Who Is My Love

Who Is My Love
Nanti Dulu


__ADS_3

Tadi malam, aku naik ke lantai dua tepat pukul sepuluh malam. Menghabiskan malam yang singkat itu dengan melempar kelakar yang terkesan garing, mencurahkan isi hati tentang kerinduanku terhadap tanah air dan semua orang terdekatku. Sedangkan Andrew sebisa mungkin seksama dalam mendengarkan semua itu, bahkan keluh kesahku. Ia tidak menampik bahwa dirinya merasakan hal yang sama. Hanya saja, ia jauh lebih kuat dariku. Hal itu membuatku bersyukur karena ada satu orang yang bisa memahami tanpa harus memarahiku, karena banyaknya keluh kesahku.


Dan pagi ini, aku sengaja untuk bangun lebih pagi. Bahkan selepas subuh, aku sudah beberaih diri. Langit masih sangat gelap lantaran jam enam saja belum sampai. Bersama secangkir kopi susu hangat, aku menikmati udara pagi ini yang masuk melalui celah jendela. Entah Sinta dimana, tampaknya tadi malam ia kembali ke kamarnya bersama Raya. Aku sampai berpikir, apakah posisi tidurku sangat menganggunya? Ah ... mungkin aku akan memastikannya nanti.


Lalu aku mengeluarkan barang yang ada didalam salah satu paper bag. Sejumlah alat rias yang hampir setengah tahun ini tidak aku temui sama sekali. Kemudian aku taruh diatas meja kecil yang berada di kamar ini. Aku mengambil kaca kecil didalam tasku yang berada tidak jauh dariku. Kuangkat benda tersebut dan memandangi pantulan wajahku didalamnya. Percayalah, mengistirahatkan wajah dari sentuhan make up justru lebih menyehatkan. Hanya saja, terlihat lebih pucat saja.


Hatiku bimbang, apakah harus memakainya sekarang. Maksudku untuk berangkat bekerja nanti. Sejujurnya aku sudah teramat nyaman menjadi diriku sekarang ini. Hanya saja, aku perlu membuktikan sesuatu kepada tiga ekor ular betina itu. Supaya tidak seenaknya saja menilai aku tidak pantas bersanding dengan Andrew. Padahal tanpa mereka tahu, aku pernah menjadi princess di kantor lamaku. Ah ... sudahlah, memikirkan mereka, aku bisa menjadi angkuh kembali.


Kumulai dari mengaplikasikan pelembab yang sudah sesuai dengan jenis kulitku pada wajahku yang sudah kubersihkan. Sampai rata dan membiarkannya beberapa menit. Setelah itu, foundation tipis sebagai alas bedak, tentu saja disesuaikan dengan warna kulit. Foundation sudah tersentuh merata, aku memoleskan bedak. Tak lupa kuhiasi mataku dengan make up yang sesuai dalam kesan natural. Seperti ini sudah memberikan kesan yang luar biasa. Wajahku terlihat lebih cerah dan tentunya lebih cantik. Aku sampai tersenyum-senyum sendiri.


Puas melihat-lihat wajahku sendiri, aku melanjutkannya pada bagian alis. Sejak dulu, alis adalah bagian tersulit untuk aku lakukan. Padahal tinggal menarik garis saja, tapi sulitnya luar biasa. Namun bukan berarti aku tidak bisa. Setelahnya aku menambahkan polesan tipis blush on berwarna orange-kecokelatan beserta highlighter untuk kesan yang glowing. Untuk bibir, warna nude natural saja. Sempurna!


"Pft ... hahaha." Aku sampai terkekeh menatap tampilan diriku ini. Sudah lama tidak seperti ini, rasanya sungguh menggelikan. Terlebih pakaian terkesan lebih maskulin beserta rambut yang sangat pendek. Diriku tidak bisa seimbang jika dibandingkan dengan Agnes Mo, bahkan artis internasional itu selalu tampil sempurna dengan gaya pakaian dan rambut apa saja.


Apalah daya diriku yang hanya orang biasa. Menurut pribadiku sendiri, tanpa rambut panjang dan gaun, riasanku benar-benar sangat tidak cocok. "Oke, jangan sekarang. Gue enggak nyaman!"


"Apanya, Nav?" Suara tanya itu sangat membuatku terkejut. Sampai lipcream yang masih kupegang meloncat jatuh begitu saja.


"Sintaaaaa! Ketok-ketok dong!" seruku kepada Sinta sang pelaku.


"Maaf, maaf, lagian pintu loe kebuka lebar banget. Gue mau ambil HP."


"O-oke."


"Eh? Cantik."


"A-apa?"


"Tumben loe cantik." Sinta melangkah maju untuk menghampiriku. Sontak aku bergidik dan memundurkan posisi tubuhku. Namun apa mau dikata, Sinta berhasil meraih wajahku. "Cantik tauk!"


"Emang biasanya gue jelek banget ya?"


"Enggak sih. Sama cantiknya, tapi ini kan Navya dimasa lalu. Cantik, aaaaaa! Jadi gemes gue."


"Apaan sih?! Lebay deh. Gue mau hapus, jelek."


"Eh? Jangan cewek bodoh! Udah bener-bener juga." Sinta menghentikan gerak tanganku dan melempar tisu basah dihadapan kami. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya berharap aku tidak melakukannya. Kuhempas tangan Sinta segera, bahkan ia hampir terjatuh namun langsung aku raih lengan tangannya.


Tentu saja tekadku lebih keras darinya. Aku sudah teramat nyaman menjadi diriku saat ini. Belum saatnya aku menunjukkan pesonaku. Lagipula mereka bertiga belum melakukan sesuatu yang keterlaluan dan jangan sampai juga.


"Kenapa sih dihapus? Mubadzir tauk!" ujarnya memastikan alasan dibalik tingkahku ini.


"Nggak apa-apa, Sin. Kenapa sih loe heboh sendiri?" tanyaku kembali sembari menatap tajam ke arahnya.


"Nggak tahu kenapa, gue demen banget lihat cewek cantik tuh. Apalagi kalau udah dandan udah kayak barbie gitu. Gemes deh pokoknya."


"Loe belok?"


Ia menepuk bahuku seketika. "Amit-amit, Navya. Gue masih normal, gue masih punya pacar laki. Sembarangan amat loe kalau ngomong! Pokoknya gemes ajalah, kayak lihat idola artis gitu."


"Yealah, Sin. Loe sendiri udah cantik kok, ngapain gemes sama cewek lain?"


"Hidung gue pesek soalnya hehe. Kalau bisa, gue cabut hidung loe, gue pasangin di muka gue."


"Heh! Pesek bukan berarti jelek. Banyak yang cantik, terus yang penting hatinya."


"Halah, sok loe."


"Hahaha."


"Gue cabut deh. Ambil HP doang, pokoknya gue tunggu loe jadi cakep lagi kayak barbie."

__ADS_1


Inginku juga seperti itu. Namun aku malah tidak percaya diri untuk kembali pada diriku setengah tahun yang lalu. Entah mengapa, ada rasa getir tersendiri di hatiku. Ataukah aku masih menyimpan banyak dendam didalam hati sana. Entah bagaimana orang menilai diriku dimasa lalu, kebanyakan dari mereka memang cukup mengganggu. Terlebih kedatangan Haris yang membuatku hampir gila menorehkan sejumlah trauma yang mendalam. Aku belum siap.


Bukan berarti aku merasa paling cantik. Bahkan Kak Kate dan beberapa rekanku di negara ini malah jauh lebih cantik. Hanya saja, trauma memang memberikan kesan yang luar biasa. Bayang-bayang lelaki hidung belang atau setiper dengan Haris membuatku berpikir ulang. Biarlah, mungkin saat Linseyld dan kawan-kawannya itu semakin memberikan tingkah yang menohok, pada saat itu juga aku harus beraksi.


Aku kembali membersihkan sisa-sisa riasan yang baru saja aku pakai menggunakan tisu basah. Walau sedikit perih, karena lupa membeli micellar water. Sampai bersih, sampai tuntas, sampai tidak tersisa sedikitpun make up di wajahku. Kupandangi wajahku lagi pada pantulan kaca kecil.


"Yah, seperti ini jauh lebih baik," gumamku diiringi semburat senyuman. Nanti aku akan berangkat seperti biasanya. Seperti yang mereka kenal semenjak aku menapakkan kaki di atas tanah Singapura.


Baiklah, sepertinya masih banyak waktu. Aku harus mulai memasak karena hari ini adalah jadwalku. Kurapikan semua peralatanku terlebih dahulu. Setelahnya, aku mengambil langkah untuk keluar. Raya sudah terlihat membersihkan lantai menggunakan sapu. Sedang Sinta, sepertinya ia tengah mandi atau yang lainnya di kamar mandi.


"Pagi, Ray."


"Pagi juga, Nav. Tumben udah mandi loe?"


"Kok tahu?"


"Kedengaranlah tadi, masih gelap udah kayak suara banjir."


"Oh gitu. Terus, udah kelar ngambeknya?"


"Haha ... udahlah. Maaf ya semalem. Biasa kalau lagi berantem sama pacar, moo**d-nya acak-acakan."


"Oke, oke. Bantuin gue masak ya?"


"Ogah! Kan udah tugas loe."


"Jahat bener loe, Ray."


"Bodo' amat hehehe."


Setelah selesai membersihkan lantai Raya berlalu, tepatnya kembali ke kamarnya. Mungkin ia akan mempersiapka keperluan kerjanya. Sedangkan diriku sudah menyibukkan diri di dalam dapur. Beberapa ikat sayuran yang sudah kami beli di swalayan, sudah mulai kupotong. Tidak lupa bumbu-bumbunya. Menjadi seorang perantau benar-benar membuat diriku menjadi pribadi yang lebih mandiri. Tidak ada lagi masakan Bi Emi, melainkan hasil tanganki sendiri.


Semakin lama semakin asyik jika dinikmatim Sembari menunaikan kewajiban, aku belajar berbagai hal.


Selang waktu berlalu, dan kami sudah turun dari taksi. Tentu saja, setelah semua proses yang dilakukan untuk mencapai kantor ini. Gedung kantor yang menjulang tinggi sudah tampak didepan mata. Jujur, ada sedikit keluhan di hatiku tentang pekerjaan yang sudah menungguku.


Aku, Raya, Sinta bahkan Andrew mengambil langkah untuk masuk ke dalam gedung. Hiruk pikuk karyawan sudah terjadi. Yah, namanya kantor besar, pastinya memiliki jumlah karyawan teramat banyak.


"Nav, Ndrew kita duluan ya? Biasa divisi kita paling ribet, jadi harus cepet-cepet," ujar Sinta untuk pamit lebih dulu.


"Oke," jawab Andrew sembari mendekatkan diri padaku.


Aku mengernyitkan dahi seketika. "Apaan sih?"


"Kangen."


"Kayak lama nggak ketemu aja."


"Harusnya kita nikah, biar nggak begini, Sayang."


"Iya, maaf. Aku yang bikin menunda niat baik itu."


"Ya ampun, bukan gitu, Sayang. Aku becanda kok."


"Iya aku tahu kok, Sayang."


"Maaf ya, kayaknya aku bikin kamu terbebani."


"Kamu nggak salah, Ndrew. Udah ah, hayu masuk."


"Iya, iya."

__ADS_1


Meski mengatakan hal itu, aku tahu Andrew sudah memberikan kode tentang pernikahan. Hal itu memang hal yang wajar. Apalagi usianya yang lebih tua dua tahun dariku sudah cukup untuk mempersunting wanita. Atau karena takut kami terpisah lagi. Sama halnya dengannya, aku juga sangat menginginkan hal baik itu segera terjadi. Namun aku pasti membutuhkan papa sebagai wali pernikahan kami. Tidak mungkin juga, aku bahagia diatas penderitaan papa.


Maaf, Andrew. Mungkin aku akan membuat kamu menunggu lebih lama.


Hanya kalimat itu yang bisa aku katakan dalam hati. Sembari merasa bersalah, langkahku tetap berjalan sampai aula perkantoran. Kami sudah didalam tinggal menyusuri lantai dan naik ke lantai ke atas mengunakan elevator.


"Ndrew?" Seseorang memanggil nama kekasihku. Lantas kami menoleh ke arah sumber suara itu.


"Oh, morning, Matt," jawab Andrew kepada Matt salah satu rekan kami.


"Can you help me?"


"Emm ...." Andrew menatapku penuh ragu. Kemudian aku mengatakan agar ia ikut saja. Dan aku baik-baik saja. "Yeah, Matt."


"Follow me. Emm ... thanks, Navya."


Aku mengangguk pelan. Sedangkan Matt hanya tersenyum sekilas dan membawa Andrew untuk ikut dengannya. Aku tidak tahu mereka akan kemana dan melakukan apa. Sesuai kata terima kasihnya kepadaku, tampaknya ia tahu tentang hubungan kami. Yah, tidak buruk juga. Dengan begitu, tidak ada yang seenaknya saja mengambil Andrew dariku.


"Duh ... kasihan ditinggalin. Padahal si do'i akan melakukan sesuatu dimana Linseyld ada disana."


Deg! Seketika aku menghentikan langkahku, saat kupastikan tentang milik siapa suara itu. Ternyata kedua geng ular yang sangat memuakkan. Mereka menatapku dengan seringai yang menyebalkan. Ingin rasanya aku menggampar wajah mereka. Perbedaan sikap mereka sangatlah terlihat. Kala kami pertama berkenalan, mereka terlihat sangat ramah. Maksudku Bela dan Nita. Dan sekarang keduanya benar-benar memuakkan. Kondisi Singapura yang sudah maju dan elite tidak lantas membuat otak mereka sama majunya.


Lalu untuk apa? Untuk membalas sakit hati temannya? Oh ... benar-benar sistem persahabatan yang teramat konyol.


"Terus kenapa kalau ada Linseyld?" tanyaku dengan sesantai mungkin. Bahkan aku menyeringai jauh lebih sinis.


"Wah! Ternyata percaya juga ya sama sang pacar. Pft ... lucu banget kamu, Navya. Namanya laki kalau dikasih yang lebih bohai pasti tergiur dong. Sama halnya kayak kucing, dikasih tulang yang manggut," jawab Nita.


"Maaf Kakak-Kakak yang cantik. Tapi pacar saya bukan kucing. Dan saya sangat percaya padanya!"


Bela maju, " naif sekali sih dirimu, Dek."


Aku mengusap rambutku dari depan ke belakang. Sebisa mungkin bersikap santai. Meski dalam hatiku sudah terbakar api emosiku. Tenang, Navya.


"Navya?" Tiba-tiba Kak Kate datang sembari menyentuh pundakku. "Nanti malam kita ada janji, kan? Aku mau traktir kamu shopping."


"Heh???" Siapa yang tidak terkejut dengan ucapan Kak Kate. Shopping? Traktir? Wow! Rejekiku memang luar biasa.


"Oh ya, mereka siapa, Navya? Kok saya nggak pernah lihat? Atau pernah tapi lupa karna nggak penting ya?" tanya Kak Kate sembari menunjuk Bela dan Nita dengan raut wajah yang menunjukkan rasa jijik. Disini aku tahu maksud dari semua yang ia ucapkan.


"Uler, Kak." Aku memberikan jawaban yang menurutku cukup menohok untuk mereka berdua. Tentu saja keduanya salah tingkah seketika. Aku memiliki pelindung yang jabatannya bukan main-main. Mau melawanku saat ini juga tidak mungkin. Memang jabatan dan uang bisa mengalahkan segalanya. Pantas saja Haris dan ayahnya sangat bangga.


"Ma-maaf, Nona. Kami permisi dulu," pamit Bela. Setelah itu ia membawa Nita menjauh dari kami.


Kak Kate tertegun menatapku. Sialnya ia malah tertawa setelahnya. Aku mengusap tengkukku lantaran malu. Pasti kami bertiga terlihat seperti anak SMA yang sedang memperebutkan kakak kelas yang tampan.


"Ck! Lucu banget deh."


"Apanya, Kak? Kesel itu yang ada. Banget! Sumpah! Rasanya pengen nimpuk! Tapi aku pasti kalah kalau sendirian."


"Haha. Siapa yang naksir sama Andrew tuh?"


"Kok tahu?"


"Tahulah, apa lagi coba? Kamu nggak cantik-cantik amat kalau mereka iri soal itu."


"Parah ngomongnya. Iya, salah satu temen mereka sih. Nggak tahu deh, macem ABG aja mereka tuh. Masa' gegara temennya ditolak. Terus baru tahu kalau aku adalah pacarnya. Terus mereka segitunya sama aku. Iiiiiih! Kesel. Mana dipanas-panasin Andrew lagi nyusulin Linseyld. Ah! Kesel pokoknya! Coba kalau nggak di kantor. Cona kalau aku juga punya geng banyak. Mereka bakal kalah, Kak. Dan Andrew, awas aja dia kalau berani ganjen."


Aku terus mengeluh akan banyak hal. Sampai Kak Kate tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak, tampaknya warna wajahku sudah berganti-ganti. Kepalan satu telapak tanganku yang terus aku pukulkan pada tangan satunya lagi. Bahkan bukan hanya Kak Kate, banyak orang yang memperhatikan diriku.


Bodo' amat! Aku kesal!

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2