99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Season 3 - Bagian 02


__ADS_3

Pagi hariku berjalan seperti biasa layaknya seorang istri yang menyiapkan perlengkapan suami untuk pergi ke kantor dan juga membuat sarapan.


Aku masih berkutat di dapur saat Rangga menuju meja makan sambil membawa ponselku.


"Ibumu menelepon." ucapnya.


Aku segera mengelap tanganku dan meraih ponsel di tangan Rangga.


"Halo, Bu, ada apa?"


"............"


"Iya, bu. Akan kuusahakan. Baiklah."


Panggilan berakhir.


"Ada apa?" tanya Rangga.


"Ibu memintaku untuk mampir ke rumah."


"Oh, mungkin dia rindu padamu."


"Hmm, iya." jawabku sambil diiringi senyum. Aku sudah tahu tujuan ibu memanggilku. Tapi sebaiknya aku tidak perlu membuat Rangga khawatir.


Selesai sarapan, aku mengantar Rangga hingga ke pintu depan. Seperti biasa dia selalu mengecup keningku sebelum berangkat.


"Hati-hati," ucapku.


"Iya, kamu juga."


Aku menghela nafas setelah tak lagi kulihat mobil Rangga.


Biasa. Terlalu biasa. Aktifitasku terlalu monoton setiap harinya.


Mungkin jika ada anak... Aah, lagi-lagi aku memikirkan soal itu. Sudahlah, aku akan bersiap dan menemui ibuku. Semoga saja dia tak membahas soal anak lagi padaku.


*


*


*


*


Sesampainya di rumah ibuku, suasana rumah terasa sepi. Sepertinya ibu sedang tidak di rumah.


Kuedarkan pandanganku ke arah rumah di sebelah rumah ibu. Rumah kontrakan yang dulu di tempati Ismail.

__ADS_1


Dia sudah pindah bersama Hana. Ismail dipindahtugaskan ke Bandung. Hana kini sedang hamil. Mereka pasti sangat bahagia akan segera memiliki momongan.


Saat sibuk mengenang masa lalu bersama Ismail, tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan dari ibu.


Dia sedang bersama teman-teman arisannya. Aku memutar bola mataku malas.


Aku tidak membiarkan ibuku untuk kembali bekerja. Urusan kafe, aku yang mengurus semuanya.


Apa nanti kata orang jika tahu ibuku masih terus bekerja keras, sementara ibu memiliki menantu seorang CEO perusahaan besar. Itu pasti akan mencoreng citra Rangga juga.


Aku memutuskan menunggu ibu di teras depan rumah saja. Aku duduk disana sambil menikmati semilir angin yang berhembus.


Siang ini tidak terlalu panas. Teduh seperti hatiku. Aku memejamkan mata seraya menikmati hembusan angin yang menerpa wajahku.


"Kau sudah lama menunggu?"


Suara ibu membuatku kembali membuka mata.


"Ibu? Sudah pulang?"


Aku mencium punggung tangan ibuku.


"Ayo masuk! Ibu membawakanmu sesuatu."


Ibu menarik tanganku dengan ekspresi yang sangat sumringah. Aku tidak tahu apa maksudnya itu.


"Apa ini, bu?" tanyaku penasaran.


"Dengar, teman ibu bilang ini obat yang sangat mujarab."


Aku mengerutkan dahiku. Meski aku masih merasa aneh dengan penjelasan ibu, tapi aku berusaha mendengarkannya lebih dulu.


"Kau harus meminumnya sebelum tidur. Ini akan membuatmu lebih cepat hamil..."


DEG


Seperti yang sudah kuperhitungkan. Pasti tentang ini. Lagi dan lagi.


Aku hanya tersenyum getir. Tapi aku berusaha menghormati ibu dan aku menerima pemberian darinya. Aku tahu ibu hanya berusaha membantuku. Aku hargai itu.


"Terima kasih, bu. Aku akan meminumnya."


"Iya. Semoga berhasil ya. Eh, eh, memangnya berapa kali dalam seminggu kau melakukan itu dengan Rangga?"


Aku mendelik. "Ibu!!!"


"Hehe, ibu hanya bercanda. Rangga masih muda dan kelihatannya dia... sangat kuat ya."

__ADS_1


"Ibu! Apaan sih?" Wajahku sudah memerah seperti tomat kalau aku terus meladeni ibu.


Sebaiknya aku pergi ke kafe saja.


"Ibu, aku harus ke kafe. Terima kasih atas hadiahnya." Aku mencium pipi lalu punggung tangan ibuku, kemudian berlalu pergi dari sana.


Aku mengatur nafasku yang memburu. Entah kenapa rasanya malu sekali jika harus membahas soal masalah ranjang dengan orang lain.


"Astaghfirullahaladzim. Bukankah urusan itu hanya suami dan istri saja yang tahu? Apa ibu terlalu banyak bergaul dengan teman-teman arisannya sampai harus ikut campur urusan pribadiku dan Rangga." Aku menggeleng pelan.


Aku pun segera melajukan mobilku menuju kafe. Semenjak Ranga sangat sibuk, ia mengijinkanku untuk mengendarai mobilku sendiri.


Saat sampai di kafe, sudah waktunya jam makan siang. Terlihat kafe mulai didatangi pengunjung.


Konsep kafe yang dulu hanya kufokuskan pada menyediakan makanan ringan saja, ku tambah dengan beberapa menu makanan berat agar bertambah ramai pengunjungnya. Dan ternyata berhasil.


Aku berjalan masuk ke dalam kafe dan menyapa beberapa pengunjung setia kafe yang sudah mengenalku. Aku tersenyum menyapa mereka semua.


Namun tiba-tiba langkahku terhenti kala seseorang akan keluar dari kafe.


Orang itu tersenyum ke arahku. Senyum yang tak pernah kulihat beberapa tahun ini karena memang semua telah berubah.


Ia menenteng beberapa plastik kresek yang berisi roti lapis seafood. Itu adalah kesukaannya selama bertahun-tahun.


Entah kenapa dengan jantungku? Harusnya tak berdegup seperti ini.


"Cecilia..." sapanya saat melihatku.


Aku harus apa? Katakan aku harus apa?


"Hai, Mas Alvian..." sapaku gugup.


.


.


#Bersambung...


😱😱😱Aaw aw aw!!! Apa yang terjadi selanjutnya?


Jangan lupa jempol kalian yaa untuk Cecilia 😚😚


Hai hai, Mamak punya story baru nih di NT, judulnya RaKhania. Masih baru banget dan masih anget 😬😬😬


Silahkan mampir dan kepoin yaak. Klik favorit aja dulu biar kalo ada UP bisa langsung baca 😉😘


Terima kasih 🙏

__ADS_1



__ADS_2