
Ternyata arah jalan yang Andrew tempuh adalah jalan alternatif menuju apartemennya. Dan kini sudah sampai
dtempat yang ia tuju. Rasanya aku ingin melarikan diri dari sekarang. Namun genggaman tangannya begitu kuat mencengkeram pergelangan tanganku.
“Sakit Andreeeewww!!!” Bentakku.
“Aku mohon dengerin penjelasanku dulu, ikut aku keatas.”
“Penjelasan apa lagi? Kita sejak awal emang bukan siapa-siapa gak ada yang perlu dijelasin!”
Andrew beranjak keluar dari mobilnya. Kemudian ia membuka pintu dari samping tempatku duduk dan menggandengku menuju apartemen miliknya. Tanpa mau mendengar segala penolakanku. Yeah, tenaga seorang pria memang sangat besar.
Mau tidak mau menuruti langkahnya. Jika aku semakin memberontak pergelangan tanganku akan semakin
sakit. Terlebih ada banyak orang berlalu lalang di gedung apartemen. Bisa jadi menimbulkan prasangka dari mereka. Dan aku tidak mau jadi bahan tontonan. Apalagi orang jaman sekarang gemar sekali mengabadikan momen-momen seperti ini di ponsel mereka. Walau hanya untuk mengisi isi status media sosialnya.
Nafasku memburu, aku merasakan kegelisahan yang luar biasa. Aku harus menghadapi kepanikan Andrew yang sangat besar. Sehingga menimbulkan prasangka dalam pikiranku. Tentu saja aku takut ia akan melakukan hal-hal bodoh yang merugikan untukku atau untuk dirinya. Namun tetap saja aku belum mampu melakukan apapun. Semoga yang aku takutkan tidak terjadi.
Sesampainya di apartemen, dengan cepat Andrew membuka pintu. Dengan genggaman tangannya yang tidak terlepas sedikitpun dariku. Ia menyenderkanku dan memojokkanku di balik pintunya. Dengan kedua tangan yang ia letakkan di kedua sisi tubuhku dan bertumpu pada pintu untuk menghalangi pergerakanku.
Aku hanya menatapnya tajam dengan rasa cemas yang semakin menggila di lubuk hatiku. Mata Andrew begitu merah. Entah akan menangis atau menahan amarah.
Benar saja , tidak lama kemudian air matanya menggulir dari bola matanya. Ia bersimpuh, berlutut di hadapanku. Tentu saja aku terperanjat dengan tingkah lakunya. Ingin rasanya aku memeluk dan menenangkannya. Namun cepat-cepat aku buang rasa simpatiku. Toh, aku tidak tau air mata Andrew mempunyai arti seperti apa.
“Vya maafin aku, aku tulus sayang sama kamu. Jangan tinggalin aku Vya aku mohon.” Rengek Andrew memohon padaku bak seorang anak kecil yang sedang meminta mainan pada ibunya.
“Buat aku masih disisimu Ndrew?? Buat jadi selingkuhan kamu? Kamu pikir aku ini apa Ndrew? Emangnya aku semurah itu di mata kamu?” Ujarku.
“Aku bisa jelasin semuanya Vya. Semua perasaanku sama kamu bener-bener tulus, tapi...”
“Tapi apa? Kenapa kamu jahat banget? Kenapa kamu deketin aku kalo masih punya pacar? Kenapa Ndrew?”
“Aku gak bermaksud nyakitin kamu Vya.”
“Tapi kamu udah bikin ini terjadi. Dan ini alasan kamu gak pernah minta aku jadi pacar kamu? Terus semua yang kita jalanin itu apa?”
Andrew terdiam aku pun begitu. Air mata yang sudah aku tahan selama beberapa hari akhirnya membanjiri pipiku. Aku tidak sanggup lagi menahan rasa sakit yang terus menyayat hatiku. Aku ingin kejelasan tentang alasan Andrew bersikap manis padaku selama ini.
“Vya ikut aku ke sofa kita omongin baik-baik.” Ajak Andrew.
__ADS_1
“Gak, disini aja!!”
“Vya aku mohon aku bakalan jelasin.”
“Yaudah disini aja kenapa harus kesana?”
“Vya aku mohon.”
“ENGGAAAKK!!!”
Andrew mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tampak pasrah dan bingung. Matanya terus menggulirkan air kepiluan dari pelupuknya tanpa ekspresi sayu. Sedang aku sudah terduduk menyenderkan punggung di daun pintu apartemen. Sama sedihnya, bingungnya dan tidak tau harus bagaimana kecuali pasrah.
Entah apa yang membuat Andrew begitu bersikeras menahanku. Jika ia hanya memainkan perasaanku, seharusnya ia bisa berbangga hati karena telah berhasil. Dan membuangku sekarang juga. Supaya ia bisa menjalani biduk asmara bersama kekasihnya kembali tanpa embel-embel orang ketiga.
Aku terus menguatkan hatiku agar tidak luluh kembali. Aku tidak mau dibodohi untuk kesekian kalinya. Andai saja
aku tidak masuk kedalam mobilnya beberapa waktu yang lalu. Aku pasti sudah sibuk dengan pekerjaan tanpa harus menghadapi situasi seperti ini. Yah, nasi sudah menjadi bubur percuma saja menyesal sekarang. Tidak ada pilihan lagi kecuali melaluinya.
Andrew meraih tanganku dari arah duduknya yang berada tepat di depanku. Tampaknya ia tidak mau memaksaku lagi untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk berbicara. Lagi pula dayaku seakan menghilang, sampai-sampai ingin berdiri saja sudah tidak sanggup. Sampai sekarang ini aku masih saja terisak dan menangis begitu pilunya.
“Maafin aku Vya.” Ucap Andrew.
“Semua sudah hikss.. terjadi hikss... jangan lagi.” Jawabku tersendat-sendat.
“Percuma.”
Andrew menangkupkan kedua tangannya di wajahku. Ia mengusap setiap deraian air mata yang terus keluar. Aku
hanya beringsut, mencoba mengalihkan pandangan. Aku tidak mau menatap wajahnya. Aku tidak munafik, jauh di dasar hatiku masih tersimpan rindu untuknya. Namun, apa mau dikata. Aku terlanjur mengetahui rahasianya. Semua telah terbongkar, semua telah berhasil meremukkan perasaanku dalam waktu yang begitu singkat.
“Vya dengerin aku.” Ujar Andrew.
“Ehmm.” Jawabku sekenanya.
“Cowok manapun pasti akan suka sama kamu.”
“Terus.”
“Kamu cantik.”
__ADS_1
“Ohh jadi kamu deketin aku karna itu secara fisik doang yang mungkin pacar kamu gak secantik aku ??”
“Gak gitu Vya, jujur aku juga kagum pas pertama liat kamu secara inting cowok kayak gitu. Tapi aku gak pernah
ada niatan deketin kamu karna itu.”
“Buktinya?”
Andrew menghela nafas dalam. Tampaknya ia mencoba menenangkan diri terlebih dahulu.
“Kalo boleh tau kamu tau masalah ini dari siapa Vya?”
“Emang penting sekarang? Seandainya aku gak tau kamu bakalan umpetin sampe kapan Ndrew?”
“Gak, aku cuman pengen tau aja. Aku juga udah pengen ngomong tapi aku belum sanggup aku gak mau kehilangan kamu.”
“Haha berengsek lo!!”
Aku menengadahkan kepalaku menatap langit-langit ruangan. Meskipun mataku masih memerah menyisakan bekas deraian air mata. Aku tidak ingin terlalu lama terlihat menyedihkan. Bisa saja Andrew akan bersorak bergembira.
Kami terdiam begitu lama, dengan posisi duduk di balik pintu yang tertutup. Sama-sama terlihat menyedihkan. Aku hanya menangkap raut bingung di wajah Andrew. Tampaknya ia bingung akan memulai pembicaraan dari mana.
“Aku pengen pulang Ndrew!” Ujarku.
“Nggak Vya.” Jawabnya yang masih saja bersikerang menahanku.
“Buat apa disini. Aku pikir semua sudah berakhir.”
“Gak Vya kasih aku waktu.”
“Ndrew jangan bersikap kayak anak kecil! Aku udah gak kerja hari ini gara-gara kamu.”
“Tolong Vya. Aku tau aku salah sangat salah.”
“Aku kasih waktu kamu sepuluh menit Ndrew. Cepet bilang dan biarin aku pulang.”
“Kita ke sofa dulu biar sama-sama enak ngomongnya. Please.”
Dengan malas aku mengikuti ajakannya. Supaya cepat selesai dan aku bisa meninggalkan tempat ini. Aku sudah
__ADS_1
siap dengan segala kemungkinan yang akan Andrew katakan.
Bersambung...