Who Is My Love

Who Is My Love
Papa


__ADS_3

****


"Kamu kan?! Kamu kan yang bawa anak saya kabur, haaah?!" tanya papa dengan ketegasan yang bercampur dengan amarah.


"Benar, itu saya," jawab Andrew.


Seketika itu, wajah Andrew langsung dihantam oleh kepalan tangan papa. Sita, mama dan Fandy masih sibuk memisahkan mereka. Sedangkan aku hanya diam terpaku bercucuran air mata. Rasa pening di kepalaku seolah sedang berputar-putar. Rasanya seperti ingin mati. Dan satu lagi, rasa benciku terhadap papa semakin terpupuk subur.


"Tolong hentikan, Pak. Bukan hanya Andrew yang membawa Navya pergi. Tapi, saya juga." Affandy tidak hanya diam, ia masih mencari cara untuk melepaskan jerat papaku terhadap Andrew.


"Omong kosong! Tolong anda tidak usah ikut campur!" tegas papa.


"Nggak, Om. Tapi, memang benar kami yang merencanakan ini, membawa kabur Navya," sambung Sita.


"Tidakkah Bapak melihat kondisi Navya yang saat ini sedang mengalami keguncangan jiwanya. Dan semua itu karna ulah calon menantu yang selalu bapak idam-idamkan!" tegas Andrew dengan sisa tenaga yang masih ia miliki.


Mendengar ucapan Sita, papa langsung menghentikan gerakan kepalan tangannya tersebut. Aku menilik kepada Andrew yang wajahnya sudah babak belur. Aku tidak habis pikir, segala sesuatu yang kulakukan demi menghindarkan Andrew dari papa, akhirnya harus berakhir disini. Bahkan melibatkan Sita dan Affandy semakin dalam.


Lantas, papa memandang mereka bertiga secara bergantian. Beliau menghempas tubuh Andrew begitu saja, sampai sang pemilik terjatuh ke lantai. Papaku benar-benar sudah tidak waras. Ego dan emosi yang menjadi andalan pertama. Bahkan, tidak sekalipun beliau melihat kondisi sang putri yang juga babak belur akibat ulah calon menantu pilihan. Padahal, aku adalah anak semata wayang, seorang putri darah dagingnya.


Semua perbuatan papa semakin lama, semakin membuatku muak. Bukan hanya menjual diriku pada anak atasan, tapi juga menghancurkan hatiku secara berkeping-keping. Harga diriku hampir terenggut, hidupku hampir hancur. Bahkan, aku menjadi manusia yang memuakkan dengan memanfaatkan para pria untuk melindungiku. Apa beliau pantas disebut sebagai seorang ayah?


"Pak, Navya hampir kehilangan hidupnya," ujar Affandy selanjutnya.


"Apa maksudmu? Jangan sok tahu, kamu!" balas papaku.


"Lihatlah dulu, kondisi putri Bapak. Memar di kulit sampai goresan terlihat jelas disana. Bahkan, wajahnya mengalami lebam kebiruan dan bengkak akibat tamparan."


"A-apa?"


"Pak, hari ini, Navya hampir kehilangan harga diri oleh seorang pria yang bernama Haris. Navya, sudah tidak bisa disentuh laki-laki lagi, akibat guncangan jiwanya."


"Ha-haris?"


"Ya, saat ini yang bersangkutan sedang diamankan pihak berwajib atas tuduhan penganiayaan serta pelecehan."


Kutilik diri papaku. Aku ingin melihat respon yang beliau berikan setelah mendengar semua itu. Apakah terima dan sedih, atau masih memikirkan ego dan ambisi?


Namun, gerak langkah papa semakin mendekatiku. Dalam keadaan duduk, aku mencoba memundurkan diriku lebih jauh. Isakan tangisku masih terdengar jelas. Sampai akhirnya mama dan Sita menghampiriku lebih dulu dengan langkah yang lebih cepat daripada papa. Mereka mengikuti posisiku yang duduk sembari memeluk erat tubuhku.


Demi Tuhan! Kami merasakan kepiluan yang luar biasa. Raungan tangis mama sling bersahut-sahutan dengan suara milikku. Sedangkan Sita hanya sebagai penyeimbang dan menenangkan kami. Namun, apa daya, rasanya sangat sesak, bahkan sulit untuk menghentikan laju air mataku. Segala sesuatu yang sempat kusimpan rapat-rapat, seolah keluar seketika melalui jalan air mata.


"Maafkan Mama, Sayang. Seharusnya Mama nggak pernah ngenalin kamu sama cowok itu. Mama telah gagal menjadi seorang ibu. Maafin Mama, Navya," pinta mama kepadaku.


"Udah Tante, semua udah berlalu. Jangan menyalahkan diri sendiri," jawab Sita.


Aku diam. Perlahan namun pasti, langkah papa yang sempat terhenti kini sudah mendekati posisiku. Sampai akhirnya, beliau berada dihadapanku. Beliau menggerakkan telapak tangan untuk menyentuh wajahku, namun kutepis seketika. Selain takut, aku juga benci akan hal itu. "Jangan sentuh saya barang sekali saja!" seruku.


"Papa nggak tau, Navya. Papa menyesal, maafkan papa," jawab papa.


"Pergi! Pergiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!! Aku benci kamu. Benciiiiiiiiiiiiiiiii! Sangat benci! Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa."


"Sayang, ini Papamu. Kamu putri Papa, maafin Papa."


"Nggak mau, pergiiiiiiiiiiiiiiiii!!! Aku minta kamu pergi, aku takut sama kamu. Pergiiiiiiiii! Kamu udah puas kan?! Aku sudah hancuuuuurrr!"


"Navya, anakku. Maafkan Papa."

__ADS_1


"Huuuuuuuaaaaaaa... Suruh dia pergi, Ma. Navya minta, tolong pergi. Bawa pergi, aku mohon pergiiiiiiiiiii!!!"


Setelah, mendengar ujaranku berkali-kali, Papa berdiri, beliau mundur seperti yang aku minta. Aku melirik langkah beliau. Tampaknya, beliau tengah meminta maaf kepada Andrew dan Affanfy. Bukan hanya itu, kedua pria itu dipeluk oleh papa. Entah, apa yang ada didalam pikiran beliau setelah melihat kondisi putrinya seperti ini. Apakah papa menyesal?


Lambat laun, tangisku selesai, begitu juga dengan mama dan Sita. Setelah itu, papa melambaikan tangan untuk mengajak pulang mama. Aku rasa, beliau ingin memberikan waktu sendiri kepadaku. Maksudku, memberikan waktu yang tidak ada kedua orangtuaku diantara perasaan ini.


"Sayang, Mama pulang dulu. Besok pagi-pagi, Mama dateng lagi. Mama khawatir sama Papa," pamit mama kepadaku sembari mengecup keningku. "Sita, titip ya Navya ya? Mungkin Navya belum siap bertemu orangtua yang menjadi penyebab semua kekacauan hidupnya."


"I-iya Tante. Sita bakal jagain Navya kok. Tante hati-hati dijalan."


"Terima kasih, Nak."


"Sama-sama Tante."


Papa, mama dan Affandy berlalu. Kini tinggal aku, Sita dan Andrew. Aku rasa, mereka akan menginap disini. Maksudku aku dan Sita yang menginap, karena tempat ini milik Andrew. Sita membantu berdiri untuk kesekian kalinya. Ia memapah langkahku dan masuk ke dalam kamar.


Kubaringkan tubuhmu kembali diatas ranjang yang masih sama didalam tempat ini. Hari ini terasa sangat panjang sekali. Namun, bukan panjang alan kebahagiaan, melainkan kekacauan yang terjadi. Namun, disatu sisi hati, aku bersyukur, papa bisa menerimanya dengan harapan beliau menyesalkan hal ini terjadi. Dengan begitu semua sudah berakhir. Haris pun sudah ditahan dan menunggu sidang lanjutan. Dimalam sedingin ini, pasti ia meringkuk penuh penyesalan didalam jeruji besi.


Aku rasa, besok adalah giliran papa karena jerat hutang yang masih mengikat. Jika, membayangkan tubuh papa yang tidak lagi muda, sebenarnya aku merasa iba. Mau bagaimanapun papa adalah ayahku. Jika saja, aku begitu tega, pasti dari awal aku sudah membiarkan papa menerima hukuman itu. Namun, anak tetaplah seorang anak. Aku bertahan sampai sekarang karena demi papa. Namun, hari ini ternyata hari dimana aku merasa lelah dan membiarkan hukuman itu akan menjerat papa esok hari.


Semua memang harus berakhir. Sebagai manusia biasa, aku memiliki batas lelah. Dan disini batas lelahku terjadi, lantaran Haris berbuat tidak senonoh kepadaku. Seandainya pria itu masih bisa menahan diri, mungkin aku bisa bertahan lebih lama sebelum kabur ke Singapura.


"Beb, tidur gih. Dah malem," ujar Sita.


"Duluan gih, Sit," jawabmu.


"Emm... gue mau balik bentar ambil ganti. Gue kan belum mandi nyampe sekarang hehehe."


"Sorry ya, karna gue, loe jadi lupa akan diri loe sendiri."


"Yaelah kan gue udah bilang. Gue siap nemenin loe. Lagian bentar lagi loe ke Singapore, Beb. Gue pasti kesepian."


"Nggaklah, Beb. Untuk orang kinerja biasa aja kayak gue tuh, dites dulu. Males. Lagian nggak bakalan dibolehin sama bokap."


"Iya udah, nggak apa-apa. Kita masih bisa ketemu lewat video call kok."


"Hmm... iya sih. Paling rada beda aja. Yaudah, gue balik dulu. Nggak lama kok, mumpung Andrew masih disini."


"Iya sana. Hati-hati di jalan."


"Siap!"


Setelah pamit sebentar, Sita segera mengambil langkah untuk keluar. Sedangkan aku kembali meringkuk dengan posisi berbaring membelakangi pintu. Kututupi diriku menggunakan selimut lantaran kedinginan.


Berbicara tentang selimut dan seisi kamar, benakku terbayang akan Andrew. Ia menempati sebuah kost kecil. Dimana tidak ada AC didalamnya. Segala peralatan pun masih berada ditempat ini. Ia hanya kembali untuk menemuiku serta mengambil beberapa barang pribadi. Dengan kata lain, Andrew selalu mondar-mandir. Apakah aku sudah keterlaluan kepadanya? Hanya karena egoku, aku sampai membuat dirinya kesulitan. Lantas, keuntungan yang bisa kudapatkan setelah berlaku seperti itu?


Bodohnya diri ini, saat terlalu terbawa dalam emosi dan dan dendam dari dalam hati. Dengan segala perlakuanku, Andrew tidak pernah sedikitpun membantahku. Sifatnya masih sama seperti sedia kala, saat kami masih saling mencintai tanpa adanta goresan luka. Aku rasa, itu memang sifat dan karakter aslinya, bukan hanya iming-iming untuk menarik seorang wanita.


"Navya?" Andrew terdengar menyebut namaku sembari melangkah masuk.


Aku diam. Aku berpura-pura untuk tidur. Lagipula, kini aku masih takut. Takut akan sentuhan darinya yang mungkin bisa mengingatkanku pada perlakuan Haris disaat sore mencekam tadi.


"Maaf, Navya. Pada akhirnya aku selalu gagal untuk menjagamu."


"...."


"Aku sayang sama kamu. Tapi, aku begitu bodohnya, nggak bisa membuat kamu bahagia."

__ADS_1


"...."


"Andai kamu tahu, kamu adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku seperti ini, Navya. Tapi, satu kesalahanku sepertinya tidak membuatmu menerimaku dengan baik lagi seperti dulu, meskipun kamu masih mencintaiku. Navya, aku harus gimana lagi? Apa aku harus menyerah demi bahagiamu?"


"...."


"Apa kamu pun akan bahagia tanpa aku? Aku bingung sekali. Aku belum bisa lepasin kamu gitu aja. Maaf, Navya. Aku masih amat sangat sayang padamu."


Setelah mengatakan semua itu, aku mendengar langkah kaki Andrew yang berlalu. Selepas ia pergi, aku mengubah posisiku menghadap atas. Bola mataku melayang memandang langit-langit kamar. Aku bingung, sebenarnya apa yang kulakukan kepadanya selama ini? Hubungan tanpa status untuk balas dendam? Ah... rasanya kekanak-kanakan sekali. Aku bodoh karena terlalu terbawa nafsu akan perasaanku kepadanya. Aku masih mencintainya, tapi masih enggan menerimanya.


Entahlah, rasa hati ini mesti masih sama, namun memiliki sisi yang berbeda. Sudah kutolak berkali-kali pun, Andrew masih terus datang kepadaku. Memangnya, aku harus bagaimana lagi? Terlebih untuk sekarang, aku sama sekali tidak siap dalam menjalin cinta. Aku takut. Bayang-bayang Haris masih melekat dan sedikit menorehkan trauma. Jika, aku kembali menolak Andrew, pasti akan berakhir sama yaitu mendatangiku terus menerus. Aku hanya ingin mengistirahatkan hatiku sebentar saja. Dan harap Andrew benar-benar mengerti, tanpa harus kujelaskan.


****


Itu Haris. Itu menyeramkan. Ia datang lagi menemuiku. Ia menarik lenganku lagi. Sakit. Aku takut. Aku harus bagaimana? Sorot matanya tajam seperti seekor serigala. Aku takut sekali.


"Aaaaaaaa! Jangaaan!!!" pekikku.


"Beb, kenapa?" tanya Sita yang tiba-tiba berada disampingku. Aku terengah-engah, keringat dingin bercucuran. Aku bingung dan ketakutan.


"Hei, ada apa?" tanya Andrew yang tiba-tiba datang dengan mendobrak pintu kamar.


"Ta-tadi a-ada Haris. Gue... gue takut, Sita. Gimana ini? Gue takut."


Tubuhku gemetaran luar biasa. Lantas, Sita menenangkanku. Ia bilang itu hanya mimpi. Namun, bayangan pria itu begitu jelas bak kenyataan. Terlebih tepat diatasku. Seolaah-olah, Haris tidak ingin melepaskanku barang sekali saja. Sentuhan tangannya yang begitu kasar, seolah kembali terasa di kulit-kulit tubuhku. Sakit dan perih kurasakan kembali pada bagian yang terluka. Aku sangat takut. Sampai akhirnya aku menitikkan air mata untuk kesekian kalinya.


Tak lama kemudian, Andrew datang lagi dari perginya. Ia membawa nampan berisi air minum. Ia menyerahkannya kepada Sita dan diberikan kepadaku. "Ma-makasih," ujarku sembari meneguk air itu.


"Kamu masih syok, Beb. Yang tenang ya, disini ada kami. Cowok sialan itu nggak ada," ujar Sita.


Aku mengangguk pelan dan memberikan gelas minuman kepadanya lagi. Ia pu meminta tolong agar Andrew meletakkannya diatas meja. Setelah itu, aku kembali dibantu untuk berbaring. Sita menemaniku dari sisi kiri. Sedangkan Andrew duduk di tepian ranjang bagian kanan. Keduanya menatap diriku penuh rasa iba. Sepertinya kondisi sedang tidak stabil dan mampu memunculkan simpati orang lain. Dengan kata lain, aku sangat menyedihkan.


"Semua udah berakhir, Sayang," ujar Andrew kemudian.


"Iya Beb. Udah dong, jangan terlalu dipikirin. Gue sedih liat loe kayak gini," sambung Sita.


"Maaf. Maafin gue. Gue pun lagi berusaha. Gue nggak ada niat buat nyusahin kalian. Tapi, bayangan itu masih jelas sekali. Kalau inget, rasanya badanku sakit semua, Sita," jawabku.


Semua terdiam. Mungkin, proses yang harus aku lalui untuk melupakan kejadian itu memang memerlukan waktu yang panjang. Yah, aku harus berusaha kembali normal. Agar aku bisa berbaur dan menjalin kerja sama dengan orang lain. Apalagi, jika memerlukan kontak fisik seperti berjabat tangan.


Aku harus melupakan Haris, melupakan kejadian buruk tadi sore, aku harus kembali pada diriku sendiri. Aku tidak ingin larut dalam kesedihan bahkan trauma yang berlebihan. Lagipula Haris sudah ditahan, papa sudah bersedia berhenti menekanku. Tidak ada lagi mereka yang akan menghancurkan hidupku. Semoga Tuhan membantuku. Amin


"Kalian tidur aja, aku ambil kasur lantai dan tidur di bawah sini ya?Masih khawatir sama keadaan Navya," izin Andrew.


"Boleh. Tapi jangan macem-maceh ya loe!" tegas Sita.


"Kalau gue macem-macem. Dari dulu, gue udah macem-macemin Navya, Sit. Nggak perlu khawatir."


"Hehe... iya sih percaya. Kan loe bucinnya dia."


"Nah, itu loe tau."


"Hahaha... Andrew, Andrew."


Andrew mengambil langkah untuk keluar. Sita kembali terbaring di sampingku. Tak lama kemudian Andrew datang kembali dengan membawa kasur lantai. Ia menggelarnya di samping ranjang. Ia akan tidur disini dengan menjagaku. Sedangkan diriku hanya diam tanpa penolakan sembari menatapnya.


"Jangan pikirin macem-macem. Aku ada disini. Tidur lagi aja, setelah ini nggak akan ada lagi mimpi buruk itu," katanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2