
Aku menahan air mataku sekuat mungkin. Didalam mobil Andrew yang penuh dengan kenangan. Membuatku bernostalgia pada bayangan masa lalu indah yang pernah kami rajut. Kisah pilu yang tidak aku ketahui sama sekali, antara dirinya dan kekasihnya.
Sebuah kiasan. Bahwa cinta memang tidak harus memiliki. Namun, mengapa Andrew setega itu untuk membohongiku? Lalu menghempaskan diriku dengan sekasar ini. Peluh hati seolah menumpuk. Memumuk subur segala kebencian pada siapapun. Termasuk Andrew, bukan hanya Haris dan orang tuaku.
Namun, apa dayaku. Aku terlalu mencintainya. Mencintai Andrew yang sejatinya tidak diperuntukkan untukku.
Dengan sekuat hati ini, nyatanya air mataku jatuh lagi. Bersamaan dengan peningnya kepalaku karena luka yang kualami. Apa mungkin Andrew merasakan tentang perihnya hati ini?
Lantas untuk apa semua kekhawatirannya? Jika kami sudah menyelesaikan ini semua. Atau ia masih belum puas menyakitiku lebih dalam?
"Vya?" Panggil Andrew padaku.
"Hmm..." jawabku sembari mengacuhkannya.
"Maaf Vya, sekali lagi aku lancang sama kamu."
"Kalau kamu tau soal itu, kenapa masih berlaku seperti ini Ndrew?"
"Aku terlalu khawatir sama kamu Vya. Kamu nggak masuk selama empat hari, kamu telpon dan nangis."
"Semua sudah tidak berguna Ndrew. Lagipula bukan urusan kamu lagi"
"Aku tau."
"Terus?"
"Aku mohon ceritain sedikit aja soal masalah kamu sama aku, biar aku tenang. Aku bisa bantu kamu Vya."
"Buat apa lagi?"
"Vya please... aku nggak ingin kamu kenapa-napa."
Aku mengembuskan napas kasar. Kepedulian Andrew yang seperti ini membuatku tidak bisa berkata-kata. Aku sendiri bingung, mengapa ia masih keras hati untuk membantuku. Seharusnya, ia membantu dengan menjauhkan dirinya dariku. Apa ini termasuk dalam keegoisannya semata? Demi mendaparkan diriku lagi?
Sedang air mataku yang sudah tidak tertahan terus mengucur deras membasahi pipiku. Aku sangat lemah dihadapan Andrew. Masih banyak pikiran pengandaianku tentangnya. Jika saja ia benar-benar kekasihku, aku pasti memiliki alasan untuk menolak perjodohan gila itu.
Namun, takdir berkata lain. Nasib baik belum juga memihak padaku. Sepertinya Tuhan sedang menghukumku karena menyakiti hati wanita lain yang merupakan kekasih dari Andrew. Walau aku sama sekali tidak mengetahui tentang diri wanita itu.
Mobil Andrew berjalan begitu pelan. Sampai akhirnya membuatku terperanjat, karena Andrew menghentikannya disisi kiri jalan. Lalu tangannya mengulur kearah wajahku. Andrew mengusap cucuran air mataku. Raut mukanya begitu menyesal. Mungkin ia pikir dirinyalah yang membuatku hancur.
"Vya jangan nangis," katanya kemudian.
Aku masih diam kecuali sesunggukan yang masih bergeming mengisi ruangan mobil milik Andrew. Ingin sekali rasanya, kujatuhkan kepalaku pada pelukan Andrew. Mungkin jika hubungan kami tidak memburuk, aku pasti memberanikan diri untuk hal itu. Kuakui selama ini Andrew selalu membuatku tenang dikala kesal. Semua karena dirinya yang begitu lembut dan selalu mengalah.
Tidak menampakkan sedikitpun kebusukannya selama ini, yang membohongi diriku. Namun, bagaimana pun Andrew juga terlihat hancur saat menatapku. Bola matanya memerah, seakan menahan segala macam amarah dan juga penyesalan. Pakaiannya yang selalu rapi, kini berantakan tidak beraturan.
Ia berbohong dengan ketegaannya. Namun masih tersisip rasa cintanya padaku. Apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Hatiku sudah sangat kecewa padanya. Aku tidak bisa kembali hanya karena itu. Kesepakatan awal masih terus berjalan. Seandainya pun Andrew bisa memilihku serta melepas kekasihnya suatu hari nanti, belum tentu aku menerimanya kembali.
Hati yang telah hancur lalu dihancurkan lagi berkeping-keping. Jika Andrew kembali, rasanya terlihat seperti ia memanfaatkan wanita yang ada. Dan hal itu bisa membuat dirinya semakin jahat saja.
"Lanjut jalan, kenapa berhenti?" tanyaku setelah cukup tenaga untuk sekedar berucap.
"Kamu kenapa dulu?" tanya Andrew lagi.
Kutepiskan tangan Andrew dengan kasar agar menjauh dari wajahku. Ia terkejut karena telapak tangannya sampai terantuk dashboard mobil. Lalu ia menunduk, tanpa tau akan membujukku dengan cara apa lagi.
"Sakit ya? Maaf," ujarku karena merasa tidak enak hati juga padanya.
"Enggak kok Vya," jawabnya.
"Aku turun disini aja, Ndrew."
"Nggak! Jangan aneh-aneh, kamu lihat disini sepi banget."
"Terus kenapa kamu berhenti disini? Kamu mau apa lagi dari aku, Ndrew?"
"Aku mau kita balik, biar aku bisa lindungin kamu Vya."
"Gila ya kamu? Salah makan obatkah?"
"Aku serius Navya, aku nggak bisa kayak gini. Aku terlalu cinta sama kamu."
"Terus pacar kamu dikemanain haah? Jangan egois dong jadi cowok, emangnya kita sebagai cewek, bisa dimainin kayak gini?"
Andrew menengadahkan kepalanya keatas menatap langit yang nampak oleh pandangan matanya. Linangan air matanya tampak jatuh. Sungguh mengherankan. Namun sebagai pria, ia tetap menangis karena cinta.
Meski aku tidak tau, apakah itu asli atau hanya air mata buaya.
Aku sedikit menyesal karena mengikuti permintaan Andrew. Pada akhirnya kami berakhir bertengkar seperti ini. Sebagai wanita juga, tentu saja aku tidak segila itu. Menahan kekasih orang untuk hati dan keegoisanku semata. Apalagi jika menimbulkan masalah baru. Mengingat keluarga mereka sudah saling mengenal. Dan kemungkinan besar, mereka akan dinikahkan.
Rasanya ingin kabur darinya seperti yang kulakukan pada Haris. Namun, pintu mobil terkunci rapat. Seolah Andrew tau tentang rencanaku. Belum lagi keadaan jalan memang sepi. Baru aku sadari, ini bukan rute jalan untuk pulang.
"Bisakah kamu nunggu aku sebentar lagi Vya?" tanya Andrew selanjutnya.
__ADS_1
"Nunggu? Buat apa?" tanyaku untuk memastikan maksud perkataannya.
"Biar aku melepas Lusi, aku butuh waktu untuk ngomong sama dia. Sama orang tua kami, Vya yakinlah aku sayang, aku cinta sama kamu sampai sekarang. Demi Tuhan, demi apapun juga Navya."
"Maaf Ndrew, nggak bisa."
"Kenapa? Kamu masih sayang kan sama aku?"
"Ya! Aku masih sayang sama kamu. Kamu tau? Bahkan aku terus menolak permintaan Nevan untuk kembali demi kamu. Tapi apa yang kamu lakuin sama aku Ndrew. Ini lebih sakit dibanding perbuatan Nevan. Setidaknya Nevan mutusin aku dulu, sebelum menjalin hubungan sama orang lain, saat itu dan nggak serakah kayak kamu."
"Aku tau aku salah Navya, tapi hubungan kami yang lama. Bahkan aku diblokir sama dia pada saat jalin hubungan sama kamu, aku nggak tau kenapa dia balik dan keluarga kami... ah sudahlah. Intinya aku pengen perjuangin kamu sampai akhir, sampai kita menikah."
"Nggak! Nggak bisa! Kamu jangan egois, orang tua kamu gimana? Orang tua dia gimana? Aku kan udah tekanin soal ini kan sama kamu?"
Andrew hanya bisa mengusap kasar pada wajahnya. Ia tampak begitu frustasi karena menghadapi penolakanku yang begitu tegas. Aku hanya tidak ingin menambah permasalahan lagi. Terlebih jika Haris mengetahui hubungan kami, pasti pria busuk itu tidak akan tinggal diam.
Hari yang semakin sore sama sekali tidak mempengaruhi tekad Andrew untuk menahanku. Sampai-sampai aku kesal dan jengah sekali dibuatnya. Jika pulang dengan telat, pasti Papa akan sangat marah dengan segala keegoisannya. Amarah Haris pun akan bertambah. Astaga! Mengapa aku masih sesulit ini?
"Ndrew, aku mau pulang," kataku.
"Iya aku anter nanti kamu jangan khawatir," jawab Andrew.
"Yaudah sekarang kalau niat, udah mau gelap lho!"
"Aku mau kamu bersedia kembali Navya, aku mohon. Apa kamu nggak ada iba sama sekali sama aku yang sehancur ini?"
"Apa kamu bilang? Hancur? Sehancur apa? Setidaknya kamu masih punya cadangan, aku? Aku harus lewatin semua ini sendirian! Penyesalan, amarah, rasa bersalah, rindu dan sakit hati! Kamu pikir lagi, yang nggak punya rasa iba itu aku apa kamu???"
"Aku, ya! Aku yang salah! Tapi kenapa kamu nggak ngasih aku sedikit kesempatan buat perbaiki ini semua? Aku janji akan lepasin dia, dan kasih penjelasan sama orang tua Navya."
"Sekali lagi Ndrew, aku nggak seegois kamu. Aku nggak akan sampai hati nyakitin hati orang tua cewek kamu! Apalagi kalau kalian udah mau menikah, kamu pikir masalah segampang itu?"
"Vya aku mohon, aku bakalan usahain semuanya buat kamu. Dan aku udah jelasin semuanya sama Lusi, aku udah bilang sama dia, aku sayang banget sama kamu Vya."
"Nggak Ndrew!"
"Kenapa kamu nggak bisa percaya sama aku sekali lagi."
"Aku udah terlanjur kecewa dan..."
"Dan apa Navya?"
"A-aku... aku mau menikah sama orang lain."
"A-apa??? Nggak mungkin, ini pasti akal-akalan kamu buat nolak aku kan? Kamu mau balas dendam sama aku kan?"
Setelah menatap diriku yang semakin menangis menjadi-jadi, Andrew terkesiap. Tidak tau harus berbuat apa, sepertinya. Aku rasa hatinya sehancur aku. Meski ia juga menyakitiku, entah mengapa ada sisi hatiku yang terus membela dan iba padanya.
Pikiran burukku pada Andrew seolah hilang dibawa hembusan angin. Segala macam pertimbangan aku pikirkan. Dan akhirnya diriku tetap menolak untuk menerima Andrew kembali. Meski jauh dilubuk hati, aku masih merasa ingin.
Lagi-lagi Andrew mengusap air mataku. Ia menarik tubuhku untuk dipeluknya. Aku tidak cukup mampu untuk menolak tentang hal ini. Aku memang sangat membutuhkan sandaran untuk sekedar menenangkan hati.
Sedangkan hari semakin gelap. Lampu-lampu beberapa ruko di pinggiran mulai menyala. Memang daerah yang sepi namun masih ada beberapa toko disamping kiri dan kanan jalan. Mobil yang kami tumpangi berada di depan toko yang sedang tutup.
"Kamu jangan nangis, aku nggak sanggup lihat kamu kayak gini Navya. Yah, walaupun aku juga udah bikin kamu kayak gini," kata Andrew.
Bukannya membuatku mereda, hatiku malah semakin tergerus perih. Kucengkeram kuat baju Andrew. Kubenamkan pula wajahku dalam pelukannya, sampai disisi depan bajunya basah oleh air mataku. Sesenggukan semakin menjadi-jadi. Hatiku mengutuk semua orang, termasuk Haris.
Hingga beberapa saat kemudian, aku mulai tenang. Kutarik kembali diriku darinya. Andrew masih menatapku tajam penuh dengan tanda tanya. Sepertinya ia ingin bertanya lebih lanjut, namun terlihat masih enggan.
"Maaf, baju kamu jadi basah," kataku padanya
"Nggak apa-apa. Jadi kamu, emm... kamu mau menikah sama siapa Navya?" tanya Andrew kembali.
"Aku... aku dijodohin Ndrew."
Andrew tersentak kaget mendengar pengakuanku. Lalu melemah lagi, ia menggigit bibirnya beberapa kali.
"Dijodohin? Orang tua kamu udah pulang?" tanya Andrew selanjutnya.
"Udah, dan Papa sedang terlilit hutang."
"Navya?"
"Yah, jalan hidupku udah kayak gini. Jadi aku harap ini terakhir kita bersama."
"Kamu suka sama dia?"
"Ohh... di-dia baik kok."
"Serius? Jangan bohong!"
"Bukan urusan kamu juga."
__ADS_1
Mungkin dengan mengatakan begitu, Andrew akan menyerah olehku. Meski aku memang tidak pintar menyembunyikan kebohongan. Mana mungkin aku begitu mudahnya, mengatakan Haris adalah sosok yang baik. Mengingat wajahnya saja, aku sudah bergidik ngeri.
Dan itulah yang membuat Andrew tampak curiga padaku. Aku rasa Andrew telah mengenalku dengan baik. Apalagi jika sedang berbohong, aku selalu berkata sembari memalingkan wajah dari lawan bicara.
Ia mencengkeram tanganku dengan kuat. Lalu menatapku lagi, semakin tajam. Seakan-akan bisa menusuk ulu hati. Hati curiga.
"Aku mohon kamu jujur!" serunya padaku.
"Aku udah jujur Andrew!" balasku.
"Kamu bohong Navya!"
"Bohong apa? Buat apa juga aku bohong sama kamu?"
"Aku curiga yang bikin kamu luka kayak gini, orang itu."
"En-enggak kok, bukan! Dia orang baik lebih baik dari kamu!"
"Jujur!"
"Kalau aku jujur, terus kamu mau apa??? Ngeselin banget sih!"
"Mau bales dia."
"Jangan seenaknya aja dong! Kamu pikir kamu siapa???"
Andrew melemahkan ototnya. Serta melepas cengkeraman tangannya dari tanganku. Sorot matanya pun tak tajam lagi. Sepertinya ia mulai sadar. Ia memang tidak punya hak untuk tau tentang hidupku. Terlebih, aku akan menikah dengan pria lain.
Mungkin Sita dan Rezky pun telah sampai dirumah masing-masing. Aku tidak tau pasti, hanya getaran ponsel yang kadang berbunyi. Entah dari Sita, Rezki, Papa ataupun Haris. Yang pasti aku belum punya kesempatan untuk membukanya.
Yah, semua itu karena Andrew. Andrew yang terus mendesakku. Benar-benar pusing dan kalang kabut sendiri. Namun, sejujurnya senderan bahunya yang kurindukan terasa begitu nyaman. Disisi lain, ada rasa bersalah lagi pada kekasihnya.
Lantas, aku harus bagaimana?
"Sudahlah Ndrew, tolong pulangin aku," pintaku pada Andrew.
"Nggak!" jawab Andrew dengan tegas.
"Andrew!!!"
"Kamu ceritain dulu yang sebenarnya terjadi. Sampai aku bisa buat keputusan nantinya, Navya aku tau kamu bukan tipe manusia pembohong seperti aku. Aku tau kamu nyimpen banyak masalah sendirian."
Aku diam. Sepertinya yang ia katakan bukan main-main. Jika aku tidak jujur, pasti aku tidak akan dipulangkan. Mau berbohong, aku memiliki kebiasaan jika berucap tidak jujur.
Apakah jujur pada Andrew merupakan keputusan yang tepat? Aku bingung sekalu ya Tuhan!
"Vya?" ujarnya lagi.
"Oke, dikit aja. Haris namanya, anak orang kaya yang uangnya dipinjam Papaku. Buat usaha yang tidak jelas dan nggak aku tau. Kamu tau Ndrew, aku tadi pagi udah mau berangkat kerja."
"Terus?"
"Haris berencana membawaku entah kemana, aku menarik lengannya. Kami kecelakaan dan aku kabur darinya. Ada cowok baik berhenti dan membawaku ke rumah sakit."
"Ya Tuhan! Navya?"
"Apa? Udah cukup, itu yang terjadi. Dan sesuai janji kamu, pulangin aku se-"
Sebuah kecupan dari Andrew mendarat pada bibirku tiba-tiba. Sontak saja aku terkejut dan kaku seketika. Untuk beberapa saat, aku diam tanpa bisa melawan.
Jujur saja aku hampir terbawa suasana. Namun kutepis reaksi itu seketika. Dan menjauhkan wajahku dari Andrew.
Plaaakkk!
Andrew tidak peduli dengan respon marahku sepertinya. Meski aku menamparnya begitu keras. Ia berusaha memelukku lagi sekarang. Sedang perlawananku tak cukup kuat menghadapi tenaga seorang pria.
"Maaf Navya," katanya kemudian.
"Jangan gini Andrew! Loe kurang ajar!" tegasku.
"Maafin aku yang nggak bisa jagain kamu, sampai kamu ngalamin semuanya. Kamu terluka lagi."
"Tolong bawa aku pulang Ndrew, aku mohon!"
"Kamu janji ya, kalau ada apa-apa bilang sama aku. Walaupun ini terakhir kalinya kita bersama, setidaknya aku bisa menjaga kamu dari jauh."
"Iya aku janji, tapi tolong jangan kayak gini. Ini nggak boleh lagi, bawa aku pulang."
"Baiklah."
Andrew melepas dirinya dariku. Kami saling diam. Ia memutar lagi setirnya. Mobilnya melaju pelan lalu semakin cepat. Kami meninggalkan tempat, dimana menyisakan pertengkaran diantara kami.
Sedangkan aku harus bersiap diri untuk menghadapi Papa setelah ini. Lelah sekali diriku.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa like+komen