99 Cinta Untukmu

99 Cinta Untukmu
Berdebar


__ADS_3

Saat hati berbisik


Inginku ikuti


Terus ikuti


Karena aku


Yakin tentangmu


...❤❤❤...


Pagi itu Cecilia sedang duduk sendiri di cafe AJ Foods. Dia mengingat tentang hal yang dilakukan Alvian padanya setelah sidang perceraian mereka.


Cecil tak menyangka jika Alvian masih mengingat semua hal tentang mereka di masa lalu.


Hatinya mulai bimbang, apakah dia harus meneruskan gugatan cerainya atau berbaikan kembali dengan Alvian.


Saat pikirannya sedang melayang tentang apa yang akan dia lakukan selanjutnya terhadap hubungannya dengan Alvian, tiba-tiba Cecil dikagetkan dengan suara yang tak asing ditelinganya.


"Ini masih pagi, Cil. Jangan melamun!"


"Radit? Kau bikin kaget saja!"


"Tidak biasanya kau minum kopi. Apa semalam kau tak bisa tidur?"


"Tidak. Aku hanya mencicipi minum kopi. Ternyata enak juga."


"Kau sudah makan?"


"Sudah. Tenang saja! Aku tidak akan minum kopi jika belum makan."


"Apa kau sedang memikirkan sesuatu? Kau terlihat sedang ada masalah."


"Hah? Benarkah? Apa wajahku terlihat frustasi hingga kau bicara begitu?"


"Aku sudah lama mengenalmu, Cil. Jadi jika kau butuh bantuanku, kau bisa mengandalkan aku!!"


"Aku baik-baik saja, Radit."


Dari kejauhan tampak Rangga sedang berjalan memasuki kantor, dan tiba-tiba saja Rangga menghentikan langkahnya saat melihat ke arah cafe.


Danny yang berjalan dibelakang Rangga sontak terhenti dan menabrak punggung Rangga.


"Aduh! Apa yang kakak lakukan? Kenapa berhenti secara tiba-tiba?"


Rangga hanya terdiam. Dannypun mengikuti kemana mata Rangga tertuju. Mata Rangga tertuju pada dua orang yang sedang berbincang di cafe.


"Siapa laki-laki itu, Dan?"


"Yang mana? Yang sedang berbincang dengan Bu Cecil?"


"Iya."


"Dia pekerja paruh waktu disini. Namanya Radit. Kenapa Kak?"

__ADS_1


"Sejak kapan dia dekat dengan Cecilia?"


Danny mengernyitkan dahinya. "Maksud Kakak?"


"Oh, maksudku sejak kapan lelaki itu bekerja disini? Sepertinya aku tak pernah tahu jika kita memiliki tenaga paruh waktu." jawab Rangga menutupi kegugupannya.


"Apa kakak lupa? Kakak sendiri yang meminta pekerja khusus untuk menangani akun media sosial perusahaan. Orang itu adalah Radit, Kak."


"Oh, begitukah? Mungkin aku lupa. Kalau begitu, tolong bawakan data profil lengkap tentang Radit. Bawakan secepatnya ke ruanganku." Rangga melanjutkan langkah menuju ke ruangannya.


Danny terus mengernyitkan dahi. Lalu mengikuti langkah Rangga.


...❤❤❤...


Danny membawakan profil data Radit pada Rangga dengan berjuta tanda tanya dibenaknya.


"Ini data yang kak Rangga minta soal Radit." Danny menyerahkan secarik kertas pada Rangga.


"Oke, terima kasih, Dan." Rangga menerima kertas itu dan langsung membacanya.


"Untuk apa Kak Rangga meminta data Radit? Apa kakak mengenalnya?"


"Entahlah. Antara aku kenal dan tidak kenal. Makanya aku ingin memastikannya lebih dulu. Nama, Raditya Putra H. Lulusan jurusan IT dari universitas ternama di Jakarta. Putra H?? Danny, apa kau tahu, apa kepanjangan dari nama belakangnya?" Rangga menatap Danny dengan serius.


"Kenapa bertanya padaku? Tentu saja aku tidak tahu. Mengenalnya saja tidak, bagaimana aku tahu nama panjangnya. Dia hanya menulis begitu di dalam resumenya. Lagipula, dia hanya pekerja paruh waktu. Untuk apa kakak sibuk mencari tahu tentangnya?"


"Kenapa dia terlihat sangat dekat dengan Cecilia?"


Danny menggaruk kepalanya. "Mana aku tahu, Kak. Sejak kapan kakak mengurusi hal pribadi orang lain?"


Danny menyilangkan tangannya.


"Akhir-akhir ini sikap kakak sangat aneh. Apa ini semua karena Bu Cecil? Tidak biasanya kakak bersikap begini. Tiba-tiba membuat peraturan yang menurutku bukan seperti Kak Rangga yang kukenal. Lalu sekarang, kakak ingin tahu tentang urusan pribadi orang. Aku tidak mengerti dengan perubahan sikap kakak." Danny spontan memegang kening Rangga.


"Apa yang kau lakukan?"


"Mungkin saja kakak sakit."


"Aku baik-baik saja, Danny. Mulai sekarang awasi gerak gerik si Radit ini. Dan beritahukan semua hal tentang dia padaku. Mengerti?"


Danny tahu ada yang aneh dengan Rangga. Dan dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Rangga.


...❤❤❤...


Keesokan harinya, Rangga kembali memergoki Cecilia yang sedang duduk santai dan berbincang dengan Radit di cafe AJ Foods.


Mereka tampak begitu akrab dan sesekali Cecilia pun tertawa karena candaan Radit.


Rangga heran bagaimana bisa Cecilia bisa begitu bahagia ketika bersama dengan Radit. Siapa sebenarnya Radit ini?


Diruangannya, Rangga menggumam dan uring-uringan sendiri. Hatinya begitu sesak saat melihat Cecil bersama dengan Radit.


"Apa yang kakak lakukan? Kakak sudah baca jadwal dariku?"


Rangga hanya bergeming.

__ADS_1


"Kak? Kakak sehat?"


"Danny, sudah dapat info tentang Radit?"


"Apa yang kakak bicarakan? Kenapa membahas tentang Radit lagi? Kakak harus fokus. Untuk apa mengurus masalah orang lain?"


"Aku hanya ingin tahu lebih soal Radit. Itu saja!"


Aneh. Ini benar-benar aneh. Atau jangan-jangan....???


"Apa kakak cemburu pada Radit? Kakak menyukai Bu Cecil?"


"Apa katamu?"


"Sudah bisa dipastikan jika kakak cemburu pada Radit."


"Hei! Jangan bicara sembarangan! Tapi---? Aku sendiri tidak tahu apa yang sedang kurasakan. Hatiku merasa sesak saat melihat mereka bersama."


Danny menghela nafas.


"Itu artinya kakak sedang jatuh cinta. Kakak cemburu jika Bu Cecil dekat dengan pria lain. Kakak berdebar saat bertemu Bu Cecil. Itulah yang terjadi pada kakak saat ini."


Rangga bingung mendengar penjelasan Danny. Tapi itulah yang dia rasakan.


"Lalu aku harus bagaimana, Dan?" tanya Rangga dengan polos.


"Apanya yang bagaimana??!!" Danny membentak Rangga.


"Kak Rangga harus sadar. Bu Cecil itu sudah menikah, punya suami, juga sudah punya anak. Apa yang kakak harapkan dari jatuh cinta dengannya? Lagipula kenapa harus Bu Cecil, Kak? Dari sekian banyak wanita yang bisa kakak dapatkan. Kenapa kakak jatuh cinta sama Bu Cecil? Kenapa bukan dengan Bu Nadine saja? Bukankah dia adalah calon istri kakak?"


"Kenapa kau membahas soal Nadine? Kau membuat moodku hilang saja setelah mendengar namanya."


"Apa kakak tidak ingat? Bu Nadine adalah jodoh yang sudah Pak Presdir tetapkan untuk kakak. Dan dia adalah wanita sempurna. Dia cantik dan pintar. Jika di bandingkan dengan Bu Cecil yang sederhana, Kakak akan lebih cocok bersama dengan Bu Nadine."


"Kenapa membandingkan Nadine dan Cecilia? Mereka punya selera yang jauh berbeda."


"Aku tidak membandingkan. Aku hanya ingin menyadarkan kakak. Tidak seharusnya kakak jatuh cinta pada wanita lain. Apalagi kakak menyetujui perjodohan kalian berdua. Kakak tidak bisa lari dari semua ini."


Semua perkataan Danny langsung membuat Rangga terdiam. Dia membenarkan apa yang dikatakan Danny.


Rangga memang menyetujui perjodohan itu, meski dia hanya menganggap Nadine seperti adik baginya.


Rangga yang dulu, tidak percaya akan adanya cinta. Tidak percaya akan adanya pernikahan yang bahagia.


Semula dia mengira kalau hatinya tidak akan bisa tersentuh oleh wanita manapun. Pengalaman pahit yang pernah dia alami, membuatnya tidak mau jatuh cinta pada wanita manapun.


Namun sekarang, seorang wanita biasa yang sederhana, ternyata mampu membuat hatinya berdebar.


Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak mungkin aku---jatuh cinta pada Cecilia. Dia wanita yang sudah menikah---


Hanya itulah pertanyaan yang ada dibenaknya.


...❤❤❤...


To be continued

__ADS_1


__ADS_2