99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
99CU(S2) : Wanita Bernama Ibu


__ADS_3

...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


Rangga mengalami koma selama beberapa hari. Pak Presdir kembali ke Indonesia untuk memonitor keadaan Rangga terutama untuk menyelesaikan berita miring mengenai ketergantungan obat yang dialami Rangga.


Dan setelah satu minggu akhirnya Rangga membuka matanya kembali. Dokter mengatakan, terlambat sedikit saja nyawa Rangga dalam bahaya.


Sandra menemani Rangga dengan sabar. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Rangga. Ia sangat bersyukur karena putra sambungnya itu akhirnya selamat dari maut.


.


.


.


"Dimana Nadine? Sejak Rangga di rawat Nadine tidak pernah datang untuk menjenguk." tanya Sandra pada Vivi.


"Yang saya dengar Nona Nadine sudah meninggalkan kota ini, Bu. Saya cek di apartemennya juga kosong. Tidak ada yang tahu dimana keberadaan Nona Nadine sekarang."


"Apa? Yang benar saja? Cepat cari tahu dimana dia sekarang. Rangga sedang sakit begini tapi dia malah pergi."


"Baik, Bu. Saya permisi."


Sandra kembali mengecek keadaan Rangga. Rangga sudah terbangun dan berusaha untuk duduk.


"Mari Tante bantu." Sandra menawarkan diri.


"Tidak perlu! Aku bisa melakukannya sendiri. Apa yang tante lakukan disini? Dimana Bu Siti?" tolak Rangga dengan kasar.


"Bu Siti? Dia pasti sedang menuju kesini. Begitu mendengar kau sudah siuman, dia langsung memasak makanan kesukaanmu. Dia akan membawanya kesini."


Rangga memalingkan wajahnya begitu tahu Papanya datang menghampiri.


"Kau sudah sadar, huh?" tanya Pak Presdir dengan marah.


"Papa, jangan sekarang. Rangga baru saja siuman." Bela Sandra.


"Jangan terus membelanya! Anak ini hampir saja menghancurkan bisnis yang sudah ku rintis dari nol. Dasar anak kurang ajar!" Pak Presdir melayangkan tangannya ke arah Rangga. Namun langsung dihalau oleh Sandra.


"Jangan, Pa! Jangan sakiti Rangga! Mama mohon maafkan dia." Sandra memeluk Rangga.


"Baiklah. Akan aku maafkan. Tapi dia harus membereskan semua masalah yang sudah dia timbulkan. Ingat itu Rangga!!" setelahnya Pak Presdir berlalu dari hadapan Rangga dan Sandra.


"Kau baik-baik saja?" tanya Sandra.


"Tante tidak perlu membelaku di depan Papa. Aku adalah anak Papa, jadi dia tidak mungkin menyakitiku." Rangga tetap tak acuh pada Sandra.

__ADS_1


Kemudian Ibu Siti datang membawa beberapa barang di tangannya.


"Ibu!!! Ibu kemana saja? Aku mencari Ibu sejak tadi."


"Mas Rangga ... bagaimana keadaan Mas Rangga? Apa sudah lebih baik?"


"Iya, aku baik-baik saja, Bu."


"Syukurlah Mas Rangga baik-baik saja."


"Ibu jangan cemas. Aku adalah pria yang kuat. Untuk apa tante masih disini? Pergi sana! Tidak perlu berpura-pura peduli padaku!" Rangga melirik ke arah Sandra dan mengusirnya.


"Jangan bicara begitu, Mas." Lerai Bu Siti.


"Tidak apa, Bu. Saya mengerti. Kalau begitu, Tante keluar dulu ya, Rangga." Sandra melangkahkan kakinya keluar kamar. Hatinya sakit karena selalu tak diacuhkan oleh Rangga.


.


.


.


"Apa saja yang Ibu bawa? Katanya Ibu memasakkan makanan kesukaanku. Mana? Aku lapar, ingin makan." rengek Rangga seperti anak kecil. Otaknya mungkin sedikit terganggu setelah over dosis kemarin, hihi.


"Mas Rangga ... Ibu minta Mas jangan bersikap begitu pada Bu Sandra. Dia sudah menemani Mas Rangga selama Mas dirawat. Dia sangat mengkhawatirkan keadaan Mas Rangga. Bu Sandra tulus menyayangi Mas Rangga. Jangan membencinya lagi. Ibu tidak mau mas Rangga hidup dalam kebencian dan dendam."


"Bukan. Bu Sandra yang menjaga Mas Rangga. Dia bahkan tidak tidur karena terus mengawasi kondisi Mas Rangga. Bahkan Pak Presdir memarahinya karena terlalu peduli pada Mas Rangga. Mulai sekarang, perbaikilah hubungan Mas Rangga dan Bu Sandra, juga Pak Presdir. Mas Rangga sudah membuat kekacauan seperti ini. Jadi Mas Rangga harus bertanggung jawab untuk membenahinya."


Rangga terdiam mendengarkan nasihat dari ibu Siti.


.


.


.


Sandra tak kuasa menahan air matanya. Ia menangis dalam diamnya menyusuri lorong rumah sakit. Kakinya tetiba terhenti saat dilihatnya seseorang yang tak asing baginya.


"Mbak Anna ... ?" gumam Sandra.


Wanita paruh baya bernama Anna itu menghampiri Sandra yang diam mematung.


"Sandra ... bagaimana kondisi Rangga?" tanya wanita itu terlihat panik.


"Mbak Anna ... kenapa mbak bisa datang kesini? Jika Mas Adi tahu mbak ada disini, dia tidak akan tinggal diam."

__ADS_1


"Aku tadi melihat Mas Adi baru saja keluar dari rumah sakit. Bagaimana dengan Rangga?"


"Dia sudah siuman, Mbak. Kondisinya sudah mulai stabil."


"Alhamdulillah. Aku melihat berita di televisi makanya aku langsung datang kemari. Ijinkan aku bertemu dengan Rangga, Sandra. Aku ingin melihat keadaan putraku." pinta Anna.


"A-apa?! Bertemu Rangga?! Mana mungkin!! Rangga baru sadar dari komanya. Apa yang akan dilakukannya jika melihat Mbak tiba-tiba ada disini?"


"Tapi aku ibunya, Sandra. Aku ingin melihat keadaannya. Ijinkan aku melihatnya sebentar saja." Anna mulai meneteskan buliran bening dari matanya.


"Tolong mengerti, Mbak. Mbak Anna sudah pergi selama dua puluh tahun dari kehidupan Rangga dan sekarang tiba-tiba mbak ingin menemuinya. Rangga pasti akan syok, Mbak. Mbak tahu 'kan dia berbuat seperti ini karena apa? Kondisinya masih labil. Aku takut dia akan berbuat nekat lagi jika tiba-tiba melihat mbak disini. Aku mohon mbak mengerti. Ini demi kebaikan Rangga."


"Sandra benar. Tidak adil jika kau tiba-tiba muncul dihadapan Rangga. Kita percayakan saja semua pada Sandra." ucap seorang pria yang adalah suami Anna.


"Percaya padaku, Mbak. Aku akan menjaga Rangga dengan baik. Aku janji!"


"Selama ini Sandra sudah menjaga Rangga dengan baik. Jadi, untuk kali ini, kita juga harus percaya pada Sandra." Tambah suami Anna.


Anna menyerah. "Baiklah. Aku titipkan Rangga padamu."


Sandra mengangguk dan menggenggam tangan Anna.


"Tante Sandra!!!! Tante Sandra!!!" terdengar suara Rangga memanggil nama Sandra.


Anna dan Sandra panik. Sandra meminta Anna untuk segera pergi dari rumah sakit.


Sandra berpamitan pada Anna dan berjalan ke arah suara Rangga. Dilihatnya Rangga berjalan tertatih sambil mendorong tiangΒ infus.


"Rangga! Apa yang kau lakukan? Kondisimu masih belum pulih." tanya Sandra panik.


"Aku baik-baik saja. Ada yang ingin aku sampaikan pada tante."


"Soal apa?"


"Aku ingin minta maaf pada tante. Soal sikapku tadi. Dan juga sebelum ini. Selama ini aku membenci tante. Aku tidak pernah mempedulikan tante. Padahal selama ini, tante sudah sangat baik padaku. Aku baru sadar, jika tante memang tulus menyayangiku." Rangga terlihat bersungguh-sungguh.


"Rangga ..." Sandra terharu dan berkaca-kaca.


"Apa tante mau memaafkan aku?" Rangga memelas.


Sandra mengangguk, kemudian Rangga memeluknya. Pelukan hangat seorang anak untuk ibunya. Sandra menangis bahagia. Perjuangannya selama 20 tahun akhirnya terbalas juga.


Dari kejauhan Anna melihat pemandangan itu dan berlinang air mata.


Suaminya merangkul Anna dan menuntunnya keluar dari rumah sakit. Hatinya pasti hancur melihat putranya tengah memeluk wanita lain yang dianggapnya sebagai ibu. Posisinya sebagai ibu kandung Rangga, sudah tergantikan oleh Sandra yang telah merawatnya sejak Anna meninggalkan putranya itu.

__ADS_1


...πŸ’ŸπŸ’ŸπŸ’Ÿ...


------------bersambung-------


__ADS_2