99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Testpack


__ADS_3

Aku mencintaimu dengan caraku sendiri


Jangan menyalahkanku


Saat aku egois


Aku memang seperti ini


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


*Ismail PoV*


Entah kenapa hari ini rasanya aku begitu bahagia. Kejadian barusan, membuatku jadi senyum-senyum sendiri. Aku sendiri tak menyangka kalau aku dan Cecilia akhirnya bisa berbaikan. Dan bisa saja kami akan berteman baik.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri? Apa ada yang lucu?" teriak Romi saat memasuki ruanganku. Dia memang selalu saja usil.


Aku berangkat kembali ke kantor setelah bertemu Cecilia tadi. Masih banyak pekerjaan yang belum terselesaikan.


"Wih, ada pizza. Kau yang membawanya? Aku makan ya?" 😬Romi langsung mengambil satu slice pizza yang ada di atas meja.


"Ya sudah makan saja. Biasanya juga kau tidak minta ijin dulu. Langsung sikat!!"


"Sepertinya ada yang sedang berbahagia. Sampai membawa pizza segala!"


Dan seperti biasa Mbak Herning ikut bergabung di ruanganku.


Aku hanya tersenyum. Mbak Herning selalu tahu apa yang sedang terjadi meski aku tak menceritakannya.


"Ada bau-bau percintaan, Rom." goda Mbak Herning padaku.


"Apa katamu? Percintaan apa?" jawabku dengan menahan malu.


"Kita lihat dan tunggu saja, Bu dokter. Biar waktu yang berbicara." Romi ikut jadi kompor.


"Hush! Hush! Sudah sana pergi! Aku harus melanjutkan pekerjaanku!" Wajahku sudah sangat merah karena mereka terus menggodaku.


...***...


*Cecilia PoV*


Aku menunggu ibuku pulang dari toko dengan duduk di teras rumah. Rasanya sudah lama sekali aku tidak duduk di sini. Kulihat sekeliling rumah. Rumah ini sudah kelihatan tua. Dan memang rumah model jaman dulu. Pintu pagarnya saja hanya sebatas pinggang orang dewasa. Tidak seperti rumah jaman sekarang yang rata-rata pagarnya menjulang tinggi.

__ADS_1


Tidak banyak yang berubah dari rumah ini setelah aku pindah. Ibu bukan tipe orang yang suka mengubah sesuatu. Dia ingin kenangan tentang Ayah tidak hilang.


Ayah... Sudah lama aku tak berkunjung ke makam Ayah. Banyak sekali yang ingin aku ceritakan pada Ayah. Andai saja dia masih ada disini.


Ah sudahlah, takdir Tuhan pasti jauh lebih indah. Aku percaya itu.


Tak berapa lama ibuku datang mengendarai ojek online. Aku tersenyum pada ibu.


"Tidak biasanya kau mampir. Kenapa tak tunggu di dalam rumah saja? Kau kan punya kunci rumah Ibu." Seperti biasa, Ibu tak pernah berbasa-basi.


"Tidak, Bu. Aku menunggu Ibu saja."


"Hmmm, nampaknya kau kesini bukan untuk bertemu Ibu ya? Kau pasti punya maksud lain kan?"


"Ibu? Bukan begitu. Aku kesini untuk bertemu ibu juga."


Aku mengikuti ibu masuk ke dalam rumah. Dan berjalan menuju kamarku. Kamar lamaku. Terlihat rapi seperti biasanya.


Ibu pasti selalu menatanya dan mengganti spreinyaΒ meskipun aku tidak tidur disini. Kurebahkan tubuhku ke atas ranjang. Terasa dingin saat menempel spreinya. Aku memeluk gulingku dengan erat. Rasanya sangat nyaman.


Aku dan Ibuku sebenarnya tidak terlalu dekat. Dari kecil aku lebih sering bersama dengan ayah. Ibu berwatak keras, sama seperti orang keturunan Batak lainnya. Ibu juga selalu berkata dengan ketus dan tegas.


Dulu, saat pertama kali aku memperkenalkan Mas Alvian pada Ibu, ibu kurang setuju aku berhubungan dengan seorang selebritis. Aku tahu itu adalah hal yang wajar. Mengingat gaya hidup selebritis yang dikenal dengan kehidupan mewahnya. Ditambah lagi, kami berbeda keyakinan. Ibu sangat menentang saat aku akhirnya menjadi seorang muallaf. Tapi aku terus meyakinkan Ibu kalau aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri. Ibu akhirnya luluh dan mengijinkan kami untuk menikah. Tidak bisa dipungkiri, kalau mas Alvian adalah menantu idaman bagi setiap orang tua. Dia adalah lelaki mapan, terkenal, tampan, dan baik.


"Kau mau minum?" suara Ibu membuyarkan lamunanku. "Kau rindu dengan kamar ini? Sudah lama kau tidak tidur di kamar ini." Ada raut kesedihan pada wajah Ibu. "Kau mau makan malam disini?"


"Tidak usah,Β  Bu. Nanti aku ambil sendiri saja kalau haus. Bagaimana keadaan toko? Ramai?"


"Ya begitulah. Lumayan. Ibu ingin membuat menu baru. Menu yang sedang tren di kalangan masyarakat. Eh, kau mau sekalian makan malam disini tidak? Ibu membeli sate padang dan rendang."


Aku mengangguk.


"Ibu sudah tahu semua ceritanya dari Ismail."


Aku membelalakkan mataku. "Cerita soal apa, Bu?"


"Hubungan kau dan dia. Dia itu adalah polisi yang menangani kasus kecelakaan Tasya bukan? Kau tak suka padanya karena dia memaksamu untuk melanjutkan kasus Tasya."


"Jadi? Ibu juga tahu soal----Nayla?"


"Iya. Nak Ismail sudah cerita semuanya ke ibu. Jangan marah padanya. Dia hanya berusaha jujur pada Ibu. Dia adalah lelaki yang baik. Kau harus baik juga padanya."

__ADS_1


Aku mengangguk. "Aku sudah berbaikan dengannya, Bu. Lagipula, aku juga lebih tenang karena sekarang Ibu ada tetangga dekat. Seorang polisi pula!"


...***...


Sesampainya dirumah, keadaan rumah terlihat sepi. Mobil Mas Alvian tidak ada di parkiran rumah. Cukup aneh menurutku, karena biasanya jam segini dia sudah pulang. Dan aku juga pulang terlambat karena tadi aku sekalian makan malam dirumah Ibu.


Aku menghampiri Neneng yang berada di dapur.


"Dimana semua orang? Mas Alvian belum pulang?"


"Bapak belum pulang, Bu" jawab Neneng yang sedang mencuci piring. "Ibu mau disiapkan makan malam?"


"Tidak perly. Saya sudah makan di rumah Ibu. Nayla kemana? Apa dia ada dikamarnya? Biasanya jam segini dia sedang menonton sinetron di ruang TV."


"Bu Nayla tadi pergi. Saya tidak tahu pergi kemana. Tadi pergi bersama Mang Ujang."


Aneh, tidak biasanya Nayla pergi keluar. Dia tidak pernah pergi di malam hari.


Aku membuka lemari es dan mengambil air es yang dingin. Tenggorokanku terasa kering. Tak sengaja aku melihat ke arah bak sampah yang berada tepat disebelah lemari es karena memang dirumah kami menggunakan bak sampah yang terbuka.


Kulihat ada benda asing disana. Apa itu? Seperti bungkus testpack. Karena penasaran, akupun memungutnya. Dan benar, itu adalah bungkus alat tes kehamilan. Tapi siapa yang memakainya? Neneng? Dia bahkan belum menikah. Apa dia berbuat yang aneh-aneh selama aku tidak ada dirumah?


Kubuka perlahan dan kulihat isinya. Aku menutup mulutku karena terkejut. Dua garis. Hasil testpacknya positif. Aku bergegas menuju kamarku. Memandangi hasil testpack itu selama beberapa menit.


Siapa yang sudah menggunakan ini? Aku tidak memakainya, dan aku mana mungkin hamil karena aku masih menggunakan alat kontrasepsi. Pikiranku melayang tak menentu.


Dan tak berapa lama kudengar suara Mas Alvian memasuki rumah. Bersama Nayla. Mereka tampak bahagia. Kulihat mereka tersenyum bersama.


Apa yang terjadi disini? Apa yang aku lewatkan? Kenapa aku hanya jadi penonton?


Kupandangi lagi hasil testpack itu.


Apa mungkin ini milik Nayla?


Tubuhku serasa lemas. Apakah ini mimpi? Jika benar ini adalah mimpi, maka tolong bangunkan aku. Siapa saja, bangunkan aku!!!


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


tobe continued---_---


Sedikit cerita, kalau story ini sudah ku susun dari tahun 2013/2014 yang lalu. Tapi baru bisa kuwujudkan dalam bentuk sebuah karya di tahun 2019 .

__ADS_1


Memang story ini memiliki banyak tokoh/karakter/pemain. Tapi semuanya saling berhubungan dan menguatkan alur cerita disini. So, semoga pembaca tetap bisa menikmati story ini meski alurnya agak panjang dan tokohnya banyak😁😁😊😊


Sekali lagi terimakasih karena sudah mampir ke karya saya πŸ™πŸ™


__ADS_2