
...Halo readers kesayangan mamak👋👋👋 welcome back to season 3 of 99 Cinta Untukmu. Dont forget to leave Like 👍 and Comments 😘...
...*Happy Reading*...
Cecilia dan Nayla duduk saling berhadapan. Cecil merasa ada yang tidak beres dengan raut wajah Nayla.
"Umm, bagaimana kalau aku pesankan kopi dan cake?" tawar Cecilia.
"Hmm, boleh." Jawab Nayla singkat.
Cecil sudah hapal perangai Nayla. Jika wajahnya ditekuk seperti itu, berarti ada yang tidak beres dengan hubungannya dan Alvian.
Tak lama seorang karyawan Cecil datang membawa pesanan Cecil.
"Silahkan di cicipi." ucap Cecil dengan masih menampilkan senyuman di wajahnya.
"Mbak Cecil... Apa Mas Alvian sering datang kesini?" tanya Nayla tanpa berbasa-basi lagi.
Cecil sudah tahu jika Nayla bukan orang yang suka berbasa-basi.
"Maaf, Nay. Tapi aku tidak memperhatikan setiap pengunjung yang datang ke toko rotiku."
"Ini..." Nayla menyerahkan bungkus roti lapis. "Roti ini di beli disini 'kan?"
"Iya, memang benar. Hanya disini yang menjual roti lapis ikan tuna atau salmon. Itu adalah kesukaan Mas Alvian."
"Jadi benar jika dia sering kemari untuk membeli roti?"
"Tentu saja benar."
"Atau dia ingin bertemu denganmu, Mbak?"
"Eh? Nayla..."
"Aku tahu kau selalu ada di hati Mas Alvian. Meski kami sudah memiliki Alif, tapi aku tetap masih belum bisa menyentuh hatinya." Nayla mulai berkaca-kaca.
Cecil seakan tak bisa berkata apa-apa. Jujur saja ia bertemu dengan Alvian beberapa kali. Bahkan mereka bertemu hanya berdua dan di tempat kenangan mereka.
Ya Allah... Maafkan aku. Maafkan aku, Nayla. Sebaiknya aku tidak menemui Mas Alvian lagi apapun kondisinya. Aku tidak mau menjadi orang di tengah-tengah rumah tangga mereka.
__ADS_1
,
,
,
,
Sore hari saat Cecil sedang memeriksa laporan keuangan kafe, ponsel Cecil berbunyi dan tertera nama Isma disana. Cecil dengan gembira mengangkat panggilan dari ibu mertuanya.
"Assalamu'alaikum, Umi..."
"Wa'alaikumsalam, Khumaira. Bagaimana kabarmu?"
"Alhamdulillah baik, Umi. Umi sendiri bagaimana?"
"Alhamdulillah Umi dan Abah juga baik. Oh ya, Nak, malam ini Umi akan sampai di Jakarta. Rencananya Umi dan Abah akan mengantar Ros untuk magang di perusahaan Rangga. Nanti kau dan Rangga mampir ke rumah utama ya."
"Hmm, baiklah, Umi. insha Allah aku dan Rangga akan datang."
Panggilan berakhir. Kemudian Cecil bersiap untuk menuju rumah utama. Ia berpamitan pada Rani dan semua karyawannya.
Pukul lima sore, Cecil tiba di kediaman Adi Jaya. Cecil menyapa Sandra dan Sheila.
"Sayang, kau sudah sampai." ucap Sandra.
"Iya, Ma. Aku juga ingin menyiapkan makan malam untuk Umi dan Abah."
"Mereka akan menginap selama beberapa hari."
"Oh, begitu."
,
,
,
,
__ADS_1
Malam harinya, Isma dan Farid juga Rosida tiba di kediaman Adi Jaya. Cecil menyambut dengan gembira kedatangan mereka.
Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu mereka. Aku sangat merindukan mereka. Batin Cecilia.
Seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga usai menyantap makan malam dan saling bersenda gurau bersama.
"Nak, Umi titip adikmu ya. Dan kamu, Ros. Bekerjalah yang rajin dan buat kakakmu bangga." ucap Isma menatap Rangga dan Ros.
"Iya, Umi." jawab Rangga dan Ros kompak.
Lalu kemudian gelak tawa memenuhi ruang keluarga itu. Cecilia juga ikut bahagia dan sejenak melupakan masalahnya.
"Kalian berdua menginap saja disini." ucap Adi Jaya.
"Baik, Pa. Aku dan Cecil akan menginap disini." jawab Rangga dengan menatap Cecil.
Pagi harinya, Cecilia bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Isma dan Sandra yang melihat ketekunan Cecil saling memandang dan memuji dalam hati.
"Kita memiliki menantu yang sempurna ya. Selain cantik dan sholehah, dia juga pandai memasak dan pintar mengurus rumah juga putra kita." ucap Isma.
"Iya, Mbak. Rangga sangat beruntung memiliki Cecil dalam hidupnya." tambah Sandra.
Kedua ibu Rangga menghampiri Cecil dan ikut membantunya. Setelah berkutat di dapur selama beberapa lama, menu sarapan pun telah siap.
"Khumaira, panggil Rangga dan Ros di teras belakang, suruh mereka kemari untuk sarapan." titah Isma.
"Baik, Umi."
Cecilia berjalan menuju teras belakang dan mendapati Rangga dan Ros seperti sedang membahas sesuatu.
DEG.
Entah kenapa jantung Cecil terasa tersentil melihat keakraban di antara mereka. Canda tawa mereka seakan berbeda di mata Cecil.
Ya Allah, apa ini? Apakah ini adalah jawaban dari segala kegundahanku?
.
.
__ADS_1
#bersambung...