Who Is My Love

Who Is My Love
Andrew


__ADS_3

Semenjak Rezky menceritakan segalanya padaku. Banyak hal berubah selama beberapa hari ini. Entah wajahku yang selalu murung, tidak pernah berdandan, selera makan yang berkurang serta semangat yang seolah sudah hilang total. Bahkan aku tidak mengeluarkan ponselku sama sekali dari tas selempangku sejak pertemuanku dengan Rezky. Mungkin telah mati karena tidak tersentuh charger.


Meskipun aku tidak menangis sama sekali. Rasa sesak dan sakit di hati pasti ada. Aku juga tidak mengerti mengapa aku sampai seperti ini. Padahal dulu setelah putus dari Nevan hampir setiap hari air mataku keluar selama belum bisa melupakannya. Atau mungkin mataku sudah muak sampai tidak mau mengeluarkan air jernihnya.


Sebagai seorang wanita pastinya akan meluapkan segala amarahnya dengan tangisan. Hal seperti itu, kurasa bisa mengurangi rasa sakit. Bukan seperti aku sekarang. Yang tampak seperti manusia tanpa nyawa.


Seharusnya besok Andrew telah kembali. Seharusnya menjadi momen untuk melepas kerinduanku. Namun semua hanya impian masa lalu. Disaat aku masih tidak tahu-menahu.


"Non, turun yuk kita sarapan." Ujar Bi Emi dari luar pintu kamarku.


"Iya." Jawabku singkat.


"Bibi tungguin ya."


Aku tidak menjawabnya, aku masih duduk pada kursi kecil di depan cermin riasku. Kantong mata yang menghitam menghiasi mataku. Bibirku pucat dengan warna yang sedikit memutih mendekati kulitku. Aku terlihat sangat frustasi. Namun, frustasi untuk apa? Aku tidak berhak menuntut apapun juga bukan?


Masih ada satu hari untuk bekerja di minggu ini, mengingat besok telah datang hari Minggu. Yeah, masih hari sabtu. Aku masih harus bekerja selama setengah hari sampai jam satu saja. Kemudian aku akan kembali tidur dengan kepiluan yang mendalam.


Suara deru mobil membuatku terperanjat. Aku mengintip lewat jendela kamarku. Dan mobil tersebut adalah milik Andrew. Mataku menatap nanar, jantungku berdegup kencang seketika. Diiringi gerak gemetar dari sekujur tubuhku.


"Enggak, jangan kayak gini gue harus tenang tolong tenang hati tolong." Ujarku mencoba sekuat tenaga untuk lebih tegar.


Setelah sedikit tenang, meskipun tidak sepenuhnya. Aku memakai blazer dan mengambil tas yang biasa aku pakai untuk pergi bekerja. Aku beranjak keluar dari kamarku dan menemui Andrew. Tentu saja dengan kegugupan yang luar biasa.


"Non, gak sarapan dulu." Tanya Bi Emi ketika aku sampai di ruang tengah.


"Gak dulu ya Bi." Jawabku.


"Non kalo ada masalah ngomong sama bibi ya. Bibi khawatir sama non."


"Iya bi maaf bikin bibi khawatir. Cika udah berangkat ya."


"Sudah non. Pokoknya selalu sabar ya non hati-hati juga. Den Andrew sudah di depan."


Aku tersenyum menatap Bi Emi yang sedang memegangi tanganku dengan rasa kekhawatirannya. Aku juga merasa bersalah menambah beban pikiran Bi Emi. Mengingat ia bukanlah ibuku. Namun ia lebih dari ibuku.


Setelah berpamitan pada Bi Emi. Aku mulai memberanikan diri untuk melangkah keluar. Tampak Andrew sedang duduk di kursi yang tersedia di terasku. Sebenarnya aku merasa heran mengingat ia seharusnya pulang besok dan sampai disini lusa.


Aku hanya berdiri tak bergeming sembari bersender di kusen pintu tak jauh dari keberadaan Andrew. Pandangan mataku terlempar jauh di hamparan halaman rumahku. Aku lebih memilih menunggu Andrew sampai tersadar jika aku sudah disini. Aku hanya tidak mau menyapanya terlebih dahulu.


"Vyaa?" Panggilnya yang kini telah berdiri dan berjalan menghampiriku.

__ADS_1


"Oh hay." Jawabku.


"Kamu kemana aja?"


"Aku dirumah dan yah ke kantor juga."


Andrew menatap heran padaku. Mungkin hatinya bertanya-tanya mengapa aku bersikap seperti ini. Andai ia tau kalau aku sudah mengetahui semuanya. Entah ekspresi apa yang akan ia tunjukkan.


"Yaudah Ndrew udah siang gue harus berangkat." Ujarku.


"Gue? Berangkat aku anter." Katanya.


"Pasti capek kan? Gak usahlah."


"Vya kamu kenapa sih? ngomong."


"Udah ya udah siang."


Ketika aku akan berjalan menghampiri mobilku dan meninggalkannya. Dengan cepat Andrew meraih tanganku. Ia membawaku kedalam mobilnya tanpa mau mendengar penolakanku.


"Ndreeeewww!!!" Bentakku padanya.


"Enggak pokoknya aku anter."


Dan lagi-lagi Andrew masih tidak mendengar penolakanku. Mau tidak mau aku harus mengikutinya. Mungkin hari ini terakhir kali ya aku bersama Andrew. Terakhir kalinya juga aku akan mendengar ucapan dari mulut manisnya.


Aku hanya terdiam di sepanjang perjalanan. Tanganku terlipat didada. Sembari menatap kosong kearah jalan yang ramai oleh banyak pengendara. Sesekali ku hela nafas sangat dalam untuk menenangkan hati dan tidak menangis.


"Vya kamu kenapa? Kamu kemana beberapa hari ini?" Tanya Andrew.


"Kan tadi udah bilang dirumah aja kalo gak ya dikantor." Jawabku dingin.


"Kamu sakit? kenapa kamu pucet banget?"


"Yeah sakit tapi gak berdarah."


"Vya ngomong kenapa?"


"Ndrew kadang ada sesuatu yang gak bisa ceritakan sama orang kan? Tapi bukannya untuk sesuatu yang salah harus diutarakan sebelum memulai sesuatu yang lebih salah?"


"Maksud kamu?"

__ADS_1


Aku menghela nafas lagi. Dan menyenderkan kepalaku sehingga menengadah lebih ke atas. Mataku terpejam agar masih bisa menguasai diri.


"Ndrew seharusnya kamu tidak memulai hal baru sebelum mengakhiri hal yang lalu." Ujarku lagi, Andrew masih tampak kebingungan mendengar. Entah pura-pura atau memang belum peka.


"Vya? Ini soal apa?" Tanyanya.


"Kemaren acara nikahan sodaramu ya?"


"Iya aku kan udah ngomong. Terus kenapa?"


"Kamu serius itu nikahan kakakmu?"


"Serius Vya lalu siapa lagi coba?"


"Terus cewek manis yang disampingku siapa?"


"Apaaaa?"


Aku telah berhasil membuat Andrew terkesiap dan tersontak kaget saat ini. Wajahnya memerah dan keringat dingin mulai bercucuran dari pori-porinya. Aku hanya menunggu kata apa yang akan ia lontarkan. Alasan seperti apa lagi.


Sialnya Andrew tidak langsung menjawab. Beberapa kali aku mendengar hembusan nafas panjangnya. Mungkin saat ini ia ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Namun aku menangkap raut pasrahnya. Tampaknya ia sudah siap menghadapi masalah ini.


Andrew membelokkan mobilnya kearah jalan yang bukan rute menuju kantorku. Mataku terbelalak, dan spontan menatapnya.


"Lo mau bawa gue kemana???" Sergahku, sembari berusaha menghentikannya agar Andrew tetap menjalankan janjinya untuk mengantarku kerja.


"Aku bakal jelasin semuanya. " Jawabnya.


"Tapi gue mau kerja Ndreww!"


"Aku bakal ngomong sama yang lain kalo kamu izin."


"Ndrew jangan egois!!"


"Vya aku sayang kamu aku sayang banget sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu. Jadi, aku mohon ikut aku dulu."


Keringat dingin semakin banyak membanjiri wajah Andrew. Dan bahkan bola matanya kini menggulirkan air mata dengan raut frustasi. Di kalimat terakhir yang ia ucapkan membuatku terheran-heran. Mengapa ia seperti ini. Andrew menangiskah? Untuk apa? Untuk siapa? Aku?


Aku semakin kebingungan, ingin sekali meloncat dari mobil ini. Namun jika aku mati pasti akan terasa sakit dan menggenaskan, aku masih takut menghadap Tuhan dalam kondisi yang masih banyak berdosa. Sekarang jam telah menunjukkan pukul setengah delapan. Andrew semakin cepat memacu mobilnya. Ia tidak bisa dihentikan lagi.


Semakin lama aku jengah dan menyerah. Mau tidak mau aku menurutinya tanpa merengek lagi. Dan yeah aku tidak tau harus bagaimana di keadaan yang seperti ini.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2