Who Is My Love

Who Is My Love
Rindu


__ADS_3

Sejak dua hari ditinggal Andrew pulang kampung. Hatiku serasa hampa, perasaan rindu terus menjejal masuk. Sampai-sampai hampir tidak terbendung lagi. Di satu sisi aku masih harus menunggu beberapa hari lagi


Tak banyak yang kulakukan saat Andrew tidak ada didekatku. Selain bekerja, mungkin aku hanya tidur di malam harinya. Atau bermain dan bergosip bersama Cika dan Bi Emi. Kalau bertanya soal Sita, ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama kekasihnya.


"Heee bengong bae pagi-pagi." Bentak Sita membuyarkan lamunanku di kursi kerjaku sembari menunggu Rezky memberi intruksi untuk briefing.


"Kebiasaan ih!" Jawabku.


"Lagian lo ngalamun aja baru ditinggal dua hari doang geh."


"Gak tau gak sabar nunggu dia balik lagi."


"Udah sih beb sabar biar tau artinya rindu hehe."


"Ehmm."


Aku beranjak dari kursiku dan bergabung dengan rekan-rekanku yang lain untuk briefing.


Sesuai kebiasaan yang belum juga berubah sampai sekarang. Aku mulai mengotak-atik komputerku dan fokus bekerja.


"Uhh... biasanya ada yang dilirik-lirik gitu." Gumamku.


Entahlah mengapa aku memiliki perasaan rindu yang luar biasa untuk Andrew. Apa mungkin aku sudah sangat bergantung padanya. Dan aku pikir hari begitu lambat sekali berjalan.


"Ohh. Tuhan kapan minggunya lagi aku rindu dia." Ujarku pelan dengan tangan menengadah seperti orang sedang berdo'a.


Aku berjalan keluar ruangan dengan membawa ponsel diam-diam. Aku menuju ke toilet dan bermaksud menelepon Andrew. Meskipun hanya akan sebentar. Asal bisa mendengar suaranya tidak masalah. Supaya bisa membuat hatiku tenang dan mengurangi rasa rinduku.


Beruntung toilet yang terdiri dari delapan pintu dengan luas yang lumayan lebar tampak sepi. Hanya ada satu orang karyawan yang tidak aku kenal mungkin dari divisi lain. Dan aku tidak peduli. Toh, tidak kenal dan sepertinya hanya anak magang.


Kuraih ponselku pelan dari dalam saku blazerku. Aku terlihat bak seorang intel yang bersembunyi-sembunyi. Walau kenyataannya aku sedang melanggar peraturan hanya karena rasa rinduku yang mungkin berlebihan.


Kumainkan ibu jariku dengan cepat untuk mencari kontak milik Andrew. Lalu kutekan tombol panggil.


"Tuuttt.... tuuttt.... tuttt. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang berada diluar jangkauan."


Namun usahaku sepertinya sia-sia. Setelah mencoba menelepon Andrew sampai lima kali dan hasilnya sama saja nomor Andrew sedang tidak aktif.


"Ihh.. kemana sih?" Gumamku kesal.


Karena aku merasa tidak enak hati aku segera kembali ke ruang kerjaku. Dengan perasaan dongkol yang masih tersisa aku memfokuskan otakku kembali bekerja.


"Gelisah amat sih lo gue liatin." Celetuk Rezky dari belakang kursi kerjaku yang cukup mengejutkanku.


"Ih! Rezky kaget gue." Jawabku.


"Kepikiran ya?"


"Dikit."

__ADS_1


"Fokus kerja dulu deh."


"Siap pak bos!"


Rezky kembali dengan terkekeh girang mendapati raut masam di wajahku.


Akhirnya waktu istirahat telah tiba. Sita menghampiriku dan kami beranjak keluar. Kemudian aku kemudikan mobil putih perlahan menuju ke sebuah kafe. Karena secara kebetulan aku maupun Sita tidak ingin menyantap makanan berat.


"Eh beb kenapa sih lo daritadi keliatan bete gitu?" Tanya Sita.


"Gak papa." Jawabku.


"Udah kangen?"


"Gak juga."


"Ayolah cerita gitu."


Aku hanya diam mendengar cerocosan Sita. Moodku belum sepenuhnya membaik. Aku seruput jus alpukatku sembari memutar-mutar sedotan dengan jariku. Otakku terus dipenuhi oleh sosok Andrew. Entah mengapa aku merasa tidak tenang sama sekali.


"Aaaaaaaaihhh." Ujarku kesal sendiri.


"Kenapa sih beb? ceritaa dong mumpung waktunya masih banyak." Tanya Sita, tampaknya ia sudah geregetan dengan sikapku.


"Sit Andrew gak bisa dihubungi dari kemaren tauk."


"Udah dua hari ini?"


"Positif aja sih namanya juga hajatan sodaranya mungkin sibuk kali."


"Masak iya sesibuk itu sih?"


"Sabar bebebku."


Sebenarnya bisa membuatku sedikit tenang setelah menceritakannya dengan Sita. Terlebih Sita sangat handal dalam menghibur kesedihan orang. Meskipun terdengar cerewet dan berisik. Yah, Semoga aja Andrew memang sedang sibuk.


Sampai waktu istirahat usai dan kami kembali disibukkan dengan pekerjaan.


Untuk sejenak fokusku mulai kembali. Ada banyak ide yang harus aku curahkan. Mengingat di jam-jam awal bekerja aku sama sekali tidak bisa fokus. Dan membuat banyak berkas jadi terbengkalai untuk beberapa saat. Sehingga kini aku harus membayarnya dengan pekerjaan yang menumpuk.


"Haaaah." Ku hela nafas dalam dan kuhembuskan kembali. Rasa penat mulai menggerayangi seluruh tubuhku.


"Makanya jangan pacaran mulu, baru ditinggal sehari aja udah bete banget gimana kalo ditinggal selingkuh." Ujar Lia tiba-tiba. Tampaknya ia sengaja ingin membuat hatiku panas.


"Buat muka gue yang cantik keknya gampang cari lagi deh. Tapi kalo buat muka yang kayak tante-tante pasti sulit ya kalopun dapet paling yang udah kakek-kakek." Balasku geram. Namun aku masih bersikap setenang mungkin.


"Sombong amat lo. Liat aja ntar lo, kalo beneran di selingkuhin gue yang bakal ketawa paling kenceng."


"Silahkan!"

__ADS_1


Entah setan apa yang merasuki diri Lia. Mengapa sebegitu bencinya ia padaku. Padahal jauh sebelum aku mengenal Andrew, kita masih baik-baik saja. Malah masih bertegur sapa ketika berpapasan dijalan. Meskipun aku tidak terlalu mengenalnya.


"Ohh shitt! Jangan-jangan dia demen lagi ama Andrew?" Gumamku dalam hati.


Kalau memang benar. Pantas saja ia bersikap seperti itu. Terlebih ia merupakan ratu gosip di kantorku. Aku tidak ingin memikirkannya lebih. Toh, ia sudah kalah telak denganku.


Meski terasa lambat, akhirnya jarum jam mulai menunjukkan waktu pulang. Dengan semangat aku beranjak dari kursiku. Dan melangkahkan kaki menuju tempat mobilku terparkir.


Setelah sudah kutemukan posisi mobilku. Aku menghampirinya lalu aku bergerak untuk membuka pintu.


"Vyaaaa tunggu dulu." Terdengar suara seorang pria menghentikan gerakan tanganku.


Aku menengok ke arah belakang. Mataku menangkap sosok pria yang berjalan menghampiriku. Yang tak lain dan tak bukan adalah sang ketua tim, Rezky.


"Kenapa Rez?" Tanyaku padanya.


"Besok pulang kerja ada waktu Vy?"


"Ehmm?"


"Gue nanya lemooott."


"Ada sih lagian tumben amat lo nanya. Kenapa emang?"


"Mau jalan bareng gue?"


"Haah?"


"Lah melongo lagi, gue harap ada bentar aja ada yang pengen gue omongin."


Aku terdiam sebentar. Merasa heran dengan permintaan Rezky. Tumben sekali. Aku menatapnya tampak raut serius dari wajah Rezky.


"Oke ada. Mau ketemu dimana?"


"Kafe samping kantor aja."


"Tapi gue gak bisa lama-lama."


"Gak kok bentar doang gue juga paham."


Setelah aku iyakan ajakan Rezky. Ia berlalu mungkin mencari keberadaan mobilnya dan bergegas pulang. Seperti aku saat ini.


Bersambung...


___________________________________________


Kemanakah Andrew?


Apa yang akan dibicarakan Rezky?

__ADS_1


Dan bagaimana nasib Navya selanjutnya?


Kita tunggu saja ya semoga semua baik-baik saja. Karena kita semua pasti cinta perdamaian bukan????? 😊😊


__ADS_2