Who Is My Love

Who Is My Love
Hati Navya


__ADS_3

****


"Vya!" seru Andrew kepadaku.


Namun, aku tidak menggubrisnya sedikitpun. Langkahku semakin cepat dalam menyusuri koridor gedung ini. Aku belum siap untuk mendengar segalanya darinya. Dan secara tidak langsung aku telah menyakiti hati banyak orang.


"Navya, tunggu!" seru Andrew lagi kepadaku.


Kakiku tiba-tiba terantuk sesuatu dilantai, saat hendak membelokkan arah. Tentu saja aku terjatuh ke depan.


"Dibilangin tungguin kok," katanya. Ia membantuku.


"Apa sih?!" tanyaku tegas kepadanya.


"Kita mulai dari awal ya?"


Aku marah seketika. Boleh saja, Andrew memutuskan kekasihnya, namun tidak seperti ini. Baru beberapa hari terjadi, lalu ia sudah tidak sabar untuk bersamaku kembali. Meski, aku memang masih sangat mencintainya. Bahkan setiap hari, dirinyalah yang mengisi benak dan hatiku. Membuat sosok Haris, menjadi tidak bermakna.


Aku menegaskan tatapanku kepada Andrew. Berharap ia bisa berhenti bertingkah konyol. Ia memang berhenti untuk sejenak, namun tatapannya sendu. Bola matanya berkaca-kaca. Aku hanya bisa menelan ludah saja. Selemah inikah dirinya?


"Aku butuh waktu, Ndrew," ujarku. "Sisa rasa kecewa itu masih tetap ada."


Andrew memajukan langkahnya dan memelukku seketika. Sontak saja, aku terkejut luar biasa. Apalagi ini masih didalam lingkup perkantoran. Aku khawatir ada seseorang yang melihat. Pasti gosip tidak jelas akan merebak.


Saat aku berusaha melepaskan pelukannya, tiba-tiba Affandy datang dari arah belakang Andrew. Ia menatap kami dengan tatapan terkejut. Setelah itu, ia berpura-pura tidak tahu dan melangkah tanpa memperdulikanku sekalipun. Aku mengerti, karena ini bukan urusannya. Aku hanya merasa tidak enak kepadanya yang notabene adalah dewan direksi perusahaan ini. Bagaimana jika Affandy melaporkan kami kepada atasan langsungku? Pastinya aku akan terkena omelan panjang karena mencampuradukkan masalah ke dalam pekerjaan.


"Andrew!" seruku. "Lepasin!"


"Nggak! Jawab dulu, kamu masih sayang sama aku kan?" tanyanya kembali.


"Yang pasti aku kecewa sama kamu!"


Andrew melepaskan pelukannya, namun mencengkeram lengan tanganku dan membawaku pergi. "Kamu harus ikut aku dulu."


"Ma-maksud kamu apa? Kemana? Lepasin tanganku, sakit!"


"Aku butuh ngomong. Kita butuh ngomong dulu, Navya."


"Ngomong apa lagi? Gue udah dijemput sama Haris!"


"Aku tidak peduli!"


"Andrew! Sejak kapan kamu kasar begini sih?!"


Andrew sama sekali tak menggubrisku. Ia terus membawaku berjalan, masuk ke dalam lift, lalu kami turun. Sesampainya di lantai dasar, kami semakin mempercepar langkah. Maksudnya langkah Andrew yang semakin cepat, sampai aku kewalahan. Tangannya tak lepas sedikit pun dariku.


Sedangkan suasana kantor sudah begitu sepi. Tak ada yang bisa menolongku, untuk meronta saja, aku tak kuasa. Khawatir jika hubungan pertengkaran kami terekam di cctv. Tentu saja akan berdampak pada pekerjaan. Belum lagi harus masuk ke ruang konseling karyawan. Yah, perusahaan ini memang sangat disiplin.


"Masuk, Navya," pinta Andrew kepadaku, sesaat setelah kami sampai dihadapan mobilnya.


"Nggak mau! Gue mau balik, gue udah dijemput!" tolakku.


Andrew masih tidak peduli, ia berusaha menekan diriku untuk masuk ke dalam mobil miliknya. Akhirnya aku yang kalah. Kusenderkan kepalaku pada badan kursi depan, dengan pasrah. Nasib miris ini harus terjadi. Apa yang akan kukatakan kepada apa dan Haris, nanti? Kepulanganku tak bersama lelaki itu. Bagaimana jika ia masih menungguku didepan gedung ini? Pasti pertengkaran hebat akan terjadi lagi.


Andrew masuk ke dalam mobil ini. Ia menghela napas sangat panjang, lalu dihembuskan lagi dengan frustasi. "Maaf...," ujarnya lirih.


Tetesan air mata tak terbendung lagi dari kelopak mataku. Menetes, mengalir membasahi pipiku. Meski begitu, ekspresi wajahku masih datar ke depan. Mengikuti laju kendaraan Andrew. Sedangkan, benakku melayang tak jelas. Membayangkan tentang nasib Haris. Oh... padahal hubungan kami sudah mulai membaik. Namun, lagi-lagi ada masalah yang memperkeruh semuanya. Padahal, aku sudah bisa memperlakukan Haris dengan baik. Namun, harus terhambat dengan keputusan Andrew yang tak terduga. Seolah semua sudah digariskan untuk kujalani.


Deru mobil Andrew semakin terdengar kencang. Kami masih saling diam didalamnya. Penuh dengan perasaan kecamuk didalam masing-masing hati. Tekatnya untuk bersamaku terlihat begitu besar, sedang aku masih diawang-awang. Rasa kecewa, marah, namun masih sayang dan cinta. Lantas, perasaan mana yang lebih besar? Aku tahu, Andrew pun sudah berkorban untukku. Tapi, aku bingung sekali.


"Vya? Kamu tau, makna dirimu buat aku begitu besar." Andrew mengatakan sepertibiti lagi.


"Aku tau," jawabku singkat.


"Maaf, kalau kasar. Aku nggak tau harus gimana lagi, biar kamu bisa ngomong lagi sama aku."


"Tapi kan, kita udah sepakat, Ndrew. Dulu!"


"Nyatanya, aku nggak bisa lupain kamu gitu aja. Akhirnya aku menyudahi semuanya, hanya demi sama kamu."

__ADS_1


"Sekalipun kamu sama aku lagi, apa kata orangtua kamu nanti, Ndrew? Aku ini diibaratkan sebagai orang ketiga didalam hubungan kalian."


"Nggak! Kamu bukan orang ketiga, tapi aku yang bersalah. Semua akan aku pertanggung-jawabkan. Aku akan perjuangin kamu lebih dari ini."


"Haah?! Terserah! Aku capek!"


Ponselku terus saja berdering. Saat aku meraih dan memainkannya, ternyata adalah Haris. Aku menggigit bibir bawahku karena bingung, antara didiamkan atau diangkat. Jika, didiamkan pasti ia akan menerka-nerka. Namun, jika diangkat, bagaimana kalau Andrew mengeluarkan suara?


Astaga! Jatuhnya, gue kayak lagi selingkuh.


Akhirnya aku memilih untuk mendiamkan panggilan dari Haris. Semoga saja, Haris memikirkan jika diriku tengah sibuk atau lembur. Karena aku tidak ingin bertengkar dengannya lagi.


Beberapa saat kemudian, kendaraan ini telah sampai di apartemen, tempat tinggal Andrew. Tempat yang sudah lama tidak aku kunjungi. Aku tidak habis pikir ia akan membawaku ke tempat ini. Padahal disana banyak kenangan tak baik bersamanya. Awal kali Andrew mengecupku dan aku sangat malu jika mengingat itum. Hubungan tanpa status yang tetap kupertahankan tanpa aku ketahui, sejatinya Andrew itu milik siapa.


"Ke-kenapa? Kesini?" tanyaku.


"Karna ditempat ini, kita bisa banyak berbicara. Dan... banyak kenangan indah kita, Vya," jawab Andrew.


"Indah katamu? Ndrew, yang ada aku berbuat dosa bersamamu, aku cuman selingkuhan kamu!"


"Navya! Please, aku kan udah jelasin Lusi hilang selama beberapa bulan saat aku sama kamu. Dia datang tiba-tiba dengan kabar dari orangtua kami. Tapi, aku sekarang udah nggak bisa sama dia. Aku sayang sama kamu, kamu juga udah baca chat itu kan?"


"Tetep aja, Ndrew! Kesalahan itu melekat pada diriku. Aku benci kayak gini!"


Andrew diam, ia turun dari mobil. Kemudian membukakan pintu untukku. Lagi-lagi, lenganku dicengkeram olehnya. Karena kesakitan, akhirnya aku melepaskan diri dan mengikutiny dari belakang. Mungkin ini adalah jalan satu-satunya. Lagipula, tidak ada salahnya untuk memberikan kesempatan kepadanya. Maksudku untuk saling berbicara. Jika selain itu, aku tidak tahu. Karena hatiku masih dirundung rasa kecewa.


Langkah kami berjalan gontai secara bersamaan. Tanpa suara dan terus berjalan menyusuri lantai gedung apartemen ini. Pikiranku telah kosong, aku tidak bisa memperkirakan segala kemungkinan lagi. Dalam artian, aku sudah menyerah dan berjalan sesuai apa yang terjadi sekarang.


Tak lama kemudian, sampailah kamu di kediaman orang yang masih kucintai ini. Aku hanya bisa menelan ludahku saja, saat menatap Andrew perlahan membuka pintu apartemennya. Sungguh sulit dimengerti, akhirnya aku datang ke tempat ini lagi. Setelah semua kebohongan yang telah Andrew lakukan. Namun, satu sisi lain, ia sangat frustasi tatkala berpisah denganku.


"Masuk, Navya," katanya.


Aku diam dan mengikuti langkahnya. Bukan! Ia yang menggenggam tanganku lagi. Sampai akhirnya aku bersedia masuk ke dalam. Oh... sungguh munafiknya diri ini.


"Duduk dulu," kata Andrew lagi.


"Ya," jawabku.


Terlebih, sifat Andrew saat itu, sangat berbanding terbalik dengan Nevan. Jauh sekali, bagaikan langit dan bumi. Yah, aku paham karena Nevan orang berada dan Andrew hanya karyawan biasa yang masih menumpang tempat tinggal pada kerabatnya. Ironisnya, sikap baiknya harus tercoreng dengan masalah percintaannya.


Andrew datang kembali, setelah ia berlalu meninggalkanku duduk disini. "Minum ya? Cuma ada cokelat hangat, mungkin pas untuk cuaca hari ini. Mendung," ujarnya.


"Thanks," jawabku.


"Kamu pasti kecewa sama aku ya? Aku terlalu kasar ya? Maaf, aku nggak tau harus gimana lagi."


"Ndrew? Sebenarnya apa yang membuat kamu, se-jatuh cinta ini sama aku? Apa karna aku cantik? Atau aku bodoh? Atau aku mudah dibohongi?"


"Ti-tidak! Aku pun tak mengerti, Navya. Aku bener-bener hancur tanpa kamu. Aku sayang banget sama kamu Navya. Sumpah! Demu Tuhan, demi apapun!"


"Tapi kenapa kamu bohong, pada saat itu?"


"Aku terlalu takut kamu pergi."


"Lalu, kalau aku sama sekali belum tau. Apa kamu bakal nyembunyiin selamanya? Dan berjalan dengan dua wanita?"


"Tidak! Aku berencana untuk menyudahi hubunganku dengan Lu... emm... dia sebelum kamu tau."


Aku meneguk cokelat hangat tersebut. Lalu menatapn Andrew lagi. "Iyakah?"


"Iya, nggak mungkin aku menikahi dua wanita."


"Mungkin saja, toh, kamu bisa mendekati dua wanita."


"Vya, please... aku tau aku salah, tapi aku pun udah menyudahi semuanya sama dia demi kamu."


Itu memang benar. Namun, aku juga begitu sulit melupakan semua itu. Ada saat, dimana aku meratap dalam hati. Ada saatnya juga, aku merindu dalam hati. Lantas, aku harus bagaimana tentang isi hati ini?


Andrew masih menunduk lesu. Mungkin, ia berdo'a dalam hati, agar aku bisa kembali ke dalam pelukannya. Peluhnya terlihat membasahi keningnya, meski ruangan ini menggunakan AC. Entahlah, aku tidak tahu pasti, apa yang ada didalam pikirannya. Fokusku tertuju pada wajahnya yang selalu kurindukan, wajah lembut yang masih aku cintai, namanya yang masih melekat didasar hati.

__ADS_1


"Tapi, aku udah mau nikah, Ndrew...," ujarku lirih.


Sontak saja Andrew menatapku. Kemudian berdiri dari duduknya, ia menghampiriku dan duduk disatu sofa bersamaku. Tatapannya begitu tajam, seolah mampu menembus jantung dan membuatnya melemah. Aku rasa, Andrew sedang terkejut bukan kepalang.


"Menikah? Kamu setuju?" tanyanya kemudian.


"Maybe, kemarin kami perlahan bisa membuka diri. Aku rasa, ada kesempatan untuk mengenal lebih jauh," jawabku.


"Nggak! Nggak boleh, Vya! Aku udah melakukan sejauh ini."


"Itu juga udah bagus buat kamu. Bukannya kamu udah nggak cinta sama Lusi? Seandainya nggak bersamaku, kamu bisa mencari orang lain yang lebih baik. Karna mau bagaimanapun, hubungan kita udah tercoreng masalah yang berat. Ndrew, jalan kita memang harus berpisah."


Wajahnya yang sayu, kini menjadi pucat pasi seketika. Tangan Andrew yang sudah meraih tanganku, kini gemetaran pula. Sebenarnya, aku tak sampai hati untuk mengatakan ini. Namun, memang harus aku katakan. Lagipula, kebersamaan memang sudah menjadi kemustahilan. Haris tidak akan tinggal diam, belum lagi hutang papaku. Semua akan semakin runyam jika aku kembali kepada Andrew.


Meski, rasa cinta masih begitu besar. Rasa ingin memeluknya pun harus ketahan. Bukan hanya itu, aku tertunduk lemah menahan air mataku. Aku tidak ingin Andrew menyadari tentang perasaanku kepadanya. Semoga ia bisa mengerti. Meski, semua akan terasa berat setelah semua yang ia lakukan untukku.


Tiba-tiba Andrew memeluk diriku lagi. Ia berkata, "Aku nggak bisa kehilangan dirimu untuk kedua kalinya, sayang."


"A-apa maksudmu? Lepasin, Ndrew! Kita udah bicarain ini berkali-kali bukan?" tanyaku kembali.


"Aku bisa gila."


"Nggak! Itu mustahil! Lepasin, Andrew."


"Hahaha... aku sudah benar-benar gila!"


"Ndrew, jangan bodoh. Kamu harus tau posisi aku juga sangat sulit. Aku mohon mengerti!"


Ia melepaskan pelukannya dari diriku. Ia menatapku lagi dengan keheranan. "Apa yang buat kamu kesulitan? Sebenarnya atas dasar apa perjodohan itu terjadi?"


Keraguan mulai terpupuk dan tumbuh seketika. Haruskah aku menjawab dan menjabarkan semuanya kepada Andrew? Namun, jika ia tetap tak mengerti bagaimana? Mungkin, jika ia bisa mengerti, ia bisa melepaskanku.


"Navya? Jawab!"


"Kenapa kamu mau tau urusanku sih?!"


"Karna kamu belahan jiwaku. Aku nggak mungkin biarin kamu menderita, dan menikah sama orang yang nggak kamu sukai."


"Ka-kamu tau, Ndrew? Hutang ayahku menumpuk pada keluarga Haris, kalau aku tidak menyetujui itu, gimana nasib papa?!"


"Lepaskan semuanya. Mari ke Singapura, aku akan daftar. Kita pergi berdua, aku janji aku bakal bantu melunasi hutang papa kamu."


"A-apa?"


Lidahku kelu seketika, bola mataku terbelalak lebar penuh tanda tanya. Bagaimana mungkin, hal itu terucap dari bibir Andrew tanpa keraguan sedikitpun? Padahal, ia sendiri adalah orang biasa yang jauh dari kekayaan. Ia harus banting tulang demi hidupnya dan mungkin keluarganya. Hanya demi aku, ini tidak boleh terjadi!


Kuhempaskan tangan Andrew dariku. Aky menjauhkan diriku darinya. "Jangan! Itu mustahil!" seruku.


"Mustahil? Kenapa? Kamu nggak mungkin jatuh cinta sama dia kan?" tanya Andrew.


"Meskipun tidak, tapi hutang papaku banyak. Dan Haris nggak akan tinggal diam kalau kamu ikut campur. Kamu sendiri bukan orang kaya, Andrew!"


"Aku nggak peduli, kalau itu demi kamu. Navya, aku sayang kamu. Aku pengen nikah sama kamu."


"Nggak, Ndrew! Semua nggak sesimple pemikiran kamu. Aku harus pulang."


Aku beranjak berdiri. Namun apa daya, ia menarikku seketika sampai aku terjatuh ke dalam pelukannya. Andrew memeluk erat diriku lagi. Bukan hanya itu, ia pun menangkup wajahku begitu kuat sampai aku tak bisa melawan. Ia mengecup bibirku dalam beberapa saat dengan diiringi air mata yang mengucur dari masing-masing wajah. Mengapa sebegini mirisnya hubungan kami?


Beberapa saat itupun, aku ikut terlena. Menyambut kecupan dari Andrew, karena sudah tak bisa menahan kerinduan lagi. Tentunya dengan air mata yang masih mengucur. Aku ingin bersamanya sekali lagi. Memperjuangkan apa yang sudah ia perjuangkan. Lalu, memberikan kesempatan. Tapi, bagaimana dengan Haris? Benakku mengingat dirinya yang bersimpuh dan bertekad ingin mencairkan hatiku saat itu.


"S-stop, Ndrew," pintaku.


Andrew melepas cengkeramannya dari diriku. Begitupun menyudahi kecupan itu. Lalu menjawabku, "Maaf."


"Kita ke Singapura ya, Navya? Aku janji akan menepati semuanya. Karna aku tau, kamu pun masih mencintaiku."


"Mustahil, Ndrew."


"Tidak!"

__ADS_1


Bersambung...


Like+komen


__ADS_2