"Sudahlah Ndrew, nggak usah ikut campur."


"Aku kan udah janji, jagain kamu dari jauh. Jadi biarin aku bantu masalah ini ya?"


"Hmm... keras kepala!"


"Kamu harus berangkat, Navya."


"Semoga aja, Ndrew. Udah dulu ya, aku sibuk."


Kumatikan panggilan ini tanpa persetujuan dari Andrew. Berbicara tentang Andrew, membuatku sedikit risau. Meski secara perlahan, aku sudah mengikhlaskan tentang dirinya. Rasa sayangku masih tetap ada. Entahlah, bahkan beberapa kali aku masih merindukannya.


Lupakan itu! Andrew bukan lagi prioritas utama. Ia hanya lelaki yang sempat singgah sebentar. Tidak buruk juga, jika kami masih bisa menjalin pertemanan dengan baik. Semoga kami juga bahagia dengan jalan masing-masing.


Kubangunkan diriku, bergegas keluar untuk mandi.


"Non?" Bi Emi memanggilku, sesaat sebelum aku masuk kedalam kamar mandi.

__ADS_1


Aku menoleh padanya. Lalu menjawab, "Kenapa Bi?"


"Den Haris udah dateng, Non."


"Oh shittt!"


"Yang sabar ya, Non."


Tanpa menjawab Bi Emi, kutundukkan badanku. Menatap gadis kecil yang sedang bergelayut pada pinggang Bi Emi. "Hai Cika sayang?" sapaku padanya.


"Hai Tante," jawabnya.


"Sudah mandi belum?"


"Udah dong, aku kan rajin. Nggak kayak Tante, jorok."


Kuulurkan tanganku. Lalu mencubit pipi Cika yang bulat. Meraupnya dengan telapak tangan lalu mengecupnya dengan gemas. "Iihhh... ngeledek ya. Gemes uh," ujarku.


"Aaauuu... sakit Tante."


"Biarin, weeeek."


"Tante jahat."


"Hahaha."


Kami tertawa. Pesona gadis kecil tersebut memang begitu menentramkan jiwa. Seolah ada semangat tersendiri jika sedang menatap Cika. Membantuku lupa tentang luka yang masih melekat didasar hatiku sana.


Aku tersenyum, sedang Bi Emi mengajak Cika untuk keluar. Kemudian aku melanjutkan gerakanku untuk masuk kedalam kamar mandi. Demi menghilangkan bau badan dan daki yang mungkin menempel ditubuh ini.


Namun, gerakanku tertunda lagi. Tatkala tanganku diraih oleh seseorang. Aku pikir adalah Bi Emi. Namun, ternyata bukan. Mataku terbelalak hebat saat menatap lelaki busuk yang sudah berada disini. Kemana Mama dan Papa, sampai Haris dibiarkan masuk ruangan dalam rumah seperti ini?


Kutepiskan tangannya dengan kuat. Namun, sia-sia. Haris terlalu kuat. Lantas, apa yang akan ia lakukan padaku? Apakah Papa sudah segila itu, membiarkan Haris masuk dengan bebas?


"Haris! Apa-apaan sih loe???" Aku membentak keras padanya.


Haris tersenyum begitu mengerikan. Menatapku dengan tajam, seolah mampu menembus ulu hati. Ia terlihat begitu seram seperti diikuti hasrat yang membara. "Kenapa? Nggak boleh?" tanyanya.


"Ya enggaklah! Gilak aja loe!"


"Tenang aja Navya, nggak ada orang kok. Bokap, nyokap loe lagi keluar tuh. Pembantu loe juga udah gue usir pergi untuk sementara waktu."


Deg!


Jantung seolah ingin meledak. Cengkeraman tangannya begitu kuat sampai membuatku kesakitan. Aku benar-benat takut. Padahal ini rumahku sendiri. Sebenarnya cara apa yang ia pakai, sampai semua orang tunduk padanya? Bahkan orang tuaku.


Haris menangkup wajahku dengan satu tangannya. Mendekatkan wajahnya perlahan diiringi senyum sinis menyeramkan. Sedangkan aku, seolah terpaku dan kaku. Mungkin karena rasa ketakutan yang luar biasa.


"Belum mandi saja, calon istriku masih cantik ya. Masih wangi," ujarnya sembari mengendus-endus bagai seekor anjing.


Dug!


Dengan sekuat tenaga, kudorong tubuh Haris yang begitu kokoh. Sampai ia tersungkur jatuh dilantai depan kamar mandi. Aku berhasil melawannya. Namun, belum selesai. Dengan cepat aku berlari kearah dapur. Haris tampak mengejar dari belakang.


Kuambil sebilah pisau. Namun, bukan kuayunkan padanya. Melainkan menodongkan pada leherku sendiri. Sebagai bentuk ancaman untuknya. Karena bagi Haris tubuhku tidak boleh terluka sama sekali. Aku ingat ia pernah mengatakan itu beberapa waktu yang lalu.


"Jangan deket-deket! Mending gue mati, daripada hancur sama loe!" Ancamku.


Haris terlihat menghela napas berat lalu menghembuskannya kembali. Ia melunak, mengusap wajahnya dengan kasar. "Oke, turunkan pisaunya. Jangan gila, Navya!" ujarnya.


"Loe yang gilak, Haris!"


"Oke, gue. Gue yang gila, gue becandanya keterlaluan sayang. A-aku nggak ada niatan kayak gitu ya, itu becanda. Lagipula ini rumah kamu, nggak mungkin aku seberani itu."


"Nggak! Gue nggak percaya cowok busuk kayak loe!"


"Navya! Busuk? Ahh... gue calon suami loe! Sampai kapan sih loe nganggep gue kayak gitu?"


"Sampai loe bisa jauhin gue."


Haris memejamkan matanya untuk beberapa saat. Sepertinya tengah menenangkan dirinya sendiri. Setelah itu, menatapku lagi. Namun, tatapannya melunak, urat hijau diwajahnya pun sudah hilang.


"Maaf," katanya. "Tolong jangan gegabah, gue cuma bingung. Gimana caranya supaya loe nerima gue. Navya, perasaan gue nggak main-main sama loe. Tapi, loe selalu mikir yang tidak-tidak tentang gue. Gue harus gimana? Gue emang buruk dan busuk, tapi gue masih punya hati untuk mencintai."


Mendengar perkataan Haris membuatku sedikit trenyuh. Mungkinkah ia benar-benar tulus mengatakan itu? Atau hanya sebagian dari rencananya?


Kujatuhkan pisau dilantai. Meski ketakutanku belum memudar, aku tetap waspada.


"Tapi, gue nggak cinta sama loe Ris," ujarku.


"Cowok mana yang bisa bikin hati loe luluh, Navya?"


"Tidak ada."


"Lalu siapa yang telpon loe, tadi malam?"


"Ti-tidak ada kok."


"Jangan bohong!"


"Cukup Ris! Terserah kalau nggak percaya."

__ADS_1


"Navya asal loe tau, gue nggak bisa tidur mikirin itu. Calon istri gue nggak tau sedang bercengkerama sama siapa tadi malam, loe nggak bakalan bisa ngerasain kekhawatiran itu semua kan?"


"Gue bukan calon istri loe!"


Haris kembali marah. Ia melangkah maju kearahku. Ya Tuhan! Bagaimana ini? Papa dan Mama tidak kunjung datang. Bahkan Bi Emi. Kemana mereka semua?


Aku menyesal telah menjatuhkan pisauku. Kalau seperti ini, aku gelagapan sampai panik sendiri. Badanku terasa kaku tidak bisa digerakkan. Lalu, Haris meraih diriku ke pelukannya. Membuat nyaliku semakin ciut. Aku hanya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Haris jangan rusak, jangan rusak diriku." Permohonan seperti ini yang mampu ucapkan.


"Tenanglah," jawab Haris.


Ia semakin merengkuh diriku untuk dipeluknya. Mengusap halus rambutku. Sepertinya sisi kemanusiaan milik Haris sudah bangkit. Meski begitu, rasa takut masih saja tetap ada. Aku takut Haris berbuat tidak senonoh setelah ini. Apalagi jika benar, sikap lembutnya hanya sebagian dari rencananya.


Namun, dugaanku sepertinya salah. Dalam beberapa menit, Haris masih memelukku dengan tenang. Sejujurnya, aku sudah merasa pegal. Rasa takut kini bercampur heran. Ada apa dengan dia?


"Ris?" ujarku.


"Hmm..." jawabnya singkat.


"Tolong lepas."


"Nggak mau. Biarkan gue seperti ini dulu."


Aku menelan ludah dengan ngilu. Sifat Haris berubah begitu cepat. Kini ia terlihat seperti seorang bocah yang haus akan belaian. Lama-lama, hatiku juga melemah. Ada rasa iba tersendiri. Sepertinya, ada sebab yang menyebabkan Haris sampai seperti ini.


Haris kembali mempererat pelukannya padaku. Seolah ia tidak ingin aku pergi jauh. "Navya?" ujarnya, menyebut namaku.


"Iya," jawabku.


"Apa gue nggak pantas bahagia?"


"Bukannya loe selalu bahagia?"


"Bahagia materi? Lalu, bahagia sejati gimana caranya? Apa gue emang sebusuk itu, sampai loe terus-terusan jijik saat deket sama gue?"


Tidak ada yang bisa aku katakan saat mendengar pertanyaan itu. Benakku terus melayang, membayangkan hari-hariku saat bersama Haris. Setiap pertemuan kami, pasti diiringi dengan pertengkaran dan saling hina. Dan aku tidak pernah menampakkan senyum manisku sekalipun untuknya.


Apakah aku sudah keterlaluan? Mengingat Haris tidak pernah sedikitpun mengatakan hal buruk tentangku. Meski terkesan kasar, seingatku ia hanya beujar buruk tentang Papa saja.


"Maaf," ujarku kemudian.


"Gue udah jatuh cinta sama loe. Semua upaya gue seolah sia-sia, Navya. Sebenarnya cowok mana yang bikin loe sampai sekeras hati ini?"


Kucoba mendorong tubuh Haris, untuk melepaskan pelukannya. Namun, tidak berhasil. Tangannya malah semakin kuat merengkuh diriku. "Ris tolong, aku tidak bisa bernapas," pintaku.


"Sorry, tapi gue masih ingin seperti ini."


Begitulah Haris yang keras kepala. Ia tidak mau melepaskan pelukannya. Ia hanya sedikit memberi ruang untukku. Kepalanya tertunduk lemah dibahuku. Seolah sudah lelah dengan segalanya.


Sedangkan aku semakin risih. Bagaimana kalau bau badan, karena belum mandi? Mau bagaimanapun, Haris tetap orang lain. Yang pastinya bisa membuatku malu.


"Ris, gue belum mandi."


"Biarin."


"Loe kenapa sih? Nggak biasanya kayak gini?"


"Nggak apa-apa. Maaf ya, gue udah bikin kaget loe tadi. Tapi sumpah, itu hanya becanda. Mumpung bokap nyokap loe lagi nggak ada. Gue sama sekali nggak ada niat buat ngrusak loe, Navya."


"Becanda? Loe pikir lucu? Gue hampir mati gara-gara itu!"


"Iya maaf."


Akhirnya Haris bersedia melepas pelukannya dariku. Namun, ia masih menatapku tajam. Membuatku semakin risau saja. Sejujurnya ada sesuatu yang membuatku bertanya-tanya. Tentang kebahagian sejati yang Haris tanyakan. Ia terlihat seperti seseorang yang kurang akan kasih sayang.


Ahh... jangan terlalu percaya dengan orang ini. Siapa tau hanya bagian dari rencananya saja.


Aku menepis semua pertanyaanku. Tidak ingin ada kelengahan yang bisa memperburuk hidupku nantinya. Toh, aku ingin lepas dari Haris. Semakin aku menolak, ia pasti bisa membenciku. Lalu kami berpisah. Dan Papa tidak akan memaksaku lagi. Begitulah rencanaku tanpa hasil yang belum mengikuti.


"Yaudah mandi sana, gue tunggu didepan," ujar Haris.


"Iya," jawabku.


"Dandan yang cantik, gue ajak kencan yang wajar."


"Kencan?"


"Iya, tapi gue mohon sama loe. Hari ini bersikap semanis mungkin, layaknya seorang pacar."


"Mana mungkin bisa."


"Bantu gue ngerasain kebahagiaan dari cinta ini, Navya."


"Semoga saja bisa."


Haris berlalu meninggalkanku. Sedangkan aku melanjutkan langkah untuk mandi dengan hati yang masih waspada. Siapa tau Haris akan menggila lagi. Tidak mungkinkan manusia bisa berubah secepat itu? Kecuali kalau ia memiliki kepribadian ganda.


Aku membersihkan diri, menghilangkan setiap kotoran yang menempel. Setelah selesai, kubalutkan pakaian kasual untuk tubuhku. Berdandan senatural mungkin. Mengikuti arahan dari Haris dan menyetujui acara yang disebutnya kencan wajar itu.


Bersambung...

__ADS_1


Budayakan tradisi like+komen.


Sebenarnya masih ada yang baca nggak sih??? Aku jadi was-was juga mau lanjut... hmmm, salahku juga sih udah ngilang. hehehheee


__ADS_2