
...πππ...
"Halo, Bro. Sepertinya akhir-akhir ini kamu sering sekali datang ke kantorku. Kau pasti merindukanku. Iya 'kan?"
"Jangan bercanda! Aku datang kesini karena ada yang ingin kubicarakan denganmu."
"Ada apa? Sepertinya sesuatu yang serius."
"Kamu pernah bilang kalau punya banyak kenalan detektif swasta."
Radit mengangguk.
"Aku ingin kamu menyuruh detektifmu itu untuk mencari mamaku." Rangga menyerahkan sebuah foto pada Radit.
"Mama kamu?" Radit mengernyitkan dahi. "Tapi... Kenapa tiba-tiba?"
"Aku tahu. Sudah 20 tahun lebih, pasti agak sulit untuk mencarinya. Tapi aku percaya padamu. Kamu pasti bisa menemukan mama."
Radit menatap Rangga. Ada kesungguhan didalam mata Rangga.
"Oke! Akan kucari keberadaan mama kamu."
"Beritahu padaku dimana dia, entah dia masih hidup atau makamnya jika dia sudah tidak ada."
"Baik, Ga!"
"Dan satu lagi. Jangan sampai ada yang tahu soal ini, termasuk Danny. Aku ingin kamu melakukan ini secara diam-diam."
"Oke! Jangan khawatir. Rahasia ini aman bersama denganku!" Radit mengulurkan tangannya, dan Rangga menyambutnya dengan jabat tangan erat.
...***...
"Bagaimana, Pak? Sudah ada kabar lagi mengenai ibu Anna?"
"Belum, Mas. Sepertinya pencarian kali ini agak susah. Karena sudah 20 tahun berlalu."
"Hmm, bagaimana ya? Aku sudah berjanji pada Rangga akan menemukan ibu kandungnya. Ini sudah satu minggu dan belum dapat apa-apa. Ayo berpikir Radit! Berpikir!!!" Radit memejamkan matanya.
"Apa ... Sebenarnya dia sudah meninggal?" Tanya Radit terbelalak.
"Tidak, Mas. Kami sudah memeriksanya di data orang meninggal dari 20 tahun lalu sampai sekarang. Kami yakin kalau Ibu Anna masih hidup."
"Begitu ya."
Radit kembali berpikir. Naluri kedetektifannya mulai mencerna satu demi satu fakta yang ada tentang Rangga dan ibunya.
"Jika dia masih hidup... Apakah harusnya?! Sebenarnya dia masih terhubung dengan Rangga??" Batin Radit.
"Pak, jika memang Tante Anna masih hidup, bisa saja 'kan sebenarnya dia masih terhubung dengan Rangga. Maksudku, dia adalah ibunya. Seorang ibu akan selalu mengikuti tumbuh kembang anaknya meski mereka tidak bersama. Benar tidak?"
"Bisa jadi, Mas. Lalu apa rencana Mas Radit?"
"Cepat cari tahu keadaan rumah sakit tempat dulu Rangga dirawat karena over dosis. Aku yakin kita bisa menemukan sesuatu dari sana."
"Baik, Mas."
"Dan ingat! Jangan sampai rencana kita bocor kepada pihak lain. Mengerti?!"
__ADS_1
"Kami mengerti, Mas!"
Radit tersenyum puas setelah mendapat ide di saat genting.
TING. Sebuah pesan masuk di ponsel Radit. Dari Rangga.
"Bagaimana perkembangan pencarian mama? Sudah ada hasil? Oh ya, besok Papa akan ke Jakarta. Hati-hati jangan sampai dia curiga dengan rencana kita."
"Kamu tenang saja, Ga! Aku selalu hati-hati dalam bertindak. Good luck ya dengan Papa kamu." Pesan balasan dari Radit.
...***...
"Mari masuk, Umi..." Cecilia mempersilahkan Umi Isma masuk ke dalam kafenya.
"Terima kasih. Wah, kafe kamu bagus sekali Khumaira... "
"Alhamdulillah. Silahkan duduk, Abah dan Umi!"
"Akhirnya kamu bisa mewujudkan mimpi kamu untuk memiliki usaha sendiri."
"Iya, Umi. Ini juga berkat do'a dari Umi dan Abah. Oh ya, apakah sedang ada acara? Makanya Umi dan Abah ke Jakarta?"
"Ada. Sebentar lagi ada tabligh Akbar di masjid Al-Iman. Jika kamu ada waktu, silahkan datang."
"Insha Allah, Abah. Aku pasti datang. Senang sekali rasanya bisa bertemu kalian lagi."
"Kami juga senang melihat kamu terlihat bahagia. Bagaimana kabar ibu kamu? Baik?"
"Ibu baik, Umi. Tapi sekarang ibu sedang keluar. Umi dan Abah mau pesan apa? Atau aku buatkan yang paling favorit disini?"
"Terserah kamu saja. Yang penting enak, hahaha"
Cecilia berjalan menuju dapur.
"Senang ya, Bah. Bisa melihat khumaira tersenyum seperti itu."
"Iya, Umi. Dia itu 'kan sudah seperti putri kita. Kebahagiaannya adalah kebahagiaan kita juga."
"Semoga Allah selalu melindunginya dan membuatnya bahagia seperti sekarang..."
...***...
"Mas Radit, kami berhasil menemukan rekaman CCTV di rumah sakit tempat mas Rangga di rawat. Kami menemukan sesuatu disana. Silahkan mas lihat sendiri."
Radit memasukkan flashdisk yang diberikan pak detektif kedalam laptopnya.
Radit mengamati adegan demi adegan di tiap sudut dekat kamar Rangga di rawat.
Raditya terkejut. "Apa maksud bapak rekaman yang ini?"
"Betul, Mas. Disana terlihat jika Ibu Sandra sedang berbicara dengan seseorang. Namun kami tidak bisa mendapatkan wajahnya karena disudut wanita itu tak terpasang kamera CCTV."
"Jadi... Kemungkinannya adalah... Wanita yang bersama Tante Sandra... Adalah mama kandung Rangga?"
"Sepertinya begitu. Di rekaman yang selanjutnya, terlihat Rangga menghampiri ibu Sandra, dan saat mereka bertemu, wanita itu sudah pergi. Kemungkinan ibu Sandra yang menyuruh wanita itu pergi, karena supaya tidak bertemu dengan Rangga."
Radit menutup mulutnya. "Jadi, selama ini Tante Sandra tahu kalau Tante Anna masih hidup dan dia menutupinya dari Rangga... Bagaimana mungkin? Hubungan mereka baru saja membaik. Bagaimana ceritanya jika Rangga tahu selama ini mama tirinya lah yang sudah menyembunyikan fakta ini darinya."
__ADS_1
"Lalu selanjutnya bagaimana, Mas?"
"Kalian tetap cari keberadaan Tante Anna. Dan aku... Aku tetap harus memberitahu kebenaran ini pada Rangga..."
"Baik, mas. Kami permisi."
...πππ...
Hari ini Rangga menjemput Papanya, Pak Adi Jaya di bandara. Dia sudah bersiap menunggu di tempat duduk khusus penjemput sedari tadi.
Rangga berdiri ketika melihat Papanya mulai terlihat berjalan menghampirinya.
"Hai, Nak!" sapa Pak Presdir. Dan langsung memeluk Rangga. Disusul Sandra yang juga memeluk Rangga.
"Bagaimana kabarmu?"
"Baik, Pa!"
"Baguslah. Sekarang ini kamu harus fokus pada perusahaan saja. Jangan memikirkan hal lainnya"
"Iya, Pa. Tenang saja."
"Papa senang mendengarnya. Papa yakin kamu pasti bisa!"
Rangga membukakan pintu mobil untuk Papanya dan mama tirinya.
"Aku harus kembali ke kantor, Pa. Ada hal yang harus diurus. Papa dan Tante SandraΒ pulanglahΒ dulu dan istirahat. Herman akan mengantar kalian."
"Baiklah. Kamu memang anak kebanggaan Papa..." Pak Adi menepuk pundak Rangga dengan bangga, kemudian masuk ke dalam mobil.
Rangga melihat mobil yang membawa Papanya sudah semakin jauh. Diapun juga masuk ke dalam mobilnya. Kali ini dia menyetir sendiri. Ada hal yang akan dilakukannya.
.
.
.
Beberapa jam yang lalu, terjadi pembicaraan melalui ponsel antara Rangga dan Raditya.
"Halo, Ga. Hari ini kamu ada waktu? Ada yang ingin aku bicarakan tentang mama kamu," ujar Radit.
"Aku harus menjemput Papa di bandara dulu. Setelah itu aku bisa bertemu denganmu. Apa kamu sudah menemukan mama?"
"Detailnya akan kuceritakan setelah kita bertemu. Yang jelas, mama kamu belum meninggal."
Sambungan telepon berakhir.
Seketika kaki Rangga terasa lemas. Seakan tak kuat menopang berat tubuhnya.
"Mama... Apa aku benar-benar akan bertemu lagi denganmu...?"
...πππ...
bersambung dulu...
Harap tetap bersabar ya shay, karena fakta2 akan mulai terkuak dan semua akan tertuju kepada satu hal.... yaitu... kebahagiaan π
__ADS_1
Terima kasih atas dukungan kalian (like, komen, vote) ππ
kalianlah semangatku πͺπͺπͺ