99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Fakta


__ADS_3

*Cecilia PoV*


Aku mengemudikan mobilku dengan cukup kencang. Pikiranku melayang entah kemana. Banyak hal buruk yang terbersit dihatiku. Aku ingin menyangkal semuanya, berharap semua firasatku salah. Orang-orang yang kupercaya, tidak mungkin mengkhianatiku. Berkali-kali aku memegang keningku sambil terus konsen menyetir.


Saat sampai dirumah, aku belum melihat mobil Mas Alvian. Itu berarti dia belum pulang. Aku bergegas lari masuk ke dalam rumah. Suasananya tampak sepi. Aku tak peduli juga dimana Nayla berada sekarang. Aku menuju ke ruang kerja Mas Alvian. Mencari-cari barang yang kucurigai. Ku acak satu persatu lembaran kertas yang ada di atas meja. Semoga dugaanku salah.


Sial!!! Aku tak menemukannya. Hanya satu surat yang kutemukan. Surat panggilan dari pengadilan untuk sidang yang kedua. Sedangkan yang pertama?? Tidak ada! Aku mematung seketika. Harusnya ada disini. Terakhir kali kulihat masih ada disini. Apakah benar yang ada di video itu adalah surat panggilan yang pertama? Jadi, Tasya sudah mengetahui semuanya. Dia tahu kalau Papa dan Mamanya akan berpisah. Putriku yang malang. Aku terduduk lemas, air mataku tak terasa sudah mengalir.


Keesokan harinya, aku mendapat telepon dari Pak Ismail. Dia bertanya padaku apa aku bisa ke kantor polisi lagi hari ini. Tentu saja aku bisa, banyak hal yang masih mengganjal di otakku.


"Surat itu adalah surat panggilan dari pengadilan agama, Pak. Aku dan suamiku memang berencana untuk berpisah. Tapi, aku sudah membatalkannya. Aku tidak tahu jika anakku akan menemukan surat itu." Jelasku dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf kami tidak bisa menemukan surat itu. Seandainya saja bisa ditemukan, semuanya bisa jadi lebih jelas. Dan kami sudah menemui orang-orang yang ditemui anak ibu pada hari kejadian. Tapi, ada satu yang belum mau memberikan keterangan. Yaitu ibu guru Fanya. Sepertinya beliau menyembunyikan sesuatu. Bagaimana jika ibu Cecil mencoba menemui beliau, siapa tahu Bu Fanya mau bicara pada ibu."


Aku mengangguk. Kami segera menuju ke sekolah Tasya.


"Apa ibu akan ikut mobil kami?" Tawar Pak Ismail.


"Tidak perlu. Saya naik mobil saya sendiri saja."


Sesampainya di sekolah Tasya. Aku mencari keberadaan Bu Fanya. Aku mengenalnya dengan baik, dia adalah guru kelas Tasya. Dia terlihat menghindar saat melihatku.


Aku mengejarnya. Begitu juga Pak Ismail. Bu Fanya terlihat ketakutan. Aku meyakinkannya jika kami tak punya maksud apapun.


Aku hanya ingin mengetahui fakta dibalik kematian Tasya. Aku terus meyakinkannya agar menceritakan apa yang terjadi.


Ternyata benar dugaanku. Tasya memang menemukan surat panggilan itu. Dan dia menanyakannya pada Bu Fanya.


Seketika aku menangis histeris. Aku menyesal. Harusnya aku cepat memberitahu Tasya jika aku dan Mas Alvian tidak jadi berpisah. Maafkan Mama, Nak. Mama yang salah.


Bu Fanya memapahku menuju mobil. Dia bertanya apakah aku tidak apa-apa menyetir sendiri dalam keadaan begini. Aku mengangguk.


"Saya baik-baik saja." Jawabku dengan tanpa ekspresi.


Aku tidak paham apa yang terjadi selanjutnya. Tapi yang jelas, Pak Ismail sudah memegang kunci mobilku, dan menyuruh Bu Fanya untuk menuntunku masuk.

__ADS_1


Hei, apa-apaan ini? Kenapa dia bertindak sesuka hatinya? Aku sudah bilang jika aku baik-baik saja, dan aku bisa menyetir sendiri. Tapi si Ismail ini tetap bersikukuh kalau aku harus duduk dikursi penumpang.


...***...


Pak Ismail menjelaskan semuanya padaku. Kalau apa yang terjadi pada Tasya, adalah kecelakaan karena kelalaian, dan bisa dijadikan sebagai tindak pidana. Disini Ismail menjelaskan kalau Nayla secara sengaja membiarkan Tasya mengalami kecelakaan. Terlihat dari video bukti yang diberikan oleh saksi tanpa nama.


"Jadi..... apa saya harus melaporkan Nayla atas kejadian ini?" Tanyaku dengan wajah bingung.


"Semuanya kami serahkan pada Anda. Kami hanya akan memproses jika ada laporan masuk kepada kami."


"Saya ingin bertemu dengan supir truk yang menabrak Tasya." Entah kenapa aku ingin tahu lebih banyak dari sopir truk ini. Aku yakin dia juga menyembunyikan sesuatu.


Pak Adin namanya, dia terlihat bingung saat melihatku. Aku memperkenalkan diriku kalau aku adalah ibu dari anak yang dia tabrak. Dia terkejut. Menurutku reaksinya terlalu berlebihan.


Kulihat sorot matanya, dia bukan tipe orang yang jahat. Tapi dia harus bertanggung jawab atas kelalaiannya saat berkendara. Miris memang. Kudengar dia meninggalkan istri dan anaknya karena harus berada di penjara. Sesaat aku kasihan padanya. Bagaimana dengan nasib istri dan anaknya sekarang? Kalau si pencari nafkah dipenjara begini?


Dan akhirnya aku mengetahui semuanya dari Pak Adin. Aku mengajukan penawaran padanya.


"Berapa yang suami saya beri ke keluarga bapak supaya bapak tetap mendekam dipenjara?"


"Bangunlah, Pak! Saya tidak akan mengganggu keluarga bapak. Saya hanya ingin bapak berkata yang sejujurnya di depan penyidik. Beberkan fakta yang sebenarnya. Saya mohon, Pak!"


Sekarang giliranku yang memohon pada Pak Adin. "Kalau setelah ini suami saya tidak mau menafkahi keluarga bapak lagi, saya yang akan bertanggung jawab dengan keluarga bapak. Saya janji!"


...***...


Aku tidak tahu apakah ini keputusanΒ  yang tepat atau tidak. Aku akhirnya melaporkan Nayla ke pihak berwajib. Hari itu kulihat Pak Ismail datang bersama rekannya dan membawa surat perintah. Nayla di bawa ke kantor polisi sebagai saksi. Yap, dia harus bersaksi dan mengatakan yang sebenarnya.


Kudengar Mas Alvian terus mengumpatku. Dia terus melampiaskan kekesalannya padaku karena telah melaporkan Nayla.


Harusnya aku laporkan kamu juga, Mas. Tapi aku masih punya hati nurani. Aku cuma ingin Nayla bicara jujur. Itu saja!


Mas Alvian terus mendampingi Nayla, bahkan menyewakan pengacara untuknya. Berkali-kali Mas Alvian memohon padaku untuk mencabut tuntutan pada Nayla.


"Kenapa kalian setakut itu? Apa yang sebenarnya kalian sembunyikan dariku?" tanyaku dengan ketus.

__ADS_1


"Tak ada yang aku tutupi, Cil. Demi Tuhan!!"


Aku tersenyum sinis. Demi Tuhan katamu, Mas. Berani sekali kamu bawa-bawa nama Tuhan disini.


"Mas, biarkan polisi yang menentukan, apakah kalian benar-benar jujur atau ada kebohongan besar yang kalian sembunyikan." Tutupku setelah bicara dengan Mas Alvian.


...πŸ’ŸπŸ’Ÿ...


*Alvian PoV*


Aku tidak tega melihat Nayla di interogasi seperti seorang penjahat. Dia tidak salah. Akulah yang salah karena harus menutupi semuanya dari Cecil. Aku memang pengecut, Nay. Maafkan aku. Aku tidak akan membiarkanmu berada disini lebih lama lagi.


"Pak, saya akan ceritakan semuanya pada bapak, tapi tolong lepaskan Nayla. Dia tidak bersalah." Mohonku pada penyidik bernama Ismail.


"Baiklah, silakan bapak memberikan keterangan juga sebagai saksi."


Aku menceritakan semua yang terjadi di hari kecelakaan Tasya. Aku menceritakan semua berdasarkan cerita Nayla padaku. Karena Nayla tidak berkata apapun pada polisi, maka aku yang akan mengatakan semuanya.


Setelah memberikan keterangan, aku meminta untuk membawa pulang Nayla. Tapi polisi menolaknya. Mereka bilang, Nayla juga harus memberikan kesaksian. Tapi yang kudengar dari penyidik kalau Nayla belum mengatakan apapun. Bibirnya masih tertutup rapat. Aku meminta ijin untuk menemuinya. Namun ditolak juga oleh polisi.


Dan akhirnya Nayla diputuskan untuk menginap di kantor polisi sampai dia mau buka suara.


Aku sangat frustasi dengan keadaan ini. Polisi terus menanyaiku, kenapa aku begitu peduli pada Nayla. Kujawab dia adalah istri dari mendiang kakakku. Dan aku sudah berjanji akan menjaganya.


Polisi itu mengernyitkan dahinya. Persetan dia mau percaya atau tidak. Aku putuskan untuk menginap juga di kantor polisi. Namun mereka melarangku. Aku keluar dan mencari penginapan didekat sana.


Di hotel, aku terus berpikir apa yang bisa aku lakukan untuk membebaskan Nayla. Kalau Nayla dijadikan tersangka bagaimana?


Aku mengacak-acak rambutku. Aku menelepon Shasha untuk membatalkan semua jadwalku beberapa hari kedepan.


Sekilas aku mengingat seseorang yang bisa membantuku.


Mas Arif!!! Aku segera menghubunginya. Hanya dia yang bisa menolongku saat ini.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...

__ADS_1


__ADS_2