
"Neneng, apa kamu melihat Cecil? Apa dia sudah berangkat ke kantor?" tanya Alvian pada Neneng ketika bangun tidur keesokan harinya.
Neneng hanya terdiam memandang Alvian dengan tatapan bingung.
"Ini masih pukul enam pagi. Kenapa dia sudah berangkat?"
Neneng tidak tahu harus menjawab apa. Kemudian Nayla datang menengahi mereka. Dan menyuruh Neneng pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Mas, kamu lupa apa yang terjadi semalam?" tanya Nayla dengan hati-hati.
"Memang apa yang terjadi?"
Nayla bingung dengan sikap Alvian. Apakah dia memang lupa atau pura-pura lupa?
"Mas---? Mbak Cecil sudah pergi." ucap Nayla dengan mata berkaca-kaca.
Alvian terduduk lemas. Ingatannya kembali mengingat apa yang terjadi semalam.
"Mas, apa kamu benar-benar tidak peduli lagi pada Mbak Cecil? Aku mohon kamu cari Mbak Cecil, Mas. Aku takut terjadi sesuatu pada Mbak Cecil."
Mendengar ucapan Nayla, Alvian tampak menunjukkan kemarahannya.
"Dia sendiri yang ingin pergi bukan? Jadi biarkan saja. Paling dia pergi ke rumah ibunya."
"Kalau begitu Mas coba datang ke rumah Ibu Maria. Dan bawa pulang Mbak Cecil. Tolong, Mas. Demi aku." Nayla memohon.
Alvian menarik nafas. "Baiklah, nanti aku coba ke rumah ibu. Setelah pekerjaanku selesai."
"Terima kasih, Mas" Nayla tersenyum.
...***...
Danny terkejut saat datang di pagi hari ke rumah Rangga dan melihat ada mobil Cecilia terparkir di halaman rumah Rangga. Danny berusaha mencari tahu dari Bu Siti dan Herman.
"Oh, jadi semalam Kak Rangga membawa Bu Cecil kesini. Setelah ditelepon sama Indra yang punya cafe Chocolatte Lovers. Lalu bagaimana, Bu? Kenapa Kak Rangga tidak membawa Bu Cecil ke rumahnya?" ucap Danny dengan suara lirih agar tidak terdengar oleh Rangga.
"Kalau itu ibu tidak tahu Mas Danny. Nanti coba Mas Danny tanyakan saja pada Mas Rangga."
Saat sedang berbisik-bisik, Rangga datang dan menepuk pundak Danny.
"Ini masih pagi, kenapa kau malah bergosip? Apa kau sudah bosan hidup?" tanya Rangga dengan mata melotot.
"Eh Kak Rangga. Kakak sudah datang? Mari sarapan dulu, Kak. Agar kuat menghadapi hidup." ucap Danny canggung sambil menyodorkan sepiring nasi goreng ke arah Rangga.
"Kamu jangan berpikir macam-macam. Tidak terjadi apapun diantara aku dan Cecil." balas Rangga dengan wajah kemerahan.
"Siapa yang berpikir macam-macam? Kak Rangga yang negative thinking. Atau jangan-jangan, memang ada sesuatu diantara Kakak dan Bu Cecil. Ayo mengaku!!" goda Danny pada Rangga.
"Jangan bercanda! Ayo berangkat! Aku akan sarapan di kantor saja. Sudah dikemas kan Bu?" Ucap Rangga sambil berlalu dari hadapan Danny dan Bu Siti.
"Sudah, Mas. Sudah ibu titipkan ke Herman."
"Tunggu, Kak! Sarapanku belum habis."
.
.
Sesampainya di kantor, Rangga bersikap profesional seperti biasanya. Meminta laporan mingguan dari para staffnya. Meeting dengan klien. Dan mengecek persediaan barang yang akan dijual.
Sedikitpun Rangga tidak membahas soal Cecil. Dannypun juga enggan bertanya lebih lanjut pada Rangga.
Rangga yang dikenal Danny, adalah sosok pekerja keras dan disiplin. Dia tak mau mencampur adukkan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Dia selalu menampakkan sikap dinginnya agar disegani orang disekitarnya.
__ADS_1
Namun dibalik sikapnya itu, Rangga adalah orang yang hangat. Banyak hal yang ditutupinya. Karena dia tidak mau orang lain tahu, apa yang sebenarnya dia rasakan.
...***...
"Ada lagi yang kakak butuhkan?" tanya Danny saat akan pulang dari rumah Rangga.
Hari ini Rangga memutuskan untuk pulang kerja lebih awal.
"Aku rasa sudah cukup, Dan. Terima kasih untuk hari ini. Dan ingat, kejadian hari ini, kamu harus simpan rapat-rapat."
"Baik, Kak. Jangan khawatir. Kalau ada apa-apa, kakak tinggal telepon aku saja. Sampai besok, Kak." Danny melambaikan tangan pada Rangga, lalu menyalakan sepeda motornya dan melaju meninggalkan rumah Rangga.
Memasuki rumah, Rangga bertanya pada Bu Siti tentang keberadaan Cecil.
"Mbak Cecil sepertinya masih di ruang baca, Mas. Tadi pagi ibu suruh Mbak Cecil kesana. Supaya tidak bosan."
Rangga mengangguk. Dan bergegas menuju ruang perpustakaan. Rangga langsung tahu kalau Cecil pasti ada di ruang milik Sheila. Benar saja Cecil menghabiskan waktu dengan menonton drama korea sampai tertidur pulas dengan film yang masih terputar.
Kenapa perempuan suka dengan drama korea? Adegannya terlalu banyak menangis, apa bagusnya?
Rangga menggelengkan kepalanya. Lalu menatap Cecil yang tertidur pulas. Dilihatnya kalau mata Cecil masih terlihat bengkak.
Dia menangis karena menonton drama, atau karena masalahnya? Maafkan aku, Cil, karena kadang aku keras terhadapmu. Aku hanya tidak suka, kalau diriku jadi lemah hanya karena wanita. Aku tidak mau seperti itu.
...***...
"Pak Rangga..." Cecil terkejut saat akan meninggalkan ruang perpustakaan dan malah bertemu dengan Rangga.
"Kamu sepertinya sangat suka sekali tidur ya." Rangga tersenyum sangat lebar.
Cecil ikut tersenyum namun dengan ekspresi yang aneh. "Bapak sudah pulang dari kantor. Maaf Pak, tadi saya ketiduran."
Rangga terkekeh. "Tidak apa-apa. Jangan sungkan begitu. Oh ya, kamu cepat rapikan semua barang-barang kamu, lalu saya akan antar kamu ke rumah."
"Tunggu, Pak. Ke rumah? Maksudnya?"
Cecilia berpikir sejenak. "Saya---mau ke rumah ibu saya saja, Pak."
"Baiklah. Saya akan antarkan kamu ke rumah ibu kamu." Rangga membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Cecil.
"Tunggu, Pak!"
"Ada apa lagi?"
"Umm, saya mau bilang terima kasih dengan bapak. Dan juga maaf, jika saya merepotkan. Dan---untuk kejadian kemarin juga hari ini. Saya harap bapak bisa menyimpannya. Jangan sampai ada yang tahu, jika saya----"
"Sudah, sudah. Kamu siap-siap saja. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Saya bukan orang yang akan mengumbar masalah orang lain ke publik. Kamu tenang saja."
Cecil melihat Rangga berjalan menjauh. Lalu diapun mengikutinya.
Ternyata selama ini, aku salah menilai Pak Rangga. Dia masih punya sisi kemanusiaan juga. Pikir Cecil.
...***...
Alvian sudah beberapa kali mondar-mandir dengan mobilnya di depan rumah Ibu Cecilia. Rumah Ibu mertuanya tampak sepi. Mobil Ceciliapun tak ada di halaman rumah.
Sepertinya Cecil belum pulang ke rumah. Sebaiknya aku parkirkan saja mobilku agak jauh dari rumah. Karena jika Cecil lihat mobilku, dia pasti akan kabur lagi. Pikir Alvian.
Alvian kemudian masuk ke teras rumah Ibu Maria dan duduk di kursi depan rumah. Alvian gugup. Dia bingung apa yang akan dia katakan pada ibu mertuanya. Sesekali dia melihat jam tangannya.
Sudah pukul delapan malam, tak biasnya ibu belum pulang dari toko.
Beberapa menit kemudian, Ibu Maria datang dengan mengendarai ojek online. Alvian langsung terbangun dari tempat duduk dan menyapa ibu mertuanya.
__ADS_1
"Loh, Nak Alvian. Sudah lama nunggu disini? Kenapa tak telepon dulu?"
"Iya, Bu. Ini sekalian mampir setelah ada acara di dekat sini." Alvian mencium punggung tangan ibu Maria.
"Ayo masuk. Silakan duduk. Mau minum apa Nak Alvian?"
"Tidak usah repot-repot, Bu. Ibu pasti lelah sehabis dari toko. Nanti saya ambil sendiri saja."
Ibu masih bersikap baik padaku. Apa Cecilia belum cerita apapun pada ibunya?
"Ada apa Nak Alvian? Kenapa gugup begitu?"
"Umm, ada yang mau saya tanyakan ke ibu."
"Mau tanya apa?" ibu Maria bingung dengan sikap Alvian.
"Semalam---apa Cecilia datang kesini, Bu?" tanya Alvian dengan ragu.
"Cecilia? Kesini? Tidak. Dia tak kesini. Memang ada apa? Kalian sedang ada masalah?"
"Tidak, Bu. Saya---hanya bertanya saja." Alvian mencoba tersenyum.
Tiba-tiba suara mobil memasuki halaman depan rumah.
"Itu mungkin Cecilia datang." ucap ibu Maria sambil berjalan keluar rumah diikuti Alvian.
Cecilia keluar dari mobil dan Rangga yang membawa tas besar Cecilia.
Cecilia terkejut karena melihat Alvian ada di rumah Ibunya, padahal dia tidak melihat ada mobil Alvian didekat rumah.
Alvian menunjukkan raut wajah tak suka ketika melihat Cecilia justru datang bersama Rangga. Tanpa mendengar satu kalimat lebih dulu dari Cecilia, Alvian langsung berjalan menuju ke arah Rangga dan memukul wajahnya hingga terjatuh.
Cecilia membantu Rangga untuk berdiri. "Apa yang kamu lakukan, Mas? Kenapa memukul Pak Rangga?"
"Kamu yang kenapa! Apa-apaan ini? Jadi kamu pergi dari rumah lalu pergi ke tempat bos kamu ini? Kamu menyalahkan aku dan Nayla, tapi kamu sendiri? Kamu justru bersenang-senang dengan bajingan ini!!"
"Jaga bicara kamu, Mas! Aku dan Pak Rangga tidak seperti itu. Dia hanya menolongku." jelas Cecilia.
"Menolongmu? Jadi kamu meminta tolong padanya? Kamu berselingkuh dengannya?"
"Jaga bicaramu, Mas! Aku tidak selingkuh! Jangan menuduh sembarangan. Aku bisa jelaskan semuanya."
Rangga yang terlihat sedang memegangi wajahnya karena kesakitan, tak mau kalah dari Alvian dan membela Cecilia. Rangga melangkah maju dan menarik kerah baju Alvian.
"Heh!!! Kamu ini laki-laki atau bukan? Jangan jadi pengecut! Kamu yang salah kenapa malah menuduh istrimu? Kamu tidak layak jadi suami, makanya istrimu sampai pergi dari rumah. Aku tidak akan tinggal diam, jika kamu berani menyakiti Cecilia lagi. Mengerti?!"
"Sudah Pak. Sudah!!! Lepaskan Mas Alvian. Pak Rangga!!"
Rangga tak mendengarkan ucapan Cecil dan malah balas memukul Alvian. Keadaan makin kacau dan Cecil bingung bagaimana menghentikan pertengkaran mereka berdua. Ibu Maria hanya terdiam bingung melihat semua kekacauan yang terjadi dirumahnya.
"Cukup!!! Hentikan, Mas, Pak Rangga. Sebaiknya bapak pergi dari sini. Saya mohon, Pak. Ini masalah rumah tangga saya. Tolong bapak jangan ikut campur!"
"Tapi, Cil... "
"Pergi dari sini, Pak!!" Cecil nampak marah.
Kemudian Rangga pergi dengan penuh kekesalan.
Alvian dan Cecil saling menatap. Dan diantara mereka berdua ada satu orang yang menatap mereka berdua dengan geram.
"Kalian berdua!!! Cepat masuk dan jelaskan semuanya pada ibu!!"
...πππ...
__ADS_1
weduuuuwwww, tambah ribet dah ni urusannya!!!
Stay tuned terus ya gaessππ