99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Menebus Dosa (1)


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Nayla sampai di rumahnya dengan selamat setelah diselamatkan oleh Jimmy. Ia sangat takut karena suasana di butik Jimmy sangatlah kacau sore ini.


Ditambah lagi kedatangan Cecilia di siang harinya yang membuat Nayla makin kalang kabut.


.


.


.


-Flashback-


"Mbak Cecil?!? Ka-kamu? Sudah kembali?"


Nayla tak bisa menyembunyikan keterkejutannya menatap sosok Cecilia dengan balutan dress panjang dan hijabnya.


"Kau terkejut?" Cecil berusaha menutupi kekecewaannya dan memberanikan diri menghampiri ke dua orang itu.


"Cecil! Apa yang akan kau lakukan?" Jimny tampak melindungi Nayla.


"Aku tidak akan menyakiti kalian seperti kalian menyakitiku. Cukup Allah saja yang akan membalas semua perbuatan kalian. Selama ini aku sudah salah menilai tentang kalian berdua!" Mata Cecil memerah menahan amarah dan air matanya.


Cecil enggan berlama-lama menatap wajah orang-orang yang sudah mengkhianatinya. Ia berbalik badan dan segera pergi dari butik Jimmy.


.


.


.


"Bu!" Suara Neneng mengagetkan Nayla.


"Neneng, ada apa?"


"Tadi siang ... Bu Cecil datang kemari."


"Aku sudah tahu. Aku sudah bertemu dengannya. Dan aku peringatkan padamu, jangan ceritakan hal ini pada Mas Alvian. Dia tidak boleh tahu jika Mbak Cecil sudah kembali. Apa kau mengerti?"


"Iya, Bu. Kalau begitu saya permisi."


Nayla segera menuju ke kamarnya. Kamar utama yang dulu menjadi milik Cecilia. Kamar itu sudah berubah. Nayla sudah mengubah semuanya.


Tapi ketika melihat sosok Cecilia kembali hadir di hidupnya. Nayla tak bisa menghapus bayang-bayang wajah Cecilia. Nayla meringkuk di tempat tidur. Ketakutan akan hadirnya Cecil dalam kehidupan Alvian lagi, mulai memenuhi hatinya.


...***...


Kasus penyerangan butik Jimmy akhirnya sampai ditelinga Ismail. Ia yang baru datang dari tugas luar, langsung memantau dari CCTV untuk melihat siapa saja para tersangkanya. Ia terkejut melihat seseorang yang dikenalnya.


Itu adalah Hana. Yang dikenal Ismail saat menyelidiki kasus overdosis Rangga. Ismail menyelinap menemui Hana.


"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu bersama mereka?" Tanya Ismail.


"Maaf, Mas. Aku tidak tahu jika akan jadi begini," jawab Hana tertunduk.


"Tidak seharusnya kamu ikut berurusan dengan mereka. Mereka bertiga adalah anak-anak dari keluarga kaya yang kerjaannya hanya membuat onar saja."


"Maaf Mas. Tapi kami melakukan ini untuk Bu Cecil. Sekali lagi, aku minta maaf. Ini tidak akan terulang lagi. Kenapa bukan Mas Ismail saja yang menginterogasi kami?"


"Ini kasus penyerangan biasa. Biar Romi yang akan menanganinya. Kamu tenang saja." Ismail pergi meninggalkan Hana. Ia akan menghubungi seseorang melalui ponselnya.


Situasi semakin tegang manakala kedua belah pihak sama-sama berkilah dan merasa tak bersalah. Ruang interogasipun jadi ikut kacau karena perdebatan antara Jimmy dan Amel.


"Tenang semuanya!!!" Ismail datang melerai mereka.

__ADS_1


Dibelakang Ismail terlihat seseorang mengikutinya dan ikut masuk ke ruang interogasi.


Mendadak semua terdiam tatkala melihat sosok yang muncul di depan mereka.


"Ce-Cecil?!" Radit bergumam.


Ya, mereka mengenali sosok itu. Meski penampilannya sudah berbeda.


"Cecil? Jadi kau sudah kembali?" ucap Nadine dengan mata berbinar.


Amel menghampiri Cecil dan memeluknya. "Aku senang sekali kau sudah kembali, Cil..."


"Terima kasih, Mel."


"Bu Cecil... " Hana berkaca-kaca.


"Iya Hana. Ini saya." Cecil tersenyum.


Wanita yang sudah lama pergi dari kota ini, sekarang kembali. Cecilia berjalan mendekati Jimmy yang kakinya mulai lemas.


Sudah diduga pasti Cecil akan datang untuk menyelamatkan teman-temannya. Jimmy berusaha memberanikan diri menghadapi Cecilia.


"Hai Jimmy ... Senang bertemu lagi denganmu." Cecilia menatap Jimmy.


"Tolong berikan waktu untukku dan Jimmy. Ada yang harus aku bicarakan dengannya." Ucap Cecil tegas dan datar.


...***...


-Flashback-


Saat Ismail menelepon Cecil untuk memintanya datang ke kantor polisi, Cecil sedang bersimpuh di depan makam ayahnya. Ia selalu bercerita pada ayahnya jika dirasa hatinya sedang gundah.


Cecilia mengangkat panggilan masuk dari Ismail. Ismail memintanya segera datang ke kantor polisi karena ke empat temannya sedang dalam proses interogasi. Cecil menghela nafas mendengar kasus yang menimpa teman-temannya. Ia tahu jika mereka melakukan ini untuk membela dirinya. Namun apapun bentuknya, Cecil tak setuju jika sahabat baiknya melakukan tindak kejahatan seperti ini.


Cecil setuju untuk datang, namun secara pribadi, Cecil meminta ruangan khusus untuknya agar bisa bicara dengan Jimmy empat mata.


Ismail masih belum mengerti dengan permintaan Cecil. Tapi ia tetap mengijinkan Cecil untuk memakai ruang interogasi khusus yang kedap suara, namun memiliki titik kamera tersembunyi dan juga mikrofon yang tak terlihat.


.


.


.


Cecilia menatap Jimmy dengan mata memerah. Ia sangat marah. Namun ia tak bisa menumpahkan kemarahannya. Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu.


"Apa yang ingin kau bicarakan denganku?" Jimmy bertanya tanpa basa-basi.


"Kenapa kau melaporkan teman-temanku ke polisi?"


"Hei!!! Apa kau tahu? Mereka datang ke butik lalu merusak semua baju-baju di butikku. Itu penyerangan Cil. Dan itu melanggar hukum."


"Melanggar hukum? Lalu apa kau tidak melanggar hukum dengan melelang barang-barangku tanpa seijinku?"


"Apa kau punya bukti jika itu adalah barang-barang milikmu? Lagipula, sepertinya kau tidak lagi membutuhkan barang-barang itu. Benar 'kan?" Jimmy melihat Cecil dengan seksama dari atas sampai bawah.


"Jadi inikah wajah aslimu? Jimmy Choo si pengkhianat!"


"Apa kau bilang? Pengkhianat?" Jimmy melangkah maju mendekati Cecilia. Ia terlihat murka.


Namun Cecilia lebih murka. Ia sudah tak tahan menahan semuanya.


"Apa kau ingat Ivana Lee? Dia sainganmu di babak final di ajang pencarian bakat desainer lima tahun lalu..."


"I-ivana Lee?" Jimmy terkesiap mendengar nama itu.

__ADS_1


"Apa kau juga tahu jika dia meninggal karena bunuh diri?"


Jimmy perlahan melangkah mundur. Rahasia yang sudah lama ia kubur, harus terkuak kembali.


"Kau sudah membunuhnya, Jim. Kita sudah membunuhnya!" Air mata Cecil sudah mengalir deras. "Kenapa Jim? Kau terkejut? Kau pasti tahu betul apa alasan Ivana sampai melakukan bunuh diri. Itu semua karena kau!!" teriak Cecilia. Ia menghapus air matanya dan berusaha tegar didepan Jimmy.


"Tidak, Cil. Itu semua tidak benar. Kau tahu dari mana soal itu, huh?"


"Seminggu yang lalu, ibunya Ivana datang menemuiku. Dia sudah menceritakan semuanya padaku. Kau sudah mencuri karya Ivana! Kau membuatnya putus asa lalu membuatnya bunuh diri!!" Cecil mencecar Jimmy.


"Tidak!!! Dialah yang mencuri dariku!!"


Cecilia merebut tas yang selalu dibawa Jimmy kemanapun ia pergi dan menggeledahnya. Jimmy berusaha merebutnya kembali namun Cecil menampiknya dan mendorong Jimmy hingga terjatuh.


"Apa ini? Ini adalah milik Ivana 'kan?" Cecil menunjukkan buku gambar milik Ivana. Ia melihat ada tanda tangan Ivana dibuku itu.


"Kembalikan buku itu, Cil. Atau aku akan merebutnya dengan cara kasar!"


"Buku ini akan kukembalikan pada pemilik aslinya."


"Apa?!? Dia sudah mati, Cil. Untuk apa kau peduli dengannya sekarang? Sementara dulu, kaulah yang sudah mengusirnya dari kompetisi!!"


"Karena aku ingin menebus dosaku padanya. Kita sudah berdosa padanya, Jim. "


"Tapi dia sudah meninggal. Dan kita masih hidup. Kita harus melanjutkan hidup kita, Cil. Berhenti melakukan hal yang tidak perlu."


Cecil menarik kerah baju Jimmy. "Apa kau menyebut dirimu manusia, huh? Kau bukanlah manusia. Kau adalah monster, Jimmy!! Kau monster!!"


Jimmy tertawa, dan melepaskan cengkeraman Cecilia. "Jika aku adalah monster lalu mantan suamimu itu kau sebut apa, huh?"


Cecilia kaget mendengar nama lain disebut oleh Jimmy.


"M-mas Alvian?!?"


"Iya. Dia juga bersalah. Asal kau tahu, saat aku tahu jika Ivana bunuh diri, aku menyesal atas apa yang sudah aku lakukan padanya. Aku ingin minta maaf pada keluarganya. Aku tidak mau jadi desainer dengan karya orang lain. Tapi apa yang Alvian katakan padaku, membuatku akhirnya tetap berjalan maju tanpa melihat masa lalu. Itu semua kulakukan karena aku tidak ingin membuatmu kecewa, Cil. Alvian tahu itu. Makanya dia memintaku untuk melupakan masalah Ivana dan tetap melangkah maju."


Cecilia terisak. "Jadi... Kau melakukan ini karena aku? Karena tidak mau membuatku kecewa?"


"Sekarang kau sudah mengetahui semuanya. Aku rasa sudah cukup bagiku selama ini hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah. Maafkan aku, Cil. Aku telah mengecewakanmu. Aku akan mencabut tuntutanku pada teman-temanmu."


Jimmy meninggalkan Cecilia yang masih menangis tersedu. Cecilia memukul-mukul dadanya seakan hatinya terasa sesak.


"Astaghfirullahaladzim..." Berulang kali Cecil mengucap Istighfar agar dirinya lebih tenang.


Cecilia keluar dari ruang interogasi dan menemui sahabat-sahabatnya. Air matanya sudah kering, meski matanya masih sembab.


"Cil, kau baik-baik saja?" Tanya Amel.


"Hu'um. Aku tidak apa-apa. Kalian tenang saja. Jimmy akan mencabut tuntutannya pada kalian."


BRUUUKKK!!


Cecilia ambruk. Ia pingsan. Ke empat sahabatnya panik dan berteriak memanggil Ismail.


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


...BERSAMBUNG,,,...


...*nyesek gak si melihat kesedihan Cecilia😭😭...


...*Dari luar dia adalah wanita yg tangguh, tapi didalam ia sangatlah rapuh,,,...


...Hyuk mampir di wanita tangguh sebelah dalam 'Goodbye Mr. Playboy' πŸ™...


...*btw, aku udah berasa crazy UP nihπŸ˜„πŸ˜„...

__ADS_1


...Terima kasih yg sudah setia menanti😘...


__ADS_2