Who Is My Love

Who Is My Love
Pusing


__ADS_3

Aku meringkuk di teras lantai dua, memandang ke arah depan yang hanya diterangi lampu-lampu biasa. Sepulangnya dari kantor tadi, Raya dan Sinta ada acara lalu diiringi mereka akan menginap di salah satu apartemen milik rekannya orang Indonesia. Aku sendiri, di saat kalut begini. Tadinya aku merasa bersyukur, kini aku merasa kesepian. Andrew juga tidak kunjung datang. Ia bilang ingin belanja bulanan. Semua orang seolah meninggalkanku satu persatu di saat aku kesusahan.


Pikiranku juga masih diisi oleh Kate, tidak sudi aku memanggilnya dengan sebutan kakak lagi. Wanita itu menyebalkan, sungguh! Rasanya ingin menangis dengan sangat kencang. Mengapa ada orang seperti dirinya? Bahkan jauh lebih sadis daripada Linseyld. Aku tidak bisa melawan Kate karena kebaikan yang ia berikan kepadaku selama ini, sedangkan Linseyld--aku masih bisa melawannya karena ia sudah sangat salah.


Sita juga tidak ada, maksudku ia telah bersuami, sehingga ada banyak hal yang ia lakukan. Malam ini, aku benar-benar sendiri. Menyebalkan!


Aku menangis, benar-benar menangis bahkan sampai menimbulkan suara isakan. Perasaanku kacau, rasa kecewa, kesepian dan entah apa lagi. Aku ingin pulang ke rumah bertemu dengan mama. Tidak mungkin juga aku hubungi beliau di saat keadaanku seperti ini, yang ada beliau malah khawatir. Aku tidak mau menyulitkan atau membuat orang tuaku kepikiran, pun meski kami tidak terlalu dekat.


Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba seseorang merangkul tubuhku yang masih meringkuk diam. "Sayang, jangan nangis lagi." Suara itu milik Andrew, bahkan aku tidak menyadari kedatangannya sama sekali.


Aku mengangkat wajahku seketika. Kemudian, kupeluk erat dirinya. Di dalam pelukannya, aku tetap menangis sesenggukan. Entah apa yang terjadi kepada diriku. Masa' hanya karena seorang Kate?


"Ayo masuk, di sini dingin banget lho, Vya."


Aku menggeleng pelan. "B-biarin aku begini lima menit lagi," jawabku.


"Ya udah, kalau itu mau kamu. Tapi setelah ini masuk, ya?"


Aku menganggukkan kepala. "Iya, Ndrew."


Pelukannya begitu hangat. Orang ini yang sebenarnya selalu menjagaku, pun meski aku selalu mengecewakan dirinya. Kebohongan yang dia buat hanya sebagian kecil dari ulah diriku kepadanya. Namun, hatinya seperti baja meski dirinya selembut sutera. Ia tidak pernah menyerah sedikit pun untuk mendapatkan hatiku kembali.


"Terima kasih," ujarku kepadanya, sangat lirih.


"Ya, sama-sama, Sayang," jawabnya tanpa bertanya untuk hal apa. Ia bisa menempatkan dirinya untuk tidak bertanya lebih lanjut ketika aku sedang kalut. "Ayo masuk, udah lima menit ini. Nanti kamu sakit, sekarang pun udah anget badan kamu. Kayaknya kamu banyak pikiran."


"Ndrew?"


"Iya, Navya. Ada apa?"


"Temenin aku, ya?"


"Iya, boleh dan aku mau banget. Tapi ... kalau aku nakal gimana?"


"Ya, jangan nakal. Kalau kamu sayang sama aku, enggak bakalan begitu."


"Iya, iya, Sayang. Sekarang, aku bisa dipercaya kok. Enggak bakalan bohong lagi."


"Emm ...."


"Yuk, masuk."


Andrew memapah diriku untuk masuk ke dalam rumah. Memang, aku merasa sedikit pusing di bagian kepala. Seperti kata Andrew, aku sedikit demam. Mungkin benar kalau pikiranku terlalu banyak, entah pekerjaan atau macam hal. Ia membawaku ke dalam kamar. Membantuku merebahkan diri di atas ranjangku.


Ia tidak melakukan hal aneh apa pun, dan jangan sampai karena aku belum siap. Hanya belaian lembut yang ia berikan di keningku sembari menatapku dengan senyumannya.


"Kamu demam lho, Vya," ujarnya. Kini, tampak raut khawatir di wajahnya.


"Aku enggak apa-apa kok, Ndrew. Aku cuma rada' kesepian," jawabku berbohong.


"Nanti, kalau udah siap cerita, kamu harus cerita ke aku ya? Bentar, aku bikinin teh hangat dulu. Ada persediaan obat enggak?"


Aku menggeleng. "Aku jarang sakit badan, jadi enggak ada."


"Hmm ... ya udah, aku bikini teh dulu. Baru beliin obat demam buat kamu."


"Enggak mau! Jangan tinggalin aku! Walau satu detik pun. Teh hangat aja udah."


"Tap--"


"Please ...?"


"Iya, aku bikinin teh aja, ya?"


Aku mengangguk pelan. Setelah itu, ia berdiri dan mengambil langkah untuk menuju dapur rumahku. Kupejamkan mataku sembari menunggu kedatangannya kembali. Rasa badan begitu dingin menggigil. Sepertinya aku benar-benar sakit.


Beruntung, aku memiliki Andrew. Coba kalau tidak, aku akan bersama siapa. Kepada teman pun, pasti merasa tidak enak jika terlalu banyak merepotkan. Dalam situasi seperti ini, kekasih cukup penting bagi kehidupan. Bukan hanya untuk memadu kasih, tetapi juga teman, jika benar-benar berjodoh maka ia akan menjadi suami seumur hidup.


Tiba-tiba ponselku berdering, memaksaku untuk membuka mata lagi. Aku berusaha mengambilnya dari atas meja di samping ranjang kecilku. Lalu, memainkan jariku di atas layarnya. Nama Affandy terpampang di sana, sejenak aku berpikir. Rasa ragu menggelayut di hatiku. Haruskah aku menerimanya? Bagaimana jika hal itu justru diketahui oleh Kate lagi? Hubungan kami akan bertambah lebih parah.


Satu panggilan tidak aku terima, tetapi muncul lagi dan lagi. Akhirnya, aku merasa jengah dan menerimanya.

__ADS_1


"Halo!" Tanpa rasa sungkan sama sekali, aku menyapa atasanku tersebut dengan tegas. Entah apa respon wajah Affandy di kejauhan sana.


"Hai, Vya. Soal Kate--"


Aku memotong ucapannya seketika. "Aku enggak mau bahas soal dia, kamu dan hubungan kalian! Dan jangan telepon aku lagi!"


"Bentar, Vya! Aku perlu bicara."


"Soal apa lagi, Fandy? Kalau pekerjaan, silahkan."


"Maaf, karna aku, hubungan kalian jadi rusak."


Aku menelan ludah dengan berat. Sepertinya, Affandy tahu perihal pertengkaranku dengan Kate. Jikalau tidak, ia tetap seseorang yang cerdas, pastinya mampu menerka segala kemungkinan yang terjadi soal insiden tadi siang. "Jangan libatin aku lagi, please ...."


"Bukan, kok. Aku cuma mau minta maaf aja. Tapi, Vya, Kate hanya emosi sesaat. Kemarahannya sama kamu pasti enggak berlangsung lama, mungkin dia mengira aku masih suka sama kamu. Jadi, pemikirannya mendadak kalut. Dan jika dia ada omongan enggak sopan, aku minta maaf atas nama dia."


"Ck, ya, oke. Terserah kamu. Tapi, dia udah mengaku kalau hanya memanfaatkanku buat cari kedekatan kita di masa lalu, bahkan sekarang."


"B-bukan gitu, Vya."


"Enggak, Fandy! Semenjak malem itu, malem di mana aku nginep di apart dia. Pas kalian berantem, aku sengaja mendengar. Aku minta maaf buat hal itu, tapi di situ juga aku tahu kalau Kate diam-diam masih mencuragai hubungan kita. Dia berteman sama aku itu semuanya fake! Aku enggak mau terus dicurigai sebagai orang ketiga, Fandy. Aku tahu kamu pernah bantu aku, bahkan soal pekerjaan juga. Tapi, aku masih punya harga diri."


Aku mematikan panggilan itu secara sepihak. Setelahnya, kuhela napas dalam dan tidak terasa ada tetesan air mata. Pun meski, aku sudah berusaha menerima perlakuan Kate kepadaku. Namun, kedekatan kami selama beberapa bulan ini juga menyisakan sejumlah kenangan manis. Bahkan, ia menyebutku sebagai adik. Nyatanya, semuanya hanya palsu. Itu mengapa sejak dulu aku susah bersosialisasi. Karena jarang sekali ada seseorang yang tulus dalam mendekati, bahkan sebagai teman sekali pun.


Andrew membuka pintu kamarku, secara spontan kuusap air mataku. Aku tidak ingin ia merasa khawatir, meski aku tidak tahu--ia mendengar percakapan teleponku dengan Affandy tadi atau tidak. Setelah berhasil masuk, ia berhenti sejenak dan menatapku tanpa ekspresi apa pun. Detik berikutnya, ia menghela napas dan ia hembuskan kembali. Baru setelah itu, ia datang menghampiriku dengan nampan berisi teh hangat dan sebuah baskom kecil.


"K-kamu kok lama banget, sih?" tanyaku kepadanya. Memang, terhitung lama jika hanya untuk membuat segelas teh saja.


"Maaf, Sayang. Aku bikin air anget buat kompres," jawabnya sembari memberikan cangkir teh hangat tersebut.


"Kan ada dispenser yang bisa nyala panas? Kenapa harus masak air?"


"Ya sayang aja, itu kan air minum. Kalau buat ngompres doang."


"Kan dikit doang, enggak apa-apa kali."


"Dikit itu juga jumlah, Navya. Kita itu perantau jadi harus hemat."


Mengapa aku tidak berfokus kepada Andrew saja? Aku memilikinya, orang yang sejauh ini lebih baik daripada siapa pun.


"Makasih, ya?" Kuberikan cangkir itu kepadanya seraya mengucap rasa terima kasih yang sebenarnya untuk segalanya.


Andrew tersenyum. Ia meletakkan cangkir itu ke dalam nampan lagi. Setelah itu, berfokus kepadaku. "Rebahan lagi gih. Aku kompres biar demamnya turun."


"Sebenarnya aku enggap apa-apa kok. Kalau kecapekan emang kayak gini, karna enggak pernah dirasa, seringnya sembuh sendiri."


"Sekarang kan ada aku yang bisa rawat kamu. Jadi, kamu harus nurut aku. Soal ini aja."


"Emm ...."


"Buru."


"Iya."


Andrew membantuku merebahkan diri di atas bantal yang telah ia tata dengan rapi, agar lebih nyaman untukku katanya. Kemudian, kupejamkan mataku dan menikmati perawatannya kali ini. Pun meski dalam hati merasa sangat malu dan tidak enak hati. Aku takut jika ia menganggapki sebagai perempuan manja. Ah, tidak, aku hanya tidak terbiasa dirawat oleh orang lain, terlebih pria dengan selembut ini.


Rasa hangat terasa di keningku, oleh sebuah sapu tangan yang mungkin milik Andrew. Bahkan, ia dengan sukarela memijat tangan dan kakiku. Sikapnya cukup tenang, tanpa keluhan sedikit pun. Perlahan, aku melirik diam-diam.


"Kamu enggak ngantuk, Ndrew?" tanyaku kemudian. Sedangkan, tanganku bergerak menggenggam tangannya yang tengah memijat telapak tanganku.


Ia menatapku, kemudian menggelengkan kepala. "Belum, Sayang. Cowok mah biasa tidur malem," jawabnya sembari melepaskan genggaman tanganku. Namun, aku tidak bersedia melepasnya. "Kenapa sih? Ini lho, jari-jari kamu sakit, kan? Aku pijit dulu biar enakan."


Aku menggelengkan kepala. "Enggak, cukup. Kamu harus istirahat, udah malem. Aku udah enggak apa-apa kok. Kamu boleh pulang."


Andrew sejenak berpikit, kemudian berkata lagi, "Aku tidur di bawah sini. Jagain kamu, Raya dan Sinta enggak ada. Kalau tengah malem, kamu menggigil gimana?"


"Enggak bakalan, Sayang."


"Siapa yang tahu."


"Emm ... ya sih. Tapi aku enggak punya tiker."

__ADS_1


"Emang kalau aku tidur di samping kamu enggak boleh?"


"Enggak dong. Keadaan kita udah beda, Ndrew."


"Bedanya?"


"Dulu pernah, pas kamu mabok. Kamu lagi enggak sadar, jadi aku tidur di samping kamu. Tapi sekarang, kita udah baikan. Kalau ada setan lewat gimana?"


Andrew terkekeh. Ia menyentil hidungku. "Takut amat sih? Emang kita enggak pernah?"


"Apanya?"


"Enggak deh."


"Jangan ngarang lho."


"Iya, iya. Tapi kan--"


"Udah, stop! Aku tahu!"


"Jadi?"


Aku terdiam. Kupalingkan wajahku yang sudah semakin terasa panas, campuran antara demam dan malu. Semua yang terjadi di dalam kebersamaan kami sering terjadi hal romantis, tetapi hanya sebatas itu.


Otakku berputar untuk menghindari sesuatu yang tidak baik. Bahkan, keberadaan dirinya di sini pun sebenarnya sudah tidak baik. Namun aku tidak bisa menyalahkannya karena rasa khawatirnya untuk diriku begitu besar. Tidak mungkin ia kubiarkan tidur di lantai tanpa alas apa pun. Belum lagi selimutku hanya satu, dan pasti kamar Sinta dan Raya dikunci dengan rapat.


"Kamu mikir apa, Navya?" Suara tanya dari Andrew membuatku terkejut bukan kepalang, bahkan sampai tersentak karenanya. "Kamu mikir aneh-aneh, ya? Enggak percayaan banget sama pacar sendiri, heran."


"Justru karna kamu pacar aku, makanya ...."


"Aku ambil selimut di bawah. Tenang aja, aku berniat jaga kamu kok. Enggak ada yang lain."


"Tapi kan, aku takut."


"Tenang, Sayang. Aku cuma khawatir sama kamu. Kalau aku ada niat buruk sama kamu, udah dari dulu-dulu. Apa lagi banyak banget kesempatannya. Aku masih sabar nyampe di waktu yang tepat nanti."


"Yakin?"


"Yakin! Badan kamu panas, biasanya bakalan menggigil kalau tengah malem. Aku enggak mau kamu nyampe kenapa-napa."


"Emm ... aku enggak apa-apa. Jangan dibiasain aku jadi kenapa-napa, karna kamu selalu manjain aku."


"Kalau aku bisa, kenapa enggak? Apa lagi buat orang tersayang."


"Apa ... apa kamu juga begini sama Lusi?"


Andrew menatapku tegas, seolah terkejut dengan pertanyaanku, mungkin memang benar. Dan nama itu tiba-tiba saja muncul dari bibirku. Entahlah, aku hanya ingin tahu.


"Enggak," jawabnya singkat yang entah benar atau tidak. Namun beberapa detik kemudian, ia kembali berkata, "Aku deket dengan pacar sampe kayak gini cuma sama kamu."


"Beneran?"


Andrew mengangguk. "Iya, Navya. Kenapa kamu tiba-tiba bahas dia?"


"Aku hanya ingin tahu. Dan lagi, aku masih merasa bersalah sama dia."


"Kamu enggak melakukan apa pun sama dia. Aku yang berbohong dari kalian berdua. Tapi, rasa cinta aku sama kamu jauh lebih besar."


"Emm ... kalau gitu, apa masih ada sisa rasa cinta buat dia?"


"Enggak ada, Navya. Masa lalu ya masa lalu, jangan diungkit lagi. Nanti kita bisa bertengkar. Efek demam bisa kayak gini, ya?"


Empat tahun, mungkinkah Andrew sudah melupakan Lusi? Empat tahun bukan waktu yang sebentar. Pun meski, di dua tahun terakhir, hubungan mereka banyak perselisihan. Namun Andrew selalu mempertahankan, bukti bahwa kala itu ia sangat mencintai wanita yang bernama Lusi itu. Apa benar, sudah tidak ada rasa cinta Andrew untuknya?


Tiba-tiba, Andrew mengecup bibirku tanpa izin dariku. Aku hanya diam dan menerima, tetapi tidak ada balasan yang aku berikan seperti romantisme sebelum-sebelumnya. Mungkin efek dari demam, memang membuat pikiranku tidak karuan, bahkan ke mana-mana. Aku berharap jika ini tidak berlangsung lama.


Andrew menyudahinya, ia menatapku sembari menangkup wajahku. Diriku yang masih merebah dengan sapu tangan di dahi, hanya bisa diam tanpa kata lagi.


"Jangan mikir yang aneh-aneh. Kamu dan aku mau menikah sebentar lagi. Dan aku selalu berusaha agar enggak ada kebohongan lagi di dalam hubungan kita, Sayang. Aku juga berharap kamu begitu," ujarnya.


Aku menelan ludah seketika, karena banyak hal yang sama sekali tidak aku ceritakan kepadanya. Soal Nevan dan ibundanya yang memintaku kembali datang ke kehidupan mereka, lalu masalah Kate dan Affandy juga. Salahku banyak, tetapi masih saja meragukan dirinya. Seharusnya, aku tidak boleh seperti ini, bukan?

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2