
Radit menenangkan Cecil yang tampaknya masih syok dengan kejadian di atap gedung tadi. Meski tidak tahu apa yang dilakukan Nadine terhadap Cecil, namun Radit menduga jika Nadine pasti sudah melakukan sesuatu pada Cecil. Radit membawa Cecil kembali ke ruangannya.
"Cil, minumlah dulu." Radit membawakan secangkir teh.
"Terima kasih. Tapi aku baik-baik saja."
"Apa yang kau dan Nadine lakukan diatap gedung? Untung saja aku segera kesana. Jika tidak? Pasti sudah terjadi sesuatu denganmu."
"Dit, aku sudah bilang aku baik-baik saja. Percayalah! Sebaiknya kau kembali bekerja. Tidak enak jika ada yang melihatmu disini."
"Baiklah. Kau istirahat saja dulu. Jangan lupa habiskan tehnya."
Radit pamit pergi dari ruangan Cecil.
Sementara Cecil, masih memikirkan apa yang tadi dikatakan Nadine. Cecilia bingung kenapa Nadine berpikir kalau dirinya akan merebut Rangga.
Apa Nadine terlalu terbawa perasaan? Aku dan Pak Rangga hanya sebatas atasan dan bawahan saja. Jika dipikir-pikir, Pak Rangga memang suka berubah-ubah. Tapi aku rasa itu bukan karena diriku. Rangga yang aku kenal dulu, memang orang yang dingin. Dan dia tak pernah peduli pada orang lain. Duh!! Kenapa aku jadi memikirkan Pak Rangga?
Cecil menggelengkan kepalanya. Dia kembali fokus pada layar komputernya dan bekerja.
...***...
-Keesokan harinya di ruang kerja Rangga-
"Ini jadwal Kak Rangga untuk hari ini." Danny memberikan tablet pintarnya nya pada Rangga.
"Terima kasih." Rangga fokus membaca jadwal dari Danny.
What??!! Jadwal apaan ini??
Teriak Rangga dalam hati saat tahu jadwal hari ini adalah meeting bersama klien dengan membawa tim operasional kantor.
"Apa ini, Dan?" Tanya Rangga pura-pura tidak tahu.
"Oh, kita akan meeting dengan klien, tapi kliennya meminta ada pihak operasional yang ikut serta, yaitu Bu Cecil."
Rangga tersedak saat sedang meminum teh nya.
"Kakak tidak apa-apa? Kenapa kakak terkejut?"
"Kenapa harus Cecil yang ikut? Kenapa yang lain saja?"
__ADS_1
"Pihak klien meminta Bu Cecil. Tidak mungkij kita menolaknya. Popularitas Bu Cecil dimata klien ternyata sangat bagus. Lagipula tadi aku sudah memberitahunya, dia bilang dia setuju untuk ikut."
Sepertinya takdir Rangga dan Cecilia memang sulit ditebak. Mereka terus bertemu meski sudah saling menghindar.
...***...
Sebenarnya Cecil sangat ingin menolak rapat keluar bersama Rangga. Karena dia masih mengingat kejadian bersama Nadine.
Nadine menyukai Rangga. Dan itu benar adanya. Bukan karena mereka dijodohkan oleh para orang tua, seperti yang diberitakan oleh banyak acara infotainment.
Sesampainya di tempat rapat yang sudah di tentukan oleh klien, Rangga menjelaskan pengembangan produk yang akan dilakukan oleh AJ Foods dengan sangat lancar.
Cecil memperhatikannya. Rangga yang dia kenal sangat berbeda dengan Rangga yang sedang bicara di depan klien. Cecil mengamatinya dengan detail.
Seorang Rangga dengan setelan jas berwarna abu-abu, dan kemeja putih sebagai dalaman. Tubuhnya yang jangkung dan atletis, membuat setiap wanita yang memandang pasti terpana. Ditambah dengan gaya rambut yang selalu disisir rapi ke samping namun tak nampak kuno.
Apa ini sisi lain seorang Rangga Adi Putra?? Dia benar-benar menakjubkan. Perfect dalam segala hal.
Cecilia tak berkedip saat mendengarkan presentasi Rangga.
Astaghfirullahaladzim!!! Apa yang kupikirkan? Kenapa tiba-tiba terpana pada lelaki lain? Istighfar Cecil, istighfar!!
"Kenapa kau? Mengapa melihatku seperti itu?" Cecil terkejut karena ternyata Rangga sudah kembali duduk disebelahnya.
"Apa kau menyukaiku?" Bisik Rangga dengan sedikit menggoda.
"Hah?!" Cecil menoleh ke arah Rangga dengan mengernyitkan dahi. Lalu memalingkan mukanya dari hadapan Rangga.
Dasar menyebalkan!!! Kenapa juga aku harus menyukainya? Bisa-bisanya disaat begini dia berpikir yang tidak-tidak!! Awas saja kau! Akan kubalas!
Dan Rangga hanya bisa tersenyum puas karena berhasil menggoda Cecil.
...***...
Usai rapat, Danny mengusulkan untuk makan siang terlebih dahulu karena sudah masuk jam makan siang. Mereka bingung mau makan dimana, lalu tiba-tiba Cecil mengusulkan satu tempat makan yang enak di sekitar daerah tempat mereka rapat.
Rangga dan Cecil duduk berdua, karena Danny sedang ke toilet. Cecil mencoba mencairkan suasana dengan membuka obrolan.
"Semoga saja rapat kali ini berhasil menarik klien baru." Ucap Cecil sambil tersenyum paksa.
Rangga menyeringai. "Ya, semoga saja. Ini semua berkat kamu."
__ADS_1
"Hah? Saya? Bukankah bapak yang sudah melakukan presentasi di depan klien. Saya hanya menambahi saja."
"Bagaimana bisa klien meminta untuk membawamu serta dalam rapat? Pasti karena koneksi. Atau dia adalah kenalan suamimu?"
"Maksud bapak?"
"Saya tahu kamu pasti punya banyak koneksi. Apalagi suami kamu cukup terkenal. Tak heran makanya kamu selalu bisa melebihi target dari apa yang ditentukan oleh perusahaan. Benar begitu kan, Cecilia??!"
"Maaf Pak. Tolong jangan bicara sembarangan! Meski suami saya punya banyak koneksi, tapi saya tak pernah meminta bantuannya untuk urusan pekerjaan. Saya tidak pernah menggunakan koneksi-koneksi seperti yang bapak tuduhkan!" Cecil mulai menaikkan nada bicaranya.
"Oh begitu. Baguslah! Saya suka itu." Jawab Rangga santai.
Cecilia tak mau memperpanjang perdebatan ini dengan Rangga. Karena menurutnya percuma saja bicara dengan orang yang keras kepala seperti Rangga.
Tiba-tiba ponsel Cecil berdering, dan dia mengangkatnya. Dia pamit pada Rangga karena dia harus pergi saat itu juga. Ada hal penting dikantor. Dan dia harus segera kembali ke kantor. Rangga mengijinkan Cecil pergi.
Tak lama setelah Cecil pergi, Nadine datang menghampiri Rangga yang sedang duduk sendiri. Rangga terkejut. Karena tiba-tiba Nadine muncul disaat yang tak tepat. Moodnya sedang jelek setelah berdebat dengan Cecil.
"Apa yang kau lakukan disini?" Rangga mengernyitkan dahi.
"Aku mau makan siang. Kamu juga mau makan siang bukan? Kita makan bersama saja." Jawab Nadine santai.
Rangga mengangguk. Dan akhirnya hanya Nadine dan Rangga yang masih bertahan di tempat itu, karena Danny juga ke kembali kantorย setelah mendapat telepon dari Hana.
...***...
Sementara itu, Tasya mendapat tugas dari sekolahnya untuk membawa buku tentang cerita rakyat.
Dan semua koleksi buku-buku disimpan di ruang kerja Papanya, Alvian. Kemudian tanpa diketahui siapapun, Tasya masuk ke ruangan kerja Alvian.
Setelah selesai mengambil buku yang dia cari, Tasya tak sengaja melihat amplop coklat diatas meja kerja Papanya, yang bertuliskan dari Pengadilan Agama.
Karena penasaran dia membukanya. Tasya membaca selembar kertas yang ada di dalam amplop itu. Tertulis nama orangtuanya. Alvian Arifin dan Cecilia Wijaya.
"Sidang perceraian? Apa ini?" tanya Tasya pada dirinya sendiri.
Untuk anak seumuran Tasya, dia belum faham dengan apa maksudnya sidang dan juga perceraian. Juga pengadilan agama. Lalu Tasya memutuskan untuk mengambil surat itu dan membawanya dari ruangan kerja Alvian.
"Aku coba tanya temanku saja besok pagi. Siapa tahu mereka ada yang tahu." Gumam Tasya sambil meninggalkan ruangan kerja Alvian.
...๐๐๐...
__ADS_1
tobe continued-------