
"Uh." Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang berisi kasur empuk milikku yang sekian lama tidak aku tiduri. Senyum merekah, karena kenyamanan ini. Penat akibat perjalanan udara berangsur menghilang. Yang namanya rebahan itu memang sangat menyenangkan. Tidak hanya membuat tubuh menjadi nyaman, melainkan juga pikiran. Dengan rebahan, daya khayal akan semakin tinggi.
Tentu saja, aku membayangkan sosok Andrew di dalam benakku. Rindu, rasa itu yang mendera hatiku. Aku tidak perduli perkara terbilang berlebihan. Lagipula, aku tidak meminta hati untuk merasakan. Rasa cintaku kepadanya, yang membuat perasaan itu datang tanpa permisi. Bahkan tak kenal waktu, meski belum ada sehari aku berpisah dengannya. Namun aku harus bersabar, setidaknya bisa aku gunakan waktu ini sebagai penjeda kebersamaan kami. Meski memang aku merasa sedikit aneh atau bisa dibilang ada yang kurang.
Aku pejamkan kedua mataku, dengan senyuman yang terlukis di wajahku. Benakku membayangkan banyak hal indah, mungkin perihal pernikahan Sita yang akan digeral sebentar lagi. Aku tidak ingin pusing dulu atas hubunganku dengan papa ataupun kekhawatiran mengenai Haris. Yah, meski kekhawatiran itu masih tetap ada.
"Navya!" Seseorang memanggil namaku dari luar kamarku, diiringi suara ketukan pintu beberapa kali. Seketika aku membuka mataku yang sempat aku pejamkan. Lantas bangun dan mengambil langkah menuju pintu kamar yang tengah tertutup.
Aku menghela napas terlebih dahulu sebelum membuka. Aku rasa, pelakunya adalah mama. Setelah cukup tenang, tanganku segera bergerak untuk membuka handle pintu. Perlahan dan akhirnya aku mendapati wajah mama. Aku tersenyum, sedangkan mama terkejut bak tidak menyangka. Meski jelas-jelas beliau sudah mengetahui bahwa diriku ada disini, bahkan sempat memanggil namaku.
"Hai, Ma," sapaku kepada mama. Beliau masih tidak bergerak dengan bola mata yang tampak terbelalak.
Sampai akhirnya, rasa terkejutnya melemah. Dengan spontan mama memeluk diriku erat, bahkan sampai terisak. Disela-sela isakan itu, beliau berkata, "kok kamu pulang nggak ngomong sih, Navya? Ini mimpi atau bukan?"
"Emm, ... yah, aku mau buat Mama terkejut," jawabku sembari melingkarkan kedua lenganku di tubuh mama.
Mama menangis. Maybe, merasa rindu terhadap anak satu-satunya ini. Aku tidak tahu, namun sepertinya benar. Namun tidak denganku, kala berangkat ke Singapura pun tidak ada air mata yang menetes di pipi ketika berpisah dengan mama. Meski hubunganku dengan mama sudah membaik dan sering berkomunikasi lewat suara, aku tetap tidak menangis karena hal rindu. Mungkin karena diriku sudah terbiasa tidak bersama kedua orang tuaku.
"Udah, Ma. Jangan nangis lagi."
Mama melepaskan pelukan dari tubuhku. Beliau menatapku dalam-dalam, aku hanya tersenyum. Dibelainya wajahku penuh rasa kasih sayang. Lalu beliau kembali berkata, "Mama pikir, Mama akan lihat kamu lagi setelah sekian tahun. Nggak nyangka kamu beneran pulang, Navya."
Aku tersenyum. "Ada sesuatu yang harus Navya urus di sini, Ma."
"Pernikahan Sita?"
"Mama tahu?"
"Mama udah dapat undangannya."
"Iya, Ma. Karena hal itu. Maaf ya, Ma. Harusnya Navya pulang demi Mama, tapi malah orang lain."
Mama tersenyum. "Nggak apa-apa. Mama paham seberapa dekatnya kamu dengan Sita, bahkan melebihi kedekatan kamu dan Mama. Emm, ... baiklah kamu udah mandi, kan? Istirahat dulu, Sayang. Mama akan siapin makan malam."
Beliau kembali tersenyum, kemudian membiarkanku untuk beristirahat. Hari memang semakin sore, wajar jika mama hendak memasak. Lalu, selepas mama turun, aku kembali menutup kamarku. Kuhampiri lagi ranjang tersayang milikku dan merebahkan diri di atasnya setelah sampai.
Ada semacam perasaan tidak nyaman. Perihal kedekatan diriku dan mama yang tidak sedekat aku dan Sita. Mendengar jawaban mama tadi, rasanya malah sangat gusar. Bagaimana tidak, beliau menjawab dengan ekspresi wajah yag sedikit masam. Seperti ada rasa kecewa atau cemburu dari kedekatanku dengan Sita. Lantas, baiknya bagaimana? Aku sudah terlalu lama hidup berpisah dengan kedua orang tuaku. Terakhir pada saat kasus Haris. Meski sempat bercanda layaknya seorang ibu dan anak, tetap saja, ketika kami bertemu setelah berpisah lagi pasti ada kecanggungan lagi diantara kami.
"Entahlah," gumamku. Aku tidak tahu harus bagaimana kecuali menjalani dengan seadanya. Toh, semua sudah terlanjur. Yang penting aku tidak bersikap terlalu dingin. Namun bagaimana dengan papa? Benakku kembali terbayang akan masa lalu, meski hanya melihat wajah papa. Aku belum sembuh secara sempurna dari semua ketakutanku dimasa lalu. Bahkan papa-lah yang turun sebagai penyebab dari kekacauan hidupku. Menghadapi papa saja seperti ini, bagaimana aku bisa menghadapi Haris? Bahkan jika ia benar-benar bebas!
Aku menghela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Kutepis semua pikiran aneh itu dan mencoba memejamkan mataku. Namun sayang, ponselku tiba-tiba berdering, sehingga rencana tidurku menjadi batal. Aku meraihnya dari atas kepala. Aku pikir adalah Andrew, namun ternyata bukan, melainkan kakak-kakakan yang cantik. Lantas, aku menekan tombol hijau dan memasangnya di telingaku tanpa aku pegang.
__ADS_1
"Halo, Kak Kate. Gimana tadi urusan?" sapaku bersamaan pertanyaan perihal kejadian sebelum aku naik pesawat pagi tadi.
"Nav, ... capek ya?" tanyanya dari kejauhan dengan suara yang parau.
Aku membuka mataku lebar-lebar. "Kak Kate lagi nangis? Kakak diapain?"
"Nggak diapa-apain kok. Maaf ya, nggak bisa ikut pulang."
"Hmm ... ya, nggak apa-apa. Bukan salah Kakak. Terus gimana? Kalian nggak tengkar lagi, kan?"
Tidak ada jawaban. Sepertinya Kak Kate masih memilih diam. Baiklah, sepertinya aku tidak boleh mengorek lebih dalam. Seandainya ia akan bercerita maka akan tetap aku dengarkan.
Dengan suara paraunya, Kak Kate terdengar sedang berdeham, mungkin untuk memperbaiki pita suaranya yang bindeng itu. Sampai akhirnya, ia kembali berkata, "aku sekarang di rumahnya Fandy, Nav."
Baiklah, ia bersedia bercerita. Aku membangunkan diriku dan bersandar. Setelah itu kufokuskan otakku kepada cerita Kak Kate. "Terus? Nggak ada kejadian buruk kan, Kak?"
"Nggak ada. Tapi aku bingung, Nav. Dari tadi, Fandy terus baikin aku. Aku masih males dan cuek aja, semua yang aku mau hari ini dia turutin."
"Kak Kate seneng?"
"... entah. Aku bingung, Nav. Terlalu banyak rasa kecewa, mungkin karena itu sekarang aku malah jadi plin-plan. Disisi lain, aku udah bilang sama kedua orang tuaku kalau mau pulang hari ini. Pasti mereka menunggu, eh sekarang malah nggak jadi. Aku bener-bener harus pulang, Nav. Tapi Fandy, Fandy nahan aku dan bahkan sujud-sujud enggak jelas."
Cinta memang rumit. Bukan hanya kepada Kak Kate, melainkan diriku. Namun soal cintaku sudah membaik, tidak dengan Kak Kate. Ia diambang bimbang ketika sang pria telah membuka hati. Ada dua hal yang harus ia pikirkan, melainkan seorang pria atau orang tua. Untuk hal ini, aku tidak bisa mengatakan apapun. Karena aku pun, tidak bisa dewasa ketika menyikapi setiap masalah yang sempat menerpa.
Akhirnya aku berdeham. "Pikirkan baik-baik, Kak. Aku nggak bisa kasih saran apapun karna aku juga enggak dewasa, bahkan terbilang labil sama halnya dengan Affandy," ujarku kemudian.
"Aku bingung, Nav. Fandy adalah sahabatku sekaligus orang yang aku cintai sampai sejauh ini. Dia terus menolakku dengan alasan merusak persahabatan kami dan juga alasan karna papaku."
"Aku paham, Kak."
Kak Kate terdengar terisak. "Kini, meski kami enggak memiliki hubungan istimewa, persahabatan kami pun udah hancur. Jika aku menerimanya, hatiku menyimpan banyak kecewa, Nav. Apalagi ketika mengingat Fandy sempat mencoba mencari cewek lain."
"Kak, tapi itu karna Fandy ingin move on. Bukan karna nggak cinta sama Kakak, kan? Aku enggak paham soal persahabatan antara cewek dan cowok. Mungkin Fandy juga nggak mau kalian berantem kalau pacaran dan malah makin jauh. Soal papa Kak Kate juga, itu bukan hal mudah. Semua hal yang berkenaan dengan orang tua itu nggak mudah, Kak."
"Terus aku harus gimana? Menerima Fandy dan melupakan tingkah lakunya yang menyakitiku? Aku udah sabar selama ini, Nav. Bahkan sampai bertahun-tahun. Pada saat aku punya pacar lain, Fandy terus menyindir bilang nggak suka. Aku putusin karna aku enggak mau nyakitin perasaan Fandy, Nav."
"...."
Demi apa? Mengapa aku malah yang kena? Oh, baiklah. Mungkin Kak Kate merasa sangat kesal, aku paham dan mengerti. Menurut ucapannya tadi, sepertinya ia pun sempat menjalin hubungan dengan pria lain. Tanpa perasaan mungkin, sama seperti pada saat Affandy bilang menyukai diriku. Mereka berdua hanya berusaha untuk mencari orang baru. Aku tidak menyangka, seorang Affandy yang sehebat, pinta, bahkan berpikiran maju bisa sebodoh itu dalam urusan asmara. Mungkin itulah salah satu kelemahan Affandy. Yah, sejauh yang aku tahu, Affandy juga bukan tipikal orang yang mudah peka.
Entahlah, urusan mereka semakin rumit kalau aku pikirkan. Mungkin karena aku bukan pelaku utama dalam cerita mereka. Aku hanya seorang figuran yang sempat menjadi target cinta Affandy. Aku berpikir; apa aku bisa sebahagia sekarang jika memutuskan untuk menerima ajakan Affandy dalam ajakannya menjalin hubungan? Sepertinya tidak. Justru aku sedang diselamatkan oleh Tuhan dari lara hati lagi. Ada kemungkinan Affandy tidak bisa melupakan Kak Kate, saat bersamaku. Jalanku memang bersama Andrew.
__ADS_1
"Nav?"
"Ya, Kak."
"Maaf, kayaknya aku terlalu emosional."
"Nggak apa-apa kok. Aku ngerti. Fandy kemana? Nggak apa nih telelpon aku?"
"Affandy cari makan keluar."
"Oh, oke. Gimana ya, Kak? Aku juga bingung dan enggak jago dalam urusan ngasih saran. Karna aku pun penerima saran. Tapi, ... aku berharap Kak Kate bisa memutuskan salah satu pilihan dengan baik. Jangan sampai menyesal, Kak."
"... mungkin butuh waktu, Nav. Maybe, butuh waktu satu minggu atau lebih. Aku enggak tahu."
"Selama itu, Kak Kate bisa berpikir sekaligus melihat perubahan Affandy. Aku bakalan balik ke sana. Aku temenin Kak Kate nanti."
"Thanks, Nav. Sorry, ganggu ya. Em, Fandy kayaknya dateng. Aku matiin dulu. Bye, Nav."
Sebelum aku menjawabnya, Kak Kate langsung mematikan panggilan. Aku melepaskan ponsel dari sentuhan telingaku dan membuangnya begitu saja di atas kasur. Kuhela napas dalam sembari terpejam, lalu kembali aku hembuskan. Apalah cinta itu? Aku tidak terlalu mengerti. Namun aku pun merasakan cinta terhadap Andrew. Oh, apakah benar-benar cinta atai sebatas obsesi diantara kami? Entahlah, aku dan dirinya bahkan tidak bisa melepaskan satu sama lain. Hubungan kami pun semakin membaik dan berencana ke jenjang pernikahan.
Namun saat ini, cinta sedang mempermainkan dua insan yang aku kenal. Aku ikut merasakan kesedihan, kebimbangan dan kekecewaan yang dilontakan Kak Kate kepadaku. Bukti bahwa cinta itu bisa saling menyakiti, disisi saling menyayangi. Jika membayangkan hubungan mereka berdua, perasaanku ikut remuk redam. Persahabatan keduanya jadi alasan penghalang untuk bersama, namun pada akhirnya mereka hanya bisa saling menyakiti. Orang yang pintar pun belum tentu menghadapi perkara cinta. Apalagi diriku yang bodoh dimasa lalu. Kini aku lebih beruntung karena bisa bersama Andrew dan memaafkan kesalahannya, begitupun dirinya kepadaku.
Kilasan masa laluku yang kelam dan sangat egois, kini menjadi sebuah pengalaman berharga. Bukan hanya untuk tetap waspada, melainkan untuk pelajaran dalam sikap. Aku tahu aku masih belum se-dewasa itu, namun aku ingin belajar. Terutama dalam memaafkan orang lain. Meski saat ini masih terhalang rasa trauma yang belum hilang secara sepenuhnya. Aku masih harus mencari cara agar bisa memaafkan papa dan Haris.
"Navya." Seseorang bersuara berat tiba-tiba memanggil namaku, diiringi ketukan di pintu kamarku. Seseorang itu adalah orang yang baru saja aku pikirkan. Ya, itu suara milik papa.
Aku menelan ludah seketika. Belum aku jawab sama sekali. Bahkan beliau sampai memanggilku sebanyak tiga kali. Tubuhku kembali bergetar, jantungku berdegup kencang. Aku mencengkeram rambutku dan menekankan rahangku. Tidak! Aku tidak boleh seperti ini. Semua sudah berlalu, papa tidak jahat lagi.
Ayolah, Navya. Aku sempet bicara sebelum ke Singapura. Tapi, ... kenapa perasaan sesak ini malah muncul sekarang?!
"Navya?" Papa memanggilku lagi. Sedangkan aku masih sibuk menenangkan diriku. Aku masih terus mencengkeram rambutku dengan kedua telapak tanganku.
Mengapa seperti ini?
"Hmm, ... mungkin masih tidur," gumam papa. Suara beliau masih terdengar di telingaku. Kemudian tapak kaki beliau terdengar tengah menjauh dari kamarku.
Napasku terengah-engah. Kulepaskan rambutku dan mendongak pasrah. Aku belum siap. Ini merupakan efek jangka panjang dari masa lalu itu, dan kini terjadi. Mungkin kala itu, responku hanya pasrah sehingga masih bisa berbicara dengan papa. Namun setelah sekian bulan tidak bertemu, gambaran-gambaran kala itu kembali muncul di benakku. Tubuhku menjadi gemetar, jantungku berdegup kencang dan napas yang tidak beraturan.
Lantas, untuk apa aku berusaha membebaskan papa dari jerat hutang yang menimpa beliau? Jika menatap wajah beliau saja, aku seperti gila. Yang ada di benakku adalah; aku takut dijodohkan lagi, aku takut dibentak lagi dan juga dipaksa untuk menuruti keinginan beliau. Apa aku sudah masuk dalam kategori gila?
Enggak, Nav! Ya, aku hanya belum terbiasa lagi. Besok atau lusa, akan sembuh.
__ADS_1
.Bersambung ....