
...πππ...
"Mas Radit, hari ini ada meeting dengan pihak Apartemen Marigold. Jangan lupa ya!"
Radit tak menggubris ucapan asistennya, Bonny.
"Mas Radit!!" panggil Bonny lagi.
"Apaan sih?" Radit malah bermalas-malasan di atas meja kerjanya.
"Setelah kembali dari Jogja, Mas Radit seperti tak punya semangat hidup."
"Ho'oh, aku tidak ada gairah lagi dalam hidup. Kau tahu, aku sudah mati-matian menyusul Cecil ke Jogja untuk membawanya pulang, tapi ternyata dia menolak. Hatiku hancur, Bon. Ditambah lagi, aku juga bertemu Nadine disana. Dia juga tidak mau kembali kesini."
"Sepertinya Mas harus moveon. Tidak semua yang Mas inginkan bisa terkabul. Mas harus ikhlaskan mereka."
"Apa kau bilang? Melepaskan mereka? Enak saja!"
"Aku sudah kehilangan sahabat-sahabat terbaikku." Radit mengacak-acak rambutnya.
"Tapi hidup harus terus berjalan, Mas. Dan Mas punya tanggung jawab pada perusahaan ini. Jangan sampai masalah pribadi membuat perusahaan jadi rugi. Mas 'kan sudah berjanji pada Tuan Tony."
"Iya-iya. Cerewet sekali kau! Sudah sana keluar! Rapatnya tunda saja dulu sampai moodku membaik. Oke?"
"Terserah Mas Radit saja. Yang penting aku sudah mengingatkan."
Bonnypun meninggalkan Radit. Dan Raditpun kembali melamun meratapi nasibnya.
Beep beep
Ada pesan masuk di ponsel Radit. Dengan malasnya ia membuka ponsel. Seketika tubuhnya terbangun dan matanya terbelalak.
"Aku kembali ke Jakarta. Tolong jemput aku sekarang juga di bandara."
Bunyi pesan yang dikirimkan oleh Nadine.
Radit sangat gembira. Ia bergegas mengambil kunci mobilnya dan berlari sambil berdendang.
.
.
.
-Di bandara-
"Nadine!!!" Sambut Radit dengan gembira dan akan memeluk Nadine.
"Apa yang kau lakukan?" Nadine menepis tangan Radit.
"Ya ampun, Nad. Kau masih galak seperti biasanya. Tak berubah sama sekali."
"Jangan berlebihan! Untuk apa kau ingin memelukku? Kau pikir aku mau dipeluk olehmu?!"
"Dasar kau!! Aku merindukanmu, Nad. Akhirnya kau kembali juga."
"Jangan mendramatisir!"
"Kau sendirian saja?" tanya Radit sambil celingukan.
"Tentu saja. Memangnya aku kemari dengan siapa?"
"Kukira kau bersama Cecil." Radit merengut.
"Kau masih mengharapkannya? Bukankah kau sudah mendengarnya sendiri dari Cecil jika dia tidak mau kembali kesini?"
__ADS_1
"Siapa tahu dia berubah pikiran, Nad."
"Sudahlah. Ayo cepat jalan! Antarkan aku ke apartemen ya?" ajak Nadine.
"Iya. Lalu apa rencanamu setelah kembali kesini?" selidik Radit sambil berjalan menuju tempat parkir mobilnya.
"Entahlah. Lihat saja nanti."
"Bagaimana jika kau melamar kerja di kantorku saja?"
"Aku belum memiliki rencana apapun. Lihat saja nanti. Dan sebaiknya kau jangan terus bertanya."
"Iya baiklah. Aku penasaran, apa yang membuatmu memutuskan kembali?"
"Aku minta maaf karena sudah mengecewakanmu. Bonny sudah cerita semua padaku. Aku kembali karena memang ingin kembali, hehe."
"Dasar Bonny! Dia memang tak bisa jaga rahasia."
"Dia melakukan itu karena dia peduli padamu."
"Jadi ... kau kembali karena diriku?" Radit tersenyum bahagia.
"Tidak juga. Jangan terlalu percaya diri!" Ledek Nadine sambil menjulurkan lidahnya.
Dan tanpa Nadine sadari, di hari itu juga Cecilia menumpangi pesawat yang sama dengannya. Namun mereka belum ditakdirkan untuk bertemu.
...***...
"Aku gugup, Ismail. Bagaimana reaksi Ibu saat tahu aku tiba-tiba ada disini?"
"Tenang saja. Aku yakin ibu akan senang karena kamu kembali."
Dan mobil Ismail mulai memasuki pelataran rumah. Terlihat ibu Maria sedang menyiram bunga di halaman rumah.
"Ibu ..." Cecil menyapa ibunya. Matanya sudah berkaca-kaca menahan air mata.
Ibu Maria terkejut mendengar suara putrinya. Dan tak sengaja menjatuhkan penyiram tanaman yang sedang di pegangnya.
Ibu Maria memandangi Putrinya dengan seksama. Masih antara sadar dan tidak apakah benar ini putri kandungnya yang sudah beberapa bulan menghilang.
"Kau ... Cecil putriku?"
"Iya Bu ..." Cecil langsung mencium punggung tangan ibunya dan bersimpuh di kaki ibunya.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan aku! Maafkan Cecil karena sudah meninggalkan ibu..." Cecil tak bisa lagi menahan tangisnya. Ia menangis sejadinya di hadapan ibunya.
Ibu Mariapun tak bisa menahan air matanya. Mereka menangis berdua dan saling berpelukan.
Tak hentinya Cecil mengucap kata maaf. Kata yang dulu sangat dia benci karena Alvian selalu mengucapkannya. Sekarang malah ia ucapkan berkali-kali di hadapan ibunya.
Ia hanya ingin dimaafkan. Meskipun sangat sulit untuk Ibu memaafkannya. Ia akan terus berusaha. Agar Ibu bisa memaafkannya.
"Jangan meminta maaf terus. Ibu sudah memaafkanmu. Sejak dulu ibu sudah memaafkanmu..." Ibu Maria menciumi wajah putri semata wayangnya kemudian kembali memeluknya.
...***...
Cecilia mengunjungi makam Tasya. Ia merasa bersalah sudah berbulan-bulan tak pernah datang. Diusapnya dengan lembut nisan yang bertulisan nama Tasya Arifin.
"Maafkan mama, sayang... Mama sudah lama tidak mengunjungimu..." Cecil menaburkan bunga di atas makam Tasya.
Ada seseorang yang menghampiri Cecil. Seorang wanita paruh baya. Cecil mendongakkan kepalanya untuk mengetahui siapa yang mendatanginya.
"Akhirnya kamu datang juga. Sudah lama kamu tidak kemari," ucap wanita itu.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Cecil.
__ADS_1
"Kamu tidak ingat saya?"
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Β Cecil makin bingung.
"Tidak. Kita memang belum pernah bertemu. Tapi apa yang sudah kamu lakukan padaku. Tidak akan pernah aku lupakan."
Cecil merasa takut dengan wanita itu dan memutuskan untuk beranjak pergi dari makam Tasya.
Saat Cecilia hendak berdiri, wanita itu mendorong Cecil hingga Cecil tersungkur di depan makam Tasya.
"Aw!!!" teriak Cecil. "Apa yang Anda lakukan? Sebenarnya siapa Anda?"
Wanita itu terlihat sangat marah.
"Mungkin anda salah orang..." ucap Cecil dengan nada bergetar.
Wanita itu makin menunjukkan amarahnya yang sudah memuncak.
"Baiklah! Jika kau lupa, maka aku akan mengingatkanmu pada kejadian lima tahun lalu. Apa kau masih ingat dengan Ivana Lee?"
"Ivana ... Lee?!?" Cecilia berpikir sejenak. "Ada apa dengannya? Kenapa anda bertanya?"
"Dia adalah putriku yang sudah kalian bunuh!!!" wanita itu berteriak pada Cecil.
Cecilia syok mendengar pernyataan wanita itu. Ia ingat jika ia mengenal Ivana Lee. Ia adalah salah satu kontestan dalam ajang pencarian bakat perancang busana.
Dan di ajang itu Cecil dan Alvian adalah donatur sekaligus dewan juri di ajang tersebut. Tapi tunggu, membunuhnya?! Cecil tidak pernah membunuh orang. Kenapa wanita itu menuduh Cecil begitu?
"Anda jangan bercanda! Saya tidak pernah membunuh satu orangpun..." Ucap Cecil dengan gemetar.
"Kau memang tidak membunuhnya, tapi apa yang sudah kalian lakukan padanya ... Sudah membuat putriku bunuh diri!!" sekali lagi wanita itu berteriak pada Cecil.
"A-apa? Bu-bunuh diri...?"
"Benar. Putriku bunuh diri. Dan itu semua karena kesalahan kalian!! Kalian sudah membunuhnya!! Kau dan suamimu itu. Ah tidak, lebih tepatnya mantan suamimu."
Cecilia bergidik mendengar semua ucapan wanita itu.
"Putrimu melakukan bunuh diri... Bagaimana bisa itu jadi kesalahanku dan Mas Alvian?" Cecil memberanikan diri adu argumen dengan wanita itu. Ia harus tahu apa alasan wanita itu mencecar dirinya.
"Baiklah... Kalau kau lupa. Aku akan mengingatkanmu pada kejadian lima tahun yang lalu ..." ucap wanita itu dengan tatapan sinisnya.
...πππ...
.......
.......
.......
...Bersambung...
...Duuuuuuh makin kompleks ya shay ceritanya.......
.......
...Buat yg kemarin nanya siapa wanita yg menabur bunga di makam Tasya, sudah kejawab di part ini....
...Kebenaran satu persatu akan terungkap......
...Harap bersabar dan stay tuned π...
...Jangan lupa tinggalkan jejak πΎπΎ...
...terima kasih...
__ADS_1