
...💟💟💟...
Kalian tahu wahana roller coaster? Kira-kira begitulah perjalanan hidupku beberapa tahun terakhir. Awalnya berjalan lambat, kemudian cepat, sangat cepat, kemudian berada di bawah, lalu diatas. Dan berhenti dengan tenang setelah mengalami semua itu.
Meski telah melewati jalan terjal dan berliku, akan ada jalan lurus dan panjang di akhirnya. Terdengar seperti aku benar-benar telah menaiki roller coaster.
Satu tahun telah berlalu, setelah aku merasakan semua rasa. Bahagia, cinta, marah, benci, kecewa, sedih, dan tangis haru.
Kini, kehidupan yang lebih baik akan menyambutku. Masa lalu tak akan bisa kembali, tapi berdamai dengannya, itu sesuatu yang bijak. Menurutku.
.
.
Hari ini, Mbak Sari tiba-tiba menghubungiku dan meminta bertemu. Sudah setahun berlalu, dan aku tak pernah mendengar kabarnya dan juga kabar keluarga Mas Alvian.
Kami bertemu di sebuah taman kota yang hari ini terlihat tak terlalu ramai.
Aku menunggu kedatangan Mbak Sari. Dari jauh kulihat sosok yang mirip dengannya. Dia tak datang sendiri. Dia bersama...
Nayla?
Aku terkejut melihatnya. Apa kabarnya dia setelah semua insiden yang menimpanya?
Aku cukup canggung bertemu dengannya. Ini sudah lama sekali.
"Hai, Mbak Cecil.." sapa Nayla kepadaku.
"Hai, Nayla. Apa kabarmu?" Aku berusaha senormal mungkin menyapanya.
"Aku baik." jawab Nayla singkat.
Dia memang terlihat baik, tapi... Ah sudahlah, sudah bukan lagi jadi urusanku.
"Maaf ya Cecil. Aku memintamu bertemu, dan... Membawa Nayla..." Mbak Sari mulai bicara.
"Tidak apa, Mbak. Bagaimana kabar Mbak Sari?"
"Seperti yang kamu lihat. Aku baik. Umm, Cecil... Sebenarnya aku meminta bertemu adalah untuk..."
Sepertinya aku mulai tahu kemana arah pembicaraan yang dimaksud Mbak Sari. Bukan Mbak Sari yang ingin bertemu denganku, namun Nayla.
Aku mengangguk sebagai tanda aku setuju bicara dengan Nayla.
Kemudian Mbak Sari meninggalkanku berdua dengan Nayla. Kami duduk bersebelahan di sebuah bangku panjang di taman.
"Bagaimana kabar Alif?" Aku berusaha bertanya senormal mungkin.
"Eh?"
"Anakmu? Anakmu bernama Alif, bukan?"
Nayla terdiam. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan. Kemudian Nayla mulai bercerita.
"Aku tidak bersama Alif. Selama ini Alif diasuh oleh Mbak Arini, kakak Mas Arif."
Ada semburat kesedihan di matanya. Aku menunggu Nayla melanjutkan ceritanya.
"Setelah rahasia masa lalu kami terkuak di depan media, Mbak Arini mengambil alih hak asuh Alif, dan memintaku untuk berpisah dengan Mas Alvian."
Aku terkejut. Apa maksudnya ini?
"Aku harus meninggalkan Mas Alvian dan harus mengurus ayah kandungku yaitu Mas Arif." Suara Nayla mulai bergetar.
"Mbak Cecil tahu 'kan, seperti apa keluarga Arifin selama ini mendidik anak-anaknya. Yang dituakan tidak bisa dibantah. Itu artinya, Mas Alvian dan aku harus mengikuti perintah Mbak Arini. Dan Mas Arif... Ayahku... Dia juga harus menuruti perintah kakaknya."
Aku masih diam.
"Aku meminta tolong pada Mbak Sari untuk membawaku menemui Mbak Cecil karena... Aku ingin meminta maaf atas nama ayahku."
"Eh?"
"Tolong maafkan kesalahan ayahku selama ini agar dia tenang disana."
"Maksudmu...."
"Mas Arif sudah meninggal, Mbak... Ayahku sudah meninggal..." Tangis Nayla kini pecah.
Sedangkan aku, aku hanya bisa terdiam tak percaya semua yang kudengar.
"Aku mohon maafkan segala kesalahannya kepadamu."
Aku menghela nafas. Berusaha masih senormal mungkin mendengar semua ini.
"Aku sudah memaafkannya." jawabku singkat dan jelas.
"Benarkah, Mbak?"
"Iya. Aku sudah memaafkan kalian semua. Jadi... Hiduplah dengan baik dan perbaiki semua kesalahan kalian di masa lalu."
"Terima kasih, Mbak."
"Lalu.... Dimana kamu tinggal sekarang?"
Nayla ragu untuk menjawabnya.
"Disebuah tempat yang disana tak ada orang yang mengenaliku."
"Lalu Mas Alvian?"
"Aku tidak tahu dimana Mas Alvian tinggal. Aku tidak pernah bertemu dengannya."
__ADS_1
"Jadi, kalian hidup terpisah?"
Nayla mengangguk sendu. Aku mengerjapkan mataku. Aku tak mau menangisi kepedihan mereka, kesakitan mereka.
Mungkin ini adalah balasan dari Tuhan untuk kalian.
"Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan, aku permisi. Aku harus ke acara teman-temanku hari ini."
"Baiklah, Mbak. Terima kasih karena bersedia menemuiku. Semoga Mbak Cecil selalu hidup bahagia."
Aku berpamitan pada Mbak Sari dan segera melangkah keluar dari taman lalu menuju mobilku.
Di dalam mobil aku merasakan sesak didadaku. Nyeri rasanya.
Air mata yang sedari tadi kutahan, akhirnya tumpah juga. Aku mencengkeram kemudi mobil dan menelungkupkan wajahku disana.
Aku tak mau menangisi kesakitan mereka. Orang-orang yang sudah menyakitiku. Tapi hatiku begitu lemah hingga aku harus menangis lagi karena mereka.
...***...
Ponsel Cecilia terus berdering dan itu dari Amel. Cecilia bergegas menuju hotel bintang lima tempat acara hari ini berlangsung.
Setelah menunggu sekian tahun, akhirnya Amel mendapatkan apa yang ditunggunya. A baby. Dia hamil sekarang. Dan usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan.
Dan hari ini dia akan mengadakan tasyakuran tujuh bulan kehamilannya atau lebih keren disebut Baby Shower bersama dengan Nadine, yang juga sedang hamil tujuh bulan dari pernikahannya bersama Radit. Sungguh suatu kebetulan yang indah bukan?
Cecilia sangat sibuk hari ini. Dia menjadi panitia acara kedua sahabatnya itu. Dia mengawasi petugas dekorasi dan juga bertanggung jawab soal makanan.
Acara baby shower Amel dan Nadine dimulai pukul tujuh malam. Para tamu undangan mulai berdatangan. Tamu yang datang sudah dipastikan lumayan banyak, karena ada dua ibu hamil yang sedang berbahagia malam ini.
Cecilia menyambut para tamu undangan yang datang. Sekilas pandangannya tertuju pada satu keluarga yang dikenalnya. Keluarga Adi Jaya.
Tentu saja mereka datang. Adi Jaya adalah rekan bisnis HD Grup dan juga Hang Construction.
Cecilia bertemu pandang dengan Adi Jaya, ia pun menyapanya dengan seulas senyum dari jauh.
Saat semua tamu sedang menikmati hidangan yang disediakan si empunya hajat, Cecilia berpapasan dengan seseorang.
"Kak Cecil..." sapa Sheila.
"Iya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Papa ingin bicara dengan kakak."
Cecilia membulatkan matanya. Lalu berpikir sejenak. "Baiklah... Dimana Pak Adi?"
"Mari ikut denganku..."
Cecilia mengikuti langkah Sheila. Ia menuju ke sebuah kamar.
"Papa menunggu didalam. Silahkan masuk."
Cecilia melangkahkan kakinya memasuki kamar itu. Dilihatnya Adi Jaya terduduk di kursi rodanya. Kondisinya sudah mulai pulih, namun ia masih bergantung pada kursi roda untuk beraktifitas.
Mereka bicara berhadapan. Namun Adi Jaya masih tak bicara apapun.
"Bapak baik-baik saja?" lanjut Cecilia.
Cecilia terkejap saat melihat Adi Jaya menangkupkan kedua tangannya didepan dada.
"Maafkan saya, Cecilia... Maaf..." ada raut penyesalan di wajahnya.
Cecilia hanya diam.
"Maaf untuk semua yang pernah saya lakukan kepadamu. Mungkin sudah terlambat untuk mengakuinya sekarang. Tapi... Saya benar-benar minta maaf padamu..."
Cecilia menarik nafas dan menghembuskannya lembut.
"Saya sudah memaafkan Bapak."
Cecilia berkaca-kaca melihat Adi Jaya yang dikenalnya sebagai orang yang penuh ambisi, kuat, dan berkuasa, kini bersimpuh didepannya meminta pengampunan darinya.
"Terima kasih Cecilia... Terimakasih banyak... Kamu...memang orang yang baik... Rangga tidak salah memilihmu."
"Sama-sama Pak. Saya juga minta maaf pada Bapak, jika selama ini saya sudah membuat keributan di keluarga Bapak... Acaranya sebentar lagi dimulai, mari saya antar Bapak ke keluarga Bapak..."
...***...
Pagi itu, Cecilia bersiap untuk menuju ke kafenya. Sayup-sayup terdengar suara berita di televisi yang sedang ibunya tonton.
"Pengusaha muda, Rangga Adi Putra, putra dari Adi Jaya Santosa pemilik AJ Group, dijadwalkan akan kembali ke tanah air minggu depan setelah satu tahun lamanya menetap di New York, Amerika Serikat. Ia akan mengembangkan bisnis barunya di tanah air. Dan menurut sumber yang dapat dipercaya, bahwa Rangga akan membuka anak perusahaan baru yang dikabarkan membutuhkan banyak karyawan. Hal ini tentu saja disambut baik oleh kalangan masyarakat. Karena hal ini bisa membantu perekonomian masyarakat kita, khususnya untuk orang-orang yang sedang mencari pekerjaan."
Sejenak Cecilia tersentak mendengar kabar tentang kembalinya Rangga.
Entah apakah aku masih waras atau tidak. Tapi, ketika mendengar nama Rangga, rasanya hatiku ikut berdebar juga. Sudah satu tahun ini aku tak mendengar kabar darinya. Dan aku sendiri tak berani bertanya pada siapapun. Kami masih jalan di tempat. Meski kadang aku berharap, kalau takdir Allah kali ini akan berbeda.
.
.
.
"Apa kau sudah dengar kabar kembalinya Rangga?" Tanya Nadine ketika berkunjung ke kafe Cecilia.
"Heh? Ah, iya sudah. Aku mendengarnya dari berita di televisi."
"Dia akan membuka perusahaan baru disini. Anak cabang AJ Group. Dan pastinya dia akan butuh banyak karyawan. Apa kau tidak ikut melamar, Cil?"
"Eh? Aku? Ikut melamar? Lalu bagaimana dengan kafe?"
"Coba saja dulu. Siapa tahu kau diterima bekerja. Masalah kafe, nanti aku bisa ikut membantumu. Tenang saja."
__ADS_1
"Umm, entahlah. Akan kupikirkan dulu."
"Cil, tolong buatkan minuman yang segar. Panas sekali udaranya. Jangan lupa tambahkan es yang banyak!"
"Aduh, maaf. Aku sampai lupa membuatkanmu minum. Tunggu sebentar ya!"
"Esnya yang banyak, jangan lupa!" Teriak Nadine.
"Iya-iya. Hanya sekali ini saja. Perutmu sudah besar. Aku tidak mau nanti kamu susah melahirkan gara-gara bayimu terlalu besar."
...***...
Danny menunggu di ruang tunggu kedatangan di bandara. Hari ini Rangga akan tiba di Jakarta setelah kurang lebih satu tahun berada di New York. Ini mengingatkan Danny pada memori beberapa tahun silam, saat dia juga menjemput Rangga di bandara. Namun kali ini Rangga tak sendiri. Ia bersama Hendi.
Danny sigap berdiri ketika dilihatnya Rangga dan Hendi sudah berjalan menuju ke arahnya. Danny tersenyum menyambut mereka.
"Kak Rangga, Kak Hendi, selamat datang kembali di Jakarta."
"Terima kasih, Dan. Oh ya, kamu sudah melaksanakan apa yang aku suruh?"
"Sudah, Kak. Tapi bukankah kakak akan menemui mereka besok?"
"Tidak! Siapa bilang besok. Hari ini juga aku akan menemui mereka." Suara Rangga tetap lantang seperti biasa.
"Tapi 'kan, Kak. Kak Rangga baru saja turun dari pesawat, apa tidak sebaiknya kakak istirahat dulu saja?"
"Aku bilang tidak! Aku sengaja memilih penerbangan ini agar aku masih bisa bertemu mereka begitu aku sampai. Cepatlah, aku tak punya waktu untuk bersantai sekarang."
Rangga melenggang pergi meninggalkan Danny dan Hendi yang masih terheran-heran dengan sikap Rangga.
"Kak, apa tidak apa-apa dia langsung bekerja? Dia baru saja menempuh hampir 24 jam didalam pesawat, dan sekarang mau langsung ingin ke kantor?"
"Biarkan saja. Selama setahun ini, dia banyak bekerja keras. Jadi wajar kalau kebiasaan itu tak bisa dihilangkan. Ayo kita berangkat. Sebaiknya kamu hubungi Raditya lagi. Bilang kalau Rangga akan menemuinya sekarang."
"Baik, Kak!"
.
.
.
Rangga sudah menjual semua saham AJ Grup di New York. Itu keputusan yang sangat sulit untuknya. Dia tak mungkin bisa bolak-balik Jakarta-New York bila ingin kehidupan pribadinya juga terurus.
Ia akan fokus membangun bisnis di Indonesia saja. Dan ternyata Papanya menyetujui soal itu. Kini Ia sudah membeli gedung baru dari Radit untuk digunakan sebagai gedung anak cabang baru AJ Grup.
"Kamu tenang saja. Aku sudah mengurus semuanya. Nanti kamu tinggal menata ulang saja gedungnya sesuai dengan seleramu." Terang Radit.
"Baguslah. Terima kasih, Dit. Kamu memang bisa diandalkan. Kalau begitu, aku permisi dulu. Aku harus menghadiri rapat bersama pemegang saham. Danny, sudah hubungi mereka?"
"Sudah, Kak."
Rangga berpamitan pada Radit dan merekapun berpelukan. Radit geleng-geleng kepala melihat Rangga yang gila kerja.
"Dia luar biasa 'kan, Bon?" Tanya Radit pada Bonny, asistennya.
"Iya, Mas. Semoga semua yang dikerjakannya berbuah hasil yang manis."
"Hu'um, pasti."
"Oh ya, tadi Mbak Nadine telepon kalau dia sedang ditempat Mbak Cecil. Apa yang sebenarnya sedang kalian rencanakan? Ini pasti ada hubungannya dengan Rangga 'kan?"
"Umm, bukan rencana besar. Hanya... rencana kecil saja." Radit tersenyum penuh misteri.
.
.
.
Matahari sudah tenggelam dan mulai berganti gelap malam yang menyelimuti ketika Rangga sampai di kediamannya. Karena lelah yang teramat sangat, Ranggapun tertidur didalam mobil. Danny tak berani membangunkannya.
"Kak Rangga!!!" Teriak Sheila girang ketika melihat mobil kakaknya tiba.
"Sssttt!!! Kak Rangga tertidur. Jangan berisik!" Lerai Danny.
"Kasihan sekali kakakku, dia pasti sangat lelah."
"Kita biarkan dulu dia di mobil."
Tiba-tiba Rangga menggeliat. Ia mulai membuka matanya.
"Sudah sampai, Dan?"
"Sudah, Kak."
"Kak Rangga!!!" Sheila menghambur masuk kedalam mobil dan langsung memeluk kakaknya. "Aku sangat merindukan kakak!!"
Rangga membalas pelukan adiknya itu. "Kakak juga merindukanmu, adik manjaku. Ayo kita masuk. Papa pasti sudah menunggu 'kan?"
"Hu'um. Papa dan Mama sangat merindukan kakak. Ada Umi Isma juga didalam."
"Umi?!?" Rangga terkejut tak percaya. Ia sangat senang karena semua orang menyambut kedatangannya. Lelahnya hari ini sudah tak terasa lagi di tubuhnya. Semua berganti kebahagiaan yang tak terkira.
...💖💖💖...
Masih bersambung,,,,
Dan part ini memang sedikit panjang 😁😁
jangan lupa tinggalkan kenang2an untukku 😍😍😍
__ADS_1
terima kasih🙏