
****
"Aku sangat mencintai Andrew, cowok nggak kaya itu. Mungkin kita emang pernah bersama, tapi sayangnya perasaan kita udah nggak sama, Nevan." Aku menunduk diam setelah mengatakan itu. Kali ini bukan amarah yang aku berikan kepadanya, justru rasa iba. Belum lagi teringat akan permintaan Tante Diana. Sebegitu berharganya makna diriku bagi mereka? Mau bagaimanapun itu, aku dan Nevan sudah berakhir, bahkan lama sebelum hari ini.
Nevan meraih kedua telapak tanganku dan digenggamnya erat. "Kita mulai lagi. Kali ini, antara aku dan kamu bisa lebih dewasa, Navya. Masa itu, masa bodoh yang belum berpikir sejauh itu." Ia justru meyakinkan diriku, daripada mendengarkan ucapanku.
Aku terdiam sejenak. Lalu, kehela napas dalam dan mengembuskannya kembali. Tatapan mata kuarahkan pada wajah Nevan. "Tolong jangan buat aku terbebani lagi, Nevan. Hidupku pernah hancur dan aku baru saja mendapat bahagia. Dan itu pada saat bersama Andrew."
"Hancur? Karena aku, kah?"
Aku menggeleng pelan. "Bukan kamu. Tapi orang lain, urusanku dan enggak ada hubungannya sama kamu." Mataku jatuh menatap bawah. "Jangan buat aku kesal dan sengsara lagi, Nevan. Kita akhir kekonyolan ini. Kamu seorang tuan muda yang kaya raya, bahkam seorang selebriti cantik bisa kamu dapatkan dalam sekejap mata."
"Tapi, aku mencintai kamu, Navya. Aku tahu aku pernah berbuat salah, tapi aku benar-benar mencintai kamu. Bahkan bukan aku aja, tapi Mama juga. Kedua orang tuaku akan setuju dengan hubungan kita."
"Tapi aku udah enggak. Bahkan setelah kamu putusin aku secara sepihak dulu. Aku udah jauh hari move on dari kamu ... tolong, tepati janji kamu pada saat kita bertemu di mall waktu itu. Lepas aku dan biarin aku bahagia sama Andrew."
"Navya?" Wajah Nevan lesu seketika. Berangsur ia mundur beserta melepaskan genggaman tangannya dariku.
Meski tidak enak hati, aku memutuskan untuk tidak berbicara lagi selain kata maaf yang lirih. Tidak bisa aku menyakiti orang lain lagi, terlebih seorang Nevan. Bukan karena hal apapun, melainkan ia dan ibundanya tidak bisa melupakanku. Aku heran, mengapa seseorang datang setelah baru menyadari makna orang lain? Padahal jelas-jelas ia yang mencampakkannya.
Aku menghela napas dalam, lalu aku hembuskan kembali. Dengan menelan ludah yang teramat susah, aku berbalik badan. Kuambil langkah sembari menunduk gelisah. Namun ... belum ada lima langkah, aku berhenti. Tepatnya pada saat Tante Diana dan kedua orang tuaku hadir di hadapanku. Tentu saja, aku sangat terkejut. Tante Diana menampilkan raut wajah yang tidak percaya. Aku rasa, beliau mendengar semua penolakan dan penegasanku untuk niat baik Nevan terhadapku.
Aku menelan ludahku lagi, dan kali ini lebih kelu. Tante Diana menatapku tajam. Lantas, aku harus bagaimana? Kecuali diam? Lalu, raut wajah beliau berangsur melemah menjadi melesu. Beliau datang menghampiriku. Sedangkan aku, aku sudah pasrah dengan segala kemungkinan.
"Navya ...." Tante Diana meraih kedua telapak tanganku. "Kamu benci sekali ya, sama Nevan?"
Aku menatap beliau. "Navya enggak pernah benci, Tante. Navya emang sempat marah, tapi itu dulu. Semua udah berlalu, Nevan yang mutusin hubungan denganku. Navya menyayanginya, Tante. Tapi, ... Navya udah nggak mencintai dia. Sebentar lagi, ... Navya akan menikah," jelasku dengan apa adanya.
Setelah mendengarkan jawabanku, Tante Diana langsung melepas genggaman tangan beliau dariku. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, respon anak dan ibu sama. Pantas, jika Nevan sempat sangat manja terhadap ibunya.
Kemudian, aku meraih tangan Tante Diana dan memberikan kecupan sekilas sebagai salam pamit, entah dari harapan ataupun kehidupan. Beliau tidak merespon apapun. Aku diam saja. Setelah itu, aku melanjutkan langkahku. Kugandeng kedua orang tuaku untuk menuju tempat mobil berada. Aku ingin pulang, semua keadaan sudah tidak nyaman.
Sesampainya di hadapan mobil kami, aku mengajak kedua orang tuaku agar bergegas masuk. Sudah tidak ingin lama-lama, aku di tempat kini. Sita pun masih sibuk dengan tamu lain, aku rasa ia bisa lupa jika aku tetap menunggu. Tak apa, ini hari bahagianya, aku tidak ingin menganggu.
"Ada apa, Navya?" tanya papa sembari menyalakan mesin mobil, setelah itu melajunya untuk meninggalkan tempat ini.
Aku mengembuskan napas yang sempat aku hela dalam-dalam. "Nggak apa-apa, Pa. Urusan anak muda," jawabku sekenanya.
Pada saat aku melirik papa secara sekilas, beliau tersenyum kecut. Mungkin merasa kecewa atas jawabanku yang tidak terbuka. Beliau memfokuskan pandangan ke arah jalan, sembari sesekali menghela napas dalam. Sementara itu, mama lebih memilih diam.
__ADS_1
Tiba-tiba, papa berdeham cukup keras. Kemudian, beliau berkata, "Papa enggak nyangka kamu pernah menjalin hubungan dengan pemilik Starsindo Grup, pemilik perusahaan besar dibidang industri makanan."
Aku menatap papa. "Bukan sesuatu yang spesial," jawabku.
"Mama menoleh ke arahku. "Jangan terlalu benci sama seseorang, Sayang. Tadi Nyonya Diana juga baik kok orangnya. Kayaknya sayang banget sama kamu, meskipun bukan siapa-siapa."
"Iya, Navya. Siapa tadi anaknya? Nivan, ya? Kayaknya belum bisa lupain kamu."
Aku memilih diam. Tidak ingin aku membahas mereka lagi, bukan karena benci, namun segala urusan tentang mereka tidak ada hubungannya denganku. Aku dan Nevan telah berakhir, bahkan jauh sebelum hari ini. Aku sangat berterima kasih kepada Tante Diana, namun aku menolak menjadi menantu dari beliau. Toh, semua terjadi karena Nevan, tidak ada kesalahan yang membuat hati Tante Diana menaruh kecewa terhadapku. Namun jika beliau merasakan itu, aku juga tidak bisa mencegah.
Dan sepanjang jalan, papa dan mama terus berbincang perihal perusahaan milik keluarga Nevan. Aku tidak bisa menghentikan, lantaran mereka sedang asyik dalam perbincangan yang sebenarnya tidak ingin aku dengar itu. Aku lebih memilih menikmati perjalanan ini. Kubuang semua pikiran tidak nyaman dan menggantikannya dengan paras Andrew.
****
"Oh, seneng kali kalau kita punya mantu anak orang kaya." Ucapan itu keluar tiba-tiba dari bibir mama. Seketika aku menelan ludah, meski dengan susah payah. Apa maksudnya?
"Iya pasti, Ma," timpal papa.
Tak lama setelah itu, mobil terhenti di halaman rumah kami. Tanpa basa-basi lagi, aku segera membuka pintu mobil dan turun. Aku menutup pintu itu kembali dengan kasar. Aku melangkah begitu cepat untuk masuk ke dalam rumah, bahkan kuabaikan panggilan dari mama ataupun papa.
Hati ini dirundung kesal seketika, bisa-bisanya mereka berkata seperti itu. Memangnya tidak terlintas pemikiran untuk menghargai diriku? Belum ada dua hari penuh, kami berbaikan, terutama untuk papa. Lalu, hadirnya mantanku dan ibunya yang kaya itu lantas membuat mereka memimpikan menantu kaya raya? Aku kesal!
Mengingat tentang Andrew, membuatku teringat akan ponsel yang berada di dalam tas yang bahkan belum terlepas dari pundakku. Lantas, aku segera bangkit dan mencari benda berbentuk kotak itu. Setelah didapatkan, aku segera mencari nomor milik Andrew melalui sebuah aplikasi dan menekan tombol hijau untuk memanggilnya.
Namun sayang, tidak dijawab. Tampaknya ia sudah kembali bekerja. Mengingat waktu memang sudah pukul setengah dua siang waktu Indonesia. Di sana lebih awal satu jam dari tempatku berada.
"Navya?" Suara mama terdengar dari balik pintu kamar ini. Namun aku abaikan begitu saja. Aku masih kesal!
"Navya? Mama boleh masuk?" lanjut beliau lagi.
Aku menghela napas dalam"Enggak, Ma. Navya capek," jawabku.
"Jangan gitu dong, Nak. Mama mau bicara."
"Aku capek, Ma!"
"Hmm, ... maaf tadi Mama dan Papa enggak ada maksud nyinggung perasaan kamu. Mama hanya asal bicara, sebuah reflek aja."
"Aku tahu, bahkan aku tahu, ... kalau selera kalian emang seperti itu."
__ADS_1
"Ayolah, buka dulu. Kita harus lurusin hal itu, Sayang. Mama dan papa beneran enggak sengaja."
Aku mengabaikan ucapan dari mama lagi. Fokusku tertuju pada ponsel yang tengah berdering. Aku pikir dari Andrew, ternyata bukan. Melainkan dari orang tuanya--calon ibu mertuaku, do'akan saja. "Maaf, Ma. Aku ada telepon dari mama mertua." Aku sengaja berkata demikian agar mama tahu bahwa aku tidak main-main dengan hubunganku bersama Andrew.
"Ya udah, buka pintu. Mama juga mau ngomong sama beliau."
"Nggak perlu!"
"Navya?!"
Aku tidak menjawab ucapan mama lagi. Tampaknya beliau juga sudah menyerah atas kerasnya hatiku. Untuk menunggu mama pergi, sampai membuat panggilan dari ibunda Andrew menjadi selesai sebelum aku menerimanya. Aku menghela napas dalam, lalu kembali kuembuskan. Tampaknya, aku yang harus berinisiatif menelepon beliau.
"Baiklah, tarik napas. Kamu bisa, Navya!" Aku menekan tombol hijau lagi dengan perasaan yang sangat gugup. Padahal bukan pertama kalinya, namun aku tidak tahu mengapa seperti ini. Mungkin karena beliau akan datang kemari, entahlah.
"Halo, Navya," sapa ibunda Andre dari tempat yang tidak aku ketahui.
"I-iya, Bu. Maaf tadi enggak angkat," jawabku dengan sangat berhati-hati.
"Iya, nggak apa-apa to. Lagi di rumah, banyak kesibukan, ya?"
"Iya, Bu. Emm, ada apa ya? Ma-maksud Navya, misal ada yang penting begitu."
"Saya udah ada di Jakarta ini, sama beberapa keluarga. Kamu mau balik ke Singapura kapan? Sebelum, kamu balik, Ibu hendak bertamu."
Deg! Jantungku berdebar-debar mendengar jawaban itu. "Oh, tentu. Masih ada waktu, tapi besok. Gimana, Bu? Penerbangan saya dua hari lagi dan ambil pagi."
"Ya sudah. Nanti Ibu atur. Toh di sini, sudah dari seminggu yang lalu. Itu mamas-mu, enggak sabar. Yah, walaupun enggak ikutan."
Aku tertawa kecil. "Terima kasih, Bu. Nanti saya bilang ke orang tua saya."
"Ya sudah, kamu istirahat dulu kalau enggak sibuk. Sampai jumpa besok, Neng."
"Iya, Ibu."
Panggilang dimatikan. Aku masih saja terkesiap. Esok hari adalah acara lamaran. Semua serba mendadak. Tidak! Masih banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatu. Setelah sejenak berpikir, aku langsung bangkit dan melompat riang dari ranjang ini. Kulepas pakaian gaunku, kemudian menghapus make up yang membalut wajahku.
Aku tersenyum-senyum tidak menentu. Gugup itu sudah pasti, namun tidak lantas menghilangkan rasa senang dan tidak sabar. Semua kerisauan perihal Nevan pun berangsur menghilang. Aku harus segera memberitahukan kepada papa dan mama, supaya mereka bergegas mempersiapkan segala sesuatu.
Astaga! Aku senang sekali!
__ADS_1
Bersambung ...