Who Is My Love

Who Is My Love
Geram


__ADS_3

Plak! Itulah bunyi yang dihasilkan oleh telapak tanganku yanh mendarat di pipi Linseyld. Aku menatapnya dengan tajam bak pisau belati yang hendak menembus kedua bola mata miliknya. Tentang perkataan yang merendahkan diriku, aku bisa menahan emosiku. Namun bagaimana jika berkaitan dengan ibuku? Bahkan kedua orang tuaku. Kali ini aku benar-benar sudah marah.


Anak bar-bar tidak jelas pasti keluar dari rahim ibu yang munafik juga, orang tuanya sungguh bodoh karena tidak berhasil mendidik diriku dengan baik. Kedua kalimat itulah yang muncul tanpa rem dari bibir Linseyld. Tentu saja, hal itu membuatku sangat geram luar biasa. Ia siapa? Hanya orang baru yang dibutakan oleh cinta kepada seorang pria yang sejatinya bukan miliknya. Bak seorang psycho yang haus akan kepuasan semata.


Disuatu titik gedung kantor ini, kami hanya berdiri berdua. Semacam sepi tidak ada orang lain, selain kami berdua. Sepertinya ia sudah berencana untuk menungguku dan memberikan banyak perkataan buruk untuk merendahkan diriku. Ia membawaku ke suatu tempat yang berada diarea gudang arsip belakang di kantor ini. Tempat yang jarang didatangi para karyawan, kecuali saat mencari sebuah file lama. Untuk apa? Untuk membuatku mundur dari sisi Andrew yang ia sangat sukai. Wanita ini sangat gila!


Tidak aku perdulikan giginya yang sedang menggertak bersama telapak tangannya yang menutup bekas tamparan dariku. Dalam beberapa saat tadi, ia diam membisu dengan tatapan nanar bak ular melata yang menjijikkan. Namun kemudian, hatiku tergerak untuk menarik kerah bajunya. Tanpa pikir panjang lagi, aku lakukan.


"Lepas!" tegasnya sembari berusaha melepaskan cengkeraman tanganku yang begitu kuat karena tercampur dengan emosi.


"Jangan pernah sekali-kali membawa nama ibu dan ayah gue!" balasku kemudian.


"Oh, kenapa? Benar, 'kan? Loe lahir dari rahim ibu pendusta? Jangan berkilah, semua tingkah loe sungguh memuakkan, Navya! Harusnya loe lepas dari Andrew."


Mendengar ucapannya yang tidak menghilangkan nama ibuku, darahku kembali dibuat seolah mendidih. Semakin kucengkeram kerah bajunya, bahkan nyaris mencekik lehernya. Linseyld kewalahan karena perbuatanku. Ia meronta supaya aku segera melepaskannya. Namun, hal ini belum membuat diriku puas sebelum ia mengatakan kata maaf.


"Pe-perempuan gila! Tolong!" Linseyld sudah kehabisan akal untuk melawan kekuatan emosiku. Keadaan kantor yang sudah sepi tidak membuat permintaan tolongnya mampu didengar orang lain.


"Loe yang gila! Udah gue bilang, jangan bawa-bawa nyokap gue!" Kutekan terus jari-jariku sampai membuatnya hampir mendelik.


"Le-lepas, to-tolong lepas. Le-lepas."


"Sial!" Kuhempaskan tubuh Linseyld seketika itu juga. Ia jatuh di lantai sembari terbatuk-batuk. Karena emosi yang berlebihan, aku hampir saja membunuhnya. Kali ini bukan karena Andrew, melainkan orang tuaku.


Linseyld tampak terengah-engah, dirinya belum mampu bangkit dari posisi tersungkurnya. Aku mengusap wajahku dengan kasar menggunakan kedua tanganku. Bagaimana bisa aku berlaku se-demikian rupa? Seperti bukan diriku saja. Meski sudah separah itupun, tidak membuat Linseyld berucap kata maaf.


"Loe gila, Navya. Harusnya Andrew nggak boleh sama loe! Perempuan nggak jelas! Nggak punya tata krama!" Lagi-lagi, ia berkata demikian. Orang itu tidak ada rasa kapoknya sama sekali. Bahkan buliran air mata keluar membasahi pipinya. Apa yang terjadi kepadanya? Cinta atau obsesi semata?


Aku menghampiri dirinya lagi. Aku berkacak pinggang tepat dihadapanny yang belum bangkit sama sekali. Tatapan ngeri dan nanar kembali aku berikan, sebagai sebuah bentuk ancaman. "Gila? Loe bilang gue gila? Terus loe apaan dong? Mengharapkan pacar orang yang nggak pernah suka sama loe?" tanyaku.


"Gue mau nyelametin Andrew dari perempuan gila macam loe!"


"Oh ya? Berhasil? Nggak, 'kan? Yang ada Andrew makin cinta kok sama gue. Kenapa? Iri, cemburu? Emm ... di-PHP ya? Kasian."


"Perempuan gila! Anaknya orang gila!"


Plak! Sekali lagi, kulayangkan telapak tanganku pada wajah Linseyld sesaat setelah aku menunduk. Tidak hanya sekali, bahkan sampai empat kali. Ia meraung menangis, minta ampun. Beruntung tempat ini jauh dari posisi CCTV.


"Navya! Berhenti!" Seruan dari seseorang sungguh mengejutkanku. Seketika itu, aku menoleh ke arah sang pelaku. Affandy? Mengapa ia belum kembali? Padahal hari sudah semakin sore.


Aku memposisikan diriku untuk berdiri tegak dan menghadap dirinya. Ia berjalan menghampiri keberadaanku. Tiba-tiba, Linseyld bangkit dan mendatangi Affandy. Ia meronta-ronta bak korban kekerasan, meskipun itu benar. Perempuan yang hidupnya penuh sandiwara, bukan?


"Pak, tolong, Pak. Saya habis dianiaya sama perempuan itu, Pak. Ini memar dibeberapa bagian tubuh saya, Pak. Tolong, Pak. Tolong bantu pecat dia," rintih Linseyld kepada Affandy.


Sial!


Meski merasa tidak enak hati, aku tetap berdiri tegak bak tidak merasa bersalah sama sekali. Affandy hanya menenangkan Linseyld dengan beberapa ucapannya yang tidak aku dengar dengan jelas. Aku mendekap tubuhku sendiri dan bersikap lebih angkuh. Sepertinya Affandy akan memarahiku. Sekalipun tidak, ia pasti akan merasa kecewa terhadap diriku. Baiklah, tidak mengapa. Ini konsekuensi yang harus aku terima. Berharap aku tidak sampai dipecat ataupun dituntut. Mau bagaimanapun semua yang aku lakukan adalah sebuah bentuk pembelaan diri, bukan?


"Bagaimana bisa kalian ada di tempat ini pada waktu yang seharusnya kalian gunakan untuk beristirahat?" tanya Affandy. Aku bahkan tidak menduga ia bisa datang kemari. "Kalian tahu, 'kan? Tempat ini gudang arsip-arsip lama yang bahkan jarang digunakan."


"Dia yang menyeret dan memaksa saya ke tempat ini, Pak. Dia dendam karna merasa cemburu pada saat saya bekerja dengan pacarnya," jawab Linseyld dengan cepat sebelum aku berhasil menjawab lebih dulu.

__ADS_1


Affandy menatapku penuh tanda tanya. Aku hanya menyeringai saja. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk menjawabnya, "ya, saya. yang menyeret perempuan itu ke tempat ini. Lumayan kan sepi, nggak ada yang tahu kalau saya menyiksa dia," jawabku.


Ucapanku membuat Linseyld seketika terkejut. Mungkin ia mengira aku akan membela diri dengan menyanggah ucapannya. Bah! Aku tidak akan merendahkan diriku sendiri dihadapannya. Meskipun hal ini akan membuat Affandy semakin kecewa terhadapku. Nanti akan aku luruskan ketika si wanita ular telah pergi.


Affandy merasa tidak menyangka. Ia bertingkah seakan bimbang atau mungkin memang benar. Ia menghela napas dalam, kemudian ia hembuskan kembali. "Nona Linseyld pulanglah, istirahat. Emm ... mohon jangan memperpanjang masalah ini, apalagi ke ranah hukum. Kalau anda ingin tetap bekerja di tempat ini, jadi mohon turuti intruksi saya. Saya sendiri yang akan menentukan hukuman bagi yang bersalah. Untuk sekarang Nona Linseyld diharapkan pulang dulu," ujarnya.


Linseyld mengangguk. "Ba-baik, Pak. Terima kasih," jawabnya sembari menatapku tajam. Setelah itu, ia berlalu pergi dengan langkah yang sedikit terseok. Aku rasa punggungnya terasa nyeri akibat kuhempaskan ke lantai beberapa saat yang lalu.


Kini hanya ada aku dan Affandy yang berdiri di tempat ini. Entah apa hukuman yang akan aku dapatkan darinya. Aku hanya bisa pasrah, karena bagaimanapun ini tetap kesalahanku. Bahkan, aku nyaris membunuh wanita itu. Seandainya ia menuntutku pun bisa saja. Disini aku baru merasa menyesal atas apa yang aku lakukan. Oh, seandainya Andrew sedang tidak ada janji bersama teman prianya, aku pasti tidak akan menghadapi hal semacam ini. Dan sekarang, aku malah harus menghadapi Affandy.


"Ikut aku," ajak Affandy kepadaku.


Aku menggeleng pelan. "Tidak, Pak. Saya harus pulang, saya lelah. Hukumannya besok saja ya?" jawabku.


Tanpa memperdulikan permintaanku, ia tiba-tiba saja meraih tanganku. Dengan langkah sedikit tergesa, ia mengajakku untuk pergi dari tempat ini. Kami berjalan bersama, tanpa aku tolak sama sekali tautan tangannya pada telapak tanganku. Walau sebenarnya genggaman tangannya membuatku tubuhku bergetar. Mungkin karena terlalu terkejut. Lalu, kami menuju ke area parkir.


"Hei, hei, apaan sih?!" tanyaku tegas. Kali ini kuhempaskan tangan Affandy sampai terlepas. Ia menghentikan langkahnya sama sepertiku. Dahiku berkerut, wajahku kembali masam. "Mau kemana? Kok maksa?"


"Ikut aja. Anggap aku sebagai teman, bukan sebagai atasan kali ini. Banyak yang perlu kamu jelasin padaku, Navya."


"Emm ... ya, baiklah. Tapi, jangan sekarang. Aku capek, Fandy."


"Hanya sekedar makan."


"Aku belum lapar."


"Makan nggak harus menunggu lapar. Ikut aja."


Affandy membukakan pintu mobilnya untukku. Dengan rasa enggan, aku mematuhi permintaannya. Setelah itu, ia berbalik dan masuk ke tempat kemudi. Perlahan dipacunya mobilnya untuk meninggalkan gedung kantor ini.


"Emm ... ngomong-ngomong, ke-kenapa kamu belum pulang, Fandy?"


"Aku sering lembur. Kebetulan ada file yang aku butuhkan di tempat tadi. Sepertinya aku sedang diutus Tuhan untuk melerai kalian."


"Emm ... ya, mungkin. Emang nggak bawa tas?"


"Ada didalam ruang kerjaku. Setiap kali keluar, meski sebentar, aku selalu mengunci pintunya. Jadi, aman."


"Oh begitu. Kak Kate dimana?"


"Kate pulang lebih awal karna ada urusan. Andrew sendiri kemana? Kenapa biarin kamu sendirian?"


"Ada urusan juga."


"Dia nggak bisa menjagamu."


"Nggak kayak gitu kok. Dia selalu menjagaku."


"Hmm ... ya, ya, baiklah."


Hening, itulah yang terjadi diantara kami setelah berbincang sebentar. Hanya deru mobil yang terdengar sedang menerobos panjangnya jalan aspal. Aku tidah tahu, Affandy akan membawaku makan dimana. Hari yang beranjak petang, sejujurnya membuatku gelisah. Aku takut jika Andrew mencariku dan kami salah paham lagi. Namun apa daya, aku masih berhutang penjelasan kepada Affandy. Demi posisiku di perusahaan itu, aku masih membutuhkan bantuannya supaya aku tidak dipecat ataupun dituntut nantinya.

__ADS_1


Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Kuarahkan pandanganku keluar jendela mobil. Bayangku melayang bernostalgia dengan kejadian pertengkaranku dengan Linseyld yang belum lama terjadi. Sebenarnya apa yang sedang aku lakukan tadi? Hampir kucekik dirinya, bahkan sampai kesulitan untuk bernapas. Sepertinya aku sudah gila seperti yang ia katakan.


Jika saja tidak membawa-bawa nama orang tua, mungkin aku masih bisa bertahan. Selama ini aku hanya diam dan menganggap ucapan wanita itu bersama kedua temannya hanya sebagai angin lalu. Entahlah, aku tidak mengerti, mengapa ia sampai membenci separah itu. Apa mungkin karena hubunganku dengan Andrew yang sempat aku sembunyikan? Dengan begitu, Linseyld amat mengharapkan Andrew bisa menyambut perasaannya. Namun, pada saat hubungan kami terkuak, ia benar-benar sakit hati.


Hmm ... herannya dia nggak tahu diri banget sih!


Tiba-tiba Affandy berdeham sedikit keras. Hal itu membuatku tersadar atas lamunanku. Aku menoleh ke arahnya demi memastikan apa yang sedang ia lakukan. Tanpa kami sengaja, tatapan mata kami bertemu. Seketika aku langsung membuang pandanganku darinya. Malu. Disisi lain aku merasa aneh, mengapa perjalanan ini tidak kunjung sampai? Aku akan dibawa kemana? Sejak tadi pun mobil ini dilaju pelan olehnya. Beberapa titik jalan juga mengalami kepadatan kendaraan.


"Hei, Vya." Affandy kembali memanggilku.


Aku menoleh ke arahnya. Ia hanya tersenyum sekilas. "Apa?" tanyaku.


"Nggak, mau tanya sesuatu aja. Ngomong-ngomong kamu kenal dengan Tuan Nevan--investor baru kita? Heran deh, dia nanyain soal kamu terus. Aku agak penasaran, tapi enggan untuk bertanya. Soalnya nggak akrab diluar pekerjaan."


"Dia mantanku."


"Hah?! Mantan? Tuan Muda Nevan?"


"Kenapa? Aneh?"


"En-enggak sih. Maklum juga, kamu cantik. Sebelum penampilan barumu, kamu kayak artis Korea."


"Haha ... sekarang malah kayak preman pasar ya? Hampir bunuh orang."


"Emm ... apa kamu masih trauma dengan masa lalu perjodohan itu? Sampai kamu nggak mau kembali pada dirimu sendiri, semua sikap dan sifatmu berubah total. Sejujurnya, kamu malah lebih labil dan kurang bersabar daripada dulu."


Aku hanya mengangguk ketika mendengar pertanyaan dari Affandy. Semua dugaan yang ia berikan kepadaku, sepertinya benar dan tepat dengan gambaran diriku saat ini. Aku masih kerap takut, bahkan ketika berdua bersamanya seperti ini. Genggaman tangannya tadi pun berhasil membuat tubuhku sedikit gemetar, apa mungkin karena trauma yang masih sedikit tertinggal? Mungkin hanya Andrew saja yang bisa membuatku tenang. Ya, hanya ia seorang.


"Kilasan bayangan buruk dimasa lalu, masih membekas di benakku, Fandy."


"Aku tahu, masalah itu hampir merenggut sesuatu yang berharga darimu, Navya."


"Sebenarnya, aku udah ada rencana untuk kembali pada diriku sendiri. Banyak barang yang udah aku beli, tapi aku masih takut."


"Kenapa? Nggak ada orang sejahat dia lagi sekarang."


"Aku tahu, bahkan aku bukan apa-apa kalau dibandingin sama cewek-cewek cantik di tempat ini."


"Hmm ... setiap orang punya kadar kecantikan masing-masing, Navya. Alangkah baiknya kalau kamu bisa menjadi dirimu sendiri, Navya. Jujur aja, kamu yang sekarang ini malah nggak bagus daripada saat dulu."


"Nggak, mau dulu atau sekarang. Aku tetep sama aja, cewek sombong yang bahkan nggak punya apa-apa. Kamu cuma belum mengenalku terlalu dalam, Fandy. Sifatku udah busuk sejak dulu."


"Salah, setiap orang pasti punya sisi baik dan buruk. Nggak semua dari kamu itu selalu buruk."


Aku menghela napas. "Aku harap juga begitu. Tapi ... aku malah hampir bunuh orang. Jahat, 'kan?"


"Lupakan soal itu. Nanti kamu jelasin perlahan aja sambil makan. Aku tahu ada sebab sampai kamu melakukan hal itu."


Mobil ini diarahkan ke suatu restoran oleh Affandy. Kemudian, ia memarkirnya dengan tenang di area yang disediakan. Kami turun bersama dan melangkah menuju bagian dalam restoran. Berharap penjelasanku bisa diterima oleh Affandy, bahkan ia bisa bersedia membantuku untuk menghindari segala resiko atas perbuatanku.


Maaf, kali ini aku membutuhkan koneksi dari dirinya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2