
...💟💟💟...
TOK TOK TOK
"Mas, ini ibu Siti. Boleh ibu masuk?"
"Masuk, Bu. Pintunya tak dikunci."
Ibu Siti masuk ke kamar Rangga dan melihat Rangga sedang berdiri di teras kamarnya.
"Apa ibu mengganggu?"
Rangga berbalik dan menghampiri ibu Siti.
"Tidak, Bu." Rangga duduk di tepi ranjang diikuti oleh ibu Siti.
"Ibu sudah puluhan tahun tinggal disini. Banyak kejadian yang ibu saksikan selama ibu tinggal disini. Termasuk kepergian Nyonya Anna 20 tahun lalu..."
Rangga mendengarkan dengan seksama. Hanya ibu Sitilah yang mengerti perasaan Rangga untuk saat ini.
"Ibu tahu Mas Rangga pasti merindukan Nyonya Anna. Tetapi, ibu juga ingin Mas Rangga tidak menyakiti Nyonya Sandra. Apa yang Nyonya Sandra lakukan adalah untuk kebaikan Mas Rangga. Kalau saja saat itu Mas Rangga bertemu dengan Nyonya Anna, apakah Mas Rangga langsung bersedia menemuinya? Setelah 20 tahun berlalu apa Mas Rangga bisa menerimanya kembali? Sementara dia datang disaat Mas Rangga sedang mengalami masa sulit."
Ibu Siti membelai rambut Rangga lembut.
"Mas Rangga tidak perlu menjawabnya. Mas Rangga hanya perlu memikirkannya saja. Ibu tidak akan melarang Mas Rangga mencari keberadaan Nyonya Anna, karena itu adalah hak Mas Rangga. Tapi... Ada kalanya kita harus memikirkan perasaan orang disekeliling kita. Ibu hanya ingin mengatakan itu saja. Selamat malam Mas Rangga..."
Dan ibu Sitipun berlalu dari kamar Rangga. Tinggallah Rangga sendiri memejamkan matanya. Pikirannya sedang gelisah. Ia mengetik pesan di ponselnya.
"Dit, kamu masih mencari ibu kandungku?"
^^^"Masih, kenapa?"^^^
"Sudah ada info lagi?"
^^^"Belum, Ga. Kamu tenang saja. Tante Anna pasti ketemu"^^^
Rangga menggenggam ponselnya. Ia bimbang sekarang. Baru terpikirkan sekarang tentang bagaimana kalau dia bertemu dengan mamanya nanti. Apa yang akan dia lakukan?
Apa dia bisa memaafkan mamanya? Selama ini Rangga membenci mamanya. Akankah semudah itu mengampuni kesalahan mamanya di masa lalu?
Rangga mengacak rambutnya. Ia merebahkan tubuhnya ke kasur empuk miliknya. Berusaha memejamkan mata dan beristirahat.
...***...
^^^"Mas Radit, kami menemukan jejak Ibu Anna di Jogjakarta. Kami akan menelusurinya lebih jauh lagi."^^^
"Oke. Kalian terus cari sampai ketemu. Apapun yang terjadi, kalian harus menemukannya. Jangan menyerah!"
Radit membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh detektifnya dan membalasnya. Ia tersenyum puas. Tidak semudah itu ia menyerah untuk menyudahi pencarian ini.
"Bon! Kamu sudah menyiapkan sarapanku?" teriak Radit sambil berjalan menuju meja makan.
Namun belum sempat Radit sampai ke meja makan, ia dihadang oleh dua pria kekar yang langsung mencengkeram lengannya.
"Eh, apa-apaan nih? Kalian siapa?" Radit meronta. Namun kedua pria itu tak menghiraukan Radit.
Tak lama kemudian, muncullah Bonny dihadapan Radit.
"Bon... Siapa mereka? Kenapa mereka menangkapku?"
"Maaf Mas Radit. Ini adalah perintah dari Tuan Tony. Tolong geledah tubuh Mas Radit!" perintah Bonny.
Salah satu pria kekar itu menggeledah tubuh Radit. Ia menemukan ponsel di saku celana dan juga dompet. Lalu menyerahkannya pada Bonny.
"Mas Radit akan mendapat hukuman selama 72 jam. Dan tidak diperbolehkan menggunakan ponsel atau alat komunikasi apapun. Sampai hukuman selesai, dompet dan ponsel Mas Radit aku sita."
"Tu-tunggu Bon! Apa salahku? Kenapa aku mendapat hukuman?"
"Mas Radit cari tahu sendiri saja, apa kesalahan Mas Radit."
"Setahuku, aku tidak membuat masalah apapun! Tolong, Bon!!! Lepaskan aku!"
"Tidak bisa, Mas. Ini perintah dari Papa Mas Radit. Ayo bawa Mas Radit ke ruang isolasi."
__ADS_1
"Ru-ruang isolasi? Tunggu, Bon!!!"
Tanpa mempedulikan Radit yang terus meronta, dua pria kekar itu menyeret Radit untuk mengikuti langkah Bonny.
Tibalah mereka disebuah ruangan yang mirip dengan sel tahanan di penjara. Ruangan berukuran 3x4 meter itu di kelilingi jeruji besi yang kokoh.
Raditya tak pernah tahu jika diam-diam Papanya membangun sebuah ruangan mirip penjara untuk dirinya apabila melakukan kesalahan yang dinilai fatal oleh Papanya.
Raditya dilempar kedalam ruang jeruji besi itu. Ia pun jatuh tersungkur. Namun segera bangkit dan meronta dari balik jeruji.
"Bon, lepaskan aku! Aku tidak bersalah! Kamu pasti dapat informasi yang salah. Tolong, Bon!!"
"Maaf, Mas. Aku sebenarnya tidak tega melihat Mas Radit harus dihukum seperti ini. Tapi... Ini adalah perintah dari Tuan. Jadi, sampai waktunya habis, Mas harus menjalani hukuman dengan baik."
"Tidak!!! Aku tidak bersalah! Tega sekali Papa membangun penjara di rumahnya sendiri. Lepaskan aku, Bon!"
"Percuma saja Mas Radit terus berteriak. Tidak akan ada yang menolong. Mas Radit jangan khawatir. Kami akan tetap menjaga asupan gizi mas Radit seperti biasa. Ini sarapan Mas Radit sudah datang. Tadi Mas Radit meminta sarapan 'kan? Makanlah, dan setelah itu renungkan apa yang sudah Mas Radit perbuat. Aku permisi dulu."
"Tunggu!!! Bonny!!! Jangan tinggalkan aku!! Boooonnnnn!!!"
Raditya terduduk lemas. Ia mengingat kejadian demi kejadian yang telah dialaminya.
"Om Adi?!? Ini pasti ulah dia!! Dasar Brengsek!!!" Radit hanya bisa pasrah menjalani hukuman yang diberikan oleh Papanya.
.
.
.
24 jam sudah berlalu sejak Radit mendapat hukuman dari Papanya. Meski Radit mulai tertekan karena berada di ruang mirip penjara, namun bisa dikatakan ruangan itu memiliki fasilitas yang cukup bagus. Terdapat satu buah televisi, satu buah lemari es, juga kamar mandi lengkap dengan shower air panas.
Sesekali Bonny menengok keadaan Radit. "Anggap saja Mas Radit sedang liburan. Benar 'kan?" ucap Bonny menghibur Radit.
"Bagaimana dengan kantor? Sudah satu hari aku tak masuk."
"Tenang saja! Semua sudah diatasi."
Radit mulai frustasi karena Bonny membalas pesan itu dengan asal.
.
.
.
48 jam sudah berlalu. Radit harap-harap cemas mendengar ponselnya terus berbunyi. Itu pasti dari Pak Detektif. Batinnya.
"Booonnnn!!! Kamu dimana? Bonny!!!" teriak Radit.
"Mas Bonny belum datang, tuan muda." seorang wanita paruh baya membawa makanan untuk Radit.
"Bi... Tolong aku!!! Aku harus keluar dari sini!!!"
"Maaf tuan muda. Bibi tidak bisa bantu. Bibi takut sama tuan besar."
"Sial!!! Kalau begitu, ambilkan ponselku, Bi. Aku sangat membutuhkan ponselku saat ini. Tolonglah...!"
"Mas Radit mau bermain curang?" Bonny akhirnya datang dan meminta Bibi untuk kembali ke dapur.
"Bon... Kembalikan ponselku! Aku yakin ada hal penting disana!"
"Benarkah? Coba aku cek dulu. Hanya beberapa pesan dari Rangga. Sepertinya dia khawatir karena Mas Radit tidak berangkat ke kantor 2 hari ini. Aku perlu membalasnya?"
"Tidak perlu! Biarkan saja. Jika dia peduli, dia akan datang kesini untuk mencariku."
Dan benar saja. Si pria kekar datang dan membisikkan sesuatu ke telinga Bonny. Mata Bonny terbelalak. Rangga ada di rumah Radit sekarang.
"Mas Radit benar. Rangga datang kemari. Aku akan mengurusnya dulu. Jadi... Mas Radit jangan mengacaukan semuanya." Bonny mengeluarkan sebuah sapu tangan dan meneteskan beberapa tetes obat bius kedalam sapu tangan itu.
Si pria kekar masuk kedalam ruang jeruji besi dan memegangi tubuh Radit dengan kuat. Bonny membungkam mulut Radit dengan sapu tangan berobat bius tersebut.
"Jangan, Bon!!! RANGGAAAAAAA TOLLLLLOOOOOONNNGGG!!!" suara Radit tercekat oleh sapu tangan di mulutnya. Hanya beberapa detik kemudian, Radit sudah tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Maaf mas Radit. Maafkan aku. Harusnya dari awal Mas Radit tak perlu ikut campur urusan keluarga Adi Jaya. Sudah kuduga akan begini jadinya. Bertahanlah sebentar lagi. Tinggal 24 jam lagi, dan kamu akan bebas." batin Bonny.
...***...
Bonny menemui Rangga yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Mas Rangga... Ada apa pagi-pagi datang kemari?" Bonny mencoba berbasa-basi.
"Apa Radit baik-baik saja? Dia sudah 2 hari ini tidak ke kantornya. Aku telepon pun tidak pernah di angkat."
"Dia baik-baik saja. Dia hanya sedang tak enak badan."
"Radit sakit?"
Bonny mengangguk.
"Apa aku boleh menjenguknya?"
"Tentu saja. Mari ikut saya."
Bonny mengantar Rangga ke kamar Radit.
Rangga melihat Radit terbaring di tempat tidur dan matanya terpejam.
"Dia sedang tidur. Sebaiknya Mas Rangga tidak mengganggunya."
"Baiklah. Aku pikir terjadi sesuatu padanya. Syukurlah jika dia hanya sakit. Kalau begitu, aku permisi. Sampaikan salamku untuk Radit. Tolong jaga dia dengan baik."
"Terima kasih karena Mas Rangga mencemaskan Mas Radit. Akan saya sampaikan nanti jika dia sudah bangun."
Bonny mengantar Rangga sampai pintu depan. Ada sedikit keraguan di hati Rangga. Batinnya berkata kalau terjadi sesuatu pada Radit. Tapi nyatanya Radit hanya sakit biasa.
Rangga membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Ada Bonny yang menjaga Radit. Dia pasti akan baik-baik saja. Pikir Rangga.
Rangga masuk ke dalam mobilnya, dan perlahan mobilnya menghilang dari hadapan Bonny.
Bonny kembali masuk ke dalam rumah, dan memerintahkan 2 penjaga bertubuh kekar membawa Radit kedalam ruang isolasi lagi.
Ingatannya kembali pada beberapa hari lalu sebelum Radit mendapat hukuman. Tony Hanggawan, ayah Radit menemuinya sebelum hukuman diberikan.
"Radit sudah bertindak terlalu jauh mencampuri urusan keluarga Adi Jaya. Saya harus melakukan sesuatu, Bon. Karena jika tidak, Adi Jaya pasti akan bertindak. Saya tahu bagaimana dia menjalankan bisnisnya selama ini. Dia tak kenal kata ampun. Dan bisa saja dia menyakiti Radit. Jadi, saya minta tolong kepadamu, untuk mengawasi Radit selama 3 hari. Jangan biarkan dia pergi kemanapun. Putus komunikasinya dengan dunia luar. Mungkin kamu tidak akan tega, tapi kita harus melakukannya. Ini demi kebaikan Radit."
"Baik, Tuan. Akan saya laksanakan!"
Bonny kembali ke masa sekarang dan menatap Radit dengan tatapan sedih. Matanya masih terpejam karena pengaruh obat bius.
"Sebentar lagi dia akan sadar. Awasi dengan baik, saya akan ke kantor untuk mengurus sesuatu." pesan Bonny pada si pria kekar.
"Baik, Pak. Tenang saja, kami akan menjaga tuan muda dengan baik."
...***...
Sementara itu...
"Pak Presdir, ada kiriman dari asisten Pak Tony Hanggawan." Hendi memberikan sebuah kotak pada Adi Jaya.
Adi Jaya membuka kotak itu. Sebuah flashdisk. Ia pun menancapkannya ke laptop. Itu adalah video rekaman CCTV di ruang isolasi kediaman Hanggawan.
"Hahahaha, jadi Tony Hanggawan serius dengan ucapannya. Jika dia akan menghukum putranya sendiri. Baguslah. Jadi kita tidak perlu mengotori tangan kita. Hahaha."
Hendi hanya tersenyum miris mendengar tuannya tertawa puas.
...💟💟💟...
...Bersambung,,,,...
...Maaf kalo beberapa part belakangan ini dibikin agak rumit....
...Karena memang dari awal cerita ini tak hanya berkisah soal satu, dua orang saja, ini kisah tentang teman, keluarga, dan kekasih....
So, tetap ikuti terus ceritanya, karena happy ending akan menanti 😘😘
Terima kasih yg sudah memberi dukungan kepada author, kaliaaaann ruaaaarrrr biasaaaaah 😍😍😍
__ADS_1