
Hampir tiga bulan waktu berselang setelah pertengkaranku dengan Kate terjadi. Selama ini pun, hubungan kami sudah tidak baik-baik saja. Saling menghindari satu sama lain, bahkan tanpa klarifikasi dari diriku, juga dirinya. Tidak hanya itu, bahkan hubunganku dengan Affandy juga kian menjauh. Hanya sebatas pekerjaan saja yang kami perbincangkan, itu pun harus ditemani salah satu orang lain.
Terkadang, pertemanan yang terlalu dekat, justru menjauhkan ketika sedang bertengkar. Sejauh ini tidak ada yang menggantikan sosok Sita sebagai sahabatku, sekalipun itu Raya dan Sinta. Kami memang berada di dalam satu atap, tetapi tetap saja ada sebuah atau bahkan beberapa buah rahasia. Aku selalu memposisikan diriku dengan baik di antara mereka, rajin juga melakukan segala sesuatu seperti jadwal yang ditentukan. Tidak ingin diri ini memiliki kecacatan sikap karena jika itu terjadi, maka pertengkaran di dalam rumah itu tidak bisa dihindari. Aku tetap orang lain bagi kedua temanku itu.
Kuhirup teh hangat di pagi hari ini, sembari menatap ke depan rumah yang sudah dilalui beberapa kendaraan. Aku masih di sini, tempat yang asing dan jauh berbeda dengan tanah airku.
"Navya, udah siap?" Suara Sinta terdengar bertanya kepadaku dari dalam rumah.
Aku berbalik dan menatapnya. "Udah kok. Tehnya juga udah habis," jawabku.
"Yuk, mari," sela Raya di detik berikutnya.
Kemudian, aku masuk ke dalam rumah yang berada di lantai dua itu. Menuju dapur untuk meletakkan cangkirku pada meja yang berada di sana.
Kuhela napas sebelum kembali keluar. Aku mencoba supaya hatiku lebih tenang lagi. Hari ini pasti akan bertemu dengan Kate dan Affandy lagi. Dan di saat itu terjadi, jantungku selalu berdegup kencang serta salah tingkah. Hal buruk yang seharusnya tidak terjadi. Namun Kate mengkhianatiku, juga mencurigaiku. Pun sudah terjadi hampir tiga bulan yang lalu, nyatanya keadaan kami sudah benar-benar rusak.
"Ayo," ajakku kepada Raya dan Sinta setelah aku sudah sampai di luar.
"Gue kunci pintu dulu. Dan kalian enggak ada yang ketinggalan, kan?" tanya Sinta kembali.
Aku dan Raya spontan menggelengkan kepala, membuat Sinta menyunggingkan senyum manisnya. Setelah ia selesai mengunci pintu rapat-rapat, kami bertiga bergegas turun melalui tangga yang tidak pernah bertambah maupun berkurang jumlah anaknya.
Andrew sudah menunggu kami di bawah sana. Senyumnya mengembang begitu tampan, terlebih ketika terbalut kemeja kerja serta blazer berwarna mocca, ia tampan sekali seperti idol Korea.
Tiba-tiba, Raya memberikan senggolan di lenganku. Spontan aku menatapnya, sembari berkata, "Apaan sih?"
"Calon pengantin baru, pada berbunga-bunga nih," jawabnya dengan gaya selengekan seperti biasanya.
"Oh iya ya. Navya dan Andrew, rencana kapan mau resepsi?" timpal Sinta.
Di tangga terakhir, kami melewatinya. Lalu aku menghampiri kekasihku. "Tanya sama si abang," jawabku untuk pertanyaan dari Sinta beberapa detik yang lalu.
"Secepatnya. Kayak mau dateng aja loe pada," sela Andrew kemudian.
"Kalau loe nikah di hari libur, misal minggu atau sabtu, kita bisa dateng, Ndrew." Sinta tampak meyakinkan sekali. "Jadi, hari-hari itu aja."
Andrew menghela napas, dengan senyuman yang sejak tadi tidak mereda. "Bisa diatur. Tapi, kalau beneran kalian dateng ya?"
"Tergantung. Kalau ada biaya penerbangannya iya aja hahaha." Dengan tangan yang terlipat di depan, Raya begitu santai mengatakan itu tanpa rasa sungkan sedikit pun. Namun begitulah sosok Raya, begitu ceplas-ceplos, hampir mirip dengan Sita, tetapi lebih bar-bar lagi.
Andrew menimpuk kepala Raya. "Gampang, Ray."
"Iya, tapi jangan nimpuk juga."
Andrew justru tertawa, terlebih melihat ekspresi Raya yang kesakitan karena timpukannya beberapa detik yang lalu. Kemudian, kami berempat serempak berjalan menuju gerbang rumah ini. Ada satu buah mobil hitam yang sepertinya merupakan taksi online yang sudah dipesan.
__ADS_1
Seperti hari-hari sebelumnya, kami masuk ke dalam. Dengan transportasi umum ini, kami akan berangkat ke kantor di mana kami bekerja. Ala kadarnya sesuai kemampuan saja, dan bukan berarti kami tidak punya. Ada, tetapi di tanah air sana. Meski bukan mobil mewah sekali pun.
"Loe masih belum baikan sama Kate, Nav?" tanya Sinta kepadaku. Ia memang sudah tahu sejak lama setelah aku meringkuk sakit kala itu. Rasa kesepian dalam diriku membuncah dan langsung mengatakan apa yang aku pikirkan.
Aku menggelengkan kepala kepadanya. "Belum, Sin. Kita masih saling menghindar," jawabku.
"Udah hampir tiga bulan lho, Nav. Dan bentar lagi loe juga menikah. Masa' masih ada cemburu sih dianya?"
"Gue juga enggak tahu dan gue enggak mau pikirin lagi sih."
"Hmm ... iya sih. Tapi pasti enggak nyaman aja, apa lagi satu kantor. Dia termasuk atasan lagi."
"Ya mau gimana lagi, Sin. Gue kerja di sana dan masih butuh."
Sinta pun terdiam. Dalam masalahku ini, pastinya tidak ada jalan keluar lain kecuali pada diriku sendiri. Seandainya aku disarankan untuk mendekati Kate lagi, pasti aku sudah tidak mau. Bukan karena apa, tetapi karena aku harus bisa memposisikan diriku siapa. Apa lagi rasa kecewa sungguh lama sembuhnya, aku tipe orang yang sudah malas jika sudah ada kekecewaan di dalam hatiku.
****
"Tolong mintain tanda tangan Pak Fandy ya, Navya?" ujar Elena kepadaku.
Dalam beberapa saat, aku hanya terdiam. Kemudian, karena merasa tidak enak, akhirnya kuanggukkan kepalaku seraya menerima berkas itu. Why? Bukankah banyak orang di sini? Mengapa harus aku yang dimintai tolong? Menyebalkan. Aku harus bertatap muka dengan Affandy, masuk ke dalam ruangannya saja, tubuhku sudah bergetar. Bukan karena takut, aku hanya khawatir jika dianggap sebagai wanita penggoda oleh Kate.
Dengan langkah gontai, aku keluar dari ruang kerja ini. Kepalaku mendadak pening, tepatnya saat sudah keluar dari pintu kaca tersebut. Kutatap lorong kantor yang panjang, mungkin sekitar sepuluh meter jarak posisiku dan ruang kerja Affandy yang cukup pribadi.
Kuhela napas dalam kemudian, setelah itu aku melanjutkan langkahku, pun meski pelan-pelan. Pasti di sana aku akan bertemu Kate, ruangannya sangat dekat, bahkan nyaris satu tempat. Mungkin ini bukan kali pertama aku menemui Affandy dalam hal pekerjaan, tetapi selalu saja aku merasa seperti ini.
Kemudian, aku ketuk daun pintu ruangan Affandy.
"Masuk," jawab Affandy dari dalam ruangan.
Kuhela napas dalam sebelum membuka handle pintu ruangan itu. Mataku diam-dia melirik ke arah Kate yang sejak tadi hanya diam tanpa sedikit pun sapaan. Hubungan kami memang sudah rusak, lalu apa lagi yang aku harapkan darinya?
"Permisi, Pak," sapaku kepada Affandy setelah masuk melalui pintu ruangan itu.
"Vya, masuk," jawab Affandy mempersilahkan diriku untuk melangkah lebih dalam. Sebenarnya, sikapnya kepadaku masih sama saja. Ia ramah dan penuh sahaja. Hanya saja, aku lebih menjaga jarak di antara kami, bahkan sapaanku kepadanya lebih sopan lagi dan ia tidak lagi memprotes tentang itu.
"Ada berkas yang harus ditandatangani, Pak."
"Emm ...." Affandy menerima berkas yang telah aku serahkan. Dan tanpa basa dan basi lagi, ia menandatangani berkas tersebut.
Rasanya udara di sini panas sekali, mungkin karena hatiku menyimpan sejumlah perasaan tidak nyaman. Aku ingin cepat-cepat keluar, itu saja.
Tak lama kemudian, Affandy memberikan berkas itu kepadaku untuk diproses kembali. Ia tersenyum ramah, tetapi aku hanya diam. Aku segera menerima berkas tersebut, kemudian beranjak berdiri dari dudukku. "Terima kasih, Pak," ujarku.
"Ya, sama-sama, Navya."
__ADS_1
Lega sudah ketika aku berhasil menyelesaikan tugasku. Kali ini pun, Affandy tidak pernah lagi memintaku untuk tetap tinggal lebih lama. Mungkin ia ingin menjaga perasaan Kate dan tentu saja aku sangat berterima kasih untuk itu.
Aku kembali membuka handle pintu ruangan itu untuk keluar. Namun apa yang aku lihat, membuatku terperanjat, bahkan nyaris terjatuh. Kate berada tepat di hadapanku. Sebenarnya bukan diriku saja yang terkejut, juga dirinya. Ia segera membuang wajahnya tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Permisi," ujarku agar ia lebih bergeser ke samping, untuk ruang jalanku.
Kate menyadarinya, ia segera beralih ke samping kiri, setelah itu aku baru melenggang bebas.
"N-navya?" Tetapi, lagi-lagi gerak kakiku terhenti. Suara itu dari Kate, meski terdengar tergagap, aku tetep mendengarnya.
Aku membalikkan badanku, setelah itu kutatap dirinya. "Ya?" ujarku kepadanya.
"... bisa kita bicara?"
"Maaf, saya banyak pekerjaan."
"Siang, ya, siang nanti."
Aku terdiam begitu lama. Berbicara? Perihal apa? Mencaritahu tentang hubunganku dan Affandy lagi? Entahlah, tetapi aku sungguh enggan dan malas. Namun juga tidak berani menolak. Lantas, aku harus bagaimana?
"Saya belum tahu tentang tugas nanti," jawabku kemudian. Aku masih sangat gusar dan bimbang hendak memutuskan, sehingga hanya kalimat itu yang meluncur dari mulutku.
"Bisakah kamu meluangkan waktu kamu? K-kalau enggak ya malam nanti?"
"Maaf, Nona. Saya belum tahu."
"Kenapa?"
"Kenapa apanya, Nona?"
"Kamu membenciku?"
Aku semakin menatap Kate dengan tajam. Bukankah ia yang membenciku lebih dulu? Jika ditanya seperti itu maka jawabannya adalah iya. Aku kecewa, tetapi bukan berarti aku dendam kepadanya. Aku memang membenci sikap munafiknya, hanya saja aku sering rindu perihal kebersamaanku dengannya.
Kuhela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Kali ini, aku benar-benar di ambang kebimbangan. Mungkin lebih baik aku pergi terlebih dahulu. Jika ia benar-benar ingin berbicara, ia akan datang kepadaku. Bukan seperti ini, rasanya aku tengah dijegal di tengah jalan.
"Mohon maaf, saya permisi, Nona Kate."
"Nav?"
Aku tidak memperdulikan Kate lagi. Kubalikkan tubuhku dan melenggang cepat menuju ruang kerjaku. Ini di kantor, tidak pantas jika kami membahas masalah di luar pekerjaan. Dan luka hatiku karena Kate belum juga memudar. Aku masih kecewa kepadanya, bahkan berharap tidak bertemu dengan orang seperti dirinya lagi.
Kuserahkan berkas yang telah ditandatangani oleh Affandy kepada Elena, sebelum akhirnya diproses lebih lanjut. Ia pun mengucapkan rasa terima kasih kepadaku. Selanjutnya, aku kembali duduk di kursi kerjaku. Jari-jariku kembali beradu dengan keyboard komputer, lalu mataku tertuju pada monitor yang menyala menyajikan ratusan data.
Apa gue salah? Apa enggak seharusnya gue menghindar? Apa yang bakal dia omongin sama gue?
__ADS_1
Pun meski sudah dalam suasana bekerja kembali, hati dan benakku masih menerawang. Dugaan-dugaanku perihal Kate pun hadir di dalamnya. Lantas, siapa yang sebenarnya egois? Aku atau dirinya? Atau penolakanku tadi menunjukkan bahwa aku tidak cukup baik daripada dirinya?
Bersambung ....