
Aku berada di negeri asing
Tanpa satu yang kuketahui
Aku berada di negeri asing
Tanpa satu yang pasti
Namun, hari itu. . .
Aku menemukanmu
...💟💟💟...
New York, sepuluh tahun lalu
Cecilia masih kesal karena harus membereskan buku-bukunya yang berserakan karena bertabrakan dengan cowok asing yang sombong dan angkuh yang hanya mengucapkan kata "sorry".
Semester ini dia sedang sibuk-sibuknya mengejar tugas-tugas kuliahnya yang cukup banyak. Dan referensi buku-buku yang harus dia baca juga banyak.
Beberapa kali Cecilia harus membetulkan letak kacamatanya yang terus melorot karena membungkuk untuk mengambil buku-bukunya.
"Yap! Akhirnya selesai juga! Eh tapi tunggu, sepertinya aku membawa 10 buku tadi. Kenapa ini hanya ada 9? Ya ampun!!! Aku harus mencari yang satu." Cecilia berbicara dan bertanya pada dirinya sendiri. Dia pun melanjutkan pencarian ke arah semak-semak disekitar jalanan yang dia lewati.
"Are you looking for this book?"
Sebuah suara mengagetkan Cecilia. Dan sontak membuatnya menoleh ke arah sumber suara yang datang dari arah belakangnya. Cecilia mendongak ke atas karena posisinya sedang jongkok.
Cukup lama Cecilia terdiam dan memandangi orang yang membawa bukunya dengan seksama yang adalah seorang pria.
Pria itu nampak tak asing dimata Cecilia.
"Mas Alvian?" Cecilia mengucapkan nama si pria dengan sedikit bingung.
Pria itu kemudian tersenyum.
"Dari sekian banyak orang di kampus ini, hanya kamu yang mengenali saya."
Pria bernama Alvian itu mengulurkan tangannya untuk membantu Cecilia berdiri.
"Terima kasih, Mas. Saya mengenali Mas karena saya adalah salah satu penggemar Mas Alvian. Saya sedih ketika mendengar kabar bahwa Mas Alvian memutuskan vakum dari dunia entertainment. Tapi kenapa Mas bisa ada disini? Apa yang Mas lakukan disini?"
"Saya ingin cuti sementara dari dunia entertainment, karena saya sedang melanjutkan studi S2 saya disini. Dan memang tidak ada yang tahu jika saya mengambil kuliah disini. Saya sempat terkejut karena kamu mengenali saya." jelas Alvian diiringi tawa.
"Ah jadi begitu ceritanya. Senang sekali bisa bertemu dengan Mas disini." Cecilia membalas senyuman Alvian.
"Oh ya saya hampir lupa, ini milikmu, bukan? Saya tidak sengaja melihatnya ketika melintas di jalan ini." Alvian menyerahkan buku milik Cecilia.
"Terima kasih banyak, Mas. Saya tidak tahu harus bagaimana jika buku ini sampai hilang." Cecil tersenyum gembira.
Tahun demi tahun pun mulai berganti, dan mereka bertemu kembali dua tahun setelahnya ketika Alvian membeli roti sandwich di toko roti milik keluarga Cecil.
Keakraban mulai kembali terjalin hingga akhirnya mereka memutuskan terus melangkah ke depan dan melalui bahtera rumah tangga selama bertahun-tahun.
__ADS_1
...❤❤❤...
Mendengar cerita Alvian tentang awal pertemuan mereka, Cecilia mulai berkaca-kaca.
Ternyata dia masih mengingat semuanya.
Cecilia memandang lelaki yang dinikahinya delapan tahun lalu itu. Dia sebenarnya masih berharap jika hubungan mereka bisa kembali diperbaiki. Namun terkadang hatinya bertindak diluar nalar.
Tidak mudah melepaskan seseorang yang sudah menemani hari-harimu selama bertahun-tahun. Tidak mudah melupakan cinta yang sudah dibina selama bertahun-tahun.
Alvian bangkit dari duduknya. Lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Cecil.
Cecil menatap tangan itu. Tangan itu ingin membantu Cecil berdiri. Sejenak Cecil terus memandangi tangan Alvian, lalu menatap wajahnya.
"Ayo pulang! Sudah mulai malam, Tasya pasti sudah menunggu kita." ajak Alvian.
Cecilia menyambut tangan itu. Dan berdiri sambil terus menggenggam tangan Alvian.
Mereka berjalan menuju mobil sambil bergandengan tangan. Tangan hangat Alvian yang sudah lama tidak Cecil genggam.
Cecil memandang Alvian. Dan tersenyum padanya. Alvian membalas dengan senyuman pula.
Hari itu, seperti terlupakan bahwa mereka baru saja menghadiri sidang perceraian. Dan malam pun berlalu dalam keheningan.
...❤❤❤...
Rangga mulai gelisah. Sejak saat dirinya melihat Cecil menangis di cafe, dan setelah Cecil bekerja kembali setelah cuti selama satu hari.
Ketika bertemu Cecil hatinya mulai gugup. Sikap dingin yang biasanya dia tampakkan mulai menghangat.
Rangga mulai memperhatikan setiap gerak-gerik Cecil. Cecil yang setiap pagi datang ke musholla kantor untuk menunaikan sholat Dhuha.
Cecil yang sedang berbincang dengan bawahannya. Cecil yang selalu tersenyum ceria kepada semua orang.
Rangga mulai penasaran dengan itu semua. Hingga akhirnya, dia menerapkan peraturan baru untuk seluruh pegawainya yang muslim agar melaksanakan ibadah sholat Dhuha sebelum memulai aktifitas pekerjaan mereka.
Terobosan yang di usulkan Rangga memang sangat bagus. Namun pastinya ada pihak-pihak yang merasa aneh dengan peraturan baru yang Rangga buat, termasuk Danny, orang terdekat Rangga di kantor.
"Kak Rangga sehat, bukan? Tidak sedang sakit, bukan?"
"Apa kau bilang? Aku sakit? Aku baik-baik saja, Danny. Kenapa bertanya begitu?"
"Menurutku agak aneh saja, kakak tiba-tiba membuat aturan baru seperti ini. Mewajibkan para karyawan untuk melaksanakan sholat Dhuha sebelum melakukan aktifitas."
"Apanya yang aneh dengan melakukan sholat sebelum beraktifitas? Tidak ada salahnya jika perusahaan kita terlihat lebih religius. Benar tidak? Lagipula ini akan bagus untuk kehidupan para karyawan disini."
Danny tersenyum menyeringai. Dia merasa jika bosnya ini sudah mulai terkena sindrom aneh. Danny akan menyelidiknya lebih dalam.
...❤❤❤...
Nadine mulai curiga dengan peraturan aneh yang Rangga buat. Tidak seperti Rangga yang dia kenal.
Nadine tahu ada yang tidak beres dengan sikap Rangga belakangan ini. Dan kecurigaannya mengarah pada Cecilia.
__ADS_1
Nadine mengetahui jika Rangga sering memperhatikan Cecilia.
Ini tidak bisa dibiarkan. Rangga tidak boleh lebih dekat dengan Cecilia. Aku harus melakukan sesuatu!
Nadine memutuskan untuk bicara dengan Radit. Ia pikir hanya Radit saja yang bisa membantunya untuk saat ini.
"Ada apa mencariku?" tanya Radit memicingkan mata ke arah Nadine.
"Kau harus membantuku!" balas Nadine dengan raut wajah cemas.
"Membantu apa?"
"Jauhkan Cecil dari Rangga."
"Apa maksudmu?"
"Apa kau belum mengerti juga? Apa yang terjadi akhir-akhir ini disini, adalah karena Cecilia. Rangga berubah! Dan itu karena Cecilia."
"Apa Rangga adalah pahlawan super? Dia bisa berubah jadi apa? Spiderman? Superman? Atau--- Hulk?"
"Radit!!! Aku serius!!"
"Baiklah. Aku juga mulai serius. Katakan apa maumu?"
"Aku merasa ada sesuatu yang aneh dengan hubungan Rangga dan Cecilia. Rangga----seperti tertarik dengan Cecilia. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi."
"Nadine! Aku rasa kau terlalu berlebihan. Cecilia itu wanita yang sudah menikah. Meski Rangga tertarik padanya, itu tidak jadi masalah. Aku yakin Cecil akan menolak Rangga. Dan kulihat hubungan mereka wajar-wajar saja sebagai atasan dan bawahan. Kau hanya terlalu takut kehilangan Rangga."
"Tapi firasatku mengatakan ada sesuatu dibalik hubungan atasan dan bawahan ini."
"Jika kau setakut itu, kenapa kau tidak segera menikah saja dengan Rangga? Atau mungkin bertunangan dulu. Itu solusi yang bagus."
"Aku tidak bisa melakukan itu."
"Kenapa? Kau ragu pada cinta Rangga?"
".................."
"Atau dia memang tidak mencintaimu?"
Nadine mengepalkan tangan mendengar kalimat Radit.
"Tidak perlu mempermasalahkan hubunganku dan Rangga. Yang harus kau lakukan adalah dengan berada disisi Cecilia. Kau masih mencintainya, bukan?"
"Aku memang masih memendam rasa padanya. Tapi bukan berarti aku ingin menghancurkan pernikahan Cecil. Menyukai seseorang tidak berarti kita harus memilikinya. Asal dia bahagia, aku juga ikut bahagia."
"Omong kosong macam apa itu?" Nadine mulai kesal dengan Radit. Pembicaraannya sedari tadi tak pernah menemukan titik terang.
"Ya sudah." Radit menggantung kalimatnya.
Membuat Nadine membulatkan matanya ke arah Radit.
"Aku akan membantumu. Kau tenang saja."
__ADS_1
...❤❤❤...