99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Say Sorry with Pizza


__ADS_3

Malam itu Cecilia tengah sibuk dengan notebooknya. Dia menjelajahi dunia maya dengan mencari-cari informasi tentang seseorang. Orang itu adalah Ismail. Meski Cecil tak menyukainya, namun dia penasaran dengan sosok Ismail.


Cecil mencoba mencari akun media sosial milik Ismail. Ada banyak orang dengan nama yang sama. Maka dari itu, Cecil harus membaca tiap profil dari orang bernama Ismail. Cecil masih belum menemukan Ismail yang dia cari.


Tiba-tiba saja terlintas dipikirannya untuk mencari informasi tentang Ismail dari kontak kantornya. Cecil mengetik nama kantor polisi tempat Ismail bekerja. Benar saja dia menemukan sesuatu disana. Ternyata sosok Ismail adalah sosok polisi berprestasi. Dia banyak mendapat penghargaan karena menangani kasus dengan baik.


Namun ada hal yang mencengangkan mengenai Ismail. Yaitu tentang masa lalunya. Cecil tercengang membaca sebuah artikel tentang Ismail. Berisi tentang peristiwa yang terjadi 20 tahun lalu. Kejadian itu sangat memilukan. Dan membuat Cecil tiba-tiba meneteskan air matanya. Dia membungkam mulutnya seakan tak percaya apa yang sedang dibacanya. Ismail yang dia kira orang yang menyebalkan. Ternyata hanyalah seorang anak malang yang mengalami peristiwa tragis.


Keesokan harinya, Cecil berpikir untuk meminta maaf pada Ismail. Tapi dia bingung harus memulai dari mana. Awal pertemuannya dengan Ismail kurang mengenakkan. Bahkan sampai kemarinpun dia masih tetap berdebat dengan Ismail.


Cecil bicara pada Amel untuk meminta saran.


"Cara yang bagus untuk meminta maaf? Kau punya salah dengan siapa?" tanya Amel.


"Dengan seseorang. Tolong bantu aku! Berikan saran darimu untukku. Aku tidak tahu harus bagaimana."


"Mmmm, apa ya? Begini saja, bagaimana jika kau mengirimkan dia makanan? Apa kau tahu makanan kesukaannya?"


"Aku tidak tahu makanan kesukaannya. Bagaimana ini? Atau aku memberinya makanan yang umum saja? Maksudku, yang rata-rata disukai orang."


"Yang rata-rata orang suka? Boleh juga idemu. Kalau aku suka martabak, hehehe." Amel menyeringai.


"Dih, kau ini!!! Aku serius, Mel!!! Ayolah bantu aku!!"


"Beli saja di tempat kau biasa membeli makanan. Pizza? Sepertinya bagus. Selain tampilannya menarik, harganya juga tidak bisa dibilang murah. Bukan makanan biasa! Bagaimana? Oh ya, kalau boleh tahu, apa dia seorang pria atau wanita?"


"Seorang pria."

__ADS_1


"Itu akan lebih mudah, Cil. Karena para pria biasanya tidak pilah-pilih makanan. Kecuali pria seperti suamiku, haha." Amel tertawa.


"Baiklah. Bagus juga idemu. Terima kasih atas sarannya." Cecil melenggang pergi.


"Kau menemuiku hanya untuk bertanya ini? Dimana martabakku?"


"Nanti jika ide darimu ini berhasil. Aku akan membelikanmu martabak. Sampai jumpa---" Cecil melambaikan tangan pada Amel.


...***...


Sepulang kerja, Cecil datang ke rumah ibunya. Tentu saja tujuannya bukan untuk bertemu ibunya saja, tapi untuk bertemu dengan Ismail. Dilihatnya mobil Ismail masih ada di depan rumah, itu berarti dia sudah pulang dari kantor.


"Terlalu aneh menurutku. Bagaimana bisa seorang polisi biasa seperti dia bisa memiliki mobil yang bagus dan motor besar keluaran baru dari pabrikan merek ternama?Apa dia itu polisi korup?"Β Batin Cecilia mulai bergejolak.


Antara ragu apakah dia harus minta maaf atau tidak.


"Tapi jika aku tidak minta maaf, akan sia-sia saja aku membeli pizza. Tidak ada yang suka makan pizza dirumah."


"Mbak Cecil? Apa yang sedang kau lakukan disini?"


Tanya Ismail yang sekarang mengganti panggilannya kepada Cecil menjadi 'mbak'.


Cecil salah tingkah dan merasa sangat canggung. Antara terkejut dan malu karena tiba-tiba Ismail muncul dihadapannya. Tapi dia berusaha menutupi kegugupannya. Dia harus mulai mengucapkan sepatah kata.


"Umm, begini. Aku---aku---ingin meminta maaf padamu."


"Minta maaf?"

__ADS_1


"Iya, tentang kemarin, dan yang kemarin-kemarinnya lagi. Aku sudah bersikap keterlaluan padamu."


Ismail tersenyum. "Tidak apa-apa, Mbak. Saya sudah terbiasa menghadapi banyak orang dengan sifat berbeda-beda. Mbak Cecil tidak perlu merasa sungkan."


"Aku juga turut bersedih atas apa yang menimpa keluargamu. Aku baru mengetahuinya semalam. Setelah membaca beritanya di situs online."


"Oh soal itu? Kejadiannya sudah lama sekali."


"Kau pasti sangat sedih saat itu. Maka dari itu kau---kau terus meyakinkan aku, supaya aku meneruskan kasusku. Karena kau sudah lebih dulu merasakan, seperti apa rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Oh iya, ini, aku bawakan pizza. Semoga saja kau suka pizza."


"Kenapa harus repot-repot? Terima kasih banyak. Dan saya juga minta maaf. Karena terlalu memaksakan kehendak saya pada Mbak Cecil."


"Jadi, kita sudah impas. Kita sudah saling memaafkan." Cecilia mengulurkan tangannya.


"Ya. Kita impas." Ismail menyambut uluran tangan Cecilia.


Mereka berdua tertawa bersama. Ismail akhirnya menceritakan tentang kisah hidupnya. Keluarganya di rampok 20 tahun lalu, dan orang tuanya di bunuh oleh perampok itu. Hanya Ismail yang selamat. Ismail kecil yang dipenuhi trauma lalu di tolong oleh kepala polisi yang menangani kasus perampokan itu. Dan mengangkat Ismail sebagai anak, hingga disekolahkan sampai menjadi seorang polisi.


Cecilia meminta Ismail untuk menjaga ibunya, karena Cecil tidak selalu bisa datang berkunjung.


"Aku titip Ibu, ya. Aku tidak bisa sesering mungkin datang kesini, karena aku juga sibuk dengan pekerjaanku. Sejak kepergian Tasya, aku ingin menyibukkan diriku dengan banyak bekerja. Aku senang karena Ibu memiliki tetangga dekat yang juga seorang polisi. Aku merasa Ibuku seperti memiliki seorang bodyguard."


"Hahaha. Jangan berlebihan! Aku hanya pria biasa yang kebetulan jadi polisi. Aku juga senang karena Ibu Mbak Cecil menganggapku seperti putranya sendiri."


"Jangan memanggilku 'mbak'. Panggil saja Cecilia atau Cecil. Agar lebih akrab."


"Oke! Cecilia, hehehe." Ismail merasa kikuk saat bicara dengan Cecilia. Mungkinkah dia merasakan sesuatu yang berbeda terhadap Cecilia?

__ADS_1


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


tobe continued-------


__ADS_2