99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : The Guardian Angel (1)


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Maria berusaha menutupi kekhawatirannya tentang Cecilia. Ia merasa ada yang aneh dengan putrinya sejak kepulangannya kembali ke rumah. Ada beberapa hal yang dia sembunyikan. Namun Maria tak mau memperburuk keadaan dengan bertanya macam-macam.


Sesekali Maria berbicara dengan Ismail. Ia meminta Ismail untuk menjaga putrinya. Maria tidak mau Cecilia berurusan lagi dengan masa lalunya. Entah itu Alvian maupun Rangga.


"Katakan pada ibu, apa yang terjadi dengan Cecil akhir-akhir ini? Apa ini ada hubungannya dengan Alvian atau Rangga?"


"Tidak, bu. Sepenuhnya bukan karena Alvian ataupun Rangga."


Ismail menceritakan tentang kasus bunuh diri Ivana Lee lima tahun yang lalu. Maria syok mendengar jika putrinya terkait dengan kasus itu.


"Kejadian itu sudah lama, dan bukan kesalahan Cecil. Jadi ibu tidak perlu khawatir. Semua sudah berakhir."


"Jadi inilah alasan kenapa putriku selalu menderita kemalangan. Karena ada orang yang merasa tersakiti oleh perbuatannya. Sekarang semuanya jelas. Putriku sudah kehilangan anak dan suaminya. Dia sudah menebus dosanya." Maria meneteskan air mata.


Ismail mencoba menenangkannya.


"Semua yang terjadi di dunia, pasti ada sebabnya. Semoga setelah ini, Cecilia bisa hidup dengan lebih baik." Maria menyeka air matanya.


"Nak Ismail, Ibu ingin meminta tolong padamu..." Maria menggenggam kedua tangan Ismail.


"Iya, bu. Saya siap menolong ibu kapanpun," jawab Ismail sambil tersenyum.


...***...


Di sisi lain, Nayla merasa khawatir karena kembalinya Cecil. Di tambah lagi, ia juga mendapat pesan dari Jimmy yang meminta maaf dan memutuskan untuk pergi.


Saat mendatangi butik Jimmy, Nayla terkejut karena butik itu bukan lagi milik Jimmy. Ia bertemu Lolly dan meminta penjelasan.


Namun, Lollypun tak tahu apa-apa.


"Pak Bos hanya bilang, kami masih bisa tetap bekerja di butik ini. Dan butik ini, dari awal memang bukan milik Pak Bos. Ini adalah milik Ivana. Begitu yang Pak Bos bilang pada saya."


Nayla syok. Satu-satunya teman untuk berbagi cerita sekarang sudah pergi meninggalkannya. Ia marah. Dan hanya satu orang yang di persalahkan olehnya karena semua ini. Dia adalah Cecilia. Nayla mengepalkan tangannya. Matanya memerah. Ia akan menemui Cecilia.


...***...


Cecilia mendapat pesan singkat dari Nayla. Nayla memintanya untuk bertemu. Cecil berpikir sejenak. Ia sedang ada di toko roti milik ibunya. Alasan apa yang akan dia katakan pada ibunya agar tak membuatnya khawatir.


"Bu... Umm, aku pergi sebentar ya. Ada urusan. Hanya bertemu seseorang. Tidak akan lama!"


"Mau bertemu siapa?"

__ADS_1


"Hanya seorang teman. Jangan cemas. AkuΒ pergi dulu ya!" Cecilia mencium pipi Ibunya dan pergi dengan mobilnya.


Maria hanya memandangi Cecil pergi. Ia tak khawatir lagi sekarang. Karena sudah meminta bantuan pada Ismail beberapa waktu lalu.


Sesampainya di sebuah food court area dalam sebuah mall, Cecilia berjalan menuju meja yang di tempati Nayla.


Nayla berdiri untuk menyambut kedatangan Cecilia.


"Sudah datang rupanya! Aku pikir Mbak Cecil tidak akan bersedia datang. Silahkan duduk!" Nayla berkata dengan dingin pada Cecil.


Istighfar Cecil, Istighfar. Tidak perlu ikut terbawa amarah. Cecil beristighfar dalam hati.


"Terima kasih." Ucap Cecil lembut.


Cecil melihat perut Nayla yang semakin buncit. Usia kandungannya mungkin sekitar 7 atau 8 bulan. Pikir Cecil.


Nayla menatap Cecil dengan tatapan marah.


"Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja 'kan?" Tanya Cecil dengan santai.


"Kenapa Mbak Cecil kembali?" Bukannya menjawab, Nayla justru mengajukan pertanyaan pada Cecil.


Sabar Cecil, sabar. Semua akan selesai jika kau gunakan kepala dingin. Selesaikan semua hari ini juga! Lagi-lagi batin mencoba menenangkan hatinya.


"Eh? Apa maksudmu?"


"Balas dendam? Nayla... Apa yang kamu bicarakan?"


"Cepat katakan padaku kenapa Mbak Cecil kembali?! Apa Mbak Cecil ingin membalas dendam padaku? Mbak Cecil ingin merebut Mas Alvian lagi? Begitu 'kan?" Nayla sudah dikuasai amarah.


Cecil hanya menatapnya heran. Bagaimana bisa gadis yang dulu berlaku polos sekarang bisa dipenuhi kebencian seperti ini?


"Lalu, Jimmy? Kepergian Jimmy pasti ada hubungannya dengan Mbak Cecil. Dia pergi karena Mbak! Mbak Cecil yang membuatnya pergi!"


"Nayla!!! Kamu sudah melewati batas! Aku tidak kembali untuk Alvian. Dan soal Jimmy. Kamu tidak tahu yang sebenarnya terjadi, jadi jangan sembarangan bicara." Cecil mulai terpancing emosi.


"Bukankah sudah jelas. Semua ini terjadi karena Mbak Cecil kembali."


"Hentikan, Nayla! Kamu tidak tahu kejahatan apa yang dilakukan Jimmy sampai dia memutuskan untuk pergi. Dan sebaiknya, tanyakan semua pada suamimu. Dia lebih tahu semua hal yang terjadi pada Jimmy." Cecil sudah ikut kelepasan bicara. Ia mengelus dadanya.


"Aku tidak akan membiarkan Mbak Cecil merebut Mas Alvian kembali. Aku hanya ingin mengatakan itu."


"Jangan khawatir. Aku tidak akan berhubungan lagi dengan Mas Alvian ataupun keluarganya. Dan kamu ... Kalau tidak ingin suamimu direbut oleh orang lain, sebaiknya awasi dengan baik suami berhargamu itu." Cecil mulai kesal dengan tingkah Nayla.

__ADS_1


"Baiklah. Akan kuingat ucapanmu itu. Aku permisi." Nayla beranjak pergi dari tempat duduknya.


Cecilia merasa kesal. Ia tidak menyangka Nayla berani bersikap kasar padanya. Nayla yang dulu dia kenal, sudah berubah.


"Astaghfirullahaladzim..." Cecil menghela nafasnya dan terus beristighfar.


Cecilpun memutuskan segera pergi setelah meneguk secangkir teh yang tadi dipesannya.


Saat akan masuk ke dalam mobilnya, terjadi keributan di tempat parkir. Beberapa orang berkerumun dan terdengar suara seorang wanita merintih kesakitan. Karena penasaran Cecilpun mendekati kerumunan tersebut.


Betapa terkejutnya Cecilia mengetahui kalau suara itu adalah Nayla yang sedang kesakitan. Dilihatnya air ketuban milik Nayla sudah pecah dan membasahi sebagian pakaiannya.


Cecil menerobos masuk dalam kerumunan.


"Nayla?!? Apa yang terjadi?" Tanya Cecil panik.


"Arrggghh!!! Sakit, Mbak!!! Tolong aku!!! Tolong selamatkan anakku!!!" Nayla merintih dan menangis memohon pada Cecil.


Cecil tak tega melihat Nayla kesakitan seperti itu. Meski hatinya sakit karena ucapan Nayla, namun ia masih memiliki hati nurani.


"Cepat bawa ibu ini ke mobil saya. Saya akan membawanya ke rumah sakit!" Putus Cecil setelah berpikir sejenak.


Beberapa orang membantu mengangkat tubuh Nayla menuju ke mobil Cecilia.


Di perjalanan menuju rumah sakit, Nayla terus merintih kesakitan. Dan dalam kesakitannya ia memohon pada Cecil.


"To...long selamatkan a..nakku... Aku mohon Mbak... Selamatkan ba..yi..ku. Aku minta maaf... Karena dulu tidak bisa menyelamatkan Tasya. Aku menyesal, Mbak. Tapi sekarang... Aku mohon padamu... Selamatkan anakku..."


Cecilia panik. Ia harus berkonsentrasi menyetir mobil sambil terus melirik ke kursi belakang untuk melihat kondisi Nayla.


"Jangan berpikir macam-macam. Aku akan menyelamatkanmu dan bayimu. Bertahanlah! Sebentar lagi kita sampai rumah sakit."


.


.


.


Tidak semua kejahatan harus kita balas dengan kejahatan pula. Justru karena kebaikan hati, percayalah itu akan meruntuhkan dinding kebencian itu dengan sendirinya...


-Cecilia Wijaya-


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...

__ADS_1


...bersambung,,,,...


...coming UP \=>> "The Guardian Angel part 2"...


__ADS_2