99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Kehilangan


__ADS_3

*Alvian PoV*


Hari ini seperti biasa, aku melakukan kegiatan syuting acara talkshow bertemakan politik.


Aku bertukar pikiran dengan para pembicara yang lain. Aku merasa aku masih awam dibidang ini. Meski dulu studi S2ku adalah ilmu politik. Saat tak ada jadwal syuting, Shasha menjadwalkan aku untuk bertemu dengan para warga didaerah tertentu. Sudah jelas maksudnya adalah agar aku bisa menarik simpati mereka untuk memilihku nantinya di pemilu.


Saat syuting sedang berlangsung, aku tak sengaja melihat Shasha sedang berdebat di telepon. Raut mukanya berbeda dengan yang biasanya.


Aku tahu dia adalah orang yang agak temperamen. Tapi dia sangat tegas dan disiplin soal waktu. Shasha memandang ke arahku dengan tatapan aneh. Dia tampak sangat cemas. Saat sedang istirahat syuting, dia langsung berlari kearahku dan membisikkan sesuatu di telingaku.


"Tasya kecelakaan...." ucapnya.


Aku sangat syok dan langsung berlari pergi meninggalkan studio. Selanjutnya aku serahkan semua pada Shasha, dia pasti bisa mengurus pekerjaanku.


Aku langsung menuju ke rumah sakit. Shasha bilang jika Nayla dan Tasya ada di ruang IGD. Aku melihat Nayla sedang duduk. Dia menangis. Tangan dan kakinya gemetar. Aku mendekatinya.


"Nay, apa yang terjadi?" Aku memegang pundaknya. Dia menatapku.


"Mas----" suaranya serak.


"Kamu tenang dulu, semua akan baik-baik saja. Kamu sudah menelpon Cecil?"


Nayla menggeleng. "Baiklah, biar aku saja yang memberitahu Cecil." Aku mengambil ponsel dari sakuku. Tiba-tiba Nayla menahanku.


"Mas, ada yang harus kuberitahu padamu." ucap Nayla sambil terisak.


Nayla menceritakan semua kejadian sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku tertegun. Pandanganku kosong. Aku berpikir keras.


Aku harus melakukan sesuatu. Cecilia tak boleh tahu kejadian yang sebenarnya. Hubungan kami baru saja membaik. Kuputuskan untuk menghubungi seseorang terlebih dahulu sebelum menghubungi Cecil.


Maafkan aku, Cil. Ini semua demi kebaikan kita. Kali ini, aku harus berbohong padamu.


...***...


*Cecilia PoV*


Aku dalam perjalanan menuju rumah sakit yang disebutkan oleh Mas Alvian tadi. Hatiku sungguh tidak tenang. Selama perjalanan aku hanya memandang kearah luar. Dan air mataku tak hentinya mengalir. Kenapa ini harus terjadi padaku?


Di saat hubunganku dengan mas Alvian mulai membaik, kenapa Tuhan kembali mengujiku dengan Tasya? Air mataku kembali mengalir.


Pak Rangga menawariku sapu tangannya. Namun dengan cepat aku selalu menghapus air mataku dengan tanganku sendiri.


Aku sendiri baru sadar jika ternyata orang yang mengantarku adalah Pak Rangga. Tunggu!!! Pak Rangga???!! Ini seperti bukan dia. Aku tahu persis bagaimana dia memperlakukanku. Dia selalu bersikap dingin padaku. Berkata ketus, dan tak pernah basa-basi. Kenapa sekarang dia----????


Ah sudahlah, ini bukan waktunya untuk memikirkan itu. Sekarang yang harus aku pikirkan adalah Tasya.


Jika terjadi sesuatu dengannya, bagaimana??? Bagaimana aku bisa hidup tanpa anakku??

__ADS_1


Ya Tuhan, tolong jangan ambil dia dariku. . .


...***...


Ruang IGD, Rumah Sakit.


Kaki Cecil bergetar saat berjalan menuju ruang IGD. Disana dia bertemu dengan Alvian dan Nayla, yang masih terus menangis seperti Cecil.


Alvian langsung menghampiri Cecil yang sedang menangis, mencoba menenangkannya. Namun Cecil belum bisa tenang. Dia menuju ke arah Nayla yang sedang duduk tertunduk.


"Nay, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Tasya bisa kecelakaan?" Cecil duduk disamping Nayla.


Nayla hanya terdiam.


"Jawab Nay, jangan diam saja! Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Cecil mulai emosi karena Nayla terus diam.


Melihat hal itu, Alvian mendekati Cecil dan menariknya agak jauh dari Nayla.


"Jangan seperti ini, Cil. Nayla juga masih syok. Aku harap kamu mengerti! Jangan mendesak Nayla."


"Harusnya aku yang syok, Mas. Aku titipkan Tasya pada Nayla. Aku percaya dia akan menjaga Tasya dengan baik. Tapi sekarang apa yang terjadi? Dia malah membuat Tasya celaka!" Cecil tak bisa lagi membendung amarah dan juga air matanya.


"Jangan menyalahkan Nayla! Semua ini kecelakaan. Dan ini bisa menimpa pada siapa saja. Sekarang kamu tenang dulu. Kita tunggu pernyataan dari dokter."


Setelah berdebat dengan Alvian, Cecilia duduk agak menjauh dari Nayla dan juga Alvian. Tangannya gemetaran dan mulutnya hampir tak pernah berhenti unuk berdoa. Dia berharap tidak terjadi apa-apa pada Tasya.


Rangga melihat kejadian yang menurutnya aneh.


Disaat Rangga masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Alvian menghampiri Rangga dan membuyarkan lamunannya.


"Sepertinya Anda sudah tidak ada kepentingan lagi disini, jadi sebaiknya Anda pergi!" Ucap Alvian dingin pada Rangga.


Rangga mengernyitkan dahi.


"Terima kasih Anda sudah mengantarkan istri saya kesini. Sekarang lebih baik Anda kembali ke kantor. Bukankah ini masih jam kerja?" Lanjut Alvian.


Rangga hanya terdiam. Dia menatap Alvian tajam.


"Sebaiknya Anda perlakukan istri Anda dengan baik. Jika sampai Anda membuatnya menangis lagi, saya tidak segan-segan untuk merebutnya dari Anda." Seringai Rangga sambil menyerahkan kunci mobil Cecil ke tangan Alvian. Kemudian melangkah pergi meninggalkan Alvian yang bergeming mendengar pernyataan Rangga.


Rangga melangkah keluar rumah sakit, lalu menelepon Herman, supirnya. Dia menyuruh Herman untuk menjemputnya dengan segera.


Saat sedang menunggu Herman di lobi depan rumah sakit. Tiba-tiba seorang wanita menghampirinya.


"Tunggu sebentar!!!" Panggil wanita itu yang ternyata adalah Nayla.


Rangga bingung dengan kedatangan Nayla. Untuk apa perempuan ini menghampirinya? Pikirnya.

__ADS_1


"Maaf Pak, kalau saya lancang menemui bapak." Ucap Nayla dengan nafas terengah. Sepertinya dia berlari supaya bisa mengejar Rangga.


"Apa yang kau lakukan disini? Apa kau sengaja mengejarku? Apa kita saling kenal?" tanya Rangga datar.


Nayla menggeleng. "Kita tidak saling kenal. Tapi saya tidak sengaja mendengar percakapan bapak dengan Mas Alvian."


What??? Mas??? Perempuan ini memanggil Alvian dengan sebutan Mas?? Apa mungkin dia adik dari Alvian? Atau saudara sepupu?


Rangga makin bingung dengan situasi ini.


"Apa yang kau dengar?"


"Saya dengar jika bapak ingin merebut Mbak Cecil dari Mas Alvian. Apa itu benar?"


Ya ampun! Apa maksud perempuan ini? Aku hanya asal bicara dan dia sampai mengejarku kemari?


"Apapun yang kukatakan didepan Alvian, itu adalah urusanku. Dan jika aku ingin merebut Cecilia, itu juga bukan urusanmu." Rangga melipat kedua tangannya kedepan dada.


Nayla terlihat bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa. "Aku mohon jangan rebut Mbak Cecil dari Mas Alvian, Pak. Jangan rusak hubungan mereka. ." Nayla menangkupkan kedua tangannya.


Rangga tersenyum menyeringai.


Kenapa dia harus menjawab dengan ketus seperti itu pada Nayla? Apa ia ingin membalas Nayla karena sudah membuat Cecil bersedih?


Entahlah. Hanya Rangga yang tahu isi didalam hatinya.


Dan di waktu itu juga Herman datang dan langsung membukakan pintu mobil untuk Rangga. Rangga berpamitan pada Nayla. Mobil Rangga melaju meninggalkan Nayla yang masih diam terpaku.


...***...


Sementara itu. . .


Cecil dan Alvian masih menunggu dengan cemas di depan ruang IGD. Cecil yang tidak sabar rasanya ingin menyelinap masuk kedalam. Alvian melarangnya. Alvian meminta Cecil agar percaya pada tim dokter rumah sakit.


Namun Cecil tetap khawatir, karena dari tadi dia melihat perawat mondar mandir keluar masuk ruang IGD. Dia merasa pasti ada sesuatu yang gawat didalam sana. Dan itu pasti Tasya.


Setelah cukup lama menunggu, akhirnya keluarlah salah satu dokter dan menghampiri Alvian dan Cecil. Seketika itu juga Cecil terjatuh dan terduduk lemas. Tubuhnya serasa tersambar petir.


"Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun maaf, Tuhan berkehendak lain. Putri kalian tidak bisa terselamatkan. Luka dikepalanya cukup parah. Sekali lagi, kami turut berduka untuk bapak dan ibu. . ." Jelas dokter yang menangani Tasya.


Kalimat itu tidak bisa Cecil percaya begitu saja. Dia berontak dan ingin masuk melihat Tasya. Alvian memegangi kedua lengannya. Alvian terus menenangkan Cecil, namun Cecil tetap tak bisa tenang. Dia menangis sejadinya. Menjerit sejadinya. Sampai akhirnya terjatuh, dan pingsan.


Nayla melihat semua itu. Dan dia hanya bisa menutup mulutnya seakan tak percaya. Dia merasa bersalah pada Cecil. Namun dia tak bisa berkata apapun. Nayla berlari menjauh dari mereka berdua. Dan diapun juga menangis dengan kencang. Dia ingat ucapan Alvian sebelum menelepon Cecil.


"Dengar baik-baik Nay. Jangan mengatakan apapun dan bersikaplah yang wajar, seolah tidak terjadi apapun antara kamu dan Tasya sebelum kecelakaan itu terjadi. Ingat itu, Nay!! Rahasia ini, cukup kita berdua saja yang tahu. . ."


Nayla menutup mata dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya jika semua akan jadi begini. Nasi sudah menjadi bubur, begitulah kata pepatah.

__ADS_1


...💟💟💟...


Tobe continued. . .


__ADS_2